Begini Rasanya Hidup Ala-ala Selebgram

0
44

Aku selalu bermasalah tiap awal tahun baru. Karena setiap pergantian tahun aku akan dilanda kebingungan. Dan setiap kali aku membuka kalender HP, aku selalu ngerasa kalau itu kalender ngejek habis-habisan dan kayak teriak-teriak ‘Haaa, nggak punya rencana kan lu. Kayak tahun-tahun sebelumnya.’

Kadang aku sendiri heran, kenapa setiap awal tahun tiap orang seperti wajib punya rencana baru.

Dan kalau sudah bingung, aku jadi merasa seperti terjebak dalam sebuah game dengan instruksi yang sulit untuk aku pahami dan saat itu aku jadi makin bingung, aku mau ngapain sih? Ngumpulin koin? Ngehajar musuh atau keluyuran aja?

Jadi karena gabut, aku cari-cari inspirasi. Aku mengamati beberapa segmen masyarakat dan aku menemukannya, satu segmen yang selalu punya sesuatu untuk dikerjakan atau dipamerkan yaitu selebgram.

Dimataku, selebgram selalu tampil keren saat selfie dan dari postingan tahun baru mereka aku seperti bisa melihat mereka berteriak ‘New Year, New Me! Ada banyak proyek seru tahun ini’

Oh ya, sebenarnya aku sendiri adalah seorang vlogger sih. Tapi, satu-satunya proyek seru yang aku pelajari sepanjang tahun adalah mempelajari koreografi video Michael Jackson Thriller sampai mahir, asli ini seru banget, tapi, jelas nggak bisa dibandingin dengan keseruan ala-ala selebgram.

Dan hidup yang ideal adalah hidup yang membuatmu mendapat banyak follower di Instagram, ya kan?

Orang-orang selalu bilang kalau Instagram itu nggak nyata dan sangat berbahaya karena kita akan membandingkan hidup kita dengan orang lain. Sebuah nasihat bijak yang menurutku bisa dibilang ‘bulshit’. Dan kebetulan aku adalah type orang yang senang membandingkan diri dengan orang lain, udah kayak prinsip hidup ‘kalau orang lain bisa melakukannya, kenapa aku enggak bisa mengisi hidupku dengan goals dan filters yang bisa membuat semua momen yang terekam menjadi lebih berarti?’

Dan setelah memikirkan masak-masak, kegalauanku soal rencana awal tahun baru terpecahkan. Aku akan melakukan kegiatan ala-ala selebgram demi menggaet banyak followers.

Dan hari pertama, aku berencana membuat kue kering. Alasannya karena dulu aku pernah datang ke acara kumpul-kumpul para blogger dan socmed influencer, dan isinya tuh presentasi peralatan  rumah tangga elektronik doang. Dan di acara itu aku berkenalan dengan dua blogger makanan di sana. Mereka bilang kalau cara bikin pureed chickpeas sama persis kayak bikin kue kering. Dan dengan semangat tahun baru, aku memutuskan untuk mengawali eksperimenku dengan membuat kue kering chickpea. Kebetulan semua bahan yang dibutuhkan sudah ada di rumah. Uuh.. asli ya, kayaknya aku udah cocok jadi selebgram, hehew…

Setelah selesai dengan menu sarapanku, aku beranjak ke kasur, menata laptop dan majalah fesyen di dekatku. Dan aku merasa bakal instagrammable banget kalau aku makan di atas kasur. Bahkan aku udah bayangin kapsion apa yang akan aku tulis, “breakfast in bed” kayaknya keren. Setelah memotrret dan memosting foto, aku mulai menyantap hasil karyaku tadi. Dan ternyata oh ternyata aku langsung sadar bahwa pureed chickpeas yang aku buat nggak ada mirip-miripnya sama kue kering. Aku ketipu omongan si blogger. Dan saat seperti ini aku jadi membenarkan omongan semua orang kalau blogger makanan adalah kelompok orang sotoy dalam dunia medsos. Duh, nggak nyangka banget mereka bakal bohongi aku sebegininya, padahal baru hari pertama.

