Aku Lahir Tanpa Tangan & Tanpa Kaki, Namun Aku Sangat Menikmati Hidupku – Nick Vujicic

0
86

Aku adalah salah satu makhluk Tuhan yang pernah merasa menyesal dengan kelahiranku sendiri. Aku menyadari satu hal bahwa ternyata aku spesial dalam tanda kutip. Bahkan dulu orang tuaku tak ingin melihatku karena hal spesial yang melekat padaku.

Aku lahir di Melbourne pada tanggal 4 bulan Desember tahun 1982. Ayahku seorang pemuka agama dan programmer komputer, sedangkan ibuku seorang perawat.

Kelahiranku berdampak besar pada hidup kedua orang tuaku. Saat aku masih bayi, kedua orang tuaku sering menyalahkan diri mereka sendiri atas hal istimewa yang menimpaku. Ayah ibuku bertanya-tanya mengapa aku terlahir istimewa. Mereka berpikir kesalahan apa yang telah mereka perbuat sehingga Tuhan menghukum mereka dengan begitu kejam.

Saat memasuki usia sekolah, kedua orang tuaku memasukkanku ke sekolah biasa. Saat ini lah aku merasa benar-benar berbeda. Aku benar-benar istimewa sampai teman-teman sekolahku menolak berteman denganku. Mengejek keistimewaan yang aku punya. Dan tak jarang aku juga mendapat gertakan dari mereka.

Masa ini adalah masa paling sulit bagiku. Hal istimewa yang Tuhan turunkan padaku membuatku merasa menyesal telah lahir. Aku yang saat itu berusia 10 tahun berpikir untuk mencoba bunuh diri. Benar-benar menyakitkan terlahir dengan keadaan berbeda. Ya, aku terlahir berbeda dari anak-anak lainnya.

Aku lahir tanpa lengan dan kaki.

Bisa kau bayangkan rasanya jadi aku? Aku benar-benar frustasi. Rasa frustasi yang berhasil mengungkungku, membuatku berpikir kuingin mati saja. Aku merasa semuanya tidak adil.

Setiap hari aku selalu berdoa pada Tuhan untuk mengirimkan tangan dan kaki untukku. Aku selalu berharap tangan dan kakiku muncul secara ajaib. Namun Tuhan tetap keukeuh tidak mengirimkanku tangan dan kaki untukku. Tuhan membiarkanku hidup tanpa tangan dan kaki.

Tapi, pada suatu pagi, saat aku berusia 12 tahun, aku mendapat pengalaman berharga.
Saat itu aku bangun dan membuka mataku. Aku menyadari satu hal. Bahwa aku sangat beruntung. Aku sehat. Aku punya keluarga yang sangat menyayangiku. Dan aku juga hidup dalam keluarga yang sangat berkecukupan. Dan setidaknya aku masih punya telapak kaki yang masih bisa aku gunakan.

Ayah dan ibuku melakukan banyak hal untuk membuatku bisa melakukan banyak aktivitas. Ayahku mengajariku banyak hal. Beliau adalah pahlawan yang sangat sabar, beliau mengajariku berenang, mengajariku menulis, mengambil barang dan mengetik. Aku menamai telapak kakiku yang sangat berharga ini ‘my chicken drumstick’.

Ibuku juga mengajarkanku kekuatan mental dan keluwesan dalam pergaulan. Aku disekolahkannya ke sekolah biasa. Walaupun mengalami kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan, tapi berhasil melewati masa itu.

Kedua orang tuaku dan sahabat-sahabatku memberiku dukungan terbaik mereka. Aku yang pernah berpikir untuk mengakhiri hidupku, berhasil mengenyahkan pikiran itu. Aku mencoba untuk lebih bijaksana dan berani menjalani kehidupan.

Satu tahun kemudian, aku menemukan sebuah artikel yang menggugah jiwaku. Artikel itu berkisah tentang seorang pria cacat tubuh yang mampu melakukan hal-hal hebat, termasuk menolong banyak orang.

Dan sejak saat itu aku belajar dengan giat. Ada mimpi yang harus aku gapai.
Aku berhasil lulus dari Griffith University dan meraih gelar Sarjana Ekonomi bidang Akuntansi dan perencanaan Keuangan di usiaku yang ke-21.

