Balasan untuk Tukang Becak yang Melakukan Sedekah Setiap Hari Jum’at

0
41

Alkisah ada seorang tukang becak asal kota Malang yang hidupnya serba kekurangan. Setiap hari jum’at dia akan memberikan tumpangan gratis pada penumpangnya. Dia menjadikan itu sebagai bentuk sedekahnya setiap hari jum’at. Baginya kalau dia tidak bisa bersedekah dalam bentuk uang, dia bisa menyedekahkan jasanya sebagai tukang becak. Semua orang yang mengenalnya dan tahu bahwa tukang becak itu memang memberikan tumpangan gratis di hari jum’at, tidak akan membayar jasanya setiap naik becaknya.

Lalu suatu hari, di hari jum’at yang lain, ada seorang direktur perusahaan mengalami ban bocor di pinggir jalan. Di saat bersamaan tukang becak itu sedang menunggu penumpang. Direktur itu dilema, apakah dia akan meninggalkan mobilnya atau menunggu mobil itu selesai diperbaiki, tapi jika ia akan meninggalkan mobilnya, dia bingung akan naik apa, yang dia lihat saat itu hanya seorang tukang becak yang bermata teduh sedang menunggu penumpang.

Melihat keadaan jalan yang sepi dan jarang dilalui kendaraan umum, membuat direktur itu mau tidak mau menggunakan jasa tukang becak. Jarak rumahnya tinggal sedikit lagi dan mobilnya sedang diurus sopirnya.

Direktur itu menghampiri tukang becak itu. Lalu menyebutkan alamat tujuannya. Dia juga tidak melakukan tawar menawar dengan si tukang becak. Si tukang becak dengan semangat langsung mempersilakan sang direktur untuk naik ke becaknya.

Sepanjang perjalanan menuju rumah direktur itu, si tukang becak tidak berhenti menyenandungkan sholawat.

Setelah tiba di rumah direktur, sang direktur memberikan selembar uang 20 ribuan. Tapi, dengan sopan dan halus tukang becak itu menolaknya.

Sang direktur sangat kaget. Lhoh, apakah aku membayarnya terlalu murah? Pikirnya, karena merasa kalau uang yang ia berikan kurang, dia menambahkan lagi. Tapi, lagi-lagi pak tukang becak menolaknya dengan  halus.

Melihat wajah kebingungan pak direktur dia tersenyum dan menjelaskan semuanya.

“Setiap hari jum’at saya memang menggratiskan penumpang pak. Ini adalah bentuk sedekah yang bisa aku lakukan,” kata si tukang becak, setelah memberikan penjelasan itu dia langsung bergegas pergi menggenjot becaknya lagi dan mulai menyenandungkan sholawat lagi.

Pak direktur terdiam dan merenungkan ucapan si tukang becak.

“Tukang becak itu, membuatku malu,” kata pak direktur pada dirinya sendiri.

Tapi, pak direktur masih sangat penasaran dengan tukang becak itu. Maka hari jum’at berikutnya dia menaiki becak si tukang becak misterius itu.

Hari itu dia menguji keteguhan niat si tukang becak dengan memberikan selembar uang 100 ribuan.

Tapi, tukang becak itu menolak dengan sopan dan bergegas pergi.

Sang direktur tidak kehabisan ide, dia mengulangi lagi di jum’at berrikutnya.

Di kali ketiga dia menaiki becak si tukang becak misterius itu, dia memberikan tawaran 10 juta untuk tumpangannya.

Tapi, sang direktur dibuat tercengan dengan penolakan si tukang becak.

“Saya ikhlas pak, sudah nggak usah dibayar. Saya bisanya sedekah cuma dengan cara begini,” kata tukang becak.

“Kenapa bapak nggak mau dibayar?” Tanya sang direktur.

“Karena hari ini hari jum’at pak,” jawab si tukang becak.

“jadi bapak tidak dibayar hanya di hari jum’at?”

Tukang becak itu mengangguk sopan.

“Kalau bapak tidak dibayar, anak istri bapak makan apa?”

“Insya Allah, anak istri saya ikhlas pak dengan sedekah yang saya lakukan,” jawab tukang becak itu lagi.

“Bapak tinggal dimana?” Tanya sang direktur lagi.

“Di daerah seberang jalan, belakang bank pak,” jawab si tukang becak.

Setelah itu, barulah si tukang becak dibiarkan menggenjot becaknya lagi sambil menyenandungkan sholawat.

