Ayahku Tidak Hanya Menjadi Seorang Polisi, Dia Juga Menjadi Pemulung

0
45

Ayahku seorang Bripka. Dia adalah salah seorang anggota polisi di Polres Malang Kota.
Ayahku sudah menjadi polisi sejak tahun 1977. Usianya 57 tahun. Setiap harinya ia berangkat dari rumah pada pukul 5 pagi menuju Mapolres Malang kota dengan mengendarai sepeda ontel. Setelah ia mengikuti apel, tugas selanjutnya adalah mengatur lalu lintas. Setelahnya, ayah akan berdinas di Kantor Satpas sebagai petugas penguji dan pengurus administrasi SIM.

Ayahku adalah teladan terbaik untukku. Walaupun ia sudah menjadi seorang polisi, dia tidak malu untuk berwirausaha, walaupun usaha yang ia lakukan sering gagal.

Ayahku orang yang sangat jujur dan bagiku dia adalah bukti bahwa seorang pelayan masyarakat tidak semuanya buruk dan semena-mena. Dia tidak menjadikan profesinya sebagai alat untuk memudahkan dirinya mendapatkan uang. Kamu tahu sendiri, ayahku berada di bagian yang ‘basah’.

Dulu ayahku pernah mencoba untuk berbisnis bensin eceran. Awalnya bisnis bensin eceran itu tidak menunjukkan tanda-tanda yang buruk, setiap orang yang punya kendaraan bermotor pasti butuh bensin kan? Jadi, yang aku bayangkan adalah bisnis ayah akan berkembang. Tapi, nasib buruk menimpa kami, usaha bensin eceran ayah kandas karena terbakar. Wajahnya kala itu tampak tenang, entah apa yang ada dalam pikirannya. Tapi yang aku pahami itu adalah awal dari titik balik kehidupan kami. Ayah terlilit hutang bank. Dia memulai bisnis bensin eceran itu bermodalkan pinjaman dari bank dan nilainya mencapai ratusan juta.

Tapi, ayahku benar-benar luar biasa, dia tidak menyerah. Ia mencoba bisnis lainnya.
Kemudian ayah kembali mencoba peruntungannya di bisnis sepatu. Tebak apa yang terjadi? Ayahku harus menerima kegagalan lagi. Tapi, ayahku pantang menyerah. Dia terus mencoba untuk memiliki sebuah bisnis.

Usaha mebel adalah usaha yang ia coba berikutnya. Usaha itu tentu saja gagal lagi.
Dan bisnis barang-barang elektronik menjadi bisnis terakhir yang dia jalankan. Ayahku ditipu oleh temannya. Dan yang kukagumi dari kegagalan bisnis elektroniknya adalah dia tidak menggunakan jabatannya sebagai polisi untuk menuntut temannya. Menurutnya, kegagalan bisnis dan jabatannya adalah dua hal terpisah. Ayahku beranggapan bahwa usaha-usahanya yang gagal itu disebabkan karena semua itu belum rezekinya.

Ayahku yang masih terlilit hutang bank itu harus memutar otak bagaimana caranya agar dia bisa mengangsur kewajibannya dan memenuhi kebutuhan keluarga.

Orang-orang berpikir bahwa menjadi seorang polisi akan memiliki banyak uang dan kekuasaan yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi.

Dan bagaimana bisa seorang bripka masih mencari penghasilan tambahan? Apakah gajinya masih kurang banyak?
Jangan. Please! Jangan berpikir seperti itu pada ayahku. Ayahku jauh dari itu semua. Aku tahu mungkin ada beberapa oknum polisi nakal yang mencari keuntungan lewat uang suap, tapi ayahku berbeda, dia justru lebih memilih memulung untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Menjadi pemulung adalah pilihannya.

Memang sih, biasanya polisi tinggal di rumah mewah, tapi percayalah kami tidak. Kami sangatlah sederhana. Kami sekeluarga tinggal di rumah milik kakek nenekku, di kawasan Gadang.

