Aku Tak Menduga Kalau Atasanku Berani Melakukannya Padaku

0
45

Bagiku Jodoh itu sama kayak kematian, udah pasti tertulis tapi kita nggak tahu kapan itu bakal terjadi.

Apalagi dengan umur yang sudah di atas 25 tahun, berasa kayak dikejar-kejar tagihan bank. Tiap ketemu ibu-ibu di warung, pertanyaan yang keluar dari mulut manis mereka itu ya, ‘kamu kapan nikahnya?’ atau ‘nggak bagus lho, udah 25 tahun tapi masih jomblo aja’ atau yang parah menurutku ‘kamu aku jodohin sama temenku mau nggak?’. Ya ampuuun.. rasanya hidup nggak tenang banget. nggak ada orang yang betah menjomblo bu ibuuu… tapi karena emang kenyataannya belum dipertemukan ya gimana lagi. Pertanyaan ‘kapan nikah’ menjadi pertanyaan yang sensitif buat orang yang sudah berumur di atas 25 tahun, percayalah itu adalah fakta.

Di kantor, teman-temanku nggak berani bertanya soal kapan aku bakal nikah, karena mereka nggak mau lihat aku marah-marah. Tiap ada reuni teman SD, SMP, dan SMA aku juga sering absen. Karena aku nggak mau ngerusak kejiwaanku dengan menghadapi pertanyaan ‘kapan nikah’ itu. Apalagi, pas reuni mereka selalu bawa anak dan suami, kemudian mereka tanpa dosa nanya ‘heh, Ayu, kamu nggak pengen punya anak lucu kayak gini?’, aduh, masak sih mereka nggak ngerti-ngerti perasaanku juga, kalau aku juga pengin kayak mereka, pengin punya baby kayak mereka, tapi karena takdirku emang belum ketemu mau gimana lagi.

Aku udah nyoba berbagai macam cara, dari dikenalin cowok lewat teman-temanku, sampai akhirnya dengan berat hati aku menerima usaha mama untuk menjodohkan aku dengan anak temannya. Dan semuanya gagal.

Aku berasa kayak berada di posisi ‘injury time’. Mereka begitu khawatir aku bakal jadi perawan tua, aduh, mereka nggak tahu aja, aku juga kadang khawatir, tapi aku berusaha terlihat biasa-biasa aja.

Oh, ya, namaku Ayu. Soal umur, nggak usah aku kasih tahu deh umurku udah berapa, yang jelas saat ini sudah di atas 25 tahun. Dan aku bekerja sebagai staff administrasi di sebuah perusahaan swasta.

Di divisiku, hanya aku yang masih setia dengan status ‘belum menikah’. Setiap hari, aku selalu cuma jadi pendengar setia saat mereka menceritakan kelakuan anak dan suami mereka.

Namanya juga seorang staff administrasi, pasti punya seorang kepala bagian.

Nah, kadang si pak kepala bagian kami ini ikut nimbrung godain aku. Kadang sih, aku agak kesal dengan kepala bagianku ini, dia kan juga masih jomblo, kok bisa-bisanya sih godain aku yang jomblo.

Menjadi satu-satunya yang belum menikah di divisiku, juga harus rela menjadi satu-satunya orang yang harus rela dan ikhlas kebagian lembur saat si pak kepala meminta laporan kami harus selesai hari itu. Mereka akan dengan wajah memelas memintaku untuk menyelesaikan laporan, karena mereka selalu beralasan kalau mereka sudah ditunggu anak dan suami. Karena aku sudah menganggap mereka seperti saudara, aku selalu menerima permintaan itu.

Setiap lembur, aku selalu ditemani pak kepala, dia di ruangannya dan aku di kubikelku.

Habis lembur, biasanya pak kepala ngajak aku makan malam, katanya itung-itung ucapan terima kasih karena udah mau lembur padahal yang lain udah pulang semua.

