Cerita Bunga Matahari dan Si Kupu-Kupu

0
78
http://www.ggamenez.site/2018/07/cerita-bunga-dan-kupu-kupu-lengkap.html

Zaman dahulu kala terdapat sebuah kawasan hutan lebat yang menjadi tempat tumbuh subur berbagai jenis tanaman. Aneka pohon berbuah manis menghasilkan buah aneka rupa dengan tampilan cantik dan aroma yang mengundang selera. Sekitar pepohonan ini ikut tumbuh subur pula aneka jenis tanaman yang membentuk semak perdu yang cukup tebal. Saking lebatnya hutan ini dan saking berlimpahnya makanan yang disajikan aneka pohon dan tanaman.

Tidak heran banyak hewan bisa dengan nyaman tinggal di dalamnya, mulai dari rusa, beruang, harimau, monyet, dan lain sebagainya. Semua penghuni hutan memiliki hubungan yang harmonis sebab semuanya saling berbagi dan mengerti. Tidak ada perselisihan sehingga kondisi hutan selalu damai dan senantiasa terbuka untuk menerima pendatang baru.

Suatu ketika datang seekor ulat kecil bernama Lili yang masuk ke kawasan hutan ini dan langsung mencuri perhatian. Datangnya penghuni baru memang selalu sukses menjadi buah perbincangan para penghuni hutan lama. Sayangnya Lili ini berbeda, selama ini golongan ulat dikenal akan tabiatnya yang jelek. Yakni rakus dalam menyantap makanan dan mampu menghabiskan daun semua pepohonan dalam tempo singkat.

Dianggap sebagai ancaman, maka kehadiran Lili pun mendapatkan sambutan yang tidak mengenakan. Sebagai pendatang Lili pun berusaha untuk membaur, dan kali pertama bertemu dengan pohon apel.

“wahai sang pohon apel, sudikah engkau menerimaku tinggal di dahanmu yang rindang?”, tanya Lili.
“Kamu tidak boleh kesini, nanti daunku habis kau makan. Bagaimana caranya aku bisa berbuah? Sebaiknya carilah pohon lain untuk kamu tinggali.. “, jawab si pohon apel.

Tak berani membantah ucapan sang pohon apel akhirnya Lili dengan wajah sedih mencoba berjalan ke arah lain. Mencari pohon lain yang sudi menerimanya untuk tinggal bersama.

Kemudian Lili bertemu dengan pohon mangga, tak kalah lebatnya daun pohon mangga ini dengan pohon apel tadi membuat Lili percaya diri menegurnya.

“Wahai pohon mangga, sudikah engkau menerimaku tinggal di dahanmu yang rindang?”, kata Lili.
“Kamu tidak boleh kesini, daunku akan habis kamu santap. Cobalah ke bagian lain hutan ini dan cari pohon lebat lainnya. Aku mau berbuah lagi.”, jawab pohon mangga yang sekali lagi membuat Lili bersedih.
“Tapi aku berjanji akan mengingat budimu kepadaku..”, pinta Lili dengan memelas mencoba berunding.
“Tetap tidak boleh, kamu makannya rakus sekali!”
“Kasihanilah aku wahai pohon mangga, aku tak punya tempat untuk tinggal…”, harap Lili kembali.
“Kamu tidak dengar ya?? Pokoknya tidak boleh…!!!”, jawab pohon mangga sembari melotot dan wajahnya terlihat merah padam menahan marah.

Lili pun kembali bersedih, ditambah muncul perasaan bingung harus kemana untuk mencari tempat tinggal. Bisa dipastikan hutan ini tidak ramah untuknya yang hanya seekor ulat dan butuh makan banyak supaya bisa tumbuh sehat.

Lili pun terus berjalan, mencoba mencari peluang lain untuk bisa segera mendapatkan tempat tinggal. Tanpa disadari perjalanan Lili ternyata sudah cukup jauh hingga keluar dari area hutan tersebut. Tak berselang lama sampailai ia di sebuah padang rumput yang di dalamnya dihuni oleh banyak tanaman berbunga. Meski pemandangannya cantik namun tak mampu membuat wajah Lili yang sedih menjadi tersenyum.

