Aku Nggak Nyangka Hidupku Sehancur Ini

0
24

Pernah nggak kamu merasa hancur saat kamu tahu siapa sebenarnya bagaimana hidupmu yang kamu pikir selama ini baik-baik aja?

Saat ini aku sedang merasa hancur, tepat beberapa bulan sebelum aku ulang tahun yang ke-19 aku diberitahu kalau aku ini sebenarnya anak hasil diluar nikah.

Agak shock sebenarnya, tapi aku shock-nya nggak lama, soalnya aku punya teman yang broken home dan hasil di luar nikah. Waktu dia ceritain kalau dia anak hasil di luar nikah, dia nangis-nangis di depanku. Aku juga ikutan nangis. Aku kuat-kuatin dia, aku bilang ke dia begini “kamu kuat, kamu nggak haram, kamu nggak salah.” terus kami pelukan.

Dan sekarang, malah aku yang pengin dipeluk sambil dikuat-kuatin.

Papaku udah meninggal, tapi aku nggak punya satu pun barang peninggalan papa. Bahkan baju bekasnya aja aku nggak punya. Papa meninggal saat aku berumur 2 tahun. Aku nggak tahu apa-apa soal papaku.

Aku cuma punya selembar foto papa, itu aja aku nyobek dari buku yasin terus aku pajang di kamar.

Mama bilang papa itu suka nulis puisi buat mama, mamaku nyimpen itu semua dengan baik, ada beberapa foto juga, tapi semua itu udah hilang, dibakar sama mantan pacar mamaku karena cemburu. Aku sendiri nggak paham kok ada orang yang cemburu sama orang yang udah mati.

Hasilnya nggak ada yang tersisa, apapun itu, baju-bajunya aku juga nggak tahu kemana, hartanya juga. Padahal keluargaku, apalagi keluarga pihak papa dulunya keluarga yang cukup berada kata mama, mama bilang papa punya rumah dan mobil terus setelah meninggal mobil itu dijual dan dibelikan tanah.

Tapi, mama dan aku sama sekali enggak tahu soal itu kalau nggak karena ada saudara yang bilang sama kami. Dia bilang kalau semua harta papa udah dijual oleh keluarga pihak papa. Mama pernah nyinggung soal rumah, tapi keluarga papa bilang kalau rumah itu bukan kepunyaan papa dan udah nggak perlu dibahas lagi

Setelah itu nggak bahas lagi.

Tapi, yang saat ini bikin aku hancur adalah ternyata selama ini aku dibohongi.

Kamu pasti nggak akan pernah menyangka kalau orangtua yang menjadi panutanmu itu ternyata nggak sebaik yang kamu kira.

Yaaah, aku merasa dibohongi sama mama, dulu aku kira mama adalah wanita terbaik, karena di usinya yang belum 25 tahun dan udah menjadi janda, dia rela merantau bekerja di kota orang demi biaya hidupku, tapi siapa sangka kalau itu adalah balasan yang udah dia perbuat.

Karena selama 18 tahun aku dibohongi mama soal penyebab kematian papa. Mama bilang papa sakit liver karena nggak suka makan buah tapi ternyata bukan karena itu. Papaku itu pecandu narkoba, penyebab kematiannya adalah saat dia ingin berhenti tapi pihak bandar narkoba masih menginginkan papa, akhirnya papa dicekoki sampai sekarat dan akhirnya meninggal.

Namun, sebelum papa meninggal, ternyata ada kenyataan lain yang harus aku terima. Papa dan mama bertemu karena sesama pemakai kemudian bersama dan melakukan hal-hal yang hanya boleh dilakukan oleh sepasang suami istri.

Tapi, aku mendapat info kalau mama nggak melakukan itu hanya dengan papa, tapi juga dengan beberapa orang lainnya, tapi papa mau bertanggung jawab sampai aku lahir, dia ingin memastikan kalau aku ini emang anaknya, karena pihak keluarga meragukan aku, tapi untungnya wajahku mirip banget sama papa, jadi semua orang akhirnya percaya.