Aku mengembangkan lembaga non-profit ‘Life Without Limbs’. Lembaga itu aku dirikan saat aku berusia 17 tahun. ‘Life Without Limbs’ aku bangun untuk anak-anak penyandang disabilitas. Organisasi ini merupakan komunitas untuk saling berbagi pengalaman, harapan, cinta dan sejumlah kiat sederhana menghadapi dunia yang serba susah.

Aku memberanikan diri berbicara di depan banyak orang ketika aku berumur 19 tahun. Kuceritakan pada banyak orang tentangi kisah hidupku yang pahit dan aku membantu membangkitkan semangat kepada mereka, orang-orang yang memiliki kesempurnaan tubuh tapi tidak memiliki semangat hidup.

Tanpa aku sadari aku sudah berkeliling ke 54 negara untuk memberikan motivasi dan membangkitkan semangat orang-orang yang putus asa.

Setiap mengisi acara motivasi aku berusaha memberikan yang terbaik. Aku mengeluarkan semua lelucon yang aku punya. Dan aku pernah melompat dari meja di depan ratusan anak sekolah, aku tak tahu apakah tindakanku menghibur atau tidak, tapi yang kulihat mereka tertawa sampai berurai air mata. Senang rasanya bisa menghibur banyak orang.
Pada tanggal 12 bulan Februari tahun 2012 adalah saat yang membahagiakan bagiku. Aku menikah dengan orang yang mau menerima keistimewaanku. Wanita cantik itu adalah Kanae Miyahara. Wanita yang aku temui di Texas pada tahun 2008 saat aku mengisi acara disana. pernikahan kami dikaruniai 4 orang anak.

Mau tahu bagaimana si Cantik Kanae bisa menjadi Istriku?

Awal mula aku bertemu Kanae adalah saat kami berada di Texas, saat itu aku dan Kanae tengah asyik bercakap-cakap tentang bukuku. Aku merasa cocok dengan Kanae. Dan aku pun merasa bahwa Kanae juga merasa cocok denganku. Kami bertukar alamat email, kami saling bertukar kabar melalui email.

Aku tahu dan sadar bahwa aku cacat, tapi aku harus memiliki rasa percaya diri. Aku memberanikan diri mendekati Kanae. Ayahku tahu itu, lalu Ayahku berpesan padaku bahwa sebagai seorang laki-laki jangan terlalu mengiba pada perempuan. Dan yah, aku berhasil mendapatkan cinta Kanae tanpa harus mengemis padanya. Cintaku tidak bertepuk sebelah tangan.

Tahun 2011, aku memberanikan diri melamar Kanae. Banyak orang bertanya-tanya, bagaimana aku meletakkan cincin di tangan wanita yang aku cintai itu.
Aku memutar otakku bagaimana agar aku bisa melakukannya, tapi aku tahu aku pasti bisa melakukannya. Maka pada hari aku melamar Kanae, aku berkata pada Kanae bahwa aku ingin mencium tangannya. Aku meraih jari kanae dengan mulutku dan memasangkan cincin itu sambil berkata “Sayang, aku cinta padamu, maukan kamu menikah dan menghabiskan sisa hidupmu bersamaku?”

Kata-kata itu berhasil melelehkan hati Kanae.

Kami pun akhirnya menikah.

Aku sadar bahwa aku tidak bisa memegang tangan istriku, tapi tiba saatnya aku akan memegang hatinya, dan aku tak perlu memegang tangannya.

Namaku adalah Nicholas James Vujicic.

Dengan semangat hidup yang aku punya. Aku ingin membagikan kepada para semua orang mengenai arti hidup, sehingga orang-orang yang sedang putus asa tidak melakukan tindakan bodoh yang justru hanya merugikan diri mereka sendiri.

Ada banyak orang yang lari ke narkoba karena merasa begitu banyak masalah dan tekanan, tetapi setelah mereka menggunakannya dan ketika mereka bangun di pagi hari masalah itu akan tetap ada.

Aku yakin setiap manusia memiliki kelebihan yang diciptakan Tuhan dan tidak dimiliki orang lain. Tidak penting bagaimana rupamu, karena kamu luar biasa bagaimanapun dirimu.

Aku selalu meyakini bahwa Tuhan menicptakanku tanpa lengan dan kaki bukan tanpa sebab.

Orang kerap bertanya bagaimana aku bisa bahagia walaupun tidak punya lengan dan kaki. Jawaban cepatku adalah aku punya pilihan. Aku bisa merasa marah karena tidak punya kaki, atau aku bisa bersyukur karena punya tujuan. Aku memilih sikap bersyukur. Kau juga pasti bisa melakukannya!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here