Aku Rela Mencium Kaki Kakak Sepupuku Demi Bisa Nonton TV

0
41

Dulu aku pernah bertemu seseorang yang berkata padaku bahwa hidup tak selalu berjalan dengan indah, dan katanya lagi , setiap manusia pasti akan mengalami kejadian menyedihkan. Dan ada juga orang bijak yang berkata kalau kejadian sedih yang menyakitkan itu adalah alat untuk berproses tumbuh menjadi manusia yang lebih baik.

Aku setuju dengan pendapat orang bijak itu, itu adalah pemikiran yang keren. Kalimat-kalimat itu adalah motivasiku untuk tetap bertahan hidup. Karena aku sendiri mengalami banyak kejadian yang menyedihkan sejak aku kecil, tapi itulah alasanku menjadi aku yang sekarang.

Namaku Bonita, kamu bisa panggil aku Boni atau Nita. Aku karyawan biasa di sebuah perusahaan swasta.

Dan malam ini aku mau membagikan kisahku.

Dulu waktu aku kecil, aku tinggal dengan ibu dan dua adikku, ayahku sudah meninggal. Hidup kami sangat kekurangan, bahkan TV saja kami nggak punya. Kami berempat tinggal menumpang di rumah kakak sepupuku.

Aduh, jangan dibayangkan kakak sepupuku itu orang yang baik hati, dia itu kakak sepupu terburuk yang pernah aku kenal.

Jadi, waktu aku kecil kalau aku ingin menonton TV, aku harus ke rumah kakak sepupuku terus bayar Rp 2.000,-, kebayang kan? Mau nonton TV aja aku mesti ngeluarin duit. Rp 2.000 itu banyak lho buatku, bisa buat jajan di sekolah.

Dulu uang sakuku itu Rp 3.000 terus ongkos angkot Rp 2.000 pulang pergi, tapi aku lebih sayang uangku, jadi aku dulu berjalan kaki setiap hari pulang pergi sekolah. Yang aku pikirkan saat itu adalah aku pengen bisa nonton TV dan kalau mau menonton TV aku harus menyisakan uang jajanku setiap hari Rp 2.000.

Tapi yang nyebelin dan bikin sakit hati itu, walaupun aku udah bayar kakak sepupuku nggak langsung nyalain TV-nya, kadang juga kayak sengaja pura-pura lupa sampai waktu tayang tinggal 15 menit, dan aku pun dengan bodohnya mau nunggu di depan TV mati.
Nggak cukup sampai di situ, aku juga harus berhadapan dengan anak dari kakak sepupuku yang hiperaktif, jadi pas nonton TV itu aku harus mau dipukuli juga dijambak, dan aku nggak boleh melakukan perlawanan. Melakukan perlawanan sama saja denganku yang tidak diijinkan nonton TV.

Kakak sepupuku juga pernah menyentil harga diriku, waktu itu aku nggak punya uang buat bayar biaya nonton TV, dan waktu itu tayangan favoritku bakal tayang, kakak sepupuku memintaku mencium kakinya sebagai syarat nonton TV gratis. Dan tentu saja, aku mau melakukannya. Apa sih yang bisa dilakukan anak kecil miskin sepertiku saat itu? Nggak ada kan? Kesenanganku saat itu hanya nonton TV, itu adalah hiburan termahal bagiku.
Jadi orang serba kekurangan itu harus punya hati yang kuat. Harus kuat susah secara finansial juga harus kuat secara mental.

Kesulitan ekonomi yang menghimpitku, membuatku terpaksa tinggal bersama pamanku. Dan pamanku adalah orang terjahat yang pernah aku temui.

Rumah kami hanya punya satu kamar mandi dan itu menjadi alasan pamanku untuk mendobrak masuk saat aku sedang berada di dalamnya. Tiap kali kutanya ‘Kenapa paman memaksa masuk, padahal paman tahu masih ada aku!’ jawabannya seperti ini ‘karena aku nggak kuat nahan kencing, bodoh!’ terus dia juga bilang kalau dia nggak tertarik dengan tubuhku, tapi pas bilang nggak tertarik matanya ngelihatin tubuhku yang nggak pakai apa-apa. Ya Tuhan apakah menjadi orang miskin selalu menyakitkan?

Hal itu sering dilakukan oleh pamanku dan semua orang di rumah juga diajari untuk melakukan hal yang sama. Waktu itu aku takut banget buat mandi, kalau kamu jadi aku pun pasti akan selalu was-was saat mandi. Bayangkan, kamu lagi asyik sabunan terus tiba-tiba pintu kamar mandi didobrak secara paksa? Pasti serem kan? Padahal pamanku tahu pasti aku sudah bukan anak kecil lagi. Jadi aku memutuskan untuk selalu mandi waktu tengah malam saat semua orang sedang tidur, aku nggak peduli dengan penyakit-penyakit yang mungkin akan timbul jika aku mandi malam.

Setelah perlakuan kakak sepupuku dan pamanku yang super jahat, ternyata aku juga harus menerima kenyataan bahwa ibuku lebih memilih kabur dengan pacar brondongnya daripada hidup denganku dan adik-adikku.

