Aku Jatuh dari Ketinggian 15.000 kaki

0
38

Hai, kenalkan namaku Brad. Hari ini aku akan membagikan kisah hidup dan matiku.

Hai itu tepatnya tanggal 1 Agustus tahun 2013 di Melbourne, di area Lilydale aku berencana untuk melakukan terjun payung.

Kulihat cuaca hari itu sangat indah, tidak berawan, dan menurutku itu adalah cuaca yang sangat mendukung untuk melakukan terjun payung.

Waktu itu, aku meloncat dari ketinggian 15.000 kaki, sekitar 4.572 meter. Sebenarnya ada pilihan ketinggian yang sesuai keinginan setiap orang, tapi aku memilih opsi yang tertinggi.

Saat itu, instrukturku sempat bercanda dan bertanya apa kata-kata terakhirku. Dan berhubung selