Apa yang Berbahaya dari Nyanyian “Dibunuh Saja”?

0
50

Suporter Indonesia begitu kreatif hingga kata perintah menghilangkan nyawa orang (“dibunuh”) dapat digubah menjadi dendang penyemangat tim yang sedang berlaga. Dirijen suporter di atas panggung begitu lincah mengarahkan massa guna menyanyikan lagu yang liriknya mencekam tersebut.

Anak-anak kecil dengan riang menyanyikan itu di laga tarkam tanpa merasa perlu tahu maksud dari lirik itu. Mungkin tak berimplikasi langsung dalam kehidupan sehari-hari sang anak atau sang suporter, tetapi realita mengerikan di Liga Indonesia rasanya membuat kita perlu mengubah mindset.

76 suporter Indonesia meregang nyawa saat mendukung timnya di stadion. Jumlah ini sudah terlalu banyak, apalagi kita juga belum menghitung korban luka fisik atau kerusakan infrastruktur yang diakibatkan pecahnya emosi ketika kerusuhan suporter terjadi.

Pemahaman bahwa musuh perlu diberantas dengan cara yang kejam: dipukuli, dilempari, atau bahkan dibunuh, sedikit banyak disebabkan oleh kebiasaan melanggengkan unsur kekerasan dalam lagu-lagu dukungan untuk tim kesayangan. Frasa “dibunuh saja” misalnya, sering dikoarkan tatkala tim dukungan sedang menjamu rival bebuyutan.

Nyanyian yang didengungkan secara berulang-ulang ini, apalagi jika sudah merasuki kepala anak-anak, akan tertanam di alam bawah sadar sang anak. Banyak orang belum menyadari bahwa di sinilah letak pangkal permasalahan itu.

Seperti dikatakan Dex Glenniza, Dalam kondisi keseharian, mungkin makna dari “dibunuh saja” tidak akan terjadi karena ada kontrol sosial di sana (baik oleh orang tua maupun masyarakat sekitar). Akan tetapi, jika si penyanyi sedang berada dalam kondisi khusus, seperti di dalam stadion atau berada dalam rombongan suporter, makna nyanyian ini sudah tertanam di alam bawah sadar mereka sehingga “mereka seperti refleks saja untuk benar-benar melakukannya”.

Dorongan dari alam bawah sadar, menurut Sigmund Freud, biasanya bersifat merusak. Etika sosial yang membuatnya terbelenggu. Jadi, apabila gerombolan pemuda yang sejak kecil selalu melantunkan “dibunuh saja” bertemu dengan suporter lawan, dorongan dari alam bawah sadar ini “mendapat ruang untuk dilampiaskan”.

Solusi untuk menghentikan lingkaran setan ini tentu saja dengan berhenti menyanyikan lagu ini. Tidak boleh ada lagi nyanyian “dibunuh saja” di tribun. Para dirijen di seluruh Indonesia harus mengerti bahwa nyanyian itu bisa berdampak jauh lebih buruk dibanding tim kesayangan kalah saat berlaga.

Bila kebiasaan ini sudah mulai bisa dihentikan, kini giliran menyadarkan sisi kemanusiaan para suporter yang sudah menganggap suporter lawan sebagai “mangsa”. Suporter harus sepenuhnya paham bahwa aku adalah manusia, kamu adalah manusia, dia adalah manusia yang tak seharusnya saling membinasakan. Sepak bola terlalu kecil untuk dibandingkan satu nyawa manusia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here