Aku Menikah Dengannya Setelah 32 Tahun Berpisah

0
37

Pernah nggak kamu jalan-jalan ke suatu tempat, lalu tempat itu menjadi sangat berarti dan menjadi tempat yang paling tidak bisa kamu lupakan seumur hidupmu, karena tempat itu menjadi saksi bertemunya kamu dengan pasangan hidupmu.

Kalau aku pernah, waktu itu pada tahun 1975, saat aku masih muda, aku sangat senang melancong. Sebelum resmi menjadi mahasiswa strata satu di Chicago, aku jalan-jalan ke Swiss dan Prancis. Aku melancong dengan mengandalkan kebaikan hati para pengendara mobil yang memberiku tumpangan gratis.

Menjadi penumpang gratis, aku mengikuti arah tujuan pemilik mobil. Dan waktu itu dia berhenti Neuchatel.

Di Neuchatel, aku menginap di satu hostel di atas bukit.

Hari itu, panas matahari sangat menyengat dan itu membuatku sangat haus. Lalu aku memutuskan untuk memesan minuman segar di kafe dekat hostel.

Aku duduk menikmati segelas orange juice di bawah teriknya sinar matahari. Tapi ada yang menarik perhatianku saat itu, seorang perempuan muda duduk tepat di belakangku. Matanya biru dan rambutnya hitam bergelombang, dia sangat cantik.

Dia duduk di samping meja bundar yang terbuat dari marmer, meja yang bisa dibilang biasa ditemui di kafe-kafe Eropa. Tapi, yang membuat meja itu berbeda adalah adanya hiasan papan catur di meja tersebut. Nggak ada yang istimewa dari meja itu sebenarnya, hanya saja, karena ada gadis bermata biru disana, itu membuat meja itu tampak istimewa untukku.

Aku benar-benar nggak bisa mengalihkan pandangan mataku dari gadis itu, hati kecilku berteriak-teriak menyuruhku untuk mengajak gadis itu bermain catur. ini sangat aneh, otakku sudah sibuk menyusun kalimat ‘Maukah kamu bermain catur denganku?’ dalam bahasa Prancis.

Tapi, akhirnya aku memberanikan diri mengajaknya bbicara dalam bahasa Prancis yang belepotan. Mungkin, karena suaraku seperti orang kumur-kumur, dia memintaku untuk mengulangi ucapanku, lalu aku mengulanginya lagi dengan suara yang lebih keras dan tetap dalam bahasa Prancis yang belepotan.

Dan karena dia masih nggak paham, dia mengatakan kalau sebaiknya kita menggunakan bahasa inggris saja.

Lalu aku mengulurkan tanganku mengajaknya berkenalan.

Namanya Maif, nama sebenarnya Marie-France, umurnya 19 tahun dan dia tinggal di Neuchatel. Menghabiskan waktu di kafe untuk minum kopi adalah hal yang biasa ia lakukan setiap pulang sekolah.

Di hari pertemuan pertama kami, dia bilang, kalau dia baru saja selesai ujian SMA. dan kami nggak jadi main catur, permainan itu terlupakan, karena ternyata Maif teman ngobrol yang asyik. Jadi kami lebihmemilih untuk berbagi cerita.

Selama dua hari, Maif menjadi pemandu wisata dadakan untukku. Dia mengajakku berkeliling Neuchatel. Dia menunjukkan semua sudut kota itu. Kami juga mengunjungi jalan berbatu menuju kastil yang dibuat pada abad ke-12, setelah itu kami rebahan di atas rumput di tepi danau sambil menikmati keindahan gunung Alpen.

Lalu malam harinya, kami masuk ke klub yang menyediakan jukebox, tahu jukebox?

Jukebox itu mesin pemutar lagu yang akan memainkan lagu setelah kita memasukkan uang koin ke dalam mesin. Dari sini, aku jadi tahu siapa pemusik favorit Maif.

Kami benar-benar menghabiskan waktu dari pagi sampai malam.

Dua hari bersama maif, membuatku benar-benar jatuh cinta pada Maif.

Tapi, sayangnya Maif sudah punya pacar yang sedang kuliah di Kanada, dan Maif akan menyusul pacarnya itu.

