Ayah, Aku Pilih Meninggal Saja, Ayo, Kita Pulang!

0
43

“Ayah, aku pilih meninggal saja. Ayo, kita pulang.”

Itu adalah sebaris kalimat yang diucapkan putri kecil kesayanganku saat dia mendengar vonis dari dokter tentang penyakit yang ia derita. Sebagai ayah aku sangat terpukul mendengar kalimat itu. Aku merasa gagal sebagai ayah dan menyesali keterbatasan yang aku miliki. Andaikan aku punya banyak uang, aku pasti bisa memberikan pengobatan terbaik.

Kadang aku berpikir apa kesalahan yang sudah diperbuat oleh putriku, sampai ia harus mengalami hal buruk. Sejak dia lahir dia harus menerima kenyataan bahwa kedua orangtuanya membuangnya. Ya, aku bukan orang tua kandungnya. Aku hanya orang tua angkat untuknya.

Ayu kutemukan dalam keadaan masih merah. Saat itu aku yang sedang akan memerah susu di kebun terkejut melihat keadaan Ayu yang mengenaskan. Aku menghentikan kegiatanku untuk melihat bayi perempuan mungil itu.
‘Siapa yang tega membuang bayi disini?’ batinku.

Melihat keadaan Ayu kala itu, saat masih berlumuran darah, mengetuk nuraniku untuk berbuat sesuatu. Di satu sisi aku tidak tahu bagaimana cara merawat bayi, aku kan hidup seorang diri. Tapi di sisi yang lain, jika aku meninggalkan bayi ini tergeletak disini apa yang akan terjadi pada bayi yang masih merah ini?

Karena rasa kasihanku lebih besar maka aku putuskan untuk membawa bayi ini pulang. Mungkin aku bisa meminta bantuan orang-orang di sekitarku untuk mengurus bayi ini.
Aku berjalan cepat menuju rumah. Sesampaiku di rumah aku langsung berteriak minta tolong meminta bantuan pada seorang tetangga wanita di sebelah rumahku, melihatku membawa bayi dia terkejut sekaligus bingung.

“Anak siapa?” tanya tetanggaku.
“Tidak tahu. Aku temukan tadi di kebun,” jawabku.
Mendengar jawabanku yang singkat dan padat, dia bergegas membersihkan darah-darah yang masih melekat di kulit bayi perempuan itu.

“Lalu akan kamu bawa kemana bayi ini? Mau dikirim ke panti asuhan?”

Itu adalah pertanyaan yang keluar dari mulut tetanggaku. Aku sendiri bingung. Antara mengirimkannya ke panti asuhan atau akan aku rawat sendiri. Sepanjang perjalanan pulang tadi, aku sendiri merenungkan nasib bocah bayi ini jika tinggal bersamaku. Akan aku kasih makan apa? Aku sendiri hidup dalam kekurangan. Tapi… setelah pergolakan batin yang hebat, aku memilih untuk mengadopsinya.

Ayu. Begitu aku memanggilnya sejak bayi, parasnya yang cantik dan menggemaskan membuat nama Ayu cocok untuknya.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, Ayu tumbuh dan berkembang seperti bocah kecil lainnya. Dia bermain dan belajar seperti kebanyakan anak kecil pada umumnya. Ayu tumbuh menjadi anak yang manis dan penurut, tidak hanya itu Ayu juga tumbuh menjadi anak yang cerdas. Semangat belajarnya sangat mengagumkan. Walaupun dia tahu, aku hanya orang tua angkat yang miskin dia belajar dengan sunguh-sungguh di sekolah. “Aku ingin membuat ayah bangga padaku,” kalimat tulus itu meluncur dari mulut mungilnya, seketika saat itu mataku berkaca-kaca.

Prestasi Ayu di sekolah membuat banyak guru terkagum-kagum. Dia selalu berhasil mendapatkan nilai sempurna untuk semua mata pelajaran. Teman-temannya juga senang bermain dengannya. Ayu selalu panen pujian dari banyak orang.

Tapi hari itu, Ayu mengalami demam yang sangat tinggi dan mimisan. Wajah Ayu yang cerah berubah pucat pasi. Aku melakukan berbagai macam pertolongan pertama. Tapi, aliran darah itu tak berhenti dari hidungnya. Aku sangat panik. Tidak biasanya Ayu seperti ini.

Kondisi yang tidak normal itu membuatku bergerak cepat. Segera kugendong dia menuju rumah sakit. Sayangnya sesampaiku di rumah sakit Ayu tidak langsung mendapatkan penanganan dari dokter, kami harus terjebak dengan antrian panjang.

Ayu terkulai lemas dalam gendonganku, aliran darahnya terus menerus menetes hingga sebaskom kecil penuh.
“Kamu kenapa, sayang?” bisikku pelan di telinga Ayu. Ayu hanya menggeleng lemas mendengar bisikanku.
“Aku tak apa, ayah. Aku akan baik-baik saja,” katanya lemah tapi senyum masih tersungging di wajah pucatnya.

