Berjalan Kaki Menuju Tanah Suci

0
40

Hidup adalah perjalanan. Setiap perjalanan pasti memiliki tujuan. Dan tujuan paling haqiqi di dunia adalah meraih cinta Allah.

Sudah tertanam dalam otak pemuda itu untuk melakukan perjalanan ke tanah suci dengan menggunakan dua kakinya. Baginya perjalanan ke tanah suci tidak hanya sekedar perjalanan ibadah biasa tapi juga perjalanan spiritual untuk mendekatkan diri dan menguatkan iman pada Allah SWT.

Keinginannya untuk berangkat haji dengan berjalan kaki semakin kuat. Dan saat dia duduk di bangku kuliah, dia mnegutarakan maksud dan tujuannya pada ayahnya.

Saat mendengar keinginan putranya sang ayah hanya menghela nafas.

Dia sangat paham betul bagaimana sifat putranya. Anak bungsunya itu jika sudah menginginkan sesuatu, akan berjuang keras untuk mendapatkannya. Dan tidak ada tawar menawar. Maka melihat kesungguhan di mata anaknya, dia merestui apa yang menjadi keinginan anaknya.

Mendapat restu dari ayahnya, pemuda itu mengucapkan terima kasih.

Sejak itu dia melatih fisiknya. Dia paham betul, perjalanan yang dia pilih ini akan sangat berat. Tidak hanya mental, tapi dia juga harus menyiapkan fisik yang kuat. 3  tahun lamanya dia melatih fisiknya.

Ketiga kakaknya yang telah bekerja di luar kota menyarankan adik mereka itu untuk mengikuti jejak-jejak kakaknya, tapi pemuda keras kepala itu tidak mau.

Selain mempersiapkan fisik dan mental, pemuda itu juga mempersiapkan surat-surat yang diperlukan.

Ayah pemuda itu juga dipanggil pihak kemenag. Dia diminta untuk menandatangani surat pernyataan tidak keberatan dengan perjalanan spiritual yang akan dimulai oleh putranya.

Melihat apa yang dilakukan pemuda itu, pihak keluarga sempat merasa ragu tentang mimpi yang ingin dikejar si pemuda. Pihak keluarga khawatir dengan perjalanan yang akan ditempuh si pemuda, karena jarak dari tempat tinggal mereka sampai ke Mekah mencapai 13.000 kilometer lebih. Apa mungkin putra bungsu mereka mampu?

Karena khawatir, keluarga si pemuda mendesak untuk membatalkan saja, tapi pemuda itu sangat teguh pendirian. Dia tidak mau membatalkan rencananya.

Demi menenangkan keluarganya, si pemuda mengatakan bahwa ia akan baik-baik saja, dia yakin di perjalanannya nanti dia akan bertemu dengan banyak orang baik.

Mendengar ucapan si pemuda, pihak keluarga hanya bisa menerima dan berdoa semoga apa yang diucapkan oleh si pemuda benar.

Setelah semua persiapan selesai, pemuda itu pun berangkat pada tanggal 28 Agustus 2016, jam 10 malam dia meninggalkan desanya. Dia ditemani oleh dua orang temannya.

Pemuda itu membawa bekal satu buah Alqur’an, beberapa kemeja, dua pasang celana dan sepatu, selusin kaos kaki, beberapa pakaian dalam, kantong tidur dan tenda, sebuah ponsel pintar, bendera mini Indonesia, GPS, dan uang tunai sebesar 3 juta rupiah.

Pemuda itu lebih memilih untuk berjalan di malam hari dan siang harinya ia habiskan unuk beristirahat di masjid, bangunan umum, rumah penduduk, atau bahkan di dalam hutan di beberapa Negara yang dilaluinya. Dia juga berpuasa di sebagian besar perjalanannya.

Jika kondisi fisik mereka sedang bagus, mereka dapat menempuh jarak 50 kilometer, tapi jika keadaannya sedang buruk mereka berjalan 10 sampai 15 km sehari.

Namun, sayangnya saat sampai di kota Tegal, pemuda itu terpaksa meneruskan perjalanannya sendirian, karena dua temannya tidak bisa meneruskan. Kedua temannya terpaksa pulang karena dikabari bahwa keluarga mereka sakit.

Jadilah si pemuda itu berjalan sendirian.

Berjalan sendiri ke tanah suci bukanlah perjalanan yang mulus tanpa masalah. Di perjalanan saat melintasi pantura  Cirebon dan Palembang dia hampir dirampok.

Setelah itu, si pemuda memutuskan tidak membawa perbekalan apa pun. Dia menitipkan semua barang bawaan dari HP, GPS, sebagian pakaiannya dititipkan oleh rekannya untuk diantarkan ke perbatasan Malaysia.