Sepeninggal si tukang becak, sang direktur menangis dan merasa malu. Selama ini dia merasa telah lalai menjadi manusia.

“Masya Allah, kenapa tidak sedikitpun terpikir olehku, kalau aku telah lalai dari perintah-Mu sementara banyak nikmat yang telah Kau beri namun aku lupa bersedekah” kata sang direktur.

Lalu di hari jum’at berikutnya, dia kembali menggunakan jasa tukang becak itu.

“Pak tolong antar saya ke rumah bapak,” kata sang direktur.

Si tukang becak kaget. Mau apa seorang direktur kaya raya ke rumahnya.

“tolong pak,” pinta sang direktur dengan nada memohon.

Walaupun bingung, si tukang becak menggenjot becaknya menuju rumahnya sendiri.

Sesampainya di rumah si tukang becak sang direktur terpana melihat keadaan rumah si tukang becak.

Rumah tukang becak itu hanya berdinding triplek yang beberapa bagiannya bisa dibilang sudah tidak layak.

Sang direktur menitikkan air matanya.

Si tukang becak bertambah bingung. Batinnya berbisik, ini orang kenapa, apa yang salah dengan rumahku, kenapa dia malah menangis begitu?

Lalu direktur itu berdiri di hadapan si tukang becak dan berkata “Pak, meski tiap jum’at bapak menolak uang yang saya kasih. Maka untuk kali ini tolong jangan batalkan niat saya untuk bersedekah. Bapak sekeluarga akan saya berangkatkan ke Tanah Suci, saya harap bapak mau menerima pemberian saya sebagai balasan dari Allah namun dengan perantara dari hamba-Nya.

Si Tukang Becak terkejut. Apakah dia sedang bermimpi?

Dia menatap sang direktur tak percaya.

“Saya masih belum mengerti maksud bapak,” kata si tukang becak.

Direktur itu pun menjelaskan kalau dia pada hari jum’at itu juga ingin bersedekah dan ia ingin menyedekahkan sebagian hartanya pada si tukang becak yang sudah membuatnya sadar tentang arti berbagi tanpa menunggu kaya.

Setelah memaksa-maksa, akhirnya si tukang becak mau menerima pemberian sang direktur.

Kemudian tukang becak mengetuk pintu dan keluarlah seorang wanita yang sudah tua, masih menggunakan mukena.

Direktur itu dipersilakan masuk ke rumah tukang becak.

Sang direktur itu merasa sangat berterima kasih telah dipertemukan dengan sosok seperti tukang becak itu. Betapa selama ini dia yang sudah snagat tercukupi kebutuhannya oleh Allah, malah tidak bisa bersikap seperti si tukang becak.

Jangankan sedekah tiap jum’at, sholat wajib saja masih sering ditinggalkan.

Setelah mengobrol hangat dengan keluarga itu, sang direktur meminta izin untuk meminjam KTP si tukang becak dan istrinya.

“Buat apa pak?” Tanya sang istri

Dengan penuh rasa hormat, direktur itu mengatakan isi hatinya.

“Bu, bapak dan juga ibu sudah membuka mata hati saya, saya dapat hidayah dari Allah melalui bapak dan ibu. saya snagat terima kasih,” jelas sang direktur.

Sang direktur itu juga menambahkan “Bapak dan ibu, insya Allah saya daftarkan untuk naik haji ONH Plus bersama saya sekeluarga. Mohon diterima.”

Setelah tadi bapak tukang becak yang melongo, sekarang gantian istrinya yang kaget bercampur senang.

Singkat cerita mereka berangkat naik haji bersama-sama.

Begitulah kisah tukang becak yang bersedekah setiap jum’at dengan memberikan tumpangan gratis pada setiap penumpangnya dan mendapatkan rizki naik haji gratis.

Kisah ini sangat viral dan diyakini sebagai kisah nyata.

Tapi, ada salah satu redaksi yang melakukan investigasi mengenai kebenaran cerita itu. Setelah ditelusuri, ternyata tukang becak yang menggratiskan penumpangnya setiap jum’at adalah tidak ada.

Tapi walaupun begitu, kisah ini cukup menggugah hati bagi siapa saja yang mendengarnya, karena mengingatkan arti tentang berbagi tidak perlu menunggu kaya, dan mengingatkan kita bahwa kita bisa berbagi dengan apa saja yang kita punya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here