Aku Rindu Keluargaku, Aku Capek, Tapi Aku Harus Bertahan

0
18

Every story has an ending.

Itu adalah sebaris kalimat yang aku yakini akhir-akhir ini. Semuanya akan baik-baik saja dan akan berakhir.

Rasanya dadaku terasa lebih sesak. Aku juga sedang berusaha mati-matian buat nggak nangis. Tapi, jujur aja, aku udah nggak tahan berada di situasi seperti ini.

Semua yang udah aku rencanain gatot alias gagal total. Aku ngerti kok, kalau manusia hanya boleh berencana dan Allah yang menentukan semuanya. Tapi, manusia juga boleh berharap kan?

Harusnya, sekarang aku sedang menikmati cuti tahunanku. Aku udah janji dengan istri dan anakku untuk ambil cuti dan berlibur. Antusiasme anakku saat aku bilang aku udah ngajuin cuti dan pesan tiket liburan, bahagianya bukan main.‘Asyiiik, liburan sama papa mama’ sambil tertawa-tawa.

Istriku juga nggak kalah girang, dia bahkan bertanya ratusan kali padaku apakah aku serius. Mungkin dia takut kena prank.

Anakku bahkan sampai pamer ke teman-temannya kalau dia mau liburan, istriku juga sudah heboh mencari informasi tentang tempat liburan yang akan kami datangi. Dia bahkan sampai searching apa saja yang menarik di tempat yang akan kami tuju.

Aku cuma senyum-senyum.

Sampai suatu ketika, kabar buruk itu muncul. Semua rencanaku terpaksa harus dibatalkan. Masuknya makhluk mikro itu mengubah semua tatanan hidupku. Tidak hanya hidupku, hidup semua orang. Tentunya kamu tahu makhluk apa itu. Makhluk mikro yang sedang mengubah tatanan dunia dari berbagai sektor.

Aku sendiri sangat heran, gimana bisa makhluk sekecil itu membuat seisi dunia heboh.

Dan… juga merusak rencana liburanku sama anak dan istriku.

Bisa kamu bayangin gimana ekspresi mereka saat aku megatakan bahwa rencana kami batal?

Aku sendiri nggak sanggup lihat wajah anakku yang tertunduk lesu, aku yakin banget dia kecewa. Istriku juga hanya tersenyum getir, meski dia akhirnya mengatakan bahwa dia nggak apa-apa. Mereka berdua seperti dipaksa untuk memahami kondisiku, juga kondisi Indonesia.

Aku seorang perawat di salah satu rumah sakit yang dijadikan rujukan . Sebagai salah seorang yang bekerja di dunia medis, tentunya aku harus siaga di rumah sakit. Itu adalah tanggung jawabku sebagai tenaga kesehatan. Mau gimana lagi, aku nggak punya pilihan.

Tidak cukup merusak rencana-rencanaku, virus itu juga merubah semua protokol rumah sakit. Peraturan rumah sakit semakin ketat dan semakin membatasi ruang gerak kami.

Sebagai perawat aku bekerja di garda depan dalam penanganan pasien virus corona. Sepanjang hari, aku harus berada di rumah sakit, bersentuhan secara langsung dengan para pasien.

Untuk melidungi diri, kami wajib mengenakan alat pelindung diri (APD) selama 8 jam. Dan rasanya 8 jam mengenakan APD itu nggak nyaman banget. Tapi kami harus kuat memakainya selama 8 jam bahkan kadang bisa lebih.

Jangan dikira pakai APD itu enak, nggak enak sama sekali. Ruang gerak kami dibatasi. Mau makan, buang air kecil dan aktivitas mendasar lainnya aja kami sangat kerepotan.

Aku merasa tugasku sangat berat. Sebagai seorang militer, dulu aku pernah berdinas selama 10 tahun aku udah, ngerasain penugasan yang aku rasa udah cukup berat.
Tapi, jujur aja, dalam figur sebagai militer dan perawat tergabung dalam satgas COVID-19 ini sangat berat.

Tugas merawat pasien corona berbeda dengan pasien dengan penyakit lainnya. Aku dan rekan-rekanku harus disiplin dan mengikuti protokol yang sangat ketat. Kami bahkan harus melakukan karantina diri.

Kami tidak berbeda jauh dengan para pasien corona, kami sama-sama harus menjalani protokol serupa yaitu menjaga jarak dengan orang lain, termasuk keluarga.

