Apa yang Membuat Timnas U-19 Angkatan 2018 Lebih Baik Daripada Angkatan 2013?

0
109

Kiranya football lovers sudah memahami bahwa sepak bola Indonesia di tataran usia muda masih mampu bersaing dengan negara-negara mapan sepak bola, setidaknya di tingkat Asia. Dengan kata lain, secara kualitas, timnas junior lebih kompetitif dibanding timnas seniornya.

Salah satu indikatornya ialah beberapa torehan emas yang sempat ditorehkan adik-adik kita. Gelombang prestasi ini dimulai saat timnas u-19 asuhan Indra Sjafrie memenangi Piala AFF u-19 2013. Tim tersebut merupakan hasil bentukan sang pelatih, yang bermaterikan timnas u-17 yang menjuarai HKFA Cup Hong Kong 2017, serta beberapa pemain daerah yang dipantau Indra sendiri.

Sayangnya, tim ini mengalami dekadensi performa akibat perhatian berlebih dan pola latihan yang kurang proporsional. Pada Piala Asia u-19 2014, tim yang menaklukkan Korea Selatan u-19 di Jakarta pada tahun sebelumnya babak belur di fase grup, kalah di semua laga.

Pada tahun-tahun berikutnya, Indonesia tak sanggup mengulangi, atau bahkan sekadar menyamai catatan angkatan 2013 tersebut. Kombinasi antara sanksi FIFA dan tak seriusnya pembinaan usia muda menjadi penyebabnya. Pada Piala AFF u-19 2016 misalnya, pelatih Eduard Tjong baru ditunjuk dua bulan sebelum turnamen berlangsung, dan langsung menangani tim yang diperkuat pemain-pemain minim jam terbang internasional. Hasilnya, tim dadakan ini bahkan tidak mampu lolos dari fase grup.

Perubahan mulai dilakukan pada 2018. Kali ini, Indra Sjafrie kembali dipanggil untuk menukangi timnas. Berkat tangan dingin pelatih asal Sumatera Barat tersebut, serta persiapan yang lebih optimal, timnas u-19 angkatan ini lebih mampu berbicara di tingkat internasional. Walau tak mampu mengulangi catatan pada 2013 yang mampu menggondol trofi Piala AFF, Witan Sulaeman dan kawan-kawan mampu melaju lebih jauh di level Piala Asia.

Lantas, mana yang lebih baik, angkatan 2013 yang dipimpin oleh Evan Dimas Dharmono, atau angkatan 2018, yang digerakkan oleh Egy Maulana Vikri?
Dari segi catatan prestasi, keduanya punya catatan yang saling mengungguli. Di ajang Piala AFF, angkatan 2013 berhak jumawa karena mereka mampu menjuarainya. Tidak demikian dengan angkatan 2018, yang disingkirkan Malaysia di semifinal, sehingga harus puas menempati peringkat tiga setelah mengalahkan Thailand.

Situasi berbalik di ajang Piala Asia. Egy Maulana Vikri dan kawan-kawan boleh berbangga, karena mampu lolos hingga babak perempatfinal setelah memenangi dua dari tiga laga fase grup. Tinggal berjarak 90 menit dengan kelolosan ke Piala Dunia u-20, pada akhirnya tim ini disingkirkan Jepang dengan skor 2-0.

Nasib apes dituai oleh Evan Dimas dkk, yang kalah di seluruh laga fase grup, dengan catatan kebobolan delapan kali dan hanya mencetak dua gol.
Dalam aspek penampilan di klub, timnas angkatan 2018 secara statistik jauh lebih baik dibanding angkatan 2013. Sebelum gelaran Piala AFF tahun itu, tak ada satu pemain pun yang telah merasakan debut kompetisi bersama tim profesional. Pemain-pemain seperti Sahrul Kurniawan, Muhamad Hargianto, Putu Gede, dan kawan-kawan pada waktu itu cuma pemain muda yang dikumpulkan Indra Sjafrie melalui mekanisme scouting dan seleksi.

Pada 2018, situasi sedikit lebih baik. Coach Indra terbantu dengan sudah diserapnya beberapa pemain di klub profesional. Kiper Muhammad Riyandi misalnya, ia sudah melakukan debut bersama Barito Putera pada Torabika Soccer Championship 2016, saat usianya masih 16 tahun. Syahrian Abimanyu, Rahmat Irianto, atau Firza Andhika malah sudah tampil reguler untuk klub masing-masing di Liga 1 musim ini. Egy Maulana Vikri bahkan sudah menembus sepak bola Eropa setelah resmi dikontrak Lechia Gdansk per musim ini.

Di luar semua itu, timnas angkatan 2018 perlu membuktikan mampu kompetitif hingga usia senior. Jangan sampai perkembangan mereka justru mandek di usia sekarang. Timnas angkatan 2013, meskipun banyak yang sudah dikontrak klub profesional, tapi cuma sedikit yang mampu menembus timnas senior. Sejauh ini hanya ada nama Hansamu Yama, Putu Gede, Zulfiandi, Evan Dimas, dan Ilham Udin Armayn yang sempat menembus timnas senior.

Ini tentu menjadi pekejaan rumah bagi seluruh stakeholder sepak bola Indonesia: bagaimana agar talenta muda ini dirawat dengan telaten, agar matang dan tumbuh sempurna hingga usia senior…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here