Aku Menghabiskan Waktu Selama 10 Tahun untuk Membencinya

0
45

Semua orang memanggilku Lili. Aku adalah anak tunggal dari pasangan suami istri yang berasal dari kalangan cukup berada. Semua orang bilang kalau aku adalah perempuan yang cantik, tapi sayangnya kata mereka aku sangat manja.

Aku adalah jenis perempuan yang senang menghabiskan waktu untuk hura-hura bersama teman-temanku.

Dan tiba di umurku yang sudah cukup matang, aku dipaksa untuk menikah oleh orangtuaku.

Aku dijodohkan orangtuaku dengan seorang laki-laki yang mandiri, dewasa dan sudah mapan.

Demi menghormati orangtuaku, aku menerima perjodohan itu walaupun dengan terpaksa.

Sampai hari pernikahan tiba, aku masih menunjukkan senyum lebar. Aku tidak mau menunjukkan rasa benciku pada orangtua dan suamiku.

Aku terpaksa menerima pernikahan itu karena aku merasa tidak punya pegangan lain.

Beberapa bulan sebelum pernikahan aku sudah sering punya niat untuk meninggalkan suamiku.

Tapi, aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan dari siapa pun.

Orangtuaku sangat menyayangi suamiku, bagi mereka suamiku adalah sosok suami yang sempurna untuk putri mereka satu-satunya.

Setelah menikah, aku menjelma menjadi istri yang teramat manja.

Aku melakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakan aku sedemikian rupa.

Aku tidak menjalankan tugas istri sebagaimana mestinya.

Aku selalu bergantung pada suamiku karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya dilakukan oleh suamiku, setelah apa yang ia lakukan padaku.

Bagiku, aku sudah menyerahkan hidupku untuk sang suami, maka tugas suamikulah membuat aku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah, akulah ratunya.

Tak ada yang berani melawanku.

Jika ada sedikit saja masalah, aku akan langsung menyalahkan suamiku.

Aku tak suka jika suamiku meletakkan handuk yang masih basah di atas tempat tidur. Aku juga akan berteriak sebal jika aku melihat suamiku meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja karena akan meninggalkan bekas lengket. Dan aku juga tidak segan-segan memarahi suamiku jika ia menggunakan komputerku walaupun itu untuk menyelesaikan pekerjaannya. Dan aku juga akan uring-uringan kalau suamiku menggantung baju di kapstock bajuku.

Hal sepele lainnya yang bisa membuat aku kesal adalah jika suamiku memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi.

Dan aku akan marah-marah jika suamiku menelponku sampai berkali-kali saat aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Aku juga bilang pada suamiku kalau aku memilih untuk tidak punya anak. Walaupun tidak bekerja, tapi aku tidak mau mengurus anak.

Awalnya, dia mendukung pilihanku dan aku pun ber-KB dengan pil. Tapi ternyata suamiku menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu, ia membiarkannya.

Aku pun hamil dan aku baru sadar setelah lebih dari 4 bulan, aku tidak menerima kehamilanku, aku meminta pada dokter untuk menggugurkan kandunganku,  tapi dokter menolak permintaanku yang dinilai tidak logis.

Saat itu, adalah hari dimana kemarahan terbesarku meluap begitu saja pada suamiku. Dia sangat pasrah menerima semua amukanku.

Dan kemarahanku makin bertambah saat aku tahu kalau ternyata aku hamil sepasang anak kembar dan harus mengalami proses kelahiran yang sulit.

Aku memaksa suamiku untuk melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi.

Suamiku patuh melakukan permintaanku, karena aku mengancam, aku akan meninggalkan dia bersama kedua anak kami.

Sampai delapan tahun berlalu dan hari itu adalah hari yang akan aku ingat sepanjang hidupku.

Hari itu seperti biasa aku bangun paling akhir.

Di meja makan, suami dan anak-anakku sudah menunggu.  Seperti yang sudah-sudah, suamiku yang menyiapkan sarapan dan mengantar anak-anak kami ke sekolah.

Di hari itu, suamiku mengingatkan aku tentang peringatan hari ulang tahun ibu.

Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa memedulikan kata-kata suamiku, yang mengingatkan tentang peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku lebih memilih untuk pergi ke mal dan tidak hadir di acara ulang tahun ibu.

Gara-gara pernikahan yang dipaksakan oleh orangtuaku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Dan hari itu, aku merasa ada yang berbeda, biasanya suamiku hanya mencium pipiku lalu diikuti anak-anak kami. Tetapi hari itu, suamiku juga memelukku cukup lama sampai kedua anak kami menggoda ayah mereka dengan heboh.