Bayangkan? Aku juga harus menjaga jarak dengan keluargaku sendiri. Bukankah itu sangat menyedihkan?

Bahkan, aku dan rekan-rekanku terpaksa harus menahan rindu untuk bertemu keluarga karena harus menjalani karantina selama berbulan-bulan.

Kami tak punya pilihan lain, selain menahan ego kami. Untuk menebus rasa rindu itu, kami hanya bisa bertatap muka lewat media digital.

Aku sendiri, saat di sela-sela kesibukanku, aku akan video call anak dan istriku. Aku agak lega, anakku bisa mengerti pekerjaan ayahnya dan istriku juga tidak pernah berhenti memberi semangat padaku.

Tapi, kadang saat aku benar-benar merasa putus asa aku merasa menyesal berprofesi sebagai tenaga medis. Dulu, aku sangat bangga dengan profesiku ini tapi sekarang rasanya aku ingin menyerah. Rasanya sangat berat tidak berkumpul dengan keluarga dan sulitnya menjalani hidup yang tidak normal.

Aku dan rekan-rekanku bahkan rela tidak pulang selama 2 bulan demi menjaga keluarga dari corona dan tetap siaga menjaga pasien.

Belum lagi saat kami semua diserang rasa bosan. Bosan karena setiap hari harus mengenakan alat pelindung diri (APD) lengkap. Bosan karena protokol-protokol rumah sakit yang rumit. Bosan karena hidup kami hanya berkutat di rumah sakit.

Tapi, meski bosan kami tetap bertahan.

Kami tetap berusaha untuk tetap melaksanakan tugas ini. Dengan protokol kerja yang rumit dan melelahkan, kami hanya bisa mengandalkan keikhlasan bekerja agar kami selalu kuat. Niat kami sangat tulus, demi berlalunya pandemi ini, kami rela berjuang di rumah sakit.

Aku dan rekan-rekanku mencoba kuat dan harus kuat selama bertugas selama 8 jam, supaya pelayanan kesehatan medis dan lain-lainntya terlaksana dengan baik.

Aku tahu, tidak hanya aku yang bosan dengan keadaan ini, teman-temanku sama sepertiku. Tapi, mereka berusaha menghilangkan rasa jenuh itu dengan menelepon keluarga, berolahraga dan memanfaatkan rekreasi yang ada di lokasi akomodasi tenaga medis.

Tak jarang aku menjumpai rekanku sedang menangis karena merasa sedih tidak bisa bertemu dengan keluarganya. Dia bilang padaku bahwa ia sangat rindu anaknya yang masih kecil.

Kadang, aku juga memergoki rekanku yang sedang berusaha meyakinkan ibunya saat video call bahwa dia akan baik-baik saja. Aku tahu dia bohong. Aku bisa membaca kekhawatiran ibu dari rekanku itu, dia sangat khawatir dengan anaknya.

Aku sendiri? Istriku sudah berulang kali saat video call menangis, karena dia takut aku kenapa-napa. Sama seperti rekanku tempo hari, aku mengatakan pada istriku bahwa aku baik-baik saja. Dan semuanya pasti akan berakhir.

Apalagi ini bulan ramadhan, rasanya tidak buka dan sahur bersama keluarga semakin terasa menyesakkan. Kadang, saat aku putus asa, aku hanya bisa bersimpuh di atas sajadah.

Rutinitas baruku setiap buka dan sahur adalah melakukan video call dengan anak dan istriku. Mereka akan kompak berteriak, ‘Selamat berbuka papa!’

Every story has an ending.

Ya, setiap cerita pasti memiliki akhir, termasuk virus corona ini. Cerita pandemi ini akan berakhir, meski aku tidak tahu kapan. Aku yakin semuanya akan berlalu seiring berjalannya waktu. Semuanya akan kembali normal. Ekonomi akan bangkit, sekolah-sekolah akan kembali dibuka, tenaga medis juga akan menjalani kehidupan yang normal sebagaimana seorang tenaga medis bekerja. Kami tidak perlu lagi menggunakan APD dan kamu yang mendengar ceritaku juga akan melepas masker saat menghirup udara segar.

Dan aku akan berkumpul lagi dengan keluargaku. Rindu itu akan terbayarkan. Aku yakin Allah akan mendengar doa-doa kita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here