Aku Mendonorkan Hati Untuk Guru yang Dulu Selalu Menghukumku

0
27

Hai, perkenalkan aku Jerry. Aku bukan Jerry si tikus, aku Jerry, hanya Jerry. Aku orang biasa dari keluarga yang biasa-biasa saja. aku juga sekolah di sekolah yang biasa-biasa saja.

Di setiap sekolah pasti memiliki beberapa guru. Dan guru bagiku adalah sosok pengganti orangtua saat kita berada di sekolah. Dan tidak jarang ada beberapa guru yang punya kedekatan emosional dengan murid-muridnya. Dan aku yakin setiap guru pasti punya murid favorit atau murid yang paling tidak dia suka atau bisa juga murid yang selalu membuatnya marah entah karena si murid yang terlalu bandel atau kelewat bodoh.

Dan hari ini aku mau menceritakan salah satu guruku di sekolah.

Aku sekolah di salah satu SMA di negara Malaysia, nggak perlu aku sebutkan tepatnya di bagian mana.

Di sekolah ini aku punya kenangan dengan salah satu guru yang super duper killer. Guru ini selalu membawa tongkat kemanapun. Aku sendiri nggak paham kenapa guru itu kemana-mana bawa tongkat, buat apa? ya kan, dia memang guru yang aneh.

Tapi sialnya, aku sering kena serangan tongkat itu.

Guru itu selalu ada alasan untuk menghukumku dengan memukulkan tongkatnya padaku. misal seragamku tidak rapi, maka dia akan memarahi dan memukulku. Dan kalau kebetulan dia masuk kelas untuk mengajar, kalau aku lupa tidak mengerjakan PR, dia dan tongkat saktinya akan menghukumku.

Aku paling tidak suka dengan guru yang mendidik anak muridnya dengan cara seperti itu. Itu sangat kasar, dan itu juga bisa menumbuhkan rasa benci di hati para murid.

Bisa dibilang, hampir tiap hari aku harus berurusan dengan guru killer itu. Ya Tuhan, apa aku salah masuk sekolah, sampai aku harus dipertemukan dengan type guru yang seperti itu? Karena terlalu sering menerima hukuman inilah akhirnya aku benar-benar membenci guruku. Sangat-sangat membencinya, sudah tidak bisa aku gambarkan seberapa besar rasa benciku padanya.

Tapi, saat aku lulus sekolah dan berhasil di terima di jurusan kedokteran, saat usiaku sudah bisa dibilang cukup dewasa, aku mulai memahami sikap guru SMA-ku dulu.

Sikapnya yang selalu siap untuk mneghukum itu hanya untuk mendisiplinkan kami para muridnya yang mungkin sangat bandel dan tidak taat aturan. Aku mulai menghargai guru-guru yang dulu pernah menghukumku, aku tahu mereka sangat perhatian dan peduli padaku.

Dan kalau dipikir-pikir, aku tidak akan sampai pada tahap ini kalau aku tidak didisiplinkan oleh guruku itu.

Walaupun, kenangan masa SMA-ku bisa dibilang buruk, tapi bagiku sosok guru adalah sosok paling berjasa dalam hidup setiap orang.  Kalau bukan karena mereka, aku pasti tidak akan menjadi dokter seperti saat ini.

Suatu hari aku mendengar kabar bahwa guru killer-ku itu sedang sakit keras dan butuh donor hati. Salah seorang temanku yang juga dulu satu SMA denganku menelponku dan mengatakan bahwa kondisi guruku sedang kritis.

Guru yang dulu sangat aku benci, saat ini sedang butuh pertolongan. Mungkin kamu berpikir kalau aku akan senang, nyatanya tidak. Aku bahkan tidak punya rasa dendam padanya.

Mendengar kabar beliau yang sakit, aku berniat untuk menjenguknya.   Maka keesokan harinya, sehari setelah aku mendengar kabar guruku sedang sakit, aku mendatangi Rumah Sakit tempat guruku dirawat.

Saat aku menjenguknya, kondisinya sangat memprihatinkan. Matanya tidak setajam dulu dan yang aku lihat bukan lagi seorang guru killer dan enerjik, melainkan seorang guru yang sangat lemah dan tidak berdaya, wajahnya sangat pucat, bahkan saat melihatku saja dia hanya tersenyum tipis.

Di kanan kirinya, ada orang-orang terdekatnya yang bergantian jaga.

