Beauty and The Beast: Kisah Pasangan Gerard Pique dan Carles Puyol

0
123

 

Sepintas, judul “Beauty and The Beast” akan cocok diasosiasikan dengan pasangan Gerard Pique dan Carles Puyol jika menyangkut soal tampilan, atau tampang sang pemain. Pique yang tinggi bercambang mewakili kata “Beauty”, sedangkan Puyol yang kribo sangar merepresentasikan kata “The Beast”.

Namun, bila menyangkut kepemimpinan dan profesionalitas, bisa jadi anggapan di atas lebih pantas jika dibalik.

Beredar video pendek berdurasi 15 detik, yang merekam secuplik kejadian saat semifinal Copa del Rey 2013 antara Real Madrid melawan Barcelona. Saat bersiap menghadapi sepak pojok, Gerard Pique merasa sebuah korek api dilempar padanya dari tribun penonton. Pique pun memungutnya dan mempertunjukkannya ke wasit, mencoba memberi tahu bahwa ia diprovokasi.

Akan tetapi, sebelum sang wasit menoleh, kapten dan panutannya Carles Puyol merebut korek tersebut dan melemparnya ke luar lapangan.
Pasangan yang kontras. Puyol sangat disiplin dan menjunjung tinggi sportivitas. Pique sedikit lebay dalam menghadapi berbagai situasi dan mudah terprovokasi. Siapa yang “Beauty”? siapa pula yang “Beast”?

Pique dan Puyol tak pernah dimaksudkan untuk meraih sukses bersama, dan rekaman 15 detik tersebut menjelaskan mengapa. Puyol tumbuh di kawasan pedesaan di Utara Katalonia, dibesarkan dalam keluarga yang menjunjung tinggi kesopanan. Sebaliknya, Pique terlahir dari keluarga elite: cucu dari mantan presiden Barcelona, putra seorang doktor, dan sekarang jadi suami bintang pop dunia.

Sifat bawaan dari lingkungan yang amat berbeda tersebut mungkin seharusnya memang tak akan pernah menyatu, tapi justru perbedaan itu lah yang membuat mereka meraih sukses besar. Mereka juga punya kesamaan yang amat vital, yakni mencintai Barcelona, patriotik terhadap Katalonia, dan suka memburu kemenangan.

Dua pemain tersebut menjadi tulang punggung bagi Barcelona yang meraih sextuple winners (menyapu bersih semua turnamen) pada 2008/09. Walaupun punya kepribadian yang bertolak belakang, Pique selalu mendapat bimbingan dan arahan dari Puyol. Sang kapten pun tak akan membiarkan juniornya kehilangan fokus barang sedetik pun.

Musim 2008/09, mereka membentuk diri sebagai salah satu pasangan terkuat dalam sejarah Spanyol, dan mulai menemukan senyawa sebagai duet bek tengah. Musim berikutnya, 2009/10 mungkin tak begitu sukses di level klub,. Namun di level tim nasional, keduanya berhasil mengantarkan Spanyol menjadi juara Piala Dunia. Musim 2010/11 pun mereka akhiri dengan trofi Liga Champions, kedua kalinya dalam tiga musim. Dalam tiga musim tersebut, Barcelona hanya 80 kali kebobolan dalam 114 laga.

kurun waktu itu pula Pique mengembangkan skill dan reputasinya, yang dihiasi banyak trofi. Sang kapten Puyol terbukti bekerja dengan ampuh membangun karakter kepemimpinan dalam diri Pique, yang terpaut sembilan tahun lebih muda dibanding dirinya.

Suatu hari, Pique bercerita, “Aku tidak bisa membayangkan Barcelona tanpa Puyol. Aku mengingat suatu waktu ketika dia kembali (dari cedera pada musim 2010/11). Di tengah pertandingan aku berkata, ‘Puyi, aku merindukanmu.’ Dia malah memintaku untuk diam dan berkonsentrasi.”

Seiring bertambahnya usia, Puyol terkikis oleh kaki rentanya. Ia hanya mampu mengoleksi 25 penampilan antara tahun 2012 hinggu 2014. Semenjak saat itu, Barcelona tak pernah menemukan penggantinya. Marc Bartra dan Javier Mascherano mungkin pernah diberdayakan, tapi tak pernah sesolid Puyol, terutama dalam menanamkan pengaruh di tim.

Pique lebih muda. Puyol lebih bijak. Keduanya membangun kebersamaan yang siap mempertaruhkan segalanya untuk tim dan bendera mereka. Menjadikan mereka sebagai pasangan sempurna yang tak akan dilupakan penggemar Barcelona dan Spanyol.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here