Baju Baru Sang Kaisar

0
64
Source : https://www.wsj.com

Di dalam sebuah kerajaan, hiduplah seorang kaisar yang sama sekali tidak memperhatikan apalagi peduli dengan segala macam urusan kenegaraan. Baik mengenai kesejahteraan rakyat, pertahanan maupun hukum dan lain-lain. Ia hanya sibuk berbelanja pakaian baru serta mengganti pakaiannya menjadi lebih modis dari hari ke hari dengan di bantu oleh para pegawai istana.

Semuanya kegiatan tersebut terus saja berlangsung hingga pada suatu hari, ada 2 orang penipu yang masuk ke dalam kerajaan dan menyamar di hadapan baginda sebagai 2 orang penjahit yang mampu membuat baju terindah di kerajaan. Katanya, karena pakaian yang di buat oleh mereka tersebut begitu indah, orang-orang bodoh pun tidak bisa melihatnya dengan kasat mata.

Mendengar hal itu, sang kaisar menjadi tertarik. Ia ingin sekali mengetahui siapa saja orang bodoh di antara bawahannya dalam kerajaan yang tidak pantas menduduki kursi pemerintahan. Akhirnya, ia memutuskan untuk memasukkan kedua penipu ulung tersebut menjadi penjahit kerajaan dan memberikan mereka sejumlah benang emas dan alat pemintal untuk bekerja membuat pakaian yang akan di gunakan kaisar pada hari parade.

Singkat cerita, kedua penipu mulai bertindak seolah-olah mereka bekerja di malam hari dari sebuah kamar dengan menghabiskan beberapa batang lilin sebagai penerangannya. Padahal, benang-benang emas yang sudah mereka dapatkan di simpan dalam sebuah tas.

Beberapa waktu kemudian, kaisar ingin mengetahui sudah sejauh mana penjahitnya bekerja. Karena ia sangat mempercayai perdana menteri yang setia, kaisar pun menyuruhnya untuk pergi ke tempat kedua penipu tersebut supaya ia memperoleh informasi lebih lanjut.

Setelah perdana menteri kekaisaran tiba di ruang tempat kedua penipu itu bekerja, mereka pun menyambutnya dan menunjukkan kepada perdana menteri hasil kerjanya. Oh! Alangkah terkejutnya perdana menteri ketika ia tidak melihat sehelai baju pun yang terletak di atas alat pemintal secara tiba-tiba.

Perdana menteri segera bertanya-tanya dalam dirinya apabila ia memang benar-benar bodoh dan tidak pantas memegang jabatan yang saat ini di pegangnya. Ketika melihat raut wajah perdana menteri yang terlihat muram, kedua penipu tersenyum lalu menanyakan pendapatnya mengenai pakaian tersebut.

“Oh, iya! Baju ini sangat cantik! Corak warnanya indah sekali! Aku menyukainya!” ucap perdana menteri sambil memasang wajah kagum.

Hal itu sengaja di lakukan karena ia tidak ingin turun dari jabatannya sebagai perdana menteri. Tepat sesudah ucapannya keluar, perdana menteri kekaisaran segera mendengarkan penjelasan lain dari kedua penipu mengenai corak kainnya. Ia hanya bisa mengangguk lalu mencatat apa yang ia dengar dari mereka sebagai informasi bagi kaisar.

Dalam sekejap, kabar mengenai baju indah kaisar segera tersebar ke segenap penjuru kerajaan. Mulai dari kalangan rakyat biasa hingga para bangsawan, mereka selalu membicarakan pakaian tersebut. Selain di luar, perdana menteri pun berkata kepada para tamu undangan dalam istana bahwa kain pakaian kaisar untuk parade memiliki corak yang sungguh indah .

Kini, tiba saatnya kaisar yang datang ke tempat kedua penipu bekerja. Setelah tiba di dalamnya, kaisar sangat terkejut. Ia bertanya kepada dirinya sendiri apakah gerangan yang sedang terjadi sehingga otaknya memunculkan ide untuk menyembunyikan fakta bahwa ia sama sekali tidak melihat baju yang di buat oleh para penjahitnya.

“Baju ini sangat bagus!” kata sang kaisar sambil menatap alat pemintal.

2 penipu kembali tersenyum. Mereka segera memberikan penjelasan kepada kaisar bahwa baju yang akan ia pakai memiliki bahan kain yang lebih ringan daripada jaring laba-laba. Sesudah mendengarkan mereka, kaisar pun mengangguk lalu meminta kepada para pegawainya untuk segera memakaikan baju tidak kasat mata tersebut saat hari parade.

Akhirnya, hari pelaksanaan parade tiba. Kedua penjahit kerajaan alias penipu menyerahkan baju tak kasat mata kepada pegawai istana lalu mereka memakaikannya di tubuh kaisar. Setelah merasa bahwa bajunya sudah terpasang, kaisar beserta para pengawal keluar di iringi dengan sorak-sorai yang riuh dari masyarakat karena mereka tidak ingin di anggap sebagai orang bodoh dalam kerajaan.

Kaisar terus berjalan. Mengangkat kepalanya sampai seorang anak kecil berteriak bahwa kaisar telanjang.

“Tapi kaisar telanjang!” teriak anak kecil itu.

“Ya Tuhan, dengarlah seruan anak yang tidak berdosa ini.” ucap salah satu rakyat.

Perlahan namun pasti, seluruh rakyat pun berbisik lalu berseru kepada kaisar bahwa dirinya telanjang. Mendengar seruan rakyatnya, kaisar tertegun. Ia juga sadar bahwa dirinya telanjang namun, di penghujung jalan, ia memilih untuk tetap meneruskan parade dan semua pengawal turut mengikutinya dan mengangkat ujung baju yang sebenarnya tidak ada.

Kesimpulan

Dongeng dari Hans Christian Andersen ini mengajarkan bahwa setiap orang harus jujur dengan perkataan dan tindakannya sendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here