Calonku yang Pertama Tidak Direstui Pihak Laki-laki, Calonku yang Kedua Orangtuaku yang Tidak Merestui

0
8

Setiap orang pasti ingin punya kisah cinta yang indah. Tidak terkecuali aku. aku juga berharap suatu hari nanti aku akan bertemu dengan pria yang tepat, lalu kami menikah, punya anak, dan hidup bahagia sampai tua. Aku yakin kamu juga pasti sepertiku.

Tapi, sayangnya kisah cintaku tidak sesempurna harapan dan tidak sesuai perkiraanku. Dan yang bisa aku lakukan hanya curhat pada salah seorang sahabatku. Aku sering bertanya padanya kenapa kisah citaku sangat membingungkan dan menyedihkan.

Aku sendiri adalah seorang perempuan berusia 27 tahun. aku bekerja sebagai seorang admin di perusahaan distributor. Di usiaku yang sudah sangat matang ini dan dengan status yang belum menikah, selalu menimbulkan banyak pertanyaan dari orang-orang. Dan pertanyaan utama yang mereka lontarkan selalu sama dan berulang “kapan menikah?”.

Aku sadar kok kalau semua teman-teman seusiaku sudah punya anak dan sudah disibukkan dengan kegiatan ngantar anak ke sekolah. Aku juga pengin seperti mereka, tapi mau gimana lagi, belum ketemu jodohnya.

Bukanya aku nggak bersyukur dengan apa yang sudah aku punya, tapi aku kan perempuan normal. aku juga punya harapan tinggi untuk bisa menemukan belahan jiwa yang mau berkomitmen dan menjalani hidup bersamaku membangun rumah tangga.

Dan harusnya itu bisa terwujud satu tahun yang lalu jika Tuhan mau menghendaki, mungkin aku juga sudah punya kehidupan seperti teman-temanku.

Tapi mau bagaimana lagi, nyatanya aku dan mantan pacarku belum jodoh.

Iya, dulu aku pernah punya pacar. Aku mengenal dia lebih dari 5 tahun dan aku juga pacaran dengannya selama empat tahun.

Masalahku dengannya saat itu tidak bisa dibilang sepele. Orangtuanya tidak merestui hubungan kami.

Jujur aja, saat menceritakan ini, aku sedang menahan tangis. Aku benar-benar merasa sedih dan kecewa.

saat itu keluarga pacarku memang dari kalangan orang berada, punya jabatan dan kekuasaan di daerah tempat pacarku tinggal, bisa dibilang dia itu keturunan ningrat.

Sedangkan, aku? Aku hanya seorang anak petani.

Karena status sosial kami yang sangat jauh berbeda inilah, orangtua pacarku tidak menyukaiku. Mungkin mereka pikir aku hanya akan memanfaatkan anaknya.

Alasan tidak merestui hubunganku dengan anaknya itu sangat banyak dan mengada-ada, kurang ini lah, kurang itu lah, bahkan aku juga dibilang kurang cantik, aku nggak pantas jadi istri.

Padahal aku sudah berusaha maksimal agar bisa diterima keluarga pacarku. Tapi setiap aku ingin datang ke rumah pacar, dia selalu menolak. Apa lagi yang bisa aku lakukan?

Cara terakhir yang bisa aku lakukan hanya dengan minta bantuan Tuhan, aku sholat malam setiap hari agar orangtua pacarku mau membuka hati mereka untukku dan mau menerimaku menjadi menantu.

Tapi, mungkin memang takdirnya tidak berjodoh, semakin lama pacarku mulai menghindar pelan-pelan. Aku bisa merasakan dari gelagatnya yang semakin susah dihubungi. Dia juga mulai acuh dan tak banyak bicara.

Aku sadar banget dengan perubahan sikapnya itu, dia semakin berbeda, tapi aku terlalu naif, aku masih percaya bisa mempertahankan hubungan kami.

Sampai pada suatu hari, di pertemuan kami yang terakhir. Aku mencoba memulai obrolan karena sejak awal pertemuan pacarku lebih banyak diam. Aku memesankan makanan favoritnya, tapi dia hanya diam dan tidak berkomentar apa-apa, biasanya dia akan protes kalau aku yang memilihkan menu.

Setelah selesai dengan acara makan malam bersama yang lebih banyak diamnya akhirnya dia membuka suara, dan kata “putus” meluncur mulus dari mulut pacarku saat itu, dia sudah tidak bisa meneruskan hubungan kami karena menurutnya hubungan kami tidak ada kemajuan.

Dia menatapku enggan. Aku tidak tahu bagaimana perasaannya, karena ekspresinya sangat datar.

Berbanding terbalik denganku yang sudah menangis. Airmataku seolah tidak mau berhenti mengalir.

Setelah itu aku pulang sendiri dengan angkutan umum. sesampaiku di rumah, aku menangis sejadi-jadinya. Aku benar-benar merasakan sakitnya patah hati. Aku bahkan sampai jatuh sakit karena patah hati.

Keesokkan harinya aku tidak masuk kerja. Aku juga tidak bernafsu untuk makan.

Mungkin kamu pikir kisahku seperti sinetron, tapi ini benar-benar terjadi dan aku mengalaminya.

Sampai beberapa bulan kemudian, aku mendengar kabar kalau mantan pacarku sudah menikah dengan perempuan lain.

Perasaanku langsung hancur. Aku marah, kecewa, kesal, dan membenci diriku sendiri. Saking kecewanya aku tidak bisa menangis lagi. Sahabatku yang biasa menjadi tempat curhatku hanya bisa memelukku karena dia juga tidak tahu harus bersikap bagaimana dengan apa yang sedang menimpaku.

Aku butuh banyak waktu untuk bisa melupakan mantan pacarku, aku berusaha keras menyingkirkan dia dari pikiranku. Sampai aku bertemu dengan seseorang yang bisa mengobati luka hatiku.

Seseorang yang memberiku perhatian sederhana tapi intens. Dan dia adalah rekan satu kantorku. Frekuensi pertemuan kami yang lumayan sering.

Tapi, karena luka di masa lalu, aku jadi lebih berhati-hati, aku juga punya perasaan ragu. Ditambah lagi statusnya yang membuatku bimbang, gara-gara itu aku harus menggantungkan harapan si dia.

Laki-laki yang sedang mendekatiku adalah seorang duda dengan dua anak. usiaku dan usianya tidak jauh berbeda, karena dulu dia menikah muda.

Tapi, apa kata tetanggaku kalau mereka tahu aku pacaran dengan seorang duda dua anak? Aku masih ragu untuk mengatakan pada orangtuaku yang tidak tinggal satu kota denganku.

Dan laki-laki itu sebut saja “X”, dia paham dengan dilema yang aku rasakan. X tidak memaksaku untuk bisa menerimanya karena statusnya itu. Hubunganku dengan X juga masih dalam hitungan bulan.

Tapi, akhirnya, aku memberanikan diri untuk bercerita pada orangtuaku tentang X yang mendekatiku.

X mengatakan padaku kalau dia ingin menunjukkan keseriusannya, dia ingin mengenal lebih dekat dan rasa hormatnya terhadap orangtuaku, dia pun ingin main ke rumahku saat hari libur.

Dan setelah pertimbangan yang cukup lama, akhirnya aku mengiyakan permintaannya.

Lalu, sesuai dengan yang sudah kami rencanakan, aku dan X pergi ke kota tempat tinggal asalku.

Setibaku di rumah, aku langsung mengenalkannya pada orangtuaku dan tanggapan orangtuaku seperti sewajarnya tanggapan orangtua pada teman-teman anaknya. Tidak lebih dari itu.

Tapi, sore harinya, saat aku sedang ke belakang, orangtuaku mengajakku bicara empat mata. Mereka bertanya padaku, bagaimana jika hubunganku dengan X tidak usah diteruskan, meski memang cinta. Aku diminta untuk memikirkan hal lain, mungkin orangtuaku takut menghadapi tanggapan para tetangga. Masak putri semata wayang mereka menikah dengan seorang duda? Kurang lebih begitu.

Kemudian saat aku kembali ke kota tempatku bekerja, aku hanya bisa menangis dan tidak tahu harus berbuat apa. bagaimanapun aku harus menyudahi perasaanku untuk X.

Sebagai anak pertama dan perempuan satu-satunya aku merasa terbebani dengan itu semua. Aku seperti berada di posisi yang sangat sulit. Di satu sisi aku ingin membahagiakan orangtuaku, di sisi yang lain aku juga ingin membahagiakan diriku sendiri.

Aku ingin saat aku menikah dengan pasanganku nanti, itu bukan karena aku terpaksa karena sudah kepepet usia, tapi aku juga ingin punya perasaan cinta.

Apakah kamu bisa memberiku solusi untuk masalahku? Aku benar-benar sudah lelah dengan semuanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here