Aku Rela Makan Makanan Murah Demi Beli Kosmetik Mahal

0
47

Aku Rizka. Umurku 26 tahun. Aku bekerja sebagai seorang staff pembukuan di salah satu perusahaan di Jakarta. Dan hobiku adalah dandan.

Dandan itu udah kayak nyawa buatku. Sejak kapan persisnya aku suka banget dandan itu aku lupa, tapi aku udah suka bereksperimen sama make up sejak aku masih SMA. Masa SMA-ku itu nggak begitu asyik, soalnya aku itu masuk golongan kurang cantik, dan di sekolahku dulu cewek yang kurang cantik nggak akan dilirik oleh cowok dan nggak akan bisa masuk geng cewek populer. Ah, pokoknya nyesek banget lah masa-masa itu.

Kadang aku juga harus pasrah nerima bully-an dari teman-teman sekolahku. Wajahku yang nggak mulus seperti jadi alasan halal buat mereka jahatin aku.

Aku jadi ambil kesimpulan, bahwa kalau kamu mau punya teman dan dihargai para cowok, kamu harus cantik. Dan itu hukumnya wajib, bukan sunnah.

Maka yang aku follow di IG adalah para beauty vlogger yang emang benar-benar ngasih tips make up buat anak sekolah, nggak Cuma itu aku juga nyimak produk kecantikan apa saja yang dipakai mereka. semua yang mereka katakan tentang make up dan perawatan aku simak baik-baik, dalam hati aku berjanji, aku harus cantik. Oke Rizka, kalau kamu ditakdirkan tidak cantik dari lahir, maka kamu harus bisa mengubahnya sendiri.

Sejak aku memutuskan untuk memakai produk kecantikan, aku selalu menyisihkan uang jajanku, bahkan kadang-kadang aku nggak jajan demi supaya uangku cepat terkumpul, sebenarnya kalau mau minta mama pasti dikasih, cuma kalau mama tahu uangnya aku pakai buat beli make up, pasti mama bakal murka dan ceramah. Saat uangku sudah terkumpul aku pergi ke toko kosmetik. Aku membeli semua yang aku butuhkan untuk wajah, sesuai yang beauty vlogger katakan di video mereka.

Di rumah aku mencoba semua alat make up itu, aku juga membeli sepaket skincare yang harganya nggak murah, nggak apa-apa, cantik itu emang mahal dan butuh modal. Tapi, aku lebih dulu fokus membuat wajahku mulus lebih dulu. Setiap hari aku telaten ngoles-ngoles serum jerawat dan krim malam, perlahan tapi pasti wajahku mulai bersih dari jerawat dan mulai kelihatan lebih cerah. Mungkin karena wajahku mulai bersinar, teman-teman sekolahku kadang melihatku lebih lama, mungkin mereka kaget dengan perubahanku.

Mama dan papa tentu saja nggak tahu apa yang aku lakukan. Tapi, mama pernah menatapku tatapan penuh tanda tanya, mungkin begini ‘kok anakku wajahnya mulus? Diapain itu wajahnya?’, kurang lebih begitu. Tapi, mama nggak pernah tanya, karena mungkin dia pikir aku nggak mungkin macam-macam sama wajahku.

Semua perubahan pada wajahku membuat perasaanku membaik, aku nggak akan dibully lagi di sekolah. Dan itu memang benar, aku mulai mendapat teman, walaupun bukan geng populer sih, tapi nggak apa-apa itu juga kemajuan.

Setelah berhasil dengan jerawat yang menghilang, aku mulai memakai make up, ternyata bermain make up itu sangat menyenangkan, kamu bisa membuat wajahmu terlihat lebih dewasa dan berkharisma, dan tentu aja jadi lebih cantik. Tapi karena aku masih sekolah, aku masih menggunakan make up yang ringan.

Kecintaanku pada dunia kecantikan membuatku rela nggak jajan di sekolah. Sampai teman-temanku bilang padaku kalau aku itu orangnya sukaaaaaa banget koleksi perlengkapan make up, dari yang paling murah sampai yang paling mahal. kata mereka aku tuh orang paling niat.

Kebiasaanku koleksi alat make up tetap berlanjut sampai aku memasuki dunia kerja.
Setelah lulus kuliah aku mendaftar kerja di sebuah perusahaan dan diterima sebagai seorang staff pembukuan. Karena jarak dari rumah ke kantor sangat jauh, aku memilih untuk nge-kost. Nggak apa-apa lah, itung-itung belajar mandiri. Tapi, aku memang benar-benar mandiri, aku sudah tidak minta jatah uang pada orangtuaku lagi.

Tapi, kecintaanku pada dunia kecantikan membuat uang hasil kerjaku tidak pernah terasa cukup. Setiap ada produk kecantikan keluaran terbaru aku selalu punya ambisi untuk membeli dan harga produk kecantikan itu rata-rata mahal.

