Aku Memilih Hidup di Pulau Terpencil, Kau Tahu Kenapa?

0
4

Orang-orang berpikir bahwa uang adalah segalanya. Tapi, bagiku uang itu bukan apa-apa. Uang bagiku adalah benda yang membuat orang-orang berpikir bahwa kebahagiaan selalu identik dengan uang. Kata-kataku memang terdengar naif sih, tapi… memang begitu adanya dan aku benar-benar membencinya. Aku yakin saat aku mengatakan uang bukan segalanya, kamu pasti berbisik pelan ‘tapi segalanya butuh uang’, oke ini hanya pendapat pribadi.

Dan ngomong-ngomong hari ini aku mau bercerita bagaimana akhirnya aku bisa berkata bahwa uang bukanlah segalanya.

Namaku David, aku punya perusahaan yang sangat besar dan maju. Dengan bisnis yang aku punya, bisa dibilang uang bukan masalah bagiku. Dan ditambah lagi, aku terlahir dari keluarga berada. Au tidak pernah merasakan susah dari sejak aku lahir.

Aku membangun perusahaanku di usia muda, dan terus menerus berkembang sampai saat ini aku dewasa. Aku punya ratusan karyawan yang bekerja untukku setiap hari, mobil mahal dan rumah mewah. Semuanya jadi terasa sangat mudah untukku, karena aku bisa membeli semua itu dengan uang yang aku punya. Di rumah, aku juga punya ratusan pelayan yang siap melayani semua kebutuhanku.

Dan satu lagi, aku merasa tidak kesulitan untuk mendapatkan perempuan. Aku tahu rata-rata perempuan mudah tertarik dengan laki-laki kaya. Tapi aku tidak tertarik dengan perempuan-perempuan seperti itu. Mereka adala orang-orang yang menurutku tahunya menghabiskan uang.

Tapi, lama kelamaan aku merasa hidupku ada yang kurang. Aku butuh pendamping. Dan dari ratusan perempuan yang aku kenal, aku menambatkan hati pada satu orang gadis yang sangat cantik. Aku bertemu dengannya saat ada acara reuni sekolah. Pertama kali melhatnya, aku menilai kalau dia type gadis yang sederhana dan tidak senang ikut-ikutan tren ala-ala sosialita. Kami berkenalan dan saling tukar nomor HP. Aku tertarik dan ternyata dia juga tertarik padaku. aku mengungkapkan semua perasaanku padanya, dan dia menerimaku.

Tapi, jujur saja, aku sendiri tidak yakin dengan perasaanku, apakah benar aku mencintai gadis itu dan kadang aku bertanya-tanya apakah gadis itu tulus denganku?

Tapi saat aku melihat wajahnya yang benar-benar cantik dan caranya bersikap menunjukkan kalau dia adalah orang yang baik, pikiran negatifku sedikit terkikis. sikapnya yang santun membuat semua keraguanku hilang, aku percaya kalau dia mencintaiku dengan tulus.

Akhirnya, kami menikah. Pesta pernikahan yang sangat mewah kami gelar. Aku ingin menunjukkan pada semua orang bahwa aku bisa melakukan apa saja. Saat itu aku benar-benar bahagia, karena aku benar-benar memiliki segalanya. Aku punya banyak uang dan istri yang sangat cantik yang juga baik.

Hari-hariku berubah setelah menikah, kini aku tidak lagi keluyuran sendirian di kafe-kafe. Setiap selesai bekerja aku langsung pulang, ada istri yang sudah menungguku.

Awal-awal pernikahanku, hubunganku dengan istriku bisa dibilang baik. dia menjadi istri yang baik untukku, setap pagi dia menyiapkan dasi dan membuatkanku sarapan juga secangkir teh.

Tapi setelah berjalan beberapa bulan, aku seperti melihat sifat asli istriku, selama aku sibuk di kantor, dia selalu pergi bersama teman-temannya untuk berkumpul dan bergosip.

Darimana aku tahu? Seorang pelayan di rumah yang aku tugasi untuk menjaga istriku melaporkan semua kegiatan istriku padaku.

Istriku juga selalu minta tambahan uang, padahal aku sudah mentransfer uang yang sangat banyak ke rekeningnya. Dan saat aku sampai di rumah, setiap hari yang aku dapati adalah banyaknya tas-tas belanjaan berisi barang-barang mewah dan mahal.

Awalnya aku tidak keberatan, tapi apa tidak berlebihan jika setiap hari kamu harus belanja sepatu atau membeli tas bermerek keluaran terbaru? Aku tahu aku punya banyak uang, tapi, kenapa aku seperti kehilangan sosok sederhana istriku? Atau dulu dia hanya berpura-pura ?

Tapi, beberapa bulan kemudian istriku hamil. Itu adalah kabar bahagia. Aku akan punya pewaris perusahaan. Setelah sembilan bulan mengandung, istriku melahirkan. Seorang bayi laki-laki sangat tampan lahir.

Semua kekecewaanku padanya mendadak sirna. Kupikir, tak apa dia menghabiskan uangku, asal dia senang, toh aku punya banyak uang untuk menyenangkan dia.

Aku semakin giat bekerja, ada seorang istri yang hobi shoping dan seorang anak laki-laki yang harus aku cukupi.

Hidupku hanya seputar di kantor, aku jarang ada di rumah, karena aku ingin perusahaanku semakin besar, dan menurutku anak istriku akan butuh lebih banyak uang agar mereka bahagia. Istriku butuh uang untuk belanja dan anakku butuh uang untuk membeli mainan dan sekolah.

Tapi, suatu sore, saat aku pulang agak cepat, di rumah aku tidak menemukan istriku. Saat kutanya pelayan, pelayan mengatakan kalau istriku pergi keluar. Dan saat itu aku mendengar suara tangis anakku.

Bagaimana ini? Dia seorang ibu, tapi kenapa dia malah pergi sendiri tanpa anakku?

Anakku tidak dia urus dengan baik. aku marah.

Sejak kejadian itu kami sering bertengkar.

Sampai suatu hari perusahaanku mengalami masalah finansial global. Karirku benar-benar padam. Perusahaanku bangkrut, sangat bangkrut. Aku kehilangan semuanya. Semua yang sudah kubangun dari nol hilang tak bersisa.

Aku memecat semua karyawanku dan memberikan pesangon seadanya. Seluruh pelayanku di rumah juga aku pecat, kukatakan pada mereka bahwa aku suddah tidak sanggup menggaji mereka. mereka tampak sedih, tapi aku lebih sedih.

Aku belum pernah hidup susah dari aku kecil, apakah aku bisa?

Tapi, kupikir aku pasti bisa, aku masih punya istri dan seorang anak. mereka akan jadi motivasi terbaikku.

Dan saat kukatakan pada istriku tentang kebangkrutan yang menimpa perusahaanku, dia sangat terkejut tapi dia diam saja mungkin masih sangat shock. Kujelaskan padanya bahwa mungkin dia udah tidak bisa seperti dulu lagi yang berbelanja apa saja sesukanya. Tapi dia tetap diam.

Setelah mengalami kebangkrutan, aku dan keluarga kecilku pindah ke rumah yang lebih kecil. Aku berusaha tampak ceria dan semangat, padahal pikiranku tidak menentu, banyak pertanyaan yang muncul secara otomatis, seperti, apa yang harus aku lakukan hari ini untuk menghasilkan uang?

Berbulan-bulan hidupku tak menentu, aku bekerja serabutan, prinsipku berubah menjadi yang penting aku dapat uang dan bisa makan.

Tapi, istriku tidak bisa menerima keadaanku, dia tidak cukup sabar menerima uang hasil kerja serabutanku.

Suatu hari, dia meminta cerai padaku. dia bilang, dia sudah tak tahan hidup tak menentu bersamaku. Dia akan pulang ke rumah orangtuanya dan dia juga tidak keberatan membawa anakku.

Kukatakan padanya, bukankah dalam sebuah pernikahan sepasang suami istri harus saling mendukung baik saat suka maupun saat duka, saat sakit maupun saat sehat?

Dia malah berteriak padaku, bahwa aku terlalu naif. Dia juga berkata padaku bahwa kenapa dulu ia mau menerimaku, karena aku punya banyak uang, dan sekarang? Dia tidak punya alasan lagi untuk bertahan bersamaku.

Setelah itu kami benar-benar bercerai. Setelah bercerai hidupku semakin tidak terarah.

Untuk pertama kali dalam hidupku, aku kecewa dengan uang. Dia memang membuatku bisa mendapatkan segalanya, tapi uang juga yang membuatku kehilangan segalanya.

Beberapa bulan setelah perceraian itu, aku memilih untuk menjauh dari keramaian dunia, aku seperti sudah tidak punya ketertarikan dengan harta. Dan aku memutuskan untuk mengasingkan diri di sebuah pulau terpencil bernama Pulau Restorasi Acre. Jaraknya sekitar 621 mil dari Cairns.

Aku menghabiskan waktu bertahun-tahun di pulau itu dan menyibukkan diri dengan menghibur para turis. Tapi, semakin kesini, kunjungan yang aku terima semakin sedikit. Dalam setahun aku hanya menerima 12 kunjungan turis. Perasaanku semakin membaik, bahkan perasaan kecewaku dulu benar-benar lenyap.

Kegiatan sehari-hariku di pulau kecil ini adalah berkebun dan mencari makanan di laut, seperti kepiting, ikan dan udang.

Di pulau kecil ini, aku tinggal bersama anjing kecilku, Polly. Hari-hariku disini tidak melulu berkebun dan mencari ikan, tapi juga bertempur dengan berbagai macam satwa liar dan kehidupan liar yang sangat bebas. Aku pernah digigit seekor laba-laba beracun beberapa tahun lalu, tapi aku berhasil sembuh dan sehat lagi.

Jangan bayangkan aku hidup dalam sebuah pondok yang gelap tanpa listrik. Di pulau ini aku cukup beruntung, karena ada sambungan listrik dan air segar, walaupun itu terbatas.

Di pulau ini ada ular, laba-laba dan buaya, tapi aku merasa disini lebih aman dibandingkan tempat lain, saat kamu mendengar kabar tentang serangan teroris kamu pasti juga akan setuju kalau pulau kecil ini lebih aman. Mungkin bagi sebagian orang tinggal di pulau terpencil sepertiku sangat berbahaya, tapi meskipun ada hewan-hewan yang berbahaya tapi menurutku mereka itu indah dan aku mencintainya.

Jujur saja, aku sangat suka disini. karena aku menemukan ketenangan disini, aku tidak perlu lagi memikirkan masalah uang.

Walaupun aku sudah tua dan tidak sekuat dulu lagi, tapi aku masih bisa pergi kemana saja dan melakukan apa saja di pulau ini.

Bagiku disini adalah surga di bumi, dan tidak ada tempat lain yang lebih baik dari pulau terpencil ini.

Dan aku ingin mati disini.

Dulu saat aku datang kesini, aku benar-benar dalam keadaan sangat muak dengan uang. Uang membuat orang-orang jadi sakit dan juga bisa menjadi alasan sebuah pernikahan berakhir.

Sekarang, aku harap kamu mengerti tentang penjelasanku bahwa uang bukan segalanya.

Hari ini, tepat 20 tahun aku tinggal di pulau kecil ini, harapan terakhir di sisa hidupku aku bisa menemukan pasangan hidup yang bersedia tinggal bersamaku disini, menghabiskan waktu bersama sampai tua, menjauh dari keramaian dunia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here