Aku Memilih Kabur Bersama Tahanan Daripada Bertahan Jadi Sipir Penjara

0
38

Aku bertemu dengan Kim bulan Mei 2019.

Waktu itu aku bekerja sebagai salah satu sipir yag bertugas di Pusat Penahanan Onsong.

Aku dan rekan-rekanku bertugas untuk mengawasi Kim dan beberapa  tahanan lainnya selama 24 jam sehari sambil menunggu persidangan.

Kim adalah salah satu narapidana yang berhasil menarik perhatianku. Sikapnya sangat halus dan cara berpakaiannya sopan. Kim ditahan karena dia membantu rekannya membelot dari Korea Utara.

Kim dikenal sebagai seorang penghubung. Pekerjaannya membantu menjaga komunikasi antara orang yang melarikan diri dan kerabat yang ditinggalkan. Bantuan yang diberikan seperti melakukan transfer uang atau panggilan telepon dari pembelot.

Itu merupakan pekerjaan yang menguntungkan bagi rata-rata orang Korea Utara.

Orang-orang yang menggunakan jasa Kim akan membayarnya sekitar 30% dari uang tunai, dan rata-rata orang-orang mentransfer uang sekitar 2,8 juta won. Bisa dibayangkan berapa uang yang akan didapatkan oleh Kim jika ada 2 orang yang menggunakan jasanya?

Dan aku sendiri, aku sudah menghabiskan waktu selama 10 tahun terakhir di militer sebagai seorang prajurit wajib militer.

Aku mendalami ideologi komunis tentang kediktatoran Korea Utara. Sementara itu Kim menghasilkan uang dengan cara ilegal, dia juga belajar seperti yang aku lakukan tentang dunia di luar rezim komunis Korea Utara yang ketat.

Sekilas kami adalah dua orang yang berbeda, tapi sebenarnya tanpa kami sadari kami memiliki beberapa kesamaan. Kami adalah dua orang yang sama-sama frustasi dengan kehidupan kami dan sekarang kami merasa seperti sedang menghadapi jalan buntu.

Bagi Kim, titik balik hidupnya adalah hukuman penjara.

Ini bukan pertama kalinya Kim dipenjara, dan ia sadar sebagai pelaku pelanggaran yang kedua kalinya dengan kasus yang sama, ia akan diperlakukan lebih kejam kali ini.

Dan jika ia berhasil keluar dari penjara hidup-hidup. maka ia akan kembali melakukan pekerjaan sebagai perantara dan kemungkinannya ia akan ditangkap lagi, dan itu akan menjadi hal yang sangat beresiko untuk dilakukan.

Namun ia merasa itu adalah satu-satunya cara untuk dia bisa bertahan hidup.

Dulu, Kim pertama kali ditangkap karena pekerjaannya yang membahayakan yaitu membantu orang-orang Korea Utara melarikan diri dari perbatasan ke China.

Dan itu adalah pekerjaan yang sangat sulit, kamu butuh kenalan di kalangan militer untuk melakukannya.

Kim akan menyuap mereka dan itu berhasil selama enam tahun. Kim berhasil mendapatkan penghasilan sebesar US$1.433-2.149 untuk setiap orang yang ia bantu untuk membelot.

Dan pendapatannya setara dengan pendapatan setahun untuk rata-rata orang Korea Utara.

Sayangnya, pada akhirnya dia harus menerima pengkhianatan, orang-orang yang ia percayai di militer membuat rahasianya terbongkar. Ia dijatuhi lima tahun penjara. Dan saat ditangkap ia sudah berniat untuk berhenti dari pekerjaannya sebagai perantara, karena ia sadar itu terlalu beresiko.

Tapi, niatnya berubah. Suaminya menikah lagi saat ia sedang ditahan dan membawa kedua anaknya. Dan ia perlu menemukan cara untuk bertahan hidup.

ia memutuskan, meskipun sudah tidak berani lagi membantu orang-orang untuk membelot, ia masih bisa menghubungi sejumlah orang kepercayaannya untuk melakukan pekerjaan itu dengan cara berbeda dan tidak terlalu beresiko.

Pekerjaannya memfasilitasi transfer uang dari para pembelot di Korea selatan dan membantu mereka agar bisa menelepon.

Karena ponsel-ponsel di Korea Utara diblokir agar tidak bisa menelepon ataupun menerima panggilan internasional, jadi Kim membebankan biaya untuk menerima panggilan pada telepon China selundupannya.

Tapi, Kim harus ditangkap lagi. Ia ketahuan membawa seorang bocah laki-laki dari desanya ke pegunungan untuk menerima telepon dari ibunya, yang membelot ke Korea Selatan, ternyata saat itu dia diikuti oleh polisi rahasia.

Saat itu Kim mengatakan pada polisi rahasia bahwa ia bersedia membayar sebanyak yang mereka mau, dia memohon-moho agar dilepaskan. Tapi sang polisi mengatakan karena anaknya sudah tahu semua, para polisi tidak bisa menyembunyikan dan menutupi kejahatan Kim.

Di Korea Utara, berbagai aktivitas yang melibatkan atau menunjukkan hubungan dengan negara musuh seperti Korea Selatan, Jepang, atau AS, bisa membuatmu mendapat hukuman yang lebih berat daripada membunuh seseorang.

Dan saat itulah, Kim merasa bahwa hidupnya benar-benar sudah tamat.

Sedangkan aku sendiri, aku memulai dinas wajib militerku dengan menjaga patung pendiri Korea Utara dan menanam rumput untuk ternak, tapi niatku berubah, aku akhirnya memutuskan aku ingin jadi seorang perwira polisi, impianku sejak kecil.

Tapi ayah memberitahuku tentang kebenaran akan masa depanku di Korea Utara.

Ketika itu dia mengajakku duduk dan mengatakan bahwa aku harus realistis, orang dengan latar belakang sepertiku tidak akan pernah bisa mencapai apa yang menjadi impianku.

Tetapi ayahnya sekarang telah memberitahu kebenaran tentang masa depannya.

Di negaraku, para petani seperti orangtuaku menjalani saat-saat sulit untuk bertahan hidup.

Di sini, kamu butuh uang untuk bisa maju. Bahkan saat kamu harus lulus ujian dari universitas, kamu harus menyuap para profesor agar hasil ujianmu bagus.

Kemudian walaupun kamu berhasil masuk ke perguruan tinggi terbaik atau lulus dengan penghargaaan tinggi, tidak akan menjamin masa depanmu akan cerah kecuali kamu punya uang.

Ada salah seorang yang aku kenal, dia lulus dari salah satu universitas terbaik dan lulus sebagai lulusan terbaik, tapi ia berakhir menjadi penjual daging di pasar.

Bagi sebagian besar warga negara Korea Utara, bertahan hidup adalah perjuangan.

Kondisi seperti ini bisa dibilang lebih baik dibandingkan dengan tahun-tahun awal aku lahir, saat negara menderita bencana kelaparan selama empat tahun, saat itu kami benar-benar menjadi orang yang tangguh.

Jadi saat itu, saat aku diberitahu bahwa ambisiku menjadi seorang polisi adalah satu hal yang tidak mungkin, aku memikirkan cara lain untuk mengubah hidupku.

Dan saat bertemu dan berbicara dengannya, kami lalu berpegang pada gagasan tersebut.

Hubungan kami bisa dibilang tidak biasa, yah, memang tidak biasa untuk seorang tahanan dan seorang sipir.

Karena untuk berkomunikasi saja kami sulit. Para tahanan tidak diizinkan untuk melihat langsung kepada para penjaga. Tapi, aku tahu bagaimana caranya berkomunikasi dengan Kim, kami berbicara dengan cara berbisik lewat jeruji besi pintu selnya.

Ada kamera pengawas, tapi saat listrik mati, kita sering kali tidak bisa melihat rekamannya dan kadang-kadang mereka memindahkan posisinya, jadi menurutku aman-aman saja menjalin pertemanan dengan Kim.

Para tahanan tahu siapa yang dekat dengan siapa, tapi para sipir memegang kekuasaan di penjara.

Aku mengatakan pada beberapa orang, bahwa aku melakukan penjagaan ekstra terhadap Kim. Aku merasa seperti ada keterikatan dengan Kim, dan aku tidak tahu kenapa itu terjadi.

Dua bulan sejak kami bertemu, kami semakin akrab. Kim bagiku adalah seorang sahabat yang baik.

Kim harus menjalani hukuman selama empat tahun tiga bulan di kamp penjara Chongori yang sangat ditakuti oleh sebagian besar orang. Kim merasa sangat mustahil baginya bisa lolos dari penjara itu dalam keadaan hidup.

Banyak para mantan tahanan yang menceritakan tentang kekerasan yang merajalela di penjara-penjara Korea Utara.

Saat itu Kim benar-benar dalam keadaan sangat putus asa, dia sudah berpikir untuk bunuh diri. Yang dia lakukan hanya menangis dan menangis.

Karena disini sangat mengerikan, saat dirimu masuk ke kyohwaso kamu akan kehilangan kewarganegaraanmu. Dan kalau sudah begitu, kamu sudah bukan manusia lagi, kamu sudah tidak ada bedanya dengan binatang.

Suatu hari aku berbisik pada Kim, aku membisikkan sebuah rencana yang aku harap dapat mengubah hidup kami.

Kukatakan pada Kim, bahwa aku akan membantunya. Karena aku tahu dia bisa mati di penjara. Dan satu-satunya cara agar aku bisa menyelamatkan Kim adalah dengan membantunya kabur dari penjara ini.

