Bagaimana Andres Iniesta Memenangi Hati Publik Jepang?

0
75

Tanggal 27 April 2018 menjadi penanda bahwa sebuah era telah berakhir. Legenda Barcelona berusia 34 tahun mengumumkan akan bertolak menuju Jepang setelah kontraknya berakhir. Liga Jepang memang dipandang sebagai liga paling kompetitif di Asia, tetapi dalam beberapa tahun terakhir, Liga China memantapkan diri dengan otot finansialnya. Kedatangan seorang spesial seperti Iniesta hanya mungkin berakibat bagus bagi sepak bola Jepang di masa mendatang.

Iniesta tidak pernah peduli dengan kehidupan glamor. Dia punya kerendahan hati dan rasa kemanusiaan yang tinggi. Ketika klub pertamanya Albacete terancam degradasi karena bangkrut, Iniesta tak ragu turun gunung dengan memberi bantuan finansial. Sisi psikologis Iniesta juga sempat terkoyak saat sahabatnya Dani Jarque meninggal pada tahun 2009. Gol tunggalnya di final Piala Dunia 2010 ia dedikasikan untuk sahabatnya yang menonton dari surge tersebut.

Secara keseluruhan, Iniesta dihormati kawan dan lawan, terbukti saat ia mendapat tepuk tangan langka dari seisi stadion Santiago Bernabeu dalam sebuah El Clasico. Ia juga manusia berkelas, pesepak bola berkualitas, dan diharapkan mampu menularkan karakter kuatnya ke ruang ganti tim.

Karakter kuat ini, jika ditelisik, juga dimiliki oleh orang-orang Jepang. Penyebutan sebagai liga paling kompetitif di Asia sebelum para pemainnya berpetualang di Eropa bukan tanpa alasan. Pemain-pemain Jepang memiliki etos kerja yang tinggi dan kepribadian yang berkelas.

Ada kejadian yang sangat perlu diingat dari perjalanan Jepang di Piala Dunia 2018. Di dalam lapangan para pemainnya mendapat pujian lantaran mampu membuat Belgia tertatih-tatih mengalahkan mereka di babak 16 besar. Di ruang ganti pascalaga, seluruh skuad Jepang membersihkan kamar ganti tersebut dan memberi ucapan terima kasih dalam bahasa Rusia. Di luar lapangan, penonton-penonton Jepang mengumpulkan sampah setelah laga berakhir.

Klop.Baik Iniesta maupun (pemain) Jepang memiliki karakter yang kuat dan kepribadian yang berkelas. Adaptasi bukan hal sulit bagi Iniesta.

Iniesta sangat cepat menyesuaikan diri dengan kultur sepak bola Jepang. Bulan Agustus lalu, suhu di jepang cukup panas sebelum lesatan dari Andres Iniesta membuat tuan rumah Jubilo Iwata terhenyak. Empat hari kemudian, dia melakukan hal serupa di Tokyo, juga di hadapan ribuan suporter tuan rumah. Sang gelandang terbukti bukan hanya mampu membuat para bek dan para jurnalis sibuk, tetapi juga mampu menggerakkan manajemen Vissel Kobe.

Semua pemain menghormatinya, pihak manajemen benar-benar terbantu dengan kedatangannya, dan para suporter semakin sering memadati stadion. Andres Iniesta tampak menjadi pahlawan baru bagi sepak bola Jepang…

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here