Anakku Bukan Anakku

0
50

Halo, aku Salma. Aku adalah seorang ibu rumah tangga dengan satu anak.

Hari ini aku akan menceritakan kisah hidupku yang seperti sinetron.

Hari itu, saat aku sedang berbelanja di pasar, aku mengalami kontraksi hebat pada perutku. Tapi, memang saat itu usia kandunganku sudah masuk HPL. Jadi, dengan agak drama, orang-orang di pasar berteriak dan berlarian demi menyelamatkan aku dan bayiku. Suamiku  juga sudah menelpon ambulans, tapi karena takut aku keburu melahirkan di pasar, suamiku menyetop taksi yang lewat.

Di taksi, aku berusaha menahan semua rasa sakit. Ini adalah kelahiran anak pertamaku, suamiku sangat panik sekaligus antusias saat itu.

Tiba di rumah sakit, aku langsung ditangani, saat memasuki ruang persalinan, aku melihat ada seorang perempuan, yang juga akan melahirkan.

Setelah itu aku tidak memperhatikan lagi, karena aku dan dia sama-sama sibuk menyelamatkan anak kami agar lahir dengan sehat dan selamat.

Setelah perjuangan berjam-jam, akhirnya anakku lahir, tangisnya sangat kencang, dan beberapa menit kemudian disusul lahirnya anak dari perempuan di sebelahku itu.

Setelah melahirkan karena kelelahan aku terlelap, aku hanya melihat bayiku sepintas.

Bayiku dibawa oleh perawat untuk dimandikan dan letakkan di ruang bayi.

Suamiku sangat bahagia, dia mencium tanganku berkali-kali.

Setelah beberapa hari di rumah sakit, akhirnya aku pulih.

Tiba saatnya aku membawa pulang putraku.

Tapi ada yang aneh dengan bayi yang aku bawa, aku punya perasaan bahwa bayi yang aku bawa bukanlah anakku. Tapi, aku tak berani mengatakan ganjalan pikiranku pada suamiku.

Pikirku, mungkin itu hanya perasaanku.

Aku menamai bayi kami ‘Joe’, seiring berjalannya waktu, Joe tumbuh dan berkembang seperti anak-anak bayi lainnya.

Tapi, semakin aku amati, aku merasa Joe tidak mirip denganku atau suamiku. Bukankah, biasanya akan ada kemiripan antara orangtua dan anak?

Karena aku merasa sangat janggal dengan Joe, aku mengungkapkan kegelisahanku pada suamiku.

Suamiku meragukan perasaanku, tapi, aku tetap keukeuh bahwa Joe bukanlah anak kami.

‘Kurasa Joe tertukar di rumah sakit,’ kataku saat itu pada suamiku.

‘Mana mungkin’, kata suamiku

‘bisa saja, hari itu kan ada banyak yang melahirkan bayi,’ kataku masih keukeuh

Setiap kali menatap mata Joe, aku merasa seperti melihat mata perempuan yang saat itu juga melahirkan di hari yang sama saat aku melahirkan.

Apakah mungkin Joe adalah anak perempuan itu?

Aku terus menerus mengatakan pada suamiku kalau Joe bukan anak kandung kami. Akhirnya dia menyerah dan menuruti keinginanku untuk menanyakan ke pihak rumah sakit.

Aku tahu, suamiku meragukanku, tapi aku tidak peduli. Aku benar-benar ingin tahu, kebenaran tentang Joe.

Kami mendatangi rumah sakit tempat aku melahirkan dulu. Suamiku langsung menemui pejabat rumah sakit dan mengatakan bahwa anak kami tertukar.

Pejabat rumah sakit itu, malah mengatakan kalau aku sakit jiwa, bahkan ia juga memberi saran kalau aku perlu bantuan psikiater.

Melihatku yang kecewa, suamiku tak menyerah mencari kebenaran tentang anak kandung kami.

Dia mengajukan petisi meminta rumah sakit mengeluarkan rincian tentang bayi-bayi yang lahir di rumah sakit yang bersamaan dengan waktu lahirnya Joe.

Ada tujuh bayi yang lahir di waktu yang hampir bersamaan. Suamiku juga mendapatkan informasi tentang tujuh ibu bayi itu.

Kami terus berusaha menyelidiki masalah ini, suamiku bahkan rela menghampiri tujuh ibu itu. 6 lainnya, suamiku bisa memastikan kalau anak mereka bukanlah anak kami. Masih tersisa satu nama terakhir, yaitu Seli.

Suamiku pergi ke desa tempat Seli tinggal.

Dia mendatangi Seli dan melihat Seli menggendong seorang anak kecil, yang kata suamiku, sangat mirip denganku. saat itu Seli bingung dengan kedatangan suamiku, karena ia merasa tidak mengenal suamiku.

Pulang dari Rumah Seli, suamiku mengatakan padaku, bahwa kemungkinan paling besar anak kandung kami adalah bayi yang bersama Seli.

Suamiku bilang padaku, kalau besok ia akan datang lagi. Tapi, kunjungan keduanya, ia tak sampai hati untuk mengetuk pintu rumah Seli.

Akhirnya, aku memilih untuk menulis surat pada Seli.

Kukatakan pada Seli dalam suratku, kalau aku sangat yakin bayiku dan bayinya tertukar. Aku bertanya apakah dia juga merasakan hal yang sama denganku. aku menulis nomor teleponku di akhir surat dengan harapan dia mau menghubungiku.