Setelah menikah, mereka tinggal di kontrakan dan sama-sama mulai berhenti dengan ikut rehabilitasi.

Mamaku itu jenis wanita yang punya sifat hedonisme tinggi. Dia senang minta ini itu sama papa, membentak dan suka berbuat seenaknya. Dan kalau sudah iri bisa sangat menakutkan, waktu itu mama iri sama kakak papa yang menikah dan mengadakan pesta sedangkan mama nggak.

Gara-gara itu papa dikurung 3 hari di kamar mandi. Hal itu mama lakukan sebagai bentuk protes pada keluarga papa, karena masalah itu papa sakit parah dan setelahnya mengancam minta cerai dan pergi dengan suami orang.

Sekian lama papa dan mama nggak ketemu lagi. Perpisahan itu berdampak buruk pada papa, papaku jadi frustasi. Tahu kalau keadaan papaku yang frustasi, bandar narkoba itu datang lagi, papaku menolak, tapi dia dikejar-kejar sama si bandar. Papa disekap dan dicekoki sampai sekarat dan ditinggalkan di depan rumah, kondisinya udah parah, organ tubuhnya udah hampir nggak berfungsi. Lalau papa dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan perawatan khusus.

Saat dirawat di rumah sakit mama nggak mau datang menengok, dia lebih memilih untuk mengerjakan urusannya sendiri, karena saat itu dia memang baru diterima kerja dan disaat bersamaan aku dititipkan di keluarga mama.

Bahkan sampai papa hampir meninggal mama tetap nggak mau datang dan tetap ingin bercerai, tapi papa bilang kalau papa lebih milih cerai mati supaya mama mau datang melihatnya. Di detik-detik terakhir papa, papa meminta mama untuk membawaku, papa ingin melihatku yang terakhir kalinya.

Akhirnya nenek dari pihak papa menjemputku yang masih bayi untuk dipertemukan dengan papa, tapi ditolak oleh kakek dari pihak mama.

Keadaan papa makin menyedihkan, keadaannya parah dan akhirnya papa berpulang. Setelah papa meninggal, mama menyesal, begitu juga kakekku karena tidak mempertemukan aku dengan papa untuk yang terakhir kalinya hanya karena hasutan dari mama.

Mama datang saat papa sudah dikuburkan, dia menangis sejadi-jadinya dan merubah hidupnya setelah itu, dia lebih dekat dengan Tuhan, menceritakan kisah papaku yang baik-baik dan merancang skenario supaya semuanya terlihat baik-baik saja.

Lalu saat aku SD, mama menikah lagi dengan seorang public figure. Setelah pernikahan mereka, hidupku semakin membaik, kami punya banyak uang, punya adik, teman-teman yang baik, sekolah di sekolah terbaik, hidup sesuaku, apapun keinginanku pasti dituruti. Aku benar-benar menjalani hidup semauku.

Membahagiakan memang, apalagi papa tiriku ini juga baik dan menganggapku seperti anak kandungnya sendiri.

Tapi, emang nggak ada kesenangan abadi, semuanya berubah saat papa tiriku udah nggak jadi public figure, waktu itu aku udah jadi siswa SMP. Pemasukan menurun, yang membuat papa jadi lebih sering di rumah.

Tapi sejak papa sepi job, kau jadi tahu siapa sebenarnya papa tiriku ini. Dia sering melecehkan aku. Aku sering disuruh dia buat mijit-mijit sampai ke area yang terlarang, kalau aku sedang pakai baju di kamar setelah mandi, dia suka nyelonong masuk dan bilang kalau dia nggak sengaja. Kamarku ini emang nggak ada kuncinya.

Terus kalau aku lagi mandi, papa suka gedor-gedor, aku nggak tahu biar apa, terus dia bilang “sini punggungnya dibersihin”, tapi aku tolak.

