Kisah Nyata: Dari Jadi Pembantu Aku Bisa Mendirikan Perusahaan Sendiri

0
43

Perkenalkan, namaku Isna. Aku adalah perempuan yang lahir dari seorang ibu yang berprofesi sebagai pembantu rumah tangga di sebuah perumahan. Ibuku single parent. Ayahku menikah lagi dengan wanita lain, dan ayahku tidak pernah memberikan nafkah pada kami dengan cukup.

Aku tiga bersaudara. Aku mempunyai seorang kakak laki-laki dan seorang adik perempuan.
Masa kecilku penuh dengan keterbatasan. Sangat memprihatinkan.
Keterbatasan ekonomi yang aku alami pernah membuatku hampir dikeluarkan dari sekolah, karena aku selalu menunggak, ibuku tidak mampu membayar tunggakan biaya sekolahku. Aku ingat waktu itu aku kelas 4 SD dan 5 SD.

Aku tak ingin berhenti sekolah. Maka aku memutar otak. Aku harus membantu ibuku.
Tunggakan SPP itu harus kubayar, agar aku tetap bisa bersekolah. Aku putuskan untuk bekerja. Bekerja sebagai apa? Aku memilih untuk jadi pembantu. Aku meminta izin pada ibuku. Dengan berat hati ibuku memberiku izin untuk bekerja, walaupun sebagai pembantu. Kujelaskan padanya, bahwa aku bekerja agar aku bisa melunasi tunggakan SPP-ku.

Upahku sebagai pembantu sangat besar,menurutku, Rp 125.000 adalah nominal yang sangat besar. Mungkin bagi sebagian orang nominal Rp 125.000 tidak ada apa-apanya. Tapi uang segitu bagiku dapat membayar membayar tunggakan SPP-ku, yang saat itu biaya perbulannya Rp 20.000.

Tidak cukup sampai disitu, aku menambah jam terbangku dengan berjualan di sekolah, aku menjual es mambo, nasi uduk, gorengan dan apa saja yang bisa aku jual. Asal aku bisa meringankan beban ibuku. Malu? Tidak. Buat apa aku malu. Asal aku bisa membantu ibuku aku tidak akan malu. Kemana ayahku? Jangan tanyakan dia. Dia tidak peduli terhadap nasib kami.

Rumah yang kami tinggali berukuran 3×3 meter. Tempatnya kumuh dan sering banjir jika hujan lebat. Saat kami mengalami kesulitan, ayah dan keluarganya tidak datang membantu.Beruntung kami memiliki tetanga-tetangga yang baik. Kadang para tetangga memberikan kami makanan atau sisa-sisa nasi yang mereka jual. Aku selalu menerima apapun yang tetangga kami beri. Kami malah bersyukur dengan kebaikan mereka.

Menurutku itu adalah tanda mereka peduli pada kami. Semakin aku dewasa aku semakin senang bekerja. Yep, aku tetap bekerja sebagai pembantu rumah tangga sampai aku lulus SMK. Aku lulus dengan hasil kerjaku sendiri. And I’m proud of it.

Jika kebanyakan remaja seusiaku lebih senang bermain dan bersenang-senang, aku lebih memilih menghabiskan waktuku dengan bekerja dan bersekolah. Karena jika aku tidak bekerja itu sama saja aku berhenti sekolah.

Semasa SMK aku mengambil jurusan bidang Perhotelan, yang aku bayangkan saat itu adalah agar aku bisa bekerja setelah lulus SMK. Syukur Alhamdulillah, aku berhasil lulus dengan predikat siswi terbaik. Predikat itu membuatku dipanggil beberapa perusahaan untuk bekerja di perusahaan mereka.

Sebuah dealer mobil ternama di Jakarta Barat adalah perusahaan yang menerimaku bekerja. Kala itu aku merasa bersyukur banget! Ijazahku belum keluar tapi aku sudah diterima kerja di perusahaan itu, siapa yang tida senang?

Tapi, bekerja disana tidak semudah yang aku bayangkan. Aku dibully oleh para senior yang bekerja disana. Aku ‘kan jadi merasa didiskriminasi. Bekerja di dealer mobil itu membuatku bertemu dengan banyak orang. Kadang aku bertemu pelanggan yang menawarkan pekerjaan.

Mulanya sih aku tidak tertarik, tapi teringat aku sering di-bully dan aku benar-benar sudah tidak tahan dengan itu semua, kuputuskan aku memilih keluar. Aku bertahan di dealer hanya Sembilan bulan. Mirip orang hamil ya? Hehe.

Aku resign.

Selanjutnya aku bekerja sebagai sekretaris, seorang CEO perusahaan kontraktor yang menawarkan pekerjaan itu. Ekspetasiku terlalu tinggi menjadi seorang sekretaris. Kukira jadi sekretaris itu punya gaji besar, kerja yang lebih nyaman dari yang dulu. Aku bangga dong! Bagaimana tidak bangga, aku tak punya pengalaman menjadi seorang sekretaris dan aku langsung diterima jadi sekretaris.

Ketika aku sudah bekerja di perusahaan baru, tidak ada karyawan lain di sana. Selain seorang kurir dan seorang resepsionis. Usut punya usut ternyata perusahaan itu sebentar lagi akan bangkrut. Aku bertahan seminggu dan aku ingin lihat kemajuan dari perusahaan itu, suatu hari aku dipanggil oleh CEO untuk masuk ke dalam ruangannya. Kupikir aku akan diberi pekerjaan, tapi ternyata dugaanku salah. CEO itu hampir saja menciumku. Ya Tuhan, aku tidak menyangka apa yang baru saja aku alami.

Mendapat perlakuan kurang ajar dari CEO itu, aku langsung pergi dari kantor itu dan aku tidak mau kembali lagi kesana. Aku pernah membohongi ibuku, aku izin berangkat kerja tapi sebenarnya tidak. Aku merenungi nasibku dan menyesal karena keluar dari perusahaan yang dulu. Aku menangis meratapi nasibku. Apa yang harus aku lakukan, ya Tuhan?

Entah apa yang sedang aku pikirkan. Tiba-tiba aku teringat pada seorang pelanggan dealer yang pernah menawariku pekerjaan. Segera kuhubungi orang itu. Aku memohon padanya untuk meminta pekerjaan, berapapun gajinya akan aku terima asal aku bisa bekerja di perusahaan itu.

Singkat cerita aku diterima di perusahaan itu, dan perusahaan itu adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang produk kerajinan yang diekspor ke negara-negara Eropa. Tapi atasanku saat itu ingin membuka divisi baru yaitu ingin menjual produk ke hotel-hotel di Indonesia.

Menjadi salah satu lulusan sekolah perhotelan membuatku sedikit banyak tahu tentang produk hotel dan aku tahu beberapa produk yang bisa dijual ke hotel. Atasanku yang saat itu masih awam tentang produk hotel, aku beritahu beberapa produk dan menjelaskan fungsi-fungsi produk hotel itu apa saja sehingga bisa ditawarkan ke pihak hotel.
Aku yang sejak kecil sudah terbiasa berjualan apa saja, bakat itu masih melekat hingga aku dewasa.

Aku bekerja di perusahaan itu mulai dari nol, mulai dari orang-orang hotel yang tidak mengenal perusahaan itu sampai akhirnya semua hotel di seluruh Indonesia tahu perusahaan itu.

Kurang lebih tujuh tahun aku bekerja di perusahaan itu. Tapi perjalananku bekerja di perusahaan itu tidak semulus apa yang orang lain lihat. Ada saja orang-orang di belakangku yang tidak suka dengan hasil kerjaku, mereka memfitnahku dengan segala macam rupa agar aku tidak bertahan di perusahaan itu. Hingga akhirnya atasanku tidak percaya lagi denganku.

Aku hanya bisa pasrah dan akhirnya aku resign dari perusahaan itu, perusahaan yang sudah tujuh tahun membuatku belajar, belajar bagaimana menjadi marketing yang handal, belajar mengenai problem solving dalam setiap masalah, belajar tentang produksi kerajinan tangan, dan belajar berbagai hal lainnya.

Ketika aku keluar, aku ingin melamar-lamar pekerjaan lain, tentunya di bidang yang sama. Namun, suamiku lebih mendukungku untuk membangun perusahaan sendiri dalam bidang yang sama dengan perusahaan tempatku bekerja dulu. Tapi aku tidak punya modal. Bonus yang harusnya aku dapatkan tidak diberikan oleh atasanku. Fitnah dari teman sekantorku dulu benar-benar keji.

Berbagai pengalaman yang aku dapatkan di perusahaanku dulu bekerja aku jadikan modal, aku niatkan hati aku untuk membuka perusahaan sendiri walaupun kecil, aku mulai membuat proposal untuk aku ajukan ke hotel-hotel kecil karena saat itu targetku hanya hotel bintang dua sampai hotel bintang 3 saja.

Aku perkenalkan diriku dan mulai mempresentasikan produk yang kupunya. Dan Alhamdulillah ternyata usahaku di lapangan mendapat sambutan baik dari para manajer hotel. Hingga akhirnya perusahaanku banyak dikenal oleh hotel-hotel di seluruh Indonesia. Bukan hanya hotel bintang 2 dan bintang 3 saja, tapi aku sudah masuk ke hotel mewah di Jakarta hotel bintang 5. Alhamdulillah ini adalah pencapaian yang luar biasa.

Di tahun 2017 aku memulainya dan saat ini sudah semakin banyak hotel yang tahu tentang perusahaanku. Yang harus kamu tahu adalah bahwa aku tidak membawa atribut apapun tentang perusahaanku yang lama, karena aku tidak mau dituduh plagiat atau dituduh mengambil pelanggan mereka. Tapi aku berusaha mencari pelanggan-pelangganku sendiri dan aku buktikan bahwa aku bisa.

Dan aku percaya jika orang baik maka Tuhan akan berikan rezeki yang baik.
Satu hal yang ingin aku sampaikan adalah jika kita ingin menjadi orang sukses maka dahulukan kepentingan Ibumu. Maka Insya Allah rezekimu akan seperti raja. Karena sejak kecil aku selalu niat membantu ekonomi ibuku dan aku selalu tidak mau membuat ibuku kesusahan maupun bersedih, ketika aku sulit cukuplah aku saja yang mengetahui kesulitan itu. Aku hanya ingin melihat ibuku tersenyum dan bahagia melihat kesuksesanku.

Cukuplah ibu menderita dan kecewa karena ayah yang menikah lagi dan tidak pernah menafkahi kami. Maka aku selalu berusaha sebaik mungkin untuk membahagiakan ibuku. Dan Alhamdulillah kini aku telah memiliki perusahaan sendiri, aku juga sudah memenuhi janjiku pada ibuku untuk membangun rumah di kampung ibu.

Bahagiaku adalah ketika ibu pun bahagia. Tidak ada gunanya mencari harta berlimpah jika ibumu tidak bahagia. Maka bahagiakan ibumu selagi masih ada.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here