Bima Sakti: Pemimpin Trio yang Bersama Sejak Primavera

0
142

Bima Sakti menjadi pilihan realistis bagi PSSI untuk mengarungi Piala AFF 2018 setelah negosiasi dengan Luis Milla berakhir kolaps.

Ya, Bima, bersama Kurniawan Dwi Yulianto dan Kurnia Sandy, resmi dikontrak PSSI untuk mengawal penampilan tim nasional di turnamen paling bergengsi di Asia Tenggara.

Tiga orang itu bukan figur sembarangan. Bila merunut jalinan takdir, trio tersebut merupakan pemain terbaik dari generasi timnas Primavera yang dikirim PSSI ke Italia pada pertengahan 1990-an. Bukan kebetulan pula jika hanya tiga orang itu yang mampu menarik perhatian scout klub-klub Italia. Ketiganya mendapat kontrak dari Sampdoria Primavera.

Sementara Kurniawan melanjutkan karier di FC Luzern (Swiss) dan Kurnia Sandy pulang ke Indonesia, Bima memilih menuju Skandinavia, dengan memperkuat Helsinborg di Norwegia, walau cuma semusim. Satu hal yang paling menonjol dari Bima dibanding tiga sejoli ini ialah: kepemimpinan.

Diberkahi tendangan geledek dan menempati posisi sentral di mesin permainan timnya, Bima Sakti didapuk menjadi kapten di mana pun ia singgah. Memperkuat tim nasional dalam kurun 1995 sampai 2001, lambang Garuda telah terpatri dalam dirinya hingga kini. Ia juga dikenal sebagai pemain yang paling mengatur gaya hidup dan menjunjung tinggi profesionalitas, yang tampak dari rentang bermainnya yang begitu panjang. Ia baru pensiun pada 2016, saat usianya menembus 40 tahun.

Pada musim terakhirnya sebagai pemain, ia sudah mempunyai lisensi kepelatihan B AFC dan telah melakoni “rangkap pekerjaan” sebagai asisten pelatih di Persiba Balikpapan. Ketika PSSI mendatangkan Luis Milla pada awal 2017 dan ia meminta didampingi sekondannya dari Spanyol, pihak federasi cuma memasukkan satu tuntutan ke Milla: Bima Sakti jadi asisten pelatih utama.

Berhubung Milla tak berbahasa Inggris, apa lagi bahasa Indonesia, Bima jadi kartu sakti untuk berkomunikasi dengan pemain. Dalam tiap pertandingan di mana Milla selalu duduk di bangku cadangan, Bima Sakti selalu berdiri di tepi lapangan. Ia merupakan juru bicara Milla di depan para pemain, juga bertanggung jawab terhadap implementasi taktik di tiap pertandingan.

Hasil pekerjaan Milla, dan Bima, tak bisa dianggap buruk. Ia mempersembahkan medali perunggu pada ajang Sea Games 2017. Di ajang Asian Games 2018 yang lebih kompetitif pun Indonesia mampu ia bawa menembus 16 besar. Namun, kontribusi terbesar Milla bukan terletak pada catatan di atas kertas seperti itu. Lebih jauh, Milla memperkenalkan permainan bola pendek yang mengalir menyesuaikan kemampuan pemain-pemain Indonesia, dan yang lebih penting, ilmu tak ternilai bagi Bima Sakti.

Tatkala Milla memutuskan tidak balik ke Indonesia setelah tugasnya di Asian Games purna, giliran Bima memimpin tim nasional. Pengalaman menjadi bos ini, walau cuma dalam beberapa laga uji tanding, bisa berguna bila ia didapuk sebagai pelatih permanen.

Dan kesempatan itu datang. Piala AFF 2018 tinggal dua pekan lagi. Trio yang dulu pernah bersama di Italia kini kembali memimpin tim nasional di Jakarta. Sudah bergelar “coach”, Bima akan jadi pelatih utama…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here