Aku merasa jengah, aku berusaha mengelak dan melepaskan diri dari pelukan suami. Meskipun akhirnya aku ikut tersenyum bersama anak-anak, suamiku kembali menciumku hingga beberapa kali di depan pintu, seolah-olah berat untuk pergi.

Dan setelah suami dan anakku sudah pergi, aku memutuskan untuk pergi ke salon. Menghabiskan waktu di salon adalah hobiku.

Beberapa jam kemudian aku tiba di salon langgananku. Di salon aku bertemu dengan salah seorang teman sekaligus orang yang tidak aku sukai.

Kami berdua mengobrol dengan asyik, dan tidak lupa juga memamerkan kegiatan sehari-hari kami. Lalu tiba saatnya aku membayar tagihan salon, betapa terkejutnya aku, saat menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah.

Bahkan aku sampai merogoh tasku ke bagian yang paling dalam, tapi dompet tidak juga aku temukan.

Aku berusaha mengingat-ingat kejadian apa yang membuat dompetku tidak bisa aku temukan. Lalu aku menelpon suamiku.

Setelah telponku diangkat, aku membentak suamiku. Tapi, suamiku dengan lembut dan sabar minta maaf dan menjelaskan bahwa sehari sebelumnya saat anak kami minta uang jajan dan dia tidak punya uang kecil dia mengambil dompetku. Dia lupa menaruhnya kembali ke dalam tasku. Suamiku juga mengatakan kalau tidak salah dompetku  ia letakkan diatas meja kerjanya.

Dengan penuh amarah, aku memarahi suamiku dengan kasar. Lalu aku menutup telpon tanpa menunggu suamiku selesai bicara.

Beberapa menit kemudian Hp-ku berbunyi dan meski masih kesal, aku mengangkatnya dengan setengah membentak.

Padahal saaat itu suamiku hanya ingin mengabarkan kalau dia akan pulang segera untuk mengambil dompet dan mengantarnya padaku. Dia menanyakan keberadaanku dengan cepat, khawatir kalau tiba-tiba aku menutup telponnya.

Aku menyebutkan nama salon langgananku dan tanpa menunggu jawaban dari suamiku, aku menutup telpon.

Aku berbicara dengan kasir, kalau suamiku akan datang membayarkan tagihan.

Padahal yang punya salon, yang juga sahabatku, sudah membolehkan aku untuk pergi dan mengatakan bahwa aku bisa membayar tagihannya nanti saat aku kembali lagi.

Tapi aku terlalu malu, karena orang yang tidak aku sukai ikut mendengar kasus ketinggalan dompetku, itu membuatku merasa gengsi untuk berhutang dulu.

Berjam-jam aku menunggu di salon, tapi suamiku tak kunjung datang. Karena tak sabar aku menelpon suami, berkali-kali aku menelpon tapi telponku tak diangkat, biasanya aku hanya perlu menunggu dalam hitungan detik , tapi kenapa kali ini lama?

Perasaanku mulai tak enak dan marah. Tapi akhirnya telponku diangkat setelah beberapa kali mencoba.

Belum sempat aku mengeluarkan bentakanku, suara asing dari seberang telpon mengagetkanku. Itu bukan suara suamiku.

Aku terdiam beberapa saat sebelum suara asing itu memperkenalkan diri sebagai seorang polisi.

Polisi itu mengabarkan kalau suamiku mengalami kecelakaan dan sedang dilarikan ke rumah sakit kepolisian.

Saat itu aku diam membisu dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telpon ditutup , aku terduduk dengan bingung.

Beberapa pegawai salon berjalan mendekatiku dan bertanya ada apa karena wajahku mendadak berubah pucat.

Singkat cerita, aku tiba di rumah sakit, dan di sana semua keluargaku sudah berkumpul.

Di depan ruang gawat darurat, aku terdiam seribu bahasa, aku tidak tahu harus melakukan apa, karena selama 10 tahun pernikahanku, suamikulah yang melakukan segalanya untukku.

Beberapa jam kemudian, tepat saat adzan maghrib berkumandang, dokter keluar dan menyampaikan berita duka.

Suamiku telah tiada. Dia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, tapi juga karena terkena serangan stroke. Stroke? Aku bahkan tidak tahu dia punya penyakit itu.

Mendengar berita itu, aku sibuk menguatkan kedua orangtua dan mertuaku yang sangat shock.

Aku belum mengeluarkan airmata setetespun dari kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku.

Anak-anakku sangat terpukul dan memelukku dengan erat, tapi kesedihan semua orang tidak mampu membuatku menangis.

Dan saat jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah damai suamiku.

Aku baru menyadari, itulah saat pertama kali aku benar-benar menatap wajah suamiku yang tampak tertidur pulas, aku memandangi wajah suamiku dengan seksama.