Ibuku adalah perempuan yang paling aku benci setelah kakak sepupu dan pamanku, dia tidak menyayangiku dan dua adikku. Dia tega membuatku berjuang sendiri melawan sakit hati dan kemiskinan. Dia adalah perempuan yang tidak pantas aku sebut sebagai ibu lagi.
Setelah ditinggal pergi ibu, pamanku mencabut saluran listrik ke kamarku, katanya karena aku nggak mampu bayar iuran listrik.

Ya Tuhan… padahal saat itu aku sedang menghadapi ujian nasional.

Tapi, karena aku tidak bisa melakukan apa-apa, aku lebih memilih untuk mencari cara bagaimana agar aku tetap bisa belajar.

Aku belajar setiap pulang sekolah saat hari masih terang, karena saat malam aku akan berada di kamar gelap-gelapan.

Di samping itu aku nggak bisa membeli makanan untuk aku dan adik-adikku makan. Aku juga harus selalu berjalan kaki ke sekolah karena nggak punya uang saku. Kadang aku nekat mencuri di kantin sekolah karena terlalu lapar. Jujur saja ini sangat menyakitkan hati. Setelah mencuri aku akan berdo’a dalam hati, semoga Tuhan nggak marah padaku karena aku makan makanan hasil curian.

Bukankah sangat menyakitkan saat kamu punya keluarga tapi keluargamu bahkan tidak mau membantumu, tidak mau sekedar hanya memberikan sesuap makanan, tidak mau sekedar memberi uang saku yang nominalnya bahkan tidak lebih besar dari tarif parkir kendaraan, menurutmu apakah itu masih bisa disebut keluarga?

Kukira, penderitaanku cukup di rumah, tapi ternyata aku juga harus menerima bullying dari teman-temanku.

Ya, aku di sekolah nggak punya teman. Nggak ada yang mau berteman denganku, terutama anak laki-laki, nggak ada yang mau dekat-dekat denganku, pikirku, apakah aku menjijikkan? Atau karena aku miskin dan tidak terlalu pintar, lalu mereka merasa bahwa berteman denganku hanya akan membuat mereka susah.

Aku juga harus berlapang dada dengan sikap para guru yang mendiamkan sikap bullying teman-temanku. Kadang para guru itu bahkan tertawa dengan apa yang dilakukan oleh teman-temanku.

Hatiku sangat sakit. Apakah tugas guru hanya mengajar pelajaran? Apakah mereka tidak mengajarkan budi pekerti? Kenapa mereka diam saja? Apakah mereka tidak bisa mengerti perasaanku? Apakah di mata mereka ini aku hanyalah sampah yang tidak perlu diselamatkan?

Lebih dari itu, masih banyak lagi kejadian menyakitkan yang harus aku terima. Kadang aku merasa kenapa hidupku seperti sinetron? Kalau memang hidupku seperti sinetron, kenapa episode tersakitinya nggak habis-habis? Kenapa aku harus jadi pihak yang susah terus.

Tapi aku selalu meyakinkan diri, bahwa suatu hari nanti hidupku akan berubah dan aku akan terlepas dari semua penderitaan ini. Aku tidak pernah berhenti berharap.

Aku belajar dengan rajin untuk ujian nasionalku. Aku bertekad untuk mencari pekerjaan setelah lulus sekolah.

Setelah hasil ujian nasional keluar, semua teman-teman yang membullyku menatapku tidak percaya, bagaimana mungkin anak miskin sepertiku punya otak? Guru-guru juga tidak percaya dengan yang sudah berhasil aku capai, tapi mereka tidak berkata apa-apa. Mereka hanya mengucapkan selamat padaku.

Begitu urusan sekolahku selesai, aku mencari pekerjaan. Dan aku diterima di sebuah restoran cepat saji, aku bekerja sebagai pelayan. Aku nggak peduli dengan status pelayan yang aku dapatkan, yang penting aku dapat uang dengan cara yang benar.

Aku terus menekuni pekerjaanku, setelah mendapat uang dari hasil kerjaku aku mencari kost-kost-an, aku dan adik-adikku keluar dari rumah pamanku. Dua adikku tersenyum senang saat aku mengabarkan pada mereka bahwa aku akan membawa mereka keluar dari rumah pamanku.

Seiring berjalannya waktu, aku sudah tidak menjadi pelayan. Aku naik menjadi kasir, karena aku dipandang sebagai karyawan yang jujur oleh pemilik restoran, maka gajiku naik.

Hidupku terus berjalan sampai aku merasa bahwa sudah waktunya untukku keluar dari restoran cepat saji itu, banyak yang tidak menyukaiku karena aku sering menegur mereka yang malas-malasan.

Lalu aku melamar perusahaan yang membutuhkan staff administrasi, dan aku diterima. Sekarang di sinilah aku.

Kisahku tetap saja masih terus berlanjut, tapi sampai disini aku ingin menyampaikan bahwa sesulit apapun hidupmu jangan pernah berputus asa. Tuhan akan selalu bersamamu.

Percayalah akan selalu ada akhir dari salah satu episode menyakitkan di hidupmu, lalu kamu akan dipindah oleh Tuhan ke episode yang lebih baik, mungkin dengan masalah yang lebih berat atau dengan kisah yang lebih bahagia, tapi saat itu kamu sudah siap karena kamu telah bertumbuh lebih dewasa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here