Melihat keadaan Ayu yang semakin parah, orang-orang dalam antrean mau mengalah dan mendahulukan kami. Aku mengucapkan banyak terima kasih dengan cepat.

Dan vonis itu keluar.

“Ayu, menderita Leukimia. Kanker darah,” begitu kata dokter yang menangani Ayu. Aku dan Ayu sangat terkejut. Bagaimana bisa?

“Kanker darah sangat sulit diobati. Jika memaksa dilakukan pengobatan itu belum menjamin Ayu akan sembuh total,” tambah dokter.
“Biaya pengobatannya berapa banyak, dok?” tanyaku saat itu.
Dokter menghela nafas, kemudian menyebutkan nominal itu.
“Sekitar Rp 3 milyar.”

Aku dan Ayu terkaget-kaget mendengar nominal sebanyak itu. Bagaimana mungkin aku punya uang sebanyak itu, untuk makan saja kami susah. Menyadari masalah yang sedang kami hadapi Ayu berbisik padaku, “Ayah, aku pilih meninggal saja. Ayo, kita pulang”, tangis Ayu saat itu pecah.

Kami saling berpelukan. Kami memutuskan untuk pulang.

“Aku tahu, ayah tidak punya uang untukku berobat. Ayu tidak mau membebani hidup ayah,” kata bocah perempuan itu, mendengar apa yang menjadi alasan utama Ayu memilih mati hatiku terasa sakit, mataku berurai air mata. Dia benar-benar anak yang sangat baik, demi menyelamatkanku dari biaya pengobatannya yang sangat mahal ia lebih memilih untuk pergi meninggalkan dunia.

“Ayah, aku ingin berfoto denganmu. Bisakah kita mampir ke studio foto?” Ayu mengatakan itu setelah kami keluar dari rumah sakit.

Masih dengan air mata yang belum bisa berhenti menetes aku mengiyakan permintaan Ayu. Melihat wajah Ayu yang tetap menyunggingkan senyum padahal ia tahu umurnya tidak akan lama lagi membuat dadaku semakin sesak. Ya, Tuhan… dia masih sangat kecil, umurnya masih 8 tahun. Kenapa Kau begitu tega padanya? Kenapa kau tega pada kami?
Kami berfoto dengan berbagai macam gaya. Setelah selesai berfoto kami pulang.

“Ayah, kalau ayah kangen padaku. Lihat saja fotoku ini.” Aku mengangguk tersenyum.
Suatu ketika, aku tidak tahu bagaimana awalnya, ada seorang wartawan yang menemui Ayu. Wartawan itu sangat terharu setelah mengetahui kondisi yang dialami anak angkatku. Ia juga menulis cerita tentang apa yang menimpa Ayu.

Apa yang ditulis wartawan itu pun menyebar ke seluruh dunia, Ayu mendapat banyak sumbangan sampai dana yang dibutuhkan Ayu terkumpul melebihi dari yang dibutuhkan. Aku merasa Ayu masih memiliki harapan, dari dana yang terkumpul aku membawanya berobat. Dia menjalani berbagai perawatan di rumah sakit.

Tapi, ternyata Tuhan lebih mencintai Ayu. Dia lebih memilih mengambil Ayu untuk bersama-Nya daripada membiarkan Ayu bertahan bersamaku. Tepat pada tanggal 26 Agustus Ayu meninggal dan dimakamkan. Hatiku penuh sesak, Ayu telah menjadi bagian dari hidupku. Bahkan langit pun seolah ikut merasakan kedukaan yang mendalam dengan perginya Ayu. Perginya Ayu membuat semua orang yang hadir di pemakaman serentak menangis bersamaan dengan turunnya air dari langit.

Sampai jumpa tante, kita berjumpa lagi dalam mimpi. Tolong jaga ayahku. Dari dana pengobatan yang masih tersisa, bisa disumbangkan untuk sekolahku. Juga untuk pemimpin palang merah. Setelah aku meninggal, biaya pengobatan dari sumbangan bisa dibagika kepada orang-orang yang sakit sepertiku, supaya mereka segera sembuh.

Itu adalah sebuah surat yang Ayu tulis sebelum ia pergi. Membaca kalimat demi kalimat dalam surat yang Ayu tulis, membuat air mataku semakin tak terbendung. Bahkan ia tetap ingin berguna untuk semua orang yang masih hidup.

Sesuai pesan Ayu, sisa dana yang terkumpul untuk Ayu aku sumbangkan pada 7 anak yang mengalami hal serupa dengan Ayu. Satu bocah berhasil melalui serangkaian operasi.
Ayu, semoga semua kebaikan hatimu menginspirasi semua makhluk di bumi. Selamat jalan, anakku. Selamat jalan Ayu. Ayah akan selalu merindukanmu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here