Saat itulah aku baru benar-benar sadar apa yang sudah aku lakukan selama 10 tahun padanya. Dengan pelan aku menyentuh wajahnya yang sudah dingin.

Tanpa aku sadari, airmataku jatuh menetes, makin lama makin deras. Aku berusaha mengusap airmataku agar tatapan terakhirku pada suami tidak terhalang, aku ingin mengingat semua bagian wajah suamiku agar kenangan manis tentang suamiku tidak hilang begitu saja.

Sampai prosesi pemakaman berakhir, airmataku tidak berhenti mengalir. Aku teringat semua kesalahan yang aku lakukan pada suamiku di detik-detik terakhir. Dan bayangan-bayangan kejahatanku padanya membuatku jatuh pingsan di atas kuburannya.

Aku  tak tahu bagaimana cerita setelah aku jatuh pingsan, tapi saat aku sadar aku sudah berada di kamarku. Aku terbangun dengan perasaan menyesal. Dan airmataku jatuh lagi.

Aku mengingat semua sikap buruk pada suamiku, tapi suamiku tidak pernah membalas perlakuan burukku.

Selama beberapa hari aku tidak nafsu makan, sia-sia semua orang membujukku untuk makan. Biasanya jika aku sedang tidak nafsu makan, suamiku akan menyuapiku dengan sabar hanya demi supaya aku mau makan.

Dia selalu memperhatikan semua yang aku makan, terutama saat aku hamil, tapi… apa yang aku lakukan padanya? Aku tidak pernah peduli dengan semua yang ia makan. Aku hanya masak untuk diriku sendiri dan anak-anakku, dan dia hanya makan jika makanan masih tersisa.

Mungkin karena itu dia sering makan mie instan, seluruh keluarga tahu dia penggemar berat mie instan dan kopi kental.

Mungkin karena itu dia terkena stroke.

Yang aku pedulikan selama ini hanyalah uang yang sudah dia transfer dan aku akan menghabiskannya tanpa sisa.

Dan hari ini aku menyesal. Sangat…

Aku seperti terjebak dalam kenangan bersama suamiku. Aku baru sadar setelah suamiku pergi, aku baru sadar kalau ternyata aku telah jatuh cinta padanya.

Keluargaku tak pernah tahu apa yang membuatku begitu sangat terpukul dengan kepergian suamiku.

Dulu, aku pikir kebebasan adalah hidup tanpa suamiku, tapi saat ini yang aku rasakan adalah aku terjebak dalam keinginan untuk bersama suamiku selamanya.

Hari-hariku setelah kepergian suami adalah hari yang buruk.

Aku tidak tahu aku harus melakukan apa untuk menghidupi kedua anakku, karena dulu semuanya sudah diurus suamiku.

Di saat terpuruk seperti ini, teman-teman yang dulu aku bela mati-matian, tidak ada yang peduli padaku, mereka pergi meninggalkan aku sendiri.

Tapi, beberapa hari kemudian, ayah, ibu dan notaris datang padaku menjelaskan isi surat wasiat mengenai semua peninggalan suamiku, untukku dan anak-anakku.

Dia melakukan banyak persiapan sebelum dia pergi. Dia tidak ingin aku dan anak-anakku terlantar.

Setelah 15 tahun berlalu sejak kematian suamiku, tiba saatnya anak perempuanku akan menikah. Anakku mengatakan kekhawatirannya tentang dia yang tak bisa apa-apa dan takut bagaimana jika ia nanti tidak bisa melayani suaminya dengan baik.

Aku hanya tersenyum dan menjawab, bahwa yang perlu dilakukannya adalah hanya memberikan cinta yang tulus pada suaminya, dengan cinta itu sendiri nantinya dia akan melakukan yang terbaik untuk suaminya.

Agar dia tidak perlu mengalami hal yang sama denganku, dimana di sisa hidupku aku terjebak dalam ketulusan cinta ayahnya yang membuatku tidak mau menikah lagi.

Karena aku akan mencintai suamiku di sisa umurku sampai nanti maut menjemputku.

Ini adalah sepenggal kisah tentang seorang istri yang membenci suaminya selama 10 tahun tapi setelah kematian suaminya, dia malah menghabiskan sisa hidupnya untuk mencintai sang suami, terlepas dari kisah ini fiktif atau nyata, tapi dari cerita ini kita bisa tahu, kalau kita harus bisa menerima orang yang sudah hadir dan mencintai kita dengan tulus, dan kita juga harus bisa menghilangkan kebencian-kebencian yang sebenarnya malah membuat hidup kita jadi runyam dan berujung penyesalan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here