Beberapa hari kemudian, Seli menghubungiku dan kami melakukan janji temu.

Di hari yang sudah kami tentukan, Seli menggendong anaknya, yang ia beri nama Rian, dan aku menggendong Joe.

Saat pertama kali melihat Rian, aku semakin yakin bahwa anak kami tertukar. Saat itu juga Seli tak berhenti menatap Joe, dan tak berapa lama, dia menangis dan berkata ‘dia sangat mirip dengan suamiku’.

aku juga menangis sedih dan terharu, aku melihat anak kandungku. Wajah Rian, yang sangat mirip denganku. aku melihat Joe dan Seli, mereka memang sangat mirip, Joe sipit sama dengan Seli. Sedangkan Rian, matanya tidak sipit.

Seli bilang padaku, bahwa selama ini dia tak pernah curiga dengan bayi kami yang tertukar sampai dia menerima surat dariku. Bagi Seli dan suaminya, bayi yang tertukar di rumah sakit adalah suatu hal yang mustahil terjadi.

Tapi, aku tahu, saat Seli melihat Joe, keyakinannya goyah.

Saat itu, suamiku langsung mengusulkan untuk menukar saja dua anak itu, tapi Seli menolak keras. Karena Rian, tidak mau dipisahkan dari Seli walaupun cuma sebentar.

Suamiku mengatakan padaku, bahwa aku harus bersabar. Setelah upaya kekeluargaan yang belum menemukan titik terang, suamiku melakukan tes DNA dengan Rian, dia ingin meyakinkan dirinya bahwa Rian adalah anak kandungnya.

Dan hasilnya adalah, tidak ada kesamaan genetik anatara aku dan Joe, sedangkan Rian, memiliki kesamaan genetik denganku dan suamiku.

Suamiku melaporkan kasus bayi tertukar ini ke pihak kepolisian, karena pihak rumah sakit tidak bisa menyelesaikan masalah itu.

Pihak kepolisian yang menyelidiki kasus bayi tertukar ini, meminta dokumen di rumah sakit terkait dengan kelahiran Joe dan Rian.

Pihak kepolisian mendatangi aku dan Seli, menurut mereka, mereka butuh bantuanku dan Seli agar kasus kami cepat selesai.

Kami diminta untuk melakukan tes darah dan hasil uji laboratorium yang didapat menyimpulkan bahwa memang benar Joe dan Rian tertukar.

Setelah semua jelas, pihak kepolisian menyarankan kami untuk membawa kasus ini ke pengadilan, karena hanya hakim yang bisa memerintahkan penukaran anak.

Hakim memanggil keluargaku dan keluarga Seli. Kami harus menghadiri sidang di pengadilan. Diputuskan oleh hakim bahwa hakim menyetujui penukaran anak kami, Joe akan kembali pada orangtua kandungnya dan Rian akan diserahkan padaku.

Tapi, semuanya tidak berjalan sesuai harapan.

Joe bahkan tidak mau berpisah denganku dan dia menangis kencang, Rian juga tidak mau berpisah dengan Seli. Saat itu aku dan Seli hanya menangis karena ternyata anak kami sama-sama tidak mau berpisah dari orang yang sudah membesarkan mereka.

Suami Seli berkata kalau penukaran yang kami lakukan bukanlah keputusan yang bijak. Karena akan menyakiti hati mereka. menurutnya, Joe dan Rian masih terlalu kecil untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Aku sendiri sangat berat jika harus berpisah dengan Joe. Bagaimana pun juga dia adalah anak yang aku besarkan sejak bayi. Seli juga tampak keberatan saat harus berpisah dengan Rian.  Joe masih memelukku erat takut aku serahkan pada Seli, Rian juga masih memeluk Leher Seli, sama takutnya jika diserahkan padaku.

Kalau pertukaran tetap kami lakukan dengan paksa, baik Joe maupun Rian akan sulit beradaptasi dengan perbedaan antara keluargaku dan keluarga Seli. Keluargaku memeluk agama islam dan keluarga seli memeluk agama Hindu, perbedaan kami terlalu jauh dari segi budaya, gaya hidup, dan makanan.

Aku sadar, kalau ini sangat sulit. Tapi, aku harus bisa menerima kenyataan bahwa yang kami besarkan bukan anak kandung kami, tapi setiap ibu pasti punya ikatan emosional dengan anak yang sudah dikandung selama sembilan bulan dan punya keinginan besar untuk merawat anak kandungnya sendiri.  Karena rasanya aneh ketika kita harus membesarkan seorang anak, padahal kita tahu dia bukan anak kandung kita dan kita tahu dimana anak kandung kita.

Aku dan suamiku, juga Seli dan Suaminya, menyerahkan penyelesaian kasus ini ketika Joe dan Rian sudah dewasa.

Biarlah nanti mereka berdua yang memutuskan nantinya.

Tapi walaupun aku belum tahu hasilnya kelak seperti apa, aku dan Seli sepakat untuk saling berkunjung. Ini  semacam aku mendapatkan keluarga baru dan harapanku tentu saja agar ada interaksi antara aku dan anak kandungku.

Kisahku benar-benar mirip sinetron, semoga ada yang bisa kamu petik dari kisahku ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here