Anakku, Demi Melihatmu Hidup Aku Rela Mendonorkan Organ Tubuhku

0
45

Melihat garis dua di test pack yang sedang aku pegang, aku melonjak senang. Akhirnya, aku hamil! Fiyuh, wanita mana sih yang setelah menikah tidak ingin hamil? Semua wanita menginginkannya, ‘kan? Dan inilah aku, aku hamil dan aku akan menjadi seorang ibu. Sungguh, aku merasa sempurna dan sangat bahagia di saat bersamaan.

Hari-hari berikutnya, aku sering membayangkan seorang bayi yang lucu dan menggemaskan berada di gendonganku. Membayangkan anakku akan bermain denganku dan ayahnya. Berlarian kesana kemari mengejar kupu-kupu. Seperti apa ya anakku nanti? Seperti aku atau suamiku? Ah, aku benar-benar tidak sabar menunggu kelahirannya.

Selama hamil aku menjaga pola makanku, agar apa yang aku makan akan menjadikan anakku anak yang sehat dan kuat. Suamiku juga melakukan hal yang sama, dia menjagaku dengan sangat baik.

Seiring berjalannya waktu, akhirnya saat itu tiba. Saat yang sangat aku nantikan, anakku akan lahir! Daan, setelah perjuangan yang cukup menyakitkan seorang bayi perempuan lahir dari rahimku. Aku menghela nafas lega. Anakku telah lahir melihat dunia. Senyum bahagia selalu tersungging di bibirku.

Tapi, senyum di bibirku memudar. Anakku yang baru lahir terlahir berbeda. Tubuhnya yang masih mungil berwarna kuning dan warna kuningnya tidak bisa hilang. Hatiku mencelos kecewa dan diselimuti perasaan yang tidak bisa aku jelaskan. Aku kecewa dan sedih secara bersamaan. Setiap orang tua menginginkan anaknya terlahir normal, sehat dan bahagia, ‘kan?

Melihat keadaan bayi perempuanku, serangkaian pemeriksaan dilakukan. Anakku harus menjalani pemeriksaan tes darah dan menurut dokter anakku harus menjalani operasi. Ini adalah Natal paling menyesakkan yang pernah aku alami. Aku, suamiku, dan anakku harus menjalani Natal di bangsal rumah sakit. Aku menangis sedih. Ya, Tuhan… kenapa harus putriku?

Detik berikutnya aku menyadari satu hal, anakku yang masih terlalu kecil ini harus menghadapi pisau bedah rumah sakit. Hati ibu mana yang tidak teriris-iris hatinya, melihat keadaan putrinya yang masih kecil harus berhadapan dengan pisau bedah?
Suamiku menenangkanku. Mengatakan padaku bahwa semuanya akan baik-baik saja. Aku percaya padanya.

Kata dokter, anakku mengalami kelainan yang sangat langka. Bayiku, yang aku beri nama Imogen, harus mengalami kondisi atresia bilier. Anakku lahir tanpa saluran empedu. Kondisi itu menyebabkan anakku tidak bisa mencerna lemak dalam makanan yang dikonsumsi, sehingga hatinya menjadi sangat tegang dalam kondisi mengkhawatirkan dan dapat berisiko kematian. Medengar penjelasan dokter, au langsung diserang perasaan sedih.

Hatiku penuh sesak, sungguh. Aku baru saja resmi menjadi seorang ibu, tapi kenapa aku harus mengalami ini semua?
Tapi aku harus kuat. Aku percaya selalu ada harapan untuk anakku.

Aku dan suamiku harus menciptakan harapan itu. Setelah mengetahui apa yang menimpa putriku, aku dan dia mencari banyak informasi bagaimana cara agar anakku bisa sembuh. Aku dan suamiku memperlajari berbagai kemungkinan medis, termasuk donor hati. Tapi, donor organ tubuh biasanya diambil dari seseorang yang baru meninggal, karena risikonya cukup besar.

Tapi ini adalah kesempatan terbaik untuk menyelamatkan nyawa putriku. Saat aku menemukan kesempatan yang masuk akal bagi kesembuhannya, termasuk transplantasi hati dari orang yang masih hidup, aku tidak memikirkan hal lain, aku harus memberikan hatiku untuk Imogen.