Tapi, Kim seperti kebanyakan orang Korea Utara, dia tidak mudah mempercayai orang lain. Ia pikir aku akan menipunya.

Saat itu Kim bertanya padaku, apakah aku seorang mata-mata? Apa yang aku dapatkan dari memata-matai dia dan menghancurkan dia?

Karena aku memang tidak sedang berbohong dan tidak ada niat untuk menipu Kim, kukatakan padanya kalau aku bukan mata-mata.

Kukatakan pada Kim, bahwa aku tidak hanya membantu Kim kabur, tapi juga aku akan ikut kabur dengannya ke Korea Selatan.

Kukatakan pada Kim bahwa aku tidak punya masa depan di Korea Utara, masa depanku dipengaruhi oleh kastaku yang rendah karena aku punya kerabat di Korea Selatan.

Saat itu aku meyakinkan Kim, bahwa bisa jadi kerabatku akan menjadi sumber harapan untuk masa depan kami yang lebih baik.

Kutunjukkan pada Kim foto-foto kerabatku pada Kim. Foto-foto itu aku bawa dari rumah orangtuaku saat aku terakhir kali pulang. dan sudah ada alamat yang tertulis dalam huruf-huruf kecil di belakang foto itu.

Kulihat Kim mulai percaya, tapi matanya masih tampak takut dengan ideku.

Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Kim tentang ide pelarian ini, tapi sepertinya dia tertarik.

Dan tanggal 12 Juli, aku tahu bahwa saatnya telah tiba. Perpindahan Kim ke keamp kerja paksa semakin dekat, dan komandanku sudah pulang ke rumah semalam.

Aku sudah memikirkan semuanya, mulai dari memotong kabel yang terhubung ke kamera pengintai, aku juga sudah mengajukan diri untuk piket malam hari, sampai detail meletakkan sepatuku di balik pintu demi melancarkan pelarian Kim.

Aku membangunkan Kim saat tengah malam, lalu aku membawanya melewati rute yang sudah aku rencanakan.

Sebelum melarikan diri, aku sudah mengepak dua tas ransel untuk kami berdua, isinya berupa makanan dan berupa pakaian ganti, ditambah dengan sebilah pisau dan racun.

Aku juga membekali diriku dengan pistol.

Sebenarnya Kim sudah membujukku untuk tidak membawa senjata, tapi aku keras kepala.

Karena menurutku, jika nanti kami tertangkap, itu bukan suatu pilihan lagi, karena pada akhirnya aku akan diadili dan menghadapi eksekusi mati juga.

Kupikir kesempatanku hanya malam ini. Dan jika tidak berhasil aku akan ditangkap dan dibunuh. Ditambah lagi aku telah membantu seorang tahanan melarikan diri.

Jika nanti mereka menghentikanku, aku akan menembak mereka dan berlari. Kalau aku tidak bisa lari, aku akan menembak diriku sendiri.

Dan jika itu tidak berhasil, aku akan menusuk diriku sendiri dengan pisau dan aku juga akan minum racun.

Dan saat itu aku merasa benar-benar siap mati, aku tidak punya perasaan takut sama sekali.

Begitu kami sudah sama-sama yakin dan siap. Kami melompat bersama-sama dari jendela dan berlari melintasi lapangan olahraga penjara.

Kemudian pagar tinggi membentang di hadapan kami, kami harus menaiki pagar itu, sampai disini kami mulai khawatir, bagaimana kalau anjing-anjing penjaga menggonggong?

Dan walaupun kami berhasil melewati itu semua tanpa ketahuan, kami harus melewati penjaga perbatasan yang berpatroli di Sungai Tumen.

Tapi itu semua memang sepadan dengan resikonya.

Perjalanan Kim dan aku dari pusat tahanan ke kamp semakin dekat. Saat ini kami sedang berada di situasi mengerikan, kami sedang dalam situasi antara bisa keluar hidup-hidup atau tidak.

Kim terus-terusan terjatuh dan tersandung, kondisi fisiknya mungkin sudah tidak sekuat dulu, tubuhnya melemah akibat ditahan bertahun-tahun.

Tapi, akhirnya kami berhasil sampai di tepi sungai. Di sini kami melihat cahaya 50 meter jauhnya. Cahaya itu datang dari pos penjaga garnisun perbatasan.

Kami pikir penjaga perbatasan pasti sedang memperketat keamanan setelah tahu bahwa aku dan Kim telah melarikan diri dari pusat penahanan. Jadi sementara waktu aku dan Kim bersembunyi dan terus mengawasi.

Saat itu aku mendengar kalau penjaga perbatasan sedang melakukan pergantian penjaga.

Kami menunggu selama 30 menit, setelah itu suasana menjadi sunyi.

Setelah dirasa keadaan sudah aman, kami pergi ke sungai. Aku pernah ke sungai ini beberapa kali dan permukaan airnya selalu rendah.

Tapi dugaanku salah, ternyata sungai ini cukup dalam.

Mungkin jika aku tidak membawa banyak barang, aku sudah berenang menyeberangi sungai ini. Sayangnya aku membawa ransel dan pistol. Dan kalau pistolnya basah, tidak akan bisa digunakan. Kupikir aku bisa mengangkatnya sewaktu menyeberang. Aku langsung berenang.

Belum jauh aku berenang, aku menoleh ke belakang, Kim masih diam. Dia dengan takut-taku berkata padaku kalau dia tidak tahu cara berenang.

Apa boleh buat, aku harus kembali lagi dan membantunya.

Aku mencengkeram pistolku dengan satu tangan, sementara tanganku yang satu menarik Kim untuk berenang.

Semakin kami lama berenang, aku merasa tekanan air semakin kuat. Semakin lama aku merasa kalau air sungai ini semakin dalam.

Saat kami sudah berada di tengah-tengah sungai, air sudah berada di atas kepalaku. Aku mendengar Kim tersedak dan saat aku melihatnya dia tidak bisa membuka mata

Kim memintaku untuk kembali. Yang benar saja? kukatakan pada Kim, kalau kita kembali kita juga akan mati. jadi lebih baik mati di sungai ini, daripada disana. bukankah sama saja kami akan mati?

Tapi, aku merasakan kalau kakiku menyentuh tanah. Kami berdua sama-sama tersandung dan menyeberangi kawat berduri yang menandai perbatasan China.

Namun, ini masih belum aman.

Kami memutuskan untuk bersembunyi di pegunungan. Sampai setelah tiga hari kami bersembunyi kami bertemu dengan penduduk setempat yang kami pinjam teleponnya.

Kim menelpon seorang perantara yang ia kenal untuk minta bantuan.

Dari sang penghubung itu kami tahu bahwa pemerintah Korea Utara dalam keadaan siaga tinggi dan telah mengirim tim untuk menangkap kami, mereka bekerja sama dengan polisi China untuk menyisir daerah tempat kami sembunyi.

Tapi, dengan bantuan seorang kenalan Kim, kami berhasil pindah dari satu rumah singgah ke rumah singgah lainnya, sampai akhirnya kami berhasil keluar dari China dan masuk ke negara ketiga.

Sebelum kami menyelesaikan tahap akhir dari perjalanan kami, kami bertemu di lokasi rahasia untuk membicarakan pelarianku dan Kim yang luar biasa konsekuensinya.

Kamu sadar bahwa tindakan kami akan semakin merusak kedudukan sosial keluarga kami dalam sistem kasta korea Utara dan kami juga sadar kalau kerabat kami akan diinterogasi dan diawasi.

Tapi, kami tetap berharap bahwa kebebasan kami saat ini, yaitu aku yang pergi dari militer dan Kim yang terasing dari suami dan anak-anaknya, akan memungkinkan keluarga kami untuk mengatakan bahwa mereka tidak tahu rencanaku dan Kim.

Kim merasa bersalah karena ia melarikan diri agar dia bisa hidup. ternyata itu melukai perasaannya.

Aku sebenarnya juga merasa bersalah dengan pelarian ini. Tapi, ini sudah terlanjur kami lakukan, apa kami ada pilihan lain.

Dan aku semakin sedih, karena sekarang tujuanku dan Kim berbeda. Aku mengubah rencanaku, aku ingin pergi ke Amerika Serikat, bukan lagi  Korea Selatan.

Aku mengajak Kim untuk ikut ke Amerika. Tapi Kim menggelengkan kepalanya, dia bilang padaku kalau dia tidak percaya diri, dia juga tidak bisa bahasa Inggris dan ditambah lagi dia takut.

Aku mencoba untuk meyakinkannya bahwa kami bisa belajar bahasa Inggris sambil berjalan.

Tapi Kim hanya mengucapkan “Kemana pun kamu pergi, jangan lupakan aku.”

Dalam hati kecill kami, kami cukup lega karena telah meinggalkan rezim Korea Utara yang represif.

Kim pernah bercerita padaku kalau selama hidup di Korea Utara dia bahkan tidak pernah diizinkan untuk melakukan perjalanan ke Pyongyang, ibukota Korea Utara.

Apalagi aku, jika dilihat lagi ke belakang, kami semua tinggal di penjara. Kami tidak pernah bisa pergi kemana pun kami mau dan melakukan apa yang kami inginkan.

Orang-orang di Korea Utara punya mata tapi tidak bisa melihat, punya telinga tapi tak mau mendengar dan punya mulut tapi memilih bungkam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here