Hari kedua

Di hari kedua, aku bertekad untuk berusaha lebih keras, aku nggak mau kecewa seperti hari pertama. Instagramku harus punya kesan yang nggak jauh beda dengan para selebgram terkenal.

Dan misiku hari ini adalah misi #ootd. Setelah makan siang, aku memaksa pacarku untuk memotret pakain yang aku pakai hari ini di restoran. Dan tau nggak, sebelum sampai di restoran, aku menghabiskan waktu setengah jam lebih 15 menit untuk memilih pakaian. Dan kami juga membawa kamera SLR ke restoran. Gilak, terniat banget ya aku!

Jadi hari ini aku mau difoto dengan penampilanku yang punya kesan santai dan spontanitas. Padahal waktu persiapan tadi sama seali ngga santai dan nggak spontan.

Di tengah-tengah sesi pemotretan, aku baru ingat kalau aku belum memperlihatkan pergelangan kakiku. Nggak penting banget ya? hei, tapi itu tuh syarat wajib jadi selebgram, foto dengan memperlihatkan pergelangan kaki.

Jadi aku melepas kaos kaki dan meletakannya asal-asalan, yang penting nggak kelihatan di kamera.

Dan setelah selesai dengan pemotretan ala-ala selebgram, aku dan pacarku berhasil mendapatkan 50 foto. Dan aku juga sudah mendapatkan satu foto yang cocok banget untuk dikasih hastag #workingit.

Hari ketiga,

Hari ini aku mau melakukan yoga, karena ada banyak selebgram yang melakukan yoga. Tapi, kayaknya mereka melakukan yoga bukan untuk merilekskan diri, melainkan untuk pencapaian. Karena biasanya mereka menulis kapsion “Akhirnya bisa yoga dengan sempurna.” Dan tidak lupa juga menambahkan hastag #jangankasihkendor #pertemanansehat.

Walaupu aku nggak punya teman-teman yang sehat, hari ini aku menyempatkan untuk yoga 20 menit. Biar hemat, aku mengikuti instruksi yoga di youtube.

Si instruktur menyuruhku untuk membayangkan ‘sedang menghirup benang emas melalui hidungku’. Duh, gusti… kalau ini betulan aku ngehirup benang emas gimana? Udah pasti aku kena serangan panik. Tapi, setelah 20 menit berlalu, aku akui kalau yoga memang benar-benar bisa membuatku sangat rileks. Dan saking rileksnya, aku jadi lupa untuk selfie.

Dan pertanyaanku di hari ketiga adalah, jika aku nggak upload foto yoga di instagram, apa aku benar-benar sudah melakukan yoga?

Hari keempat,

Mungkin karena efek dari yoga di hari ketiga, aku jadi bangun jam 6 pagi. Dan setelah bangun, aku dengan sabar menunggu pacarku datang. Hari ini aku mau minta tolong padanya untuk memotret punggungku saat aku pura-pura tidur.

Emang terkesan sepele sih, tapi si pacar menghabiskan waktu 5 menit hanya untuk memastikan aku terlihat chill dan rileks selama pura-pura tidur.

Setelah pemotretan purat-pura tidur, aku dan pacarku pergi ke tempat hits di instagram. Tempat yang kami tuju menyajikan menu ‘acai bowls’, makanannya sih enak, tapi pencahayaan di sini bikin aku menderita. Aku mengalami kesulitan saat harus memotretnya.

Dan di hari keempat ini, aku mulai merenungi eksperimenku. Ini kan sudah 4 hari, kok belum ada yang ngundang aku untuk meliput suatu acara ya? ah, ini nggak bisa dibiarin.

Merasa kesal karena nggak atau lebih tepatnya belum dianggap dalam lingkaran seleb medsos, aku mengundang teman-temanku yang paling cakep ke kafe yang lagi hits. Yang datang Cuma beberapa, saat itu aku menjelaskan pada mereka tentang apa yang sedang aku lakukan, tapi respon mereka mengecewakan, mereka nggak peduli. Hah, gimana sih. Kok mereka mau-mau aja aku ajakin foto rame-rame, dan saat aku ngomong soal hastag apa yang oke untuk postingan fotoku, mereka memberiku tatapan aneh. Dan enggak lama kemudian, kami membayar tagihan masing-masing, dan aku juga buru-buru pulang untuk yoga.