Awal mula ayah memulai memulung sejak tahun 2004. Waktu kondisi keluarga kami benar-benar sulit. Saat itu, usai piket malam di kepolisian, ayah mulai memilah dan memungut sampah di Mapolresta Malang. Ayah bergerak memunguti sampah dari jam 7 malam, selepas dinas paginya selesai.

Ternyata niat baik ayah tidak mulus. Tiba di rumah, ayah sempat dimarahi ibuku, karena membawa sampah. Namun, kemarahan ibu tak memudarkan niat ayah untuk mencari penghasilan sampingan itu. Untungnya, setelah menjelaskan maksud kenapa ayah membawa begitu banyak sampah, kemarahan ibuku mereda.

Sejak itu, setelah jam dinasnya selesai, dia berganti baju dan menggowes menuju tempat ‘dinas’nya yang lain. Jaraknya dari Kantor SIM sekitar 200 meter. Di sana, ayahku sudah ditunggu oleh tumpukan plastik berisi sampah yang diletakkan dalam sebuah ruang pengap minim cahaya.

Ternyata, uang hasil memulung lumayan banyak. Ayah menyadari bahwa diantara sampah-sampah yang ia pilah-pilah itu ayah bisa mendapatkan tambahan uang untuk kami sekeluarga. Dan saat awal-awal memulung, dalam satu bulan 15 hari ayah bisa mendapatkan uang sebanyak Rp 400 ribu.

Dalam kesehariannya memilah sampah, ayah dibantu oleh dua orang temannya. Tentu saja aku juga ikut terjun membantu ayah mengerjakan itu semua.

Sampah yang berasal dari sekitaran Stasiun Kota Baru Malang itu diangkut dengan pick up menuju rumah kosong tersebut. Itu yang dilakukan ayah setiap hari. Setelahnya ayah akan terjun langsung memilah-milah sampah botol, kantong plastik, atau kardus.

Mobil pick up yang digunakan untuk membawa sampah-sampah itu adalah bukti nyata dari hasil memulung. Keuntungan yang didapat ayah tidak terlalu banyak, masih dalam kisaran 25.000-50.000 rupiah per harinya.

Aku tahu, pekerjaannya di ‘lahan basah’ sebagai petugas pengurusan SIM memang membutuhkan tameng yang kuat. Prinsip ayah, dia harus bekerja jujur meski kondisi ekonomi keluarga kembang kempis. Padahal jika ia mau, ia bisa mendapatkan banyak uang dari kantornya. Dia bisa saja menerima suap dari berbagai pihak, tapi ayah memilih jujur dan berpegang teguh pada prinsip hidupnya.

Ayah sudah 16 tahun menjalani profesinya sebagai polisi dan dia belum pernah menerima suap, makanan atau apapun. Dia ingin memberi contoh pada kami. Ayah melatih kami sekeluarga dengan hidup tanpa suap-menyuap.

Ayah tahu betul ia dituntut menafkahi istri dan ketiga anaknya ditambah lagi dia harus membayar cicilan bank. Pasti berat menjadi dia, kadang aku sendiri prihatin melihat kondisinya.

Tapi menurutku, profesi sampingan ayah ini adalah lahan basah sebenarnya. Benar ‘kan? Basah, bau dan menjijikkan?

Aku ingin seperti ayahku, aku juga sudah mendaftar di Akademi Kepolisian. Ayah berharap padaku, bahwa kelak jika aku resmi menjadi polisi, aku harus memiliki perisai yang kuat dan harus berpegang teguh pada pendirian untuk tidak menerima suap dalam bentuk apapun.

Ayahku merupakan polisi yang berbeda dari yang lain, ia tak malu atas pekerjaan sampingan yang dilakukannya. Menurutnya pekerjaan apapun selagi itu adalah pekerjaan halal maka tak ada alasan malu untuk mengerjakanya. Ia tak ambil pusing dengan perkataan orang lain, ia hanya berharap keberkahan dari pekerjaan sampingannya ini.

Dan dia adalah Bripka Seladi. Bripka yang sekarang dikenal banyak orang sebagai polisi paling jujur dan aku bangga menjadi anaknya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here