Begini Rasanya Jadi Anak dari Seorang Preman

0
41

Perkenalkan namaku Maya. Umurku 26 tahun. Aku salah satu lulusan sarjana psikologi di salah satu Universitas di Yogyakarta.

Dulu waktu aku kecil, aku pernah mempertanyakan apa sesungguhnya pekerjaan ayahku. Hal itu bukan tanpa alasan, karena ada banyak kejadian sepele yang memicu rasa ingin tahuku.

Yang pertama adalah cara orang-orang memanggil nama ayahku, nama asli ayahku Joko, tapi semua orang di kampung memanggilnya Jack, sebagian orang memanggilnya dengan rasa hormat, tapi sebagian lainnya kadang sambil ketakutan. Ada sebutan lain yang kadang membuatku merasa aneh, seperti John, tapi ‘Jack’ adalah yang paling dikenal.

Gara-gara panggilan itulah, aku semakin bertanya-tanya tentang cara ayahku mencari nafkah. Aku pernah iseng meminjam KTP-nya untuk melihat kolom keterangan pekerjaan, di KTP tertulis wiraswasta. Ayahku memang wiraswasta, dia berjualan bakso di rumah, tapi yang aku pertanyakan kenapa dia bisa punya segerombol anak buah yang selalu sigap untuk diperintah? Dan selama yang aku tahu, seorang penjual bakso tidak perlu punya banyak anak buah untuk disuruh-suruh. Tidak hanya itu, menurutku siklus hidup ayah bisa dibilang tidak lazim untuk seorang wiraswastawan.

Dunia ayah itu terbalik, mirip kelelawar. Siang buat tidur kalau malam malah kerja. Dan lagi, teman-teman ayahku itu sering banget main ke rumah dan penampilan mereka tuh serem-serem. Siapa sih yang nggak bingung kalau melihat ayahnya punya siklus hidup yang aneh dan teman-teman yang menyeramkan?

Dan kecurigaanku makin hari makin bertambah saat aku menemukan banyak senjata tajam di mobil ayah. Waktu itu saat aku akan berangkat sekolah diantar ibu naik mobil,  saat itu aku sedang mengikat tali sepatu, tak sengaja aku melihat ada pedang-pedang di bawah jok. Karena penasaran aku menanyai ibu dan jawaban ibu sangat santai, itu punya ayah.

Saat itu yang kupikirkan adalah buat apa semua benda itu?

Aku tumbuh di salah satu kampung Kota Yogyakarta. Kampung kelahiranku dulunya adalah hamparan pemakaman China. Beberapa decade lalu, banyak perampok dan pencuri yang menjadikan pemakaman untuk bersembunyi dari kejaran polisi. Tapi, seiring berjalannya waktu, banyak rumah yang didirikan di atas tanah pekuburan. Tapi, meskipun sudah tidak seperti dulu, sampai sekarang, kampungku masih tetap dicap sebagai lingkungan para criminal.

Di tempat yang sarat kriminalitas ini, ayahku mejadi penguasa nomor satu. Selain bisnis bakso, ayahku juga mengamankan perjudian local, sekaligus dibayar oleh para penguasa yang berada dibalik layar menyokong aktivitas Bandar. Salah satu partai di Indonesia cabang Yogyakarta, melalui salah satu sayap organisasi, juga kadang menggunakan jasa ayahku sebagai petugas keamanan.

Bahkan, dulu saat aku masih di dalam kandungan, ayahku pernah menjalani hukuman kurungan singkat. Ayahku pernah dipenjara karena tak sengaja membunuh seorang laki-laki  saat berkelahi di sebuah klub biliar. Dan tak lama setelah aku lahir, ayahku bebas.

Dari kejadian-kejadian itu aku menerka-nerka pekerjaan ayahku, aku menyimpulkan kalau pekerjaannya adalah seorang preman. Sebenarnya ada sedikit rasa malu dan kecewa, dari sekian banyak pekerjaan kenapa dia harus menjadi preman? Apakah berjualan bakso hanya alat sebagai pencitraan untuknya? Entahlah…

Bagiku, menjadi anak dari seorang preman terbesar di kampungku merupakan cobaan yang berat. Ayahku ini termasuk orang yang gampang marah kalau diprovokasi orang lain. Selain itu, ayahku punya aturan-aturan sendiri yang dibuat sesuka hatinya, sesuai citra kebanyakan preman.

Pengalaman pertama yang sangat membekas di ingatanku adalah saat di Malioboro. Di situ aku melihat sisi gelap ayahku. Saat itu ayah memarkir mobil di kawasan yang seharusnya bebas kendaraan. Tak lama kemudian juru parker menegur ayah. Dan ayahku sangat murka, dia memanggil temna-temannya, lalu mengeroyok si tukang parker.

Padahal saat itu aku tahu kalau ayahkulah yang salah parker. Aku melihat dia memukuli tukang parker hanya karena masalah sepele. Karena aku kecewa, kesal dan malu campur jadi satu, aku keluar dari mobil dan jalan sendiri. aku menolak ikut mobilnya. Aku benar-benar jalan kaki, saat itu aku benar-benar tak habis pikir dengan sikap ayahku yang berlebihan, dia yang salah tapi kenapa dia yang marah? Tapi, saat itu ayahku tahu aku marah sampai turun dari mobil, dia mengejarku dan minta maaf. Setelah itu, aku bilang padanya, aku nggak mau lakgi pergi dengan ayah. Ayah hanya diam dan mengangguk.

