Aku Selamat dari Gempa Lombok

0
37

Hari minggu sore itu aku tidak punya firasat buruk. seperti biasa aku berada di kantor. Meskipun, hari libur aku dan teman-temanku tetap bekerja. Ya, kami memang nggak kenal sama yang namanya hari libur. Tapi kami juga bukan workaholic, tapi emang kami ini sangat menikmati pekerjaan ini sampai-sampai menganggapnya seperti hobi.

aku bekerja di sebuah lembaga swadaya masyarakat yayasan pasir putih sebagai direktur program, yayasan ini bergerak di bidang aktivisme dan seni. tempat yang kami sebut kantor ini sebenarnya adalah sebuah rumah sederhana yang ada di kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, kira-kira 40 KM dari ibukota provinsi Mataram.

Kantor ini berwarna merah muda dan punya 4 ruangan.

Minggu sore itu menurutku sama seperti minggu-minggu sebelumnya, nggak ada yang istimewa selain pekerjaan terus meumpuk. Aku sendiri sedang sibuk menyiapkan laporan penelitian soal pariwisata adat di Nusa Tenggara Barat. Dan dua rekanku juga sama sibuknya seperti aku dengan komputer masing-masing.

Dan saat menjelang maghrib, kami memutuskan untuk beristirahat sebentar. Setelah aku rasa cukup, aku langsung ambil air wudhu dan salat di ruangan belakang. Dan yang lain, masih santai-santai di ruang tengah sambil ngobrol.

Terus saat jarum pendek mendekati angka tujuh, obrolan kami langsung berhenti.

Tiba-tiba lantai kantor bergetar hebat. Aku melihat dinding bergoyang-goyang. Kami seperti berada di dalam kotak yang digoyang-goyang. Semua yang berada di kantor langsung lari keluar menuju halaman depan. Sebelum aku keluar, aku menyempatkan diri untuk mengambil barang-barang berharga dari dalam kantor, terutama HP.

Gempa ini benar-benar terasa lain dari gempa-gempa yang sebelumnya melanda Lombok. Kali ini sangat kuat dan berlangsung cukup lama. aku belum pernah mengalami bencana alam seperti ini.

Kupikir ini adalah kiamat. Kiamat benar-benar sudah datang.

Perasaanku campur aduk. Aku bingung sekaligus takut. Lalu bayangan wajah anggota keluarga dan istriku muncul begitu saja. selama beberapa detik, kakiku seolah mati rasa, kaku tidak bisa bergerak. aku tidak tahu harus berbuat apa.

Tak lama kemudian setelah gempa, listrik mati, air keran berhenti mengalir.  Saat gempa mulai mereda, samar-samar aku melihat tembok kantor sudah retak. Tapi, secara fisik bangunan kantorku masih utuh.

Aku melihat beberapa warga sekitar lari ke area persawahan yang terletak tak jauh dari kantor. Mereka panik. Mereka semua meyerukan nama Tuhan sambil menangis.

Dan ini adalah malam paling panjang yang pernah aku alami, malam yang penuh penderitaan. Tapi, aku tetap optimis, aku tahu aku masih punya harapan.

Yang pertama terlintas di pikiranku adalah secepat mungkin menelpon keluarga. fiyuh, untungnya tadi aku sigap menyambar Hp di meja kerjaku. Aku menghubungi orangtuaku yang sedang berada di Lombok Barat, merreka bilang mereka baik-baik saja. lalu aku menelpon istriku yang ada di Mataram, dia juga selamat tidak kurang suatu apapun. syukurlah, Alhamdulilah. Aku benar-benar lega.

Belum lama aku merasa lega, entah siapa yang menyebarkan berita ini, beredar kabar bahwa tsunami akan mencapai Pemenang sewaktu-waktu. Panik kembali melanda.

Di tengah kondisi seperti itu aku tak bisa berpikir jernih. Aku dan dua rekanku langsung meraih sepeda motor di halaman kantor. Kami bertiga mengendarai satu sepeda motor menuju bukit-bukit di sebelah timur. Tidak hanya kami yang melakukan itu. ratusan warga lainnya juga melakukan hal yang sama, aku dan mereka sama-sama sedang menyelamatkan diri ke perbukitan.

Sepanjang perjalanan menuju bukit, aku sadar kalau gempa barusan sangat dahsyat.

Deretan rumah di sepanjang jalan hancur dan rata dengan tanah. Ada banyak orang yang mencoba menyelamatkan keluarga dan harta benda mereka dari reruntuhan bangunan. Banyak orang yang berjalan lemas dengan tubuh penuh luka. Dan yang membuat hatiku sedikit teriris adalah sat aku melihat seorang kakek tua sedang berjalan tertatih-tatih, luka di kepalanya mengucurkan darah segar. Dalam hati aku ingin membantu, tapi apa daya aku nggak punya kemampuan saat ini.