Tapi, kadang aku merasa kalau pak kepala itu seperti sengaja menciptakan pekerjaan yang entah kenapa memang harus aku selesaikan dengan lembur berdua dengan dia.

Aku nggak akrab dengan kepala bagianku ini, tapi, aku sering menghabiskan waktu di kantor dengan dia.

Misalnya, saja hari ini, dia ada rapat, dan staff yang dia ajak pasti aku. Alasannya karena aku yang masih jomblo.

Setelah rapat, dia akan mendiskusikan hasil rapat tadi denganku. Kalau aku protes, dia akan bilang ‘kamu kan staffku yang masih jomblo, jadi diskusinya sama kamu aja, kasian kalau sama yang lain’

Status jomblo-ku di bawa-bawa terus.

Setiap hari selalu seperti itu. Selalu aku yang jadi sasaran gara-gara aku jomblo.

Tapi, di suatu siang yang cerah nan panas, saat aku sedang makan di kantin.

Dia datang dan duduk di depanku. Aku masih tetap fokus dengan makananku, tapi jujur saja, hatiku ketar ketir. Awalnya dia ngajak ngobrol ringan, tapi beberapa detik kemudian, secara spontan dan mengejutkan dia berkata ‘Menikahlah denganku!’.

Hah? Wajahku melongo, asli melongo.

Mimpi apa aku semalam? Yang benar aja. aku bingung mau jawab apa. dia kan atasanku.

Aku cuma diam tanpa memberi kepastian. Selesai makan aku langsung pergi tanpa kata.

Tapi, walaupun aku belum memberi kepastian, sebenarnya aku sedang menyiapkan jawaban yang pas untuk atasanku itu.

Aku bertanya pada banyak pihak. Dari sahabat sampai keluarga aku mintai pendapat. Jawaban mereka semua sama ‘terserah kamu aja, Yu’. Aku benci jawaban ‘terserah’!

Selama sebulan, aku berusaha menghindari atasanku itu. Setiap mau diajak rapat aku pergi ke toilet atau kalau mau diajak ngurus dokumen ke luar kantor, aku beralasan aku nggak bisa karena ada laporan yang belum aku selesaikan, pokoknya aku sering mengarang-ngarang alasan demi bisa menghindari dia.

Tapi, dalam hati kecilku, aku kasihan juga sama dia, aku belum memberikan jawaban pasti atas lamarannya.

Sebenarnya, aku ingin menjawab ‘iya’ karena menurutku dia itu sosok yang mengagumkan, walau dia seorang yatim piatu, tapi dia tahu bagaimana caranya bertahan hidup tanpa orangtua. Aku tahu betul bagaimana rasanya susahnya hidup mandiri, karena aku sendiri ‘yatim’.

Awal bulan berikutnya, aku memberanikan diri menemui atasanku itu. Sambil menundukkan kepala dan menahan malu, aku menjawab ‘iya, aku bersedia menikah denganmu’, dan wajahnya yang tadinya suntuk berubah cerah secerah matahari, senyumnya juga lebar banget.

Aku nggak tahu kenapa dia mau menikah denganku dan aku juga nggak tahu kenapa aku mau menerima dia jadi pasangan hidupku. Tapi, saat kutanya kenapa dia ingin menikah denganku, karena dia memang sudah lama menyukaiku dan sudah sejak lama ingin melamarku, tapi belum punya keberanian. Baru sebulan lalu dia mendapat hidayah untuk melamarku.

Tapi, aku percaya mungkin seperti ini jalan cerita pertemuanku dengan jodohku. Aku akan menikah dengan seseorang yang bahkan belum pernah aku pacari sebelumnya.

Setelah mendapat jawaban dariku, kami sepakat untuk mengadakan prosesi lamaran.

Jangan dikira, setelah bertemu dengan calon suami, maka kamu nggak bertemu dengan masalah-masalah lain.

Menuju hari H, aku menyiapkan banyak hal dan bertemu dengan berbagai rintangan.