Kalau mama lagi nggak ada dalam satu ruangan sama aku dan dia, dia suka gelitikin aku tapi herannya sampai ke bagian dada di depan adekku yang masih SD. mungkin karena adek pikir itu lucu, dia juga ikut-ikut gelitikin aku di area dada.

Kejadian itu terus terjadi sampai bertahun-tahun kalau mama nggak ada.

Dan hal itu semakin parah saat aku masuk SMA, papa jadi makin gencar melecehkan aku.
Suatu hari dia mulai menciumku sangat lamaaa sekali dan itu dia bilang sebagai sex education, akunya juga bodoh sih waktu itu, cuma iya-iya aja, tapi lama kelamaan aku heran karena itu dilakukan berkali-kali.

Papa makin gila, dia sering melakukan hal-hal aneh padaku. Dia pernah menawarkan diri untuk memijatku, tapi dia ingin dalam posisi tanpa pakaian. Aku sudah menolak, tapi papa terus memaksa. Karena aku masih polos aku cuma mengiyakan.

Pelecehan lainnya adalah saat aku lagi nonton TV, tiba-tiba dia mendorongku dan mulai melakukan tindakan yang tak terduga. Lalu aku menangis dan teriak. Aku memukulnya dan langsung pergi dari rumah.

Aku belum berani melapor sama mama karena mama itu sangat sayang sama papa tiriku, jadi aku lebih milih diam.

Puncaknya adalah saat papaku memaksaku untuk test keperawanan, aku kaget, tapi emang dasarnya aku begok sih dan nggak tahu menahu soal test kayak begituan gimana caranya. Dia mengetest melalui kemaluanku, terus dia juga mewanti-wanti aku untuk jangan bermain dengan laki-laki. Lalu memaksa memandikan aku, tapi aku menolak dan menangis dan kabur ke rumah keluarga ayah kandungku.

Akhirnya ada pertemuan keluarga. Dan brengseknya, papa tiriku pinter muter balikin fakta. Aku dibilang nggak perawan dan soal memainkan dada itu bercanda. Karena aku udah nggak tahan difitnah, aku langsung teriak lantang “Ayok cek ke dokter”.

Setelah dicek, hasilnya aku masih perawan. mama ku nangis sejadi-jadinya dan akhirnya percaya.

Tapi, aku nggak tahu gimana jalan pikiran mama. Dia memintaku buat nggak melaporkan masalahku ke orang lain dan ke pihak berwajib.

Mama memang sempat minta cerai sama papa, tapi nggak jadi karena adek masih kecil dan status papa yang mantan public figure, walaupun sekarang udah nggak seterkenal dulu.

Masalah pelecehan ini udah selesai.

Anehnya mama masih bersikeras minta aku tetap tinggal bersama mama. Gila apa? Bisa-bisa aku dilecehin lagi kan? Aku menolak permintaan mama mentah-mentah. Aku trauma.

Aku memilih untuk tinggal bareng nenek dan tante dari pihak papa kandungku, tapi mama bilang kalau aku tinggal sama mereka mama nggak akan membiayai hidupku. Dan aku menyanggupinya karena diiming-imingi pihak keluarga papa yang akan membantu biaya sekolah dan bekal.
Tapi, keadaan keluarga papa udah nggak sebagus dulu. Malah bisa dibilang keadaan mereka ini pas-pasan. Jadi aku nggak bisa berharap banyak.

Aku cuma dijatah 15.000 untuk dua hari. Yang 8.000 untuk ongkos dua hari, itu artinya aku hanya punya 7.000 buat jajan dua hari.

Dan untuk menyambung hidup aku berjualan keripik dan untungnya aku bisa bayar spp.

Padahal, awalnya nenek dan tanteku udah janji mau bantu aku, tapi aku bisa mengerti kalau mereka nggak bisa membantuku karena memang keadaan tanteku yang bukan orang mampu dan aku nggak enak kalau harus minta uang lebih.

Tapi tanteku ini nggak tahu kenapa kok menyebalkan banget.