Aku pun mencari cara agar aku selalu bisa membeli semua produk kecantikan itu, kupikir mungkin aku akan menekan biaya makanku, aku akan membeli makanan-makanan yang lebih murah, dengan begitu aku akan memiliki banyak sisa uang.

Ambisiku pada produk-produk kecantikan membuatku lupa tentang rasa lapar. Tiap pagi aku akan sarapan bolu kukus atau roti tawar lalu siangnya aku jarang makan, tapi aku minum air putih, lalu malamnya aku minum jus buah.

Satu bulan aku melakukan pola makan seperti itu, berat badanku turun drastis. Tapi, aku sangat senang dengan turunnya berat badanku, kebetulan aku sedang ingin menurunkan berat badan. Jadi kuanggap yang kulakukan adalah sesuatu yang positif.

Hasil penghematan jatah makanku membuahkan hasil, aku bisa membeli produk-produk kecantikan terbaru keluaran merk terkenal. Koleksiku bertambah. Dan aku semakin PD dengan penampilanku.

Karena kuanggap sebagai pola makan yang benar aku jadi tidak peduli lagi dengan yang aku makan, asal murah maka akan aku makan, kadang aku juga sudah tidak peduli dengan jam makanku yang tidak teratur, pokoknya tidak ada yang lebih penting selain aku yang harus selalu tampil dengan make up dari merk terkenal. Teman-temanku di kantor bahkan kadang menatapku iri, tentu aja aku menikmati tatapan itu, aku jarang mendapatkannya.

Di kantor aku selalu jadi narasumber tentang make up-make up terbaru, teman-temanku akan bertanya dulu padaku tentang make up mana yang cocok untuk mereka atau kadang mereka bertanya tentang harga make up-nya, atau kadang juga mereka minta diajari dandan. Mereka juga sering memintaku untuk aku dandani, sampai-sampai di kantor aku dipanggil MUA Rizka.

Tapi, di satu waktu, tiba-tiba aku merasakan ada yang aneh dari lambungku, pikirku mungkin ini hanya sekedar sakit asam lambung. Karena kupikir hanya sakit biasa, aku pergi ke apotek dan membeli obat asam lambung.

Tapi perkiraanku salah, bukannya membaik, kondisiku malah semakin buruk. Ditambah lagi setiap kali aku buang air besar, warna pupku sangat hitam dan ada darahnya. Nafsu makanku makin hari juga makin buruk. Aku takut dan panik.

Aku segera periksa ke dokter.

Setelah menjalani rangkaian tes kesehatan, dokter menyampaikan berita yang sangat mengejutkan.

Aku divonis menderita kanker lambung stadium akhir.

Dokter menanyaiku tentang pola makanku. Kukatakan pada dokter bahwa aku jarang makan makanan tepat waktu dan aku lupa kebiasaan telat makan itu sudah aku lakukan sejak kapan.

Karena yang aku hafalkan hanya merk-merk produk kecantikan keluaran terbaru. Setiap melihat harga produk kecantikan yang aku mau, perutku auto kenyang. Aku lebih memilih lambungku rusak daripada aku tidak memiliki barang-barang kecantikan.

Tapi ternyata cacing-cacing di perutku akhirnya memakan lambungku sendiri karena egoku.
Dokter menyesali perbuatanku, katanya, pola makanku sangat buruk dan berbahaya.

Tidak hanya dokter yang menyesal, aku juga menyesal. Seharusnya aku lebih bersikap bijak terhadap diriku sendiri, harusnya aku lebih bisa mementingkan kebutuhanku daripada keinginanku.

Setelah vonis kanker lambung jatuh padaku, aku harus merelakan diriku untuk tidak bekerja, karena setiap hari aku harus pergi ke rumah sakit untuk menjalani perawatan medis.

Setiap kali menatap semua make up yang aku beli, aku merasa bodoh dan menyesal, benda-benda itu tidak dapat mengembalikan kesehatanku tapi aku dulu rela mati-matian mengejarnya. Mama dan papaku juga terpukul mendengar kabarku yang terserang kanker lambung stadium akhir. Mereka menyayangkan pola makanku dan ambisiku pada dunia kecantikan yang malah membuatku hancur itu.

Gara-gara ambisiku pada produk kosmetik aku kehilangan segalanya, pekerjaanku dan kesehatanku. hidupku kini hanya seputar rumah dan rumah sakit lalu minum puluhan pil yang mungkin hanya akan memperlambat penyakitku, tapi bisa dipastikan aku tidak akan berumur lebih lama lagi.

Pesan dariku, jika kamu berambisi pada sesuatu, pastikan dulu apakah ambisi itu akan membawa dampak yang positif untukmu, jika tidak, lebih baik hentikan, supaya tidak ada aku-aku yang lain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here