N’Golo Kante: Bagaimana Seorang Pemalu Bisa Menaklukkan Dunia?

0
118

“Di luar lapangan dia pendiam, tapi di dalam lapangan, ia berubah menjadi monster.” Komentar tentang N’golo Kante in diucapkan Cedric Fabien, rekannya saat masih di Boulogne. Benar, bahkan saat masih meniti karier di divisi bawah Liga Prancis, ia sudah memukau banyak orang dengan kerendahan hatinya.

Kante pindah ke Boulogne pada usia 19 tahun dari klub amatir dekat rumah kelarganya, JS Suresnes. Di tempat ini, ia sudah punya reputasi. Biasanya, pertandingan klub ini hanya ditonton orang tua para pemain. Dengan Kante berada di tim, Suresnes mampu mendatangkan puluhan penonton ekstra.

Jauh sebelum itu, Kante berkembang dan dianggap “matang sebelum waktunya”. Dia masih berusia 15 tahun saat mulai bergabung dengan tim u-18. Dalam suatu pertandingan, ia baru dimasukkan sepuluh menit sebelum laga berakhir. Francois Lemoine, seniornya di Suresnes, bercerita, “Dia lebih kecil dari semua orang di lapangan tetapi tak ada yang mampu melewatinya. Seusai pertandingan, aku berkata ke seseorang, ‘Lihat, dia lebih mungil dari kita dan dalam sepuluh menit ia menunjukkan bagaimana cara bermain yang baik’. Itu pelajaran hidup tentang kemanusiaan.”

Pelatihnya waktu itu, Piotr Vojtyna, menyimpan memori tentang Kante yang mau mendengarkan dan melakukan segalanya. Segalanya dalam arti sebenarnya. “Setengah bercanda, menjelang liburan aku berkata ke N’Golo, ‘Aku memberimu dua bulan untuk belajar menimang bola 50 kali dengan kaki kiri, 50 pula dengan kaki kanan, dan 50 dengan kepala’. Dua bulan kemudian, ia melakukannya!”

Saat usia 16 tahun, ia sudah dicoba di tim utama Suresnes. Mula-mula ia masih ditaruh di bangku cadangan. Beberapa laga kemudian, ia sudah jadi pilihan utama. Selama sesi latihan yang dimaksudkan untuk meningkatkan IQ sepak bola dan insting dalam pertandingan, Kante mampu menguasainya hanya dalam dua-tiga minggu. “Padahal, ada banyak pemain yang tidak mampu mempelajari itu sepanjang hidupnya,” ucap Tomasz Bymek, pelatih pertamanya di tim senior Suresnes.

Beranjak dari Suresnes, ia “dipindahkan” oleh presiden klub agar bermain ke Boulogne, klub lebih besar yang bermain di divisi amatir Liga Perancis. Segera setelah jadi pemain terbaik di sana, Caen dari divisi dua terpincut. Dua musim yang dihiasi promosi ke Ligue 1 dan penampilan mengejutkan kemudian membuat Kante memenangi kepindahannya ke Leicester City. Di klub ini, ia bergabung dengan tim kejutan terbaik sepanjang zaman yang mampu menjuarai Liga Inggris 2015/2016. Chelsea kemudian menjadi pelabuhan berikutnya. Ia menjuarai Liga Inggris lagi di klub ini.

Didier Deschamps yang menukangi timnas Perancis tidak mau melewatkan potensinya. Di Piala Dunia 2018, dia diberikan tugas untuk melindungi pertahanan Les Bleus. Kefasihannya mengemban posisi ini membuat pemain termahal dunia Paul Pogba bisa mengekspresikan segenap kemampuannya. Perancis menaklukkan Kroasia di laga final, yang berarti, Kante telah menaklukkan dunia.

Satu hal yang tidak tetap sama dalam diri Kante dari masanya di Suresnes hingga kejayaannya di Chelsea dan tim nasional Perancis kini ialah, sifatnya yang pendiam dan pemalu. Dia tidak terlalu banyak bersosialisasi dan tidak pergi ke pesta apa pun. Ia bahkan terlalu malu untuk meminta trofi piala dunia dari teman setimnya!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here