Itu adalah harapan kami satu-satunya untuk Imogen. Aku dan suamiku rajin berdiskusi dengan para dokter. Bagaimana jika donor hati itu dilakukan oleh orang yang masih hidup. Kata dokter itu bisa saja dilakukan, namun aku harus siap menerima berbagai kemungkinan risiko yang cukup besar.

Aku katakan pada dokter, aku tidak peduli. Aku siap menonorkan hatiku. Dan demi melihat kesungguhanku, sang dokter akhirnya mengiyakan. Dokter mengatakan bahwa jika aku dan suamiku setuju dengan operasi transplantasi hati itu, aku dan suamiku harus siap dengan adanya beberapa rangkaian prosedur medis.

Tanpa berpikir dua kali, aku langsung mengangguk mengiyakan. Demi melihat kondisi putriku, agar semakin membaik. Aku benar-benar sedih melihat kondisinya, yang dari hari ke hari semakin memprihatinkan, itu yang menjadi motivasi utama aku mau melakukan operasi ini.

Aku tidak peduli dengan diriku sendiri. Bahkan jika memang aku harus memotong lenganku, aku rela, demi nyawa putriku. Bagiku nyawanya lebih penting dari apapun yang ada di dunia.

Singkat cerita, aku mulai disibukkan dengan rangkaian prosedur tes kesehatan yang panjang. Jujur saja, aku sangat takut dengan jarum. Tapi mengingat kondisi Imogen yang semakin buruk, aku menguatkan diri, ketakutanku akan jarum aku lawan. Aku tahu ini akan sulit dan melelahkan. Namun, demi Imogen, tak apa. Aku bisa. Aku kuat.

Tanggal 5 bulan September tahun 2012, saat usia putriku berusia 11 bulan, aku resmi menjalani operasi secara bersamaan. Kami menjalani operasi di rumah sakit yang berbeda selama sembilan jam.

Setelah Sembilan jam yang cukup menegangkan, operasi transplantasi hati berjalan lancar. Aku berdo’a pada Tuhan, agar Imogen akan seperti anak lainnya yang tumbuh sehat dan bahagia. Tuhan, Engkau boleh ambil nyawaku, tapi tolong beri kesempatan putriku melihat dunia sebagaimana mestinya. Aku sangat mencintainya.

Setelah operasi aku menjalani masa pemulihan. 6 hari pasca operasi aku baru bisa melihat Imogen. Para petugas transplantasi memperlihatkan kondisi perkembangan putriku melalui foto-foto yang berhasil mereka ambil. Aku tersenyum lega. Anakku benar-benar luar biasa, dia pulih lebih cepat dariku. Semangatku kembali menyala. Aku juga harus pulih.

Seiring berjalannya waktu aku dan Imogen telah sempurna pulih dan dalam kondisi sehat. Aku melihat dia tumbuh dan berkembang sebagaimana bocah kecil yang sedang mengalami fase itu. Aku bahagia. Aku merasa sempurna dengan menjadi ibunya.

Aku menemani masa kecilnya dengan bahagia. Melihatnya berinteraksi dengan ayahnya. Bermain denganku, ibunya, dan tertawa ceria dengan ayahnya adalah keajaiban terbaik dalam hidupku.

Jujur saja, aku memang lelah menjalani rangkaian tes kesehatan itu. Rangkaian tes yang melelahkan itu terbayarkan sudah. Setiap menatap Imogen, semua rasa lelah itu lenyap. Rasa percayaku akan kebaikan Tuhan tidak pernah pudar, Imogen adalah bukti bahwa selalu ada harapan untuk terus melangkah ke depan.

Kini aku sangat menikmati peranku menjadi seorang ibu. Aku dan keluarga kecilku yang bahagia. Aku, Charlotte Rogers, begitu orang-orang memanggilku, ingin menyampaikan bahwa tidak ada yang mengalahkan cinta seorang ibu untuk buah hatinya. Seorang ibu akan melakukan apa saja, seorang ibu akan berusaha sekuat tenaga melawan rasa takutnya, dan jika memang dibutuhkan seorang ibu bahkan akan rela mempertaruhkan nyawanya, demi sang buah hati. Karena yang dia pikirkan adalah bagaimana agar anaknya selamat dan bahagia.

Kepada seluruh ibu di dunia, apa pun keadaan anakmu, akan selalu ada harapan untuk anakmu. Percayalah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here