Aku terus memacu motorku di tengah jalanan yang sudah retak karena gempa. Kami bertiga nggak berani ngomog apa-apa. kami terlalu sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Kami merasa kalut dan khawatir secara bersamaan.

Lalu satu jam kemudian, kami sampai di bukit yang kering dan gersang bersama ratusan orang lainnya. Di atas bukit, angin yang berhembus cukup kencang.

Aku dan orang-orang yang ada di atas bukit tidka melakukan persiapan apapun saat mengungsi. Kami semua tidak membawa barang apapun kecuali baju yang melekat di badan. Tidak ada tenda, selimut dan logistik malam ini.

Lalu salah seorang dari kami berinisiatif untuk mencari logistik di Pemenang. Aku dan satu temanku akhirnya memutuskan untuk turun bukit dengan motor untuk mencari warung. Setelah menemukan warung, aku membeli satu galon air minum dan beberapa bungkus roti.

Setelah itu kami kembali lagi ke bukit, aku membagi-bagikan roti yang aku beli pada para pengungsi.

Tentu aja, makanan yang aku beli tadi nggak cukup, tapi setidaknya kami punya pengganjal perut untuk bertahan semalaman diatas bukit , yang makin malam makin dingin.

Harapan kami hanyalah agar bantuan segera datang. Tapi, harapan kami pupus saat kami tahu bahwa sebagian besar Lombok Barat hancur. Itu artinya distribusi bantuan logistik membutuhkan waktu lama untuk sampai ke Pemenang.

Saat itu aku nggak tahu jumlah korban yang meninggal atau luka-luka. Dan Hp-ku jadi benda yang nggak berguna saat ii, karena tidak ada sinyal.

Gempa susulan dengan skala kecil datang susul menyusul sepanjang malam sampai pagi. Kami nggak bisa tidur malam ini. kami Cuma berharap pagi cepat datang.

Keesokan harinya, sekitar pukul 5, aku memutuskan untuk turun dari bukit. Aku ingin melihat keadaan rumahku.

Aku hampir menangis dan nggak bisa ngomong apa-apa saat berdiri menatap rumah yang sudah menaungi keluarga kami berpuluh-puluh tahun sekarang jadi puing-puing.

Di tengah puing-puing itu, aku mencari bahan makanan yang mungkin masih tersisa di bekas dapur rumah. Di dapur, aku menemukan satu karung beras yang dalam keadaan layak di bawah reruntuhan tembok, kemudian aku mengangkutnya ke atas motor.

Aku tidak berpikir sedikitpun untuk mencari harta benda di bawah reruntuhan. Pikirku, biarlah harta-harta itu tertimbun.

Lalu aku mendapat informasi bahwa, polsek Pemenang dijadikan posko dan kamp pengungsian. Aku langsung menuju kesana. Aku ingin mencari tahu keadaan saudara-saudaraku.

Dan, rasanya aku benar-benar sangat lega saat tahu mereka semua selamat. Aku melihat kakakku yang menggendong anaknya yang terlihat lemas dan kedingian. Kakiknya bengkak karena tertimpa tembok.

Tapi, di kamp ini, belum dikirimi bantuan. Kami hanya bisa pasrah. Banyak warga yang mendirikan tenda di halama polsek dengan kain dan terpal seadanya yang diambil dari sisa-sisa bangunan rumah.

Saat hari semakin siang, jumlah pengungsi semakin bertambah. Kira-kira ada 2500 orang yang mengungsi di kamp kami.

Lalu sore harinya aku memutuskan untuk pergi ke Mataram untuk menggalang donasi dan bantuan logistik.

Berdasarkan informasi yang aku dengar, gempa yang semalam terjadi berkekuatan 7 skala richter. Gempa itu sudah merenggut lebih dari 130 nyawa dan membuat 1500 orang mengalami luka-luka. Lombok Utara termasuk yang terparah diguncang gempa, dengan korban jiwa saat ini 78 orang. Aku dan keluargaku merasa sangat beruntung karena masih diberi keselamatan.

Dari kejadian ini aku belajar banyak hal. salah satunya bencana ini membuatku merasa sangat kecil di mata Tuhan.

Aku ssadar bahwa manusia tidak memiliki daya dan kekuatan untuk mencegah suatu bencana. Dan sebagai manusia biasa, aku hanya bisa pasrah dan mencoba menghadapinya sebisaku.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here