Hari ini aku nggak tahu, misiku berhasil atau enggak. Sudahlah,

Hari kelima

Di hari kelima, aku mulai mengerti bahwa jadi selebgram itu ternyata nggak mudah. Karena memang nggak mudah nyari momen sehari-hari yang pas dan menarik untuk di share di medsos. Aku aja yang baru 5 hari udah capek.

Kamu pernah memotret ‘flatlay’? itu loh, motret benda dari atas. Hadeh, tahu nggak ternyata itu susah banget. tiap kali aku nyoba, tanganku langsung tremor.

Dan tau nggak? Aku punya 52 foto ‘acai bowl’ di hpku, yang kayaknya terus-terusan teriak ‘not enough storage space left on device’.

Tapi, beruntungnya aku dalam eksperimen ini, aku dibantu oleh pacarku, dia udah mirip anak magang majalah fesyen yang aku suruh-suruh buat motret ini itu.

Tapi, bodo amat lah, udah lama aku nggak ngerasa sesibuk ini. Hehew, sibuk apaan emangnya yak? Sibuk mencoba jadi selebgram. :v

Hari keenam

Di hari keenam ini aku menyadari satu hal, kalau aku pengin jadi selbgram sukses, aku harus pinter motret makanan. Dan untuk melatih keterampilan itu aku butuh makanan, jadi hari ini aku putusin untuk bikin muffin vegan blueberry tanpa gula.

Walaupun, aku enggak alergi gluten, aku memilih untuk menggunakan tepung bebas gluten, soalnya dan katanya, foto kita enggak akan diakui sebagai ‘pure instagram baking’ kalau masih pakai gluten. Dan saat muffin hasil karyaku udah jadi, dan jangan tanya rasanya, serius nggak enak banget. tapi untungnya tampilan fisik si muffin cukup manis sebagai prop percobaan #flatlay dari atas.

Hari ketujuh,

Hari ini adalah hari terakhir eksperimenku, dan kayaknya aku udah paham banget jurus-jurus jitu menjadi selebgram sukses.

Jadi kegiatanku hari ini, dimulai dengan bangun pagi, bikin sarapan sehat, terus siap-siap jogging-biar habis sarapan aku bisa foto pakai baju olahraga.

Dan para followersku di instagram kayaknya udah mulai menghargai usahaku, aku udah mulai dapat banyak likes dari mereka, dan percaya atau enggak, dalam seminggu ini aku berhasil mendapatkan likes terbanyak, bisa dibilang ini likes terbanyak yang berhasil aku dapatkan selama aku hidup. Hihi,

Aku pulang ke rumah, aku cuma jogging 5 menit, tapi biarin ah, followersku nggak perlu tahu.  Dan aku masak lagi, kali ini aku membuat kue kering dengan 400 gram gula dan tepung dengan gluten tanpa chickpeas. Emag nggak sehat, tapi siapa yang peduli, yang penting bisa aku habiskan.

Jadi, kesimpulan selama 7 hari menjadi selebgam abal-abal, aku jadi tahu kalau menjadi selebriti medsos nggak segampang seperti yang kita lihat. Mungkin hidupku emang terlalu membosankan untuk di follow ribuan orang asing, tapi aku percaya bukan cuma aku yang memiliki hidup membosankan. Aku juga nggak suka saat dihadapkan dengan tekanan untuk bersikap bahwa hidupku selalu seru.

Jadi intinya begini, kue kering biasa ternyata lebih enak daripada kue chickpea, nggak jauh beda dengan momen riil lebih keren ketimbang momen instagram.

Dan aku ucapkan selamat untuk diriku sendiri untuk eksperimennya karena aku berhasil menghilangkan perasaan galau mengawali tahun baru.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here