Jadi, melalui jalur lintas Sumatera, si pemuda hanya membawa beberapa  potong pakaian saja. Dalam perjalanan ini, dia mengandalkan masjid dan musala sebagai tempat melepas lelah. Di dua tempat itu lah, si pemuda selalu mendapatkan petunjuk dan bantuan dari sesama muslim.

Tapi, pemuda itu masih selamat. Dia pun meneruskan perjalanannya lagi

Saat tiba di Malaysia, pemuda itu jatuh sakit. Tapi, dia tetap tidak meurunkan semangatnya. Dia tetap melanjutkan perjalanannya dengan mengandalkan bekal yang dia bawa, yaitu makanan halal dan madu yang dicampur air untuk mempertahankan kekebalan tubuhnya terhadap cuaca buruk.

Di Malaysia dia bertemu tiga kali dengan ular berbisa di hutan. Tapi, ajaibnya sebelum ular itu menggigit si pemuda, mereka terjatuh dan mati.

Setelah dari Malaysia, pemuda itu masuk ke Negara Thailand.

Di Thailand, dia berhaapan dengan situasi yang sama saat dulu dia berjalan di pantura, dia hamper di rampok, tapi perampokan itu tidak benar-benar terjadi. Meskipun mengalami hal buruk, dia disambut baik di kuil Buddha.

Setelah dari Thailand perjalanan lintas Negara lainnya dia berlanjut ke Myanmar. Di Myanmar dia bertemu dengan penduduk yang memberi dia makan. Dia juga berteman dengan pasangan Kristen Irlandia yang mengendarai sepeda di Yangon.

Dari Myanmar dia ke India, di India, saat dia melakukan perjalanan di malam hari, dia terpaksa berhadapan dengan situasi yang tidak menyenangkan. Saat di India, dia bertanya pada seorang warga mengenai rute menuju Arab Saudi, tapi warga itu malah menyesatkannya. Dan jalan yang harus ditempuh si pemuda jadi memutar lebih jauh.

Tapi, meskipun begitu, yang bersimpati dengannya lebih banyak.

Dan saat di India, ada hal menyenangkan yang ia dapat, yakni dia bertemu dengan cendekiawan muslim dari berbagai Negara di masjid Jemaah Tabligh India. Di India pula, dia mengalami sakit yang kedua kalinya. Tapi seperti saat di Malaysia dia tidak mengandalkan suplemen tapi hanya dengan minum madu.

Di setiap Negara yang ia hampiri, dia mampir ke kantor misi diplomatic Indonesia untuk memproses visa Negara yang ia masuki.

Walaupun, kadang dia bertemu dengan berbagai masalah, tapi tekadnya tidak pernah luntur. Misinya harus terlaksana.

Dan setelah perjalanan lintas Negara dengan dua kaki, pada tanggal 19 Mei 2017 pemuda itu sampai di Arab Saudi! Sesampainya dia disana, dia menyempatkan diri berkomunikasi dengan keluarganya di Indonesia.

Dia juga berswa foto dan hasil fotonya dia kirimkan ke keluarga di kampong halamannya. Dia ingin melunturkan rasa khawatir keluarganya dengan cara itu, dengan dia mengunggah fotonya yang sudah sampai di Arab Saudi, itu menandakan bahwa dia baik-baik saja selama perjalanan.

Dan nama pemuda gigih itu adalah Mochamad Khamim Setiawan, pemuda asal Pekalongan yang melaksanakan ibadah haji dengan cara yang berbeda. Kisahnya ini sangat dikenal oleh masyarakat dunia. Dan memang benar nyata adanya. Banyak media yang meliput dan menulis bagaimana perjalanan Khamim.

Selama perjalanan menuju tanah suci Khamim tidak pernah minta-minta. Tapi dia selalu bertemu dengan orang baik yang mau memberikan dia makanan dan bekal lainnya.

Di kampung halamannya Khamim punya bisnis yang cukup bagus. Jadi dia melakukan ibadah haji dengan berjalan kaki bukan karena dia miskin dan tidak punya uang,  tapi karena bagi Khamim, jalan kaki adalah keutamaan dalam menunaikan ibadah haji.

Menurut Khamim, dia hanya ingin menunjukkan kesalehannya pada Allah Yang Maha Kuasa adalah dengan belajar tentang islam dari berbagai cendekiawan muslim dan bertemu orang-orang dengan agama yang berbeda untuk belajar budaya mereka dan mengkampanyekan toleransi.

Dan dengan cara berjalan kaki menuju tanah suci dia akan melintasi banyak Negara yang keyakinan dan budayanya beraneka ragam, dari situ dia bisa belajar banyak hal.

Dan dalam perjalanan itu dia mendapat banyak pelajaran. Katanya, dia melakukan jihad yang lebih besar yaitu mendisiplinkan diri dan memenangkan perjuangan spiritual melawan dosa.

Semoga kisah ini menginspirasi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here