Tanpa disadari Lili, dari kejauhan ada bunga matahari cantik yang terus memperhatikannya. Kemudian ditegurlah Lili olehnya.

“Wahai ulat kecil, mengapa engkau bersedih seperti itu?”

Mendengar teguran tersebut Lili mencari sumber suara dan bertatap muka dengan tanaman matahari yang menjulang tinggi. Lili pun mendekatinya.

“Wahai tanaman bunga matahari yang cantik, aku bersedih karena tidak punya tempat tinggal.”, ucap Lili sembari menahan keinginan untuk menangis.
“Tak usah bersedih kawan, lihatlah diriku.”, Lili pun mendongak dan melihat si bunga matahari, “Aku adalah ratu di taman bunga ini, kamu bisa tinggal disini dan memilih tanaman yang kamu mau.”
“Mereka pasti menolakku..”, ucap Lili sedih.
“Percayalah padaku, mereka adalah rakyatku dan mematuhi apa yang aku perintahkan. Jadi jangan bersedih lagi, tinggallah di dahanku.”
“Apa engkau ikhlas?”, tanya Lili masih ragu.
“Tentu saja..” jawab bunga matahari mantap, “Kami para bunga tidak pernah dihinggapi atau ditinggali hewan apapun. Sebab kami tidak berbuah, jika kamu mau tinggallah disini bersama kami dan makanlah sesukamu.”
“Tapi aku makannya rakus.”, terang Lili
“Tak apa, apalah arti sebuah daun. Ketika daun kami kering, rusak, atau habis dimakan tak berselang lama akan tumbuh kembali. Teman tentu lebih berharga, dan kami tidak ingin kehilangan teman.”

Lili langsung memasang muka cerah sebab merasa bahagia dengan ucapan bunga matahari, dan sejak itu mereka bersahabat dan tinggal bersama. Hari-hari dilalui bersama dengan saling bercerita, bercanda, dan saling tertawa. Hingga suatu hari..

“Wahai bunga matahari, ini adalah hari terakhir aku bisa bercanda denganmu..”, ucap Lili yang tak pelak membuat bunga matahari terkejut.
“Engkau hendak kemana sahabatku? Apakah hendak meninggalkanku?”
“Tidak sahabatku, mana mungkin aku meninggalkan sahabat yang sangat baik seperti dirimu. Jadi mulai besok aku akan mulai puasa panjang dengan mengurung diri. Mungkin inilah saatnya aku akan membalas semua budi baikmu.”, Terang Lili.
“Apa maksudmu? Puasa? Mengurung diri? Membalas budi? Apa ini?”, cerca bunga matahari menuntut penjelasan.
“Nanti kau juga akan mengerti sahabatku. Saat ini pinjamkanlah aku sehelai daunmu untuk membuat rumah supaya aku bisa berpuasa dan tidur panjang..”.
“Apapun yang terbaik untukmu sahabatku, aku akan mendukungmu. Pilihlah daunku yang mana saja engkau suka.”, Terang bunga matahari.

Berhari-hari bunga matahari mencoba melindungi Lili dari terik matahari dan guyuran hujan. Tak berselang lama daun yang menggulung miliknya terbuka, dan menampilkan makhluk cantik dengan sayap aneka warna. Tak pelak bunga matahari terkejut.

“Siapa kamu? Dimana sahabatku Lili?”
“Tenang sahabatku, ini aku Lili. Aku akan membalas budimu, dan akan selalu menjadi sahabatmu..”

Meski terkejut, namun bunga matahari merasa bahagia bisa bersua lagi dengan Lili. Rupanya Lili memiliki kemampuan unik yang bisa berubah wujud menjadi kupu-kupu cantik. Sejak hari itu Lili selalu terbang mengitari bunga matahari dan bunga lainnya. Persahabatan mereka pun abadi sepanjang masa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here