Tapi, sejak kejadian di malioboro itu, aku butuh waktu lama untuk memaafkan ayahku. Dan kejadian di Malioboro hanyalah salah satu dari banyak peristiwa yang menunjukkan sisi gelap ayahku.

Kejadian berikutnya adalah saat aku bermasalah dengan penjaga kantin di sekolah. Ayahku datang dengan segerombolan teman-temannya dan siap menghajar penjaga kantin, tapi saat itu aku berhasil mencegahnya. Bersamaan dengan peristiwa itu aku juga merasa malu.

Kejadian berikutnya yang membuatku sangat shock adalah saat aku pulang dari sekolah, semua kaca jendela rumahku pecah. Setelah aku tanya-tanya beberapa orang dewasa yang ada di dekat kejadian, ternyata penyebabnya adalah pertempuran antara geng ayahku dengan kelompok musuh yang ingin balas dendam. Kejadian kaca hancur berantakan itu ternyata belum cukup, bahkan dulu warung baksoku juga pernah dibom oleh kelompok preman yang tidak aku tahu. Kejadian itu juga sempat masuk Koran.

Aku tahu masa kecilku cukup traumatis. Tapi, sebenarnya aku percaya pasti ada sisi baik dari ayahku, dan sulit untuk aku jelaskan. Dia dikenal sebagai figure yang baik hati di kampungku, dia dikenal sebagai orang yang senang membantu orang-orang susah.

Dan sebenarnya ada untungnya juga  menjadi anak seorang preman kenamaan.

Kadang aku mendapatkan hadiah dari orang yang tidak kukenal. Terus kejadian lainnya, saat aku berkunjung di salah satu restoran di stasiun kereta tugu, sesudah aku selesai makan pemilik restoran menolak untuk dibayar bahkan saat itu satpam restoran menemaniku mneyeberang jalan.

Dan di lain waktu saat ayah menjemputku di sekolah, banyak anak yang bersorak mengelu-elukan nama ayahku.

Saat itu aku tahu semua orang mengenal ayahku dan mereka mengenal ayahku sebagai orang baik, bukan orang jahat.

Ayahku adalah preman yang memiliki kekuasaan dan pengaruh mulai pertengahan tahun 1990 sampai abad 21 yang meluas ke seantero Kota Yogyakarta, dia tidak hanya dikenal di kampungku, dia dikenal di seluruh Yogyakarta.

Bagi warga Yogyakarta yang mengenal ayahku dengan baik, mereka tidak akan takut pada ayahku. Justru ayahku dikenal sebagai figure yang baik hati dan berpikiran terbuka. Seperti saat ayahku mengadopsi dan mengasuh seorang bocah laki-laki berumur 13 tahun dari Solo, saat itu karena ayah dari bocah itu telah meninggal. Dan ketika dewasa bocah ini dipanggil Mas Doni.

Mas Doni merupakan satu-satunya anak asuh ayahku yang mengikuti jejak ayah di dunia preman. Ayahku pernah memintanya untuk focus sekolah saja, tapi Mas Doni tidak mau mengikuti perintah ayah.

Menurut Mas Doni, dia harus hidup di jalanan, dia tidak punya pilihan lain. Dan yang paling aku suka dari ayahku adalah dia tidak pernah menghakimi atau memarahi Mas Doni sama sekali. Dia memang bukan tipikal orang yang senang menghakimi. Ayahku ingin semua orang jujur menjadi dirinya sendiri. dan sebagai bentuk balas budi Mas Doni, dia mengabdikan hidupnya untuk ayahku.

Saat aku beranjak dewasa, ayahku mengajakku berbicara 4 mata. Ayahku membeberkan sisi kehidupannya yang lain, yang selama ini dia sembunyikan.

Saat itu, aku melihat matanya. Saat itu ayahku mengungkapkan kekhawatirannya padaku, ternyata selama ini ayahku khawatir aku membenci dirinya yang seorang preman terkenal. Dan dia juga tkut kalau aku akan malu sebagai anaknya.

Lalu setelah mengatakan itu semua, dia mengeluarkan sebuah kartu Badan Intelijen Negara dan mengatakan bahwa itu adalah pekerjaan ayah yang sebenarnya.

Setelah menunjukkan semua kebenarannya ayah berkata “Kamu jangan malu ya punya ayah seperti ayah ini, kamu harusnya bangga.”

Semua pertanyaan dalam kepalaku selama ini terjawab sudah.  Dan sudah sejak lama aku tahu, kalau ayahku bukan preman biasa. Karena dulu aku sering mendapati ayah bepergian ke luar kota, kadang sampai luar negeri. dan saat itu yang paling lama adalah saat ayahku pergi ke kerusuhan Poso, di Sulawesi tengah pada awal tahun 2000.an dan begitu juga saat peristiwa Bom Bali pertama yang terjadi pada tahun 2002.

Tapi, sejak pengakuan ayahku tentang pekerjaannya yang sebenarnya, aku lebih bisa menerima dia apa adanya. Hubungan kami semakin dekat walaupun ayah kadang lama tidak pulang, ternyata karena dia masuk intelijen.

Mungkin peribahasa jangan nilai buku dari covernya berlaku untuk ayahku. Karena dia pulalah aku tertarik untuk belajar psikologi, aku penasaran dengan cara kerja otak manusia.

Tapi, sekarang ayahku sudah pergi untuk selamanya. Dan aku akan selalu bangga menjadi anaknya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here