Awalnya waktu itu aku sedang nabung buat ikut acara study tour, karena kau masih di bawah umur, jadi aku menitipkan uangku di rekening tanteku, aku pikir untuk kebaikanku sendiri supaya nggak kepakai.

Sedihnya, waktu aku mau berangkat 2 hari lagi, tiba-tiba tante bilang kalau uangnya dia pakai dan sebaiknya aku nggak usah pergi dan sampai sekarang uang itu nggak pernah dia ganti.

Tahu nggak, aku nangis waktu tanteku bilang gitu. Bayangin aja, aku capek-capek nabung uangnya malah dia pakai dan dia nggak bilang maaf atau gimana.

Setelah itu sifat menyebalkan tanteku semakin parah. Dia suka pakai barang-barangku, padahal aku nggak pernah sekalipun nyentuh barang-barang dia karena dia kelihatan nggak suka. Dia juga sering banget nitip minta beliin sesuatu tapi nggak bayar. Kebetulan aku punya banyak kenalan olshop dan tanteku sering ambil barang atas namaku dan nggak ditebus, bermasalah, punya banyak hutang dan si penagih terus ngejar-negjar aku, sedangkan tanteku sering berpura-pura pergi.

Tanteku juga sering ambil uang ititpan dari kleuargaku untukku, terus ngomong ke keluarga besar kalau aku itu menyebalkan.

Dan sekarang, saat aku udah kerja sendiri, dan aku itu punya bos yang baik banget sama aku, parahnya, tanteku memanfaatkan kebaikan bosku. Dia pinjam uang pada bosku dengan cara yang licik banget, dia menjelek-jelekkan aku dan menjual penderitaan, sampai akhirnya bosku luluh dan meminjamkan dengan nominal besar, tapi dia nggak mau bayar dan aku dijadikan jaminan.

Tiap hari aku nagih di rumah, tapi dia malah bilang aku nggak tahu diri, aku nggak boleh dapat warisan dan macam-macam.

Aku lelah. Aku capek.

Sampai sekarang aku nggak punya teman karena sekarang aku bukan siapa-siapa dan nggak punya apa-apa. Aku nggak punya teman buat cerita.

Karena nggak punya teman aku jadi sering ngomong sendiri.

Dulu, waktu sd sampai sma sih aku masih punya banyak teman, tapi saat sma aku nggak punya sama sekali karena nggak punya uang. Aku sering dilabrak, dibully, dijadikan bahan julid satu sekolah dan kalau ada cowok yang mau dekat sama aku, hidupku di sekolah bakal nggak tenang.

Semua kenangan itu terus menerus berputar-putar dalam memori otakku. Aku masih tinggal sam nenek dan tante, tapi mereka nggak peduli, mamaku juga gitu, dia nggak pernah sekali pun ngunjungi aku, dan kalau aku mau bertemu sama dia aku yang harus mengunjunginya, padahal aku takut setengah mati sama papa tiriku.

Tapi, karena aku sangat ingin bertemu mama, aku harus menahan perasaan trauma itu. Meskipun saat sampai di rumah mama, sebenarnya aku makin hancur, karena aku melihat adekku yang dikasih perhatian penuh sama mama.

Aku iri? Jelas.
Siapa yang nggak iri, dulu waktu aku masih kecil, nggak kayak dia. Aku harus serba sendiri.

Dan saat ini yang paling menyedihkan adalah aku nggak bisa keluar dari rumah nenek dan tante. Karena kalau aku keluar dari rumah nenek dan tante nggak bakal dianggap keluarga lagi sama mereka, karena dimata mereka aku itu nggak tahu diri. Mereka seperti itu karena merasa berjasa dulu pernah menyelamatkan aku dari masalah pelecehan.

Mau ngontrak? Aku nggak bisa.
Kalau mau tinggal di rumah kakek pihak mama, nenek dan tante akan selalu nyindir-nyindir aku.

Jadi aku harus bagaimana? Apakah kamu punya solusi. Tolong aku…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here