Cara Menyampaikan Sebuah Kabar Buruk

0
38
https://doktersehat.com/sadar-gak-tiap-kali-menerima-telepon-kita-cenderung-seperti-ini/

Semua orang punya caranya sendiri untuk menyampaikan sebuah kabar buruk. Ada yang dikatakan secara langsung tanpa ada pembuka dna penutup. Beberapa memilih memakai kiasan, dan yang lainnya memilih menunggu penerima kabar buruk tersebut siap. Anda lebih nyaman mendengar kabar buruk dalam kondisi seperti apa?

Jadi, suatu hari ada seorang teman. Pada hari tersebut mendadak menerima telepon, usai ditekan tombol “terima panggilan”. Kemudian bercakap sebentar barulah teman tadi tahu telepon ini dari rumah sakit.

“Pak, ini dari Rumah Sakit Pelita…”, ucap suara di seberang sana. “Mohon maaf kami sampaikan ada kabar buruk bahwa istri Anda masuk ke rumah sakit.”

Seketika teman pun kaget mendengar berita ini, dijamin suami manapun akan memiliki reaksi sama. Manakala mendapat kabar istri tercinta tergeletak lemah di rumah sakit.

“Bagaimana keadaan istri saya disana? Saya segera ke rumah sakit!”, tegas teman menjawab berita yang diterimanya.
“Istri Bapak barusan mengalami kecelakaan. Sebenarnya ada kabar baik dan kabar buruk untuk Bapak.”

Kontan perkataan ini membuat teman semakin penasaran dan rasa cemas pada istri tercintanya semakin menjadi.

“Apa itu Pak?”, tanya teman karena kebetulan suara di seberang adalah suara laki-laki.
“Mau mendengar kabar baik dulu atau yang buruk dulu Pak?”

Teman pun berusaha berpikir keras, opsional mana yang sebaiknya diambil dalam kondisi semacam ini? sedikit ragu namun akhirnya teman ini pun menjawab ingin mendengar kabar buruk dulu.

“Kabar buruk duku pak..”, jawab teman dengan suara lirih nyaris tersangkut di tenggorokan dan tanpa sadar air matanya mulai mengambang di pelupuk mata. “Saya ingin tahu kondisi istri saya segera pak..”, akhirnya air mata itu jatuh dan suaranya pun tak bisa menyembunyikan tangisannya sendiri.
“Kabar buruknya, istri Anda saat ini dalam kondisi lumpuh total. tim dokter di rumah sakit kami nantinya perlu memasang resporator. Guna memastikan keberlangsungan hidup istri Bapak..”, terang suara di telepon.

Bagai tertimpa reruntuhan gunung dari langit. Tangis teman ini semakin pecah dan tak sanggup lagi mendengar kata-kata pria di balik telepon tersebut. Namun seketika pria itu kuat karena masih ingat ada kabar baik yang akan disampaikan pria di seberang telepon tersebut. Air matanya pun mendadak kering.

“Tapi apa kabar baiknya pak?”, tanya teman semakin penasaran dan suara sesenggukan tangis secara singkat kembali menjadi suara laki-laki jantan yang tidak pernah menerima kabar buruk apapun.
“Kabar buruk yang saya sampaikan ke Bapak tadi sebenarnya hanya candaan pak…”

Tak pelak mendengar penjelasan pria di telepon, teman ini merasa lega namun juga sedikit marah. Bisa-bisanya urusan nyawa dibuat bahan bercanda!

“Bercanda Bapak tidak lucu!” semprot teman di telepon.

Lalu suara di seberang seketika menjawab kata-kata berisikan rasa marah tersebut. Seolah merasa berdosa dan tidak enak hati karena sudah mempermainkan perasaan suami dari pasien di tempatnya bekerja.

“Jadi begini pak, sebenarnya istri Bapak sudah meninggal…”

Kadang kala orang memang bingung bagaimana cara terbaik untuk menyampaikan kabar buruk, apalagi berkaitan dengan kabar kematian. Namun dalam kasus ini tujuan si pria yang bertugas di Rumah Sakit Pelita adalah membungkus kabar buruk tersebut dengan gurauan. Sayangnya bungkus tersebut tidak ada efeknya untuk suami dari seorang perempuan yang baru saja masuk ke rumah sakit. Jadi, ketika diajak bercanda orang baiknya ikuti alur saja. Meski garing dan terkesan dipaksakan…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here