Rintangan pertama dari segi dana, begitu kami memutuskan untuk menikah, supaya nggak merepotkan banyak pihak, aku dan dia sepakat membuka tabungan bersama untuk biaya nikah kami nanti. Tapi, dana yang terkumpul sampai sebulan sebelum hari H masih belum cukup, terpaksa kami harus membobol tabungan kami masing-masing.

Rintangan kedua, dan ini adalah dilema yang menurutku, entah kenapa harus dialami oleh setiap pasangan yang mau nikah.

Jadi sebelum aku menyebarkan undangan pernikahan, tiba-tiba mantanku dan orang-orang yang aku sukai sebelumnya menghubungiku, dan mereka benar-benar menguji imanku.

Salah satu mantan tersayangku malah mengatakan pengin balikan denganku, yang ini masih bisa aku tolak. Tapi saat orang yang aku suka menghubungiku dan menanyakan statusku, yang jika masih sendiri akan dia lamar, tentu aja ini sangat berat. Tapi, hati kecilku berteriak keras ‘Kamu nggak boleh lemah, Ayu. Itu orang dari kemarin nggak ada angin nggak ada hujan, kok tiba-tiba muncul pas kamu udah mau nikah, ini ujian’, dengan perasaan galau aku menolak ajakan nikah orang yang aku sukai itu, kukatakan pada diriku sendiri bahwa calon suamiku ini adalah sosok yang paling sempurna untukku dibanding yang lain.

Rintangan ketiga, dan ini berhubungan dengan masa depan karirku. Jatah libur satu kali seminggu ini, membuatku agak kurang bebas dalam bergerak mengurus persiapan pernikahan. Ditambah lagi, cuti nikahku hanya 4 hari, dan dalam kondisi ini aku dan calon suamiku harus saling menurunkan ego, karena salah satu dari kami harus mau keluar dari perusahaan, peraturan perusahaan melarang suami istri bekerja di tempat yang sama, dalam posisi ini aku yang mengalah, jadi di masalah ini, aku yang akan keluar.

Sebenarnya, aku sedih dengan peraturan itu, karena aku pikir aku yang selama ini menjadi salah satu tulang punggung keluarga tiba-tiba harus berhenti kerja hanya karena aku harus menyiapkan pernikahan. Tapi, nggak apa-apa, aku percaya kalau rezekiku sudah diatur dan pastinya aku akan dapat ganti yang lebih baik.

Dan yang paling merepotkan adalah aku harus menyiapkan pernikahan seperti dekorasi, catering, rias, foto, KUA dan macam-macam lainnya dalam waktu singkat.

Tapi, akhirnya, semua drama itu berakhir karena pernikahan kami akhirnya terjadi. Disambut tangis haru keluarga dan sahabat-sahabatku. Pesta pernikahan yang kami gelar sederhana, tapi tetap khidmat.

Aku yang tadinya nggak punya sisi feminin, harus mau di make up dengan riasan yang sangat tebal dan memakai high heels, jujur aja, rasanya sangat melelahkan, ditambah lagi aku harus berdiri di atas pelaminan dengan memasang senyum lebar dan bersalaman dengan ratusan tamu undangan sampai sore, sumpah, capek banget.

Dan ajaibnya, walaupun acara sudah selesai, tamu undangan kayak nggak habis-habis, tamu-tamu terus berdatangan sampai malam. Dalam hati, please deh, ini udah malem, nggak pengertian banget sama pengantin baru. Kami kan capeeek banget, pengen istirahat.

Tapi, begitulah drama perjuangan seorang jomblo menuju pernikahannya. Yang ternyata berjodoh dengan atasannya. Semoga kamu terinspirasi dengan kisahku, terutama buat kamu-kamu yang masih galau soal jodoh. Percaya aja sama Allah, kalau Dia sudah menyiapkan jodoh terbaik untukmu. Dan kalau sudah usaha kesana kemari tapi gagal, mungkin kisahmu sama denganku, berjodoh dengan orang tak terduga. Well, jangan putus asa dan terus berusaha!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here