Saat itu seorang dokter masuk untuk memeriksa keadaan guruku. Dia mengabarkan kalau sudah ada delapan orang yang siap mendonorkan hati mereka. dan delapan orang itu sedang menjalani serangkaian pemeriksaan.

Saat aku mendengar kabar itu, aku sangat lega. itu artinya guruku akan selamat. Tapi entah kenapa saat itu aku mendaftarkan diri menjadi pendonor ke-9. Karena dari awal aku memang sudah berniat untuk mendonorkan hatiku. Aku tidak bermaksud sok pahlawan atau apa, tapi karena aku memang benar-benar peduli.

Dokter itu mengiyakan bahwa delapan orang yang tadi dia sebutkan juga belum jelas apakah memiliki kecocokan dengan kondisi guruku.

Setelah itu aku pulang ke rumah.

Beberapa hari kemudian, aku ditelpon pihak rumah sakit bahwa mereka butuh bertemu denganku.

Sesampaiku di rumah sakit, mereka menjelaskan padaku bahwa delapan orang yang sebelumnya siap menjadi pendonor hati untuk guruku, ternyata setelah menjalani serangkaian tes kesehatan tidak ada yang memiliki kecocokan dengan kondisi fisik guruku.

Saat mendengar kabar itu, aku jadi mengkhawatirkan kondisi guruku itu.

Lalu pihak rumah sakit mengatakan padaku bahwa mereka perlu melakukan rangkaian tes kesehatan padaku, mereka mengatakan jika saja ada kemungkinan aku memiliki kecocokan dengan kondisi guruku.

Tentu saja aku bersedia, karena aku memang  ingin mendonorkan hatiku dan semoga saja cocok.

Setelah selesai dengan semua prosedur rumah sakit, ternyata organ hatiku adalah yang paling cocok dengan guruku.

Syukurlah…

Setelah seharian sibuk dengan prosedur-prosedur rumah sakit, aku pulang ke rumah. Aku harus mengatakan tentang operasiku pada ayah. Aku rasa, aku sangat perlu meminta doa darinya.

Sesampaiku di rumah, aku menemui ayah dan menjelaskan semuanya.

Dia sangat kaget.

Jangan gila! Begitu katanya.

Sejak kapan mendonorkan organ tubuh adalah sesuatu yang gila. Saat itu ayahku marah, katanya sebagai anak aku sudah lancang. Dia juga bilang kalau aku tidak memikirkan perasaan orangtuanya.

Aku berusaha meyakinkan bahwa yang kulakukan adalah sesuatu yang benar.

“Ayah, keputusanku untuk mendonorkan hati tidak akan membahayakan aku. Aku kan belajar dan bekerja di dunia medis, aku tahu betul apa yang aku lakukan. dan aku yakin aku akan baik-baik saja.”

Saat aku mengatakan itu, ayahku masih belum menerima keputusanku. Beliau hanya terdiam, tapi tak lama kemudian menghela nafas. Dia merasa bahwa usahanya mencegahku melakukan apa yang kumau adalah sesuatu yang sia-sia.

“Baiklah kalau itu memang sudah menjadi keputusanmu. Ayah dengan terpaksa menerimanya, walaupun sebenarnya ayah agak keberatan, tapi ayah akan mendukungmu. Ayah hanya bisa mendoakanmu semoga operasimu lancar. Kapan operasinya?”

Aku menyebutkan tanggal kapan aku akan operasi.

Dan awal bulan September, adalah waktu dimana aku dan guruku akan menjalani operasi transplantasi.

Agak deg-degan sih, tapi nggak apa-apa. demi misi kemanusiaan.

Singkat cerita, operasiku berjalan lancar.

Aku menyumbangkan sekitar 67 persen bagian hatiku untuk guruku.

Setelah operasi itu, aku dan guruku menjalani masa pemulihan. Kondisinya berangsur-angsur membaik dan aku sangat senang mendengar kabar itu.

Tapi, sebaliknya, kondisiku tidak sebaik dia, setelah operasi itu aku mengalami penyakit kuning ringan.

Namun, tenang saja, sekarang kondisiku semakin membaik, tim dokter melakukan yang terbaik yang mereka bisa untuk memulihkan keadaanku.

Dari kisahku semoga kamu bisa memetik pelajaran. Seperti tetap mencintai gurumu walau sudah tidak lagi menjadi muridnya secara formal, tapi sampai kapanpun dia adalah gurumu yang dulu selalu mengajari dan peduli denganmu di sekolah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here