Memandang Maif yang sedang bercerita selalu menyenangkan tapi aku tak berani mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya pada Maif.

Mengetahui fakta bahwa orang yang kamu suka sudah punya pacar adalah sesuatu yang menyakitkan. Dan aku juga tidak mau membiarkan perasaanku semakin dalam, jadi aku memutuskan untuk pergi meninggalkan Neuchatel, aku menumpang mobil orang lagi ke tempat lain tanpa pamit pada Maif.

Beberapa hari meninggalkan Neuchatel, aku menyerah, aku rindu Neuchatel, dan aku rindu… Maif. Aku kembali ke Neuchatel dan aku langsung ke kafe tempat pertama kali aku bertemu Maif.

Beberapa menit kemudian, Maif datang, dia terkejut melihatku disana. lalu kami saling bertukar cerita, dia bertanya, kemana aku pergi beberapa hari yang lalu.

Kemudian, setelah menghabiskan cangkir kopi kami, dia mengajakku ke sebuah rumah yang tak jauh dari kafe.

Di rumah itulah dia tinggal bersama neneknya.

Sesampainya kami di rumah nenek Maif, dia mengajakku makan siang. Nenek Maif menyiapkan telor dadar sebagai menunya. Dan ini adalah pertama kalinya aku makan siang dengan telor dadar. Kami menikmati makan siang kami di dapur.

Aku masih punya beberapa hari untuk dihabiskan di Neuchatel sebelum kembali ke Amerika. Tapi semakin lama aku tinggal, itu sama saja dengan aku menyakiti diriku sendiri, perasaanku pada Maif semakin dalam.

Aku tak bisa mengatur perasaanku, aku berada di posisi diam menahan perasaan cintaku pada Maif dan keinginan untuk mengungkapkan semua yang aku rasakan.

Tiba di hari perpisahan kami, aku mengucapkan selamat tinggal pada Maif. Aku dan Maif berdiri di depan rumah neneknya, dengan sisa-sisa keberanian yang aku punya aku mencium pipinya. Ini adalah bentuk ciuman perpisahan antara dua kawan baik.

Ketika aku memutar tubuhku, aku mendengar Maif mengucapkan sesuatu dengan lirih.

Entah hanya perasaanku saja atau bukan, aku merasa kalau Maif mengungkapan rasa kecewa atas kepergianku dalam suara lirihnya.

Dan saat mendengar suara lirihnya, aku tak tahu kenapa aku tidak mau menoleh dan kembali padanya. Tapi, aku sungguh sangat menyesal dan aku benar-benar merasa seperti orang bodoh. Kenapa aku begitu pengecut.

Sekembalinya aku ke Chicago, aku memulai studiku sebagai mahasiswa strata satu. Dan Maif, yang aku tahu, dia menyusul pacarnya dan belajar bahasa inggris di sana.

Setelah perpisahan yang menyesakkan itu, kami saling berkirim surat tapi hanya sekali. Aku menelponya sekali dan saat kutelpon dia bilang padaku kalau dia akan Chicago. Mendengar dia akan Chicago, aku sangat senang. Aku akan bertemu dengan Maif.

Tapi, saat aku menelponnya lagi, dia mengatakan kalau dia sudah punya pacar baru. Aku kecewa, lagi-lagi aku merasa kalah cepat dan gagal medapatkan Maif.

Setelah itu, kami sudah tidak saling menghubungi satu sama lain.

Beberapa tahun, setelah aku lulus kuliah, aku menikah. Tapi pernikahanku tidak berlangsung lama, aku dan istriku memilih untuk bercerai. Mungkin istriku tahu, kadang aku memikirkan orang lain, dan aku juga belum bisa mencintainya sepenuh hati. Hubungan kami yang tidak baik, mungkin menjadi alasan bagi kami tidak dikaruniai anak.

Setelah perceraian itu, aku menyendiri memilih untuk sendiri.

Dalam masa-masa sendiriku, kadang aku teringat Maif, tapi aku tahu bahwa Maif sekarang hanya sekedar memori dalam kenangan indah di kota Neuchatel.

Seiring berjalannya waktu, perkembangan teknologi semakin maju, dan dunia berubah. Aku tiba di era internet.

Teman-temanku di kantor memaksaku menggunakan layanan jejaring sosial untuk para profesional LinkedIn. Karena itu aku terinspirasi untuk mencari keberadaan maif dan saat aku mengetikkan nama Maif di Google, muncul akun LinkedIn Maif.

Setelah akunnya ketemu, tidak membuatku langsung menghubungi Maif. Aku masih ragu dan bimbang, apakah dia akan membalas pesanku?

Tapi, setelah peperangan batin itu, aku memilih untuk memberanikah diri untuk mengirim pesan dan teretereeeeng, aku dan Maif akhirnya bisa saling bertukar kabar. Lalu kami saling bertukar alamat email.

Dalam email yang dia kirimkan padaku dia bercerita kalau sebelum dia menerima pesan elektronik dariku, dia bermimpi dengan sosok perempuan misterius yang berkerudung. Dalam mimpi itu, Maif menanyai kemana perempuan misterius itu akan pergi. Dan perempuan itu menjawab ‘aku akan kembali ke Akron’ Maif bertanya lagi ‘Ada apa di Akron?’. Perempuan itu tidak menjawab.

Akron adalah daerah yang aku tempati dulu saat pertama kali di Neuchatel

Dari email-email yang dia kirimkan padaku dia bercerita kalau dia bekerja di Jenewa. Dari email-email itu juga aku tahu, kalau dia sudah jadi janda. Maif punya satu anak, dan anaknya sudah beranjak dewasa.

Sama sepertiku, pernikahannya gagal dan dia  bercerai, setelah bercerai dia sudah menjalin hubungan dengan seseorang selama delapan tahun tapi hubungannya kandas.

Kadang juga kami berkomunikasi dengannya lewat skype.

Komunikasi kami sangat intens, dan aku sadar bahwa aku dan Maif memiliki banyak kesamaan. Dari situ kami ambil kesimpulan, bahwa sebaiknya hubungan kami berlanjut ke tahap yang lebih serius.

Aku dan Maif saling berkunjung. Dia mengunjungiku di Hawaii dan aku berkunjung ke rumahnya di Jenewa. Dia tinggal berdua dengan anaknya yang bernama Daniel.

Tapi, aku masih belum berani mengatakan kalau aku mencintai Maif.

Dari aksi saling berkunjung yang kami lakukan, kami menyadari satu hal bahwa ternyata kami saling menyukai. Perasaan itu bahkan tidak bisa dihapus walaupun sudah terlewat selama 32 tahun. rasa  cinta  yang masih tertinggal di Neuchatel, di rumah nenek Maif, di kafe tempat kami pertama kali bertemu.

Lalu kami memutuskan untuk menikah.

Aku dan maif kembali ke neuchatel. Dan kami langsung menuju kafe dulu tempat kami pertama kali bertemu. Kami mencari meja marmer dengan hiasan papan catur. dan setelah 30 tahun, meja itu masih ada. Aku dan maif bernostalgia di kafe itu, mengenang pertemuan kami. Dan meja itu sekarang ada di depan rumah kami. Meja yang menjadi saksi bisu pertemuan pertama kami.

Suatu hari, setelah pernikahanku dan Maif, saat aku dan Maif menghabiskan waktu di ladang pertanian Neuchatel, aku menerima paket dari temanku yang tinggal di Ohio. Isinya adalah kartu pos yang dibingkai.

Kartu pos yang 30 tahun lalu aku kirimkan pada sahabatku di Ohio.

Di kartu pos itu, ada tulisanku tentang perasaanku pada Maif, begini isinya.

‘Maif, Marie-France, gadis cantik berumur 19 tahun. dengannya aku menghabiskan waktu yang menyenangkan di Neuchatel. Dia tinggal di kota ini. Bahasa inggrisnya sangat bagus. Kalau aku tidak meninggalkan kota ini, mungkin aku akan terjerat dalam masalah asmara yang sangat pelik, karena aku tahu, aku telah jatuh cinta padanya, dan itu bisa berlangsung selamanya.’

Kartu pos berbingkai itu aku pajang di rumah kami. Dan Maif menyukainya.

Dan hari ini, pernikahanku sudah memasuki tahun ketujuh. Semoga aku dan Maif bisa terus bersama sampai maut memisahkan dan semoga kamu bisa bertemu dengan cinta sejatimu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here