Aku Makan Jantung Pacarku, Agar Aku Cepat Kaya

0
44

Hari ini seperti hari-hari sebelumnya, usaha keluargaku belum menunjukkan tanda-tanda akan mengalami kenaikan pendapatan. Bukannya naik, yang terjadi malah sebaliknya, benar-benar dalam kondisi buruk. Sedangkan aku dan kedua orangtuaku benar-benar sangat membutuhkan uang. Aku sendiri bingung harus melakukan apa. Sesulit inikah untuk menjadi kaya? Bagaimana cara agar aku dan keluargaku bisa mendapatkan kekayaan dengan cepat?

Bingung tidak mendapatkan solusi atas apa yang menimpa kami, aku pergi keluar rumah. Mencari cara agar usahaku membaik dan bisa menjadikan kami sekeluarga kaya. Aku berjalan kesana kemari mencari informasi. Tiba-tiba pikiran itu muncul begitu saja. Cara ini adalah yang terbaik yang aku yakini sebagai cara tercepat untuk menjadi kaya. Aku punya rencana baru.

Agus, begitu orang-orang memanggilku. Umurku 23 tahun. Dan aku memiliki pacar yang cantik bernama, Adel. Umur Adel selisih satu tahun lebih muda dariku. Dia seorang mahasiswi sosiologi di salah satu perguruan tinggi swasta du Jakarta. Dia sedang berada di tahun terakhirnya, sebentar lagi Adel lulus.

Aku berencana mengajaknya kencan hari ini. Sesuatu sedang aku siapkan untuknya.
Aku melakukan janji temu dengannya di suatu tempat. Dia dengan mudah mengiyakan permintaanku. Dia tampak bahagia saat bertemu denganku. Aku tahu dia sangat mencintaiku. Kukatakan padanya aku ingin mengajaknya pergi agak lama. Adel tidak curiga, dia menurut padaku.

“Kita akan kemana, Agus?” Itu adalah pertanyaan yang muncul dari mulutnya saat aku menggandengnya berjalan bersama. ‘Kejutan’ begitu aku menjawab pertanyaannya. Setelah sampai, di tempat yang aku tuju. Adel sempat merajuk. “Agus kenapa kita ke sini?” Adel bertanya lagi. Aku memutar otak untuk menjawabnya. “Aku hanya ingin menghabiskan waktu denganmu, sayang.”

Adel awalnya menolak dan tampak ragu, tapi aku melakukan semua yang aku bisa. Kurayu ia agar menurut denganku. Dan yang terjadi kemudian ia memilih mengikutiku masuk hotel. Dia tidak mungkin menolak keinginanku, aku ‘kan pacarnya.

Setelah selesai melakukan check-in, aku mengajaknya masuk ke kamar hotel. Begitu, masuk ke dalam kamar hotel, tak butuh waktu lama aku langsung membiusnya. Adel tergeletak tak berdaya. Yang harus aku lakukan selanjutnya adalah memastikan keadaan aman dulu agar bisa membawanya keluar tanpa membuat orang-orang curiga. Melihat keadaan yang sudah mendukung aku segera menggendongnya keluar hotel.

Tempat yang kutuju berikutnya adalah gereja, di sana Segun Philip sudah menungguku.
Setelah memastikan tak ada orang lain, selain aku dan Philip, tanpa babibu lagi aku langsung menghantam kepala Adel dengan palu, Philip membantuku dengan menggorok leher Adel.

Keinginanku untuk kaya lebih kuat daripada rasa cintaku pada Adel.
Mungkin Adel akan kecewa jika tahu bahwa aku hanya memanfaatkannya untuk jadi bahan ritualku. Tapi, siapa peduli? Dia sudah mati. Dan sebentar lagi aku akan kaya.
Aku meninggalkan sifat manusiaku. Yang ada hanyalah aku yang ingin menjadikan Adel tumbal, agar aku bisa kaya dengan cepat.

Setelah memastikan Adel sudah tidak bernafas, Philip merobek dada Adel dengan brutal dan mengambilnya, jantung Adel berhasil aku cabut dengan kasar. Jantung ini akan aku makan dengan ibuku nanti.

Semua proses ritual sudah kami lakukan. Kami hanya perlu menunggu perubahan bisnis kami dan kemudian aku akan jadi kaya.

Tapi…
Semua harapanku untuk jadi kaya harus pupus. Satu bulan setelah aku sukses memakan jantung Adel, Polisi datang ke rumahku, mereka menangkap kami. Aku tak mengerti bagaimana para polisi ini tahu bahwa aku telah melakukan praktek kanibalisme pada Adel. Aku dan kedua orangtuaku segera saja sudah terborgol rapi. Kami digelandang ke kantor polisi.

Saat kami ditanya oleh para polisi, ibuku berusaha untuk berkilah, ia mengatakan bahwa ia salah mengira. Katanya ia sudah salah mengira daging Adel adalah daging kambing, sebelum tahu apa yang terjadi pada Adel.

Akting yang bagus! Tapi, aku yakin polisi itu tidak mungkin langsung percaya begitu saja.
Ibuku masih berusaha berkilah. Ibuku, bersikukuh tidak tahu menahu tentang kematian Adel.

Dan dengan mudahnya dia berkata bahwa ia adalah pihak yang ditipu olehku dan Philip.
“Mereka menipuku, agar aku mempercayai bahwa ramuan yang mereka buat disiapkan dari organ kambing. Setelah beberapa jam kemudian, Agus baru bilang bahwa ramuan tadi adalah tubuh Adel. Begitu tahu bahwa itu adalah tubuh Adel aku langsung memuntahkannya.”

Ibuku masih berusaha berkilah. Dan mengatakan bahwa itu adalah kesalahanku dan Philip.
“Sebagai seorang ibu, bagaimana mungkin aku bisa tega jika ada anak perempuan seseorang dapat dibantai dan kemudian organ-organ tubuhnya dijadikan makanan lezat.”
Kata ibuku pada pihak polisi. Pihak polisi hanya menanggapi dengan tidak peduli. Tatapan para polisi itu seperti berkata ‘Bohong. Pasti hanya akal-akalanmu saja’

Ibuku masih berusaha membela diri ketika di kota Ikoyi-Ile, aku, ibuku dan Philip diarak di depan umum oleh polisi setelah penangkapan kami. Tapi aku tahu, usahanya sia-sia. Semuanya sia-sia.

Jujur saja setelah ritual itu aku tidak mengalami perubahan apapun. Aku tetap miskin. Bisnis ibuku tidak mengalami perubahan sedikitpun.
Ketika ada wartawan yang bertanya pada kami apa saja yang kami lakukan pada Adel, Philip memberi tahu para wartawan, “Aku adalah orang yang mencabut jantung, payudara, dan organ vital lain milik Adel, untuk kemudian dapat kami gunakan untuk ritual. Tapi, bukan aku yang menghancurkan kepala Adel, Agus yang melakukan itu.”

Aku tak memberikan komentar apa-apa pada pada wartawan mengenai hal itu. Aku membiarkan Philip dan ibuku yang berbicara. Tapi yang perlu kau tahu, dan percayalah padaku, setelah aku memakan jantung Adel, perasaan berubah menjadi sangat buruk. Aku menyesal telah melakukan hal seperti itu kepada pacarku. Sungguh!

Orangtua Adel tampak terpukul sekali mengetahui kejadian yang menimpa putrinya. Aku tahu, Adel adalah ‘gadis emas’ bagi keluarganya. Dan kepergiannya dengan cara mengenaskan, membuat pihak keluarga sangat menyesalinya. Apalagi Adel sebentar lagi akan lulus. Pasti kekecewaan yang dialami keluarga Adel semakin parah.

Di kantor polisi, aku jadi tahu bagaimana awal mula polisi bisa menangkapku. Orangtua Adel melaporkan ketiadaan Adel di tengah-tengah keluarganya pada pihak polisi sejak awal Desember. Dan pihak kepolisian pastilah melakukan penelusuran lebih lanjut.

“Istriku sakit parah, aku harus membawanya ke rumah sakit. Penyakitnya muncul karena stres memikirkan kejadian ini. Ini adalah saat yang sulit untukku. Aku akan menuntut keadilan. Istriku sedang sakit, anakku meninggal” kudengar orang tua Adel berkata pada beberapa wartawan.

Aku tak tahu akan dibawa kemana kasus ini selanjutnya. Tapi yang kudengar kasus kanibalisme yang sudah aku lakukan pada Adel akan diambil alih oleh Bagian Pembunuhan Departemen Investigasi dan Intelijen Kriminal Negara. Dan ini hidupku harus mendekam di penjara. Ibarat pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga pula. Sudah tak jadi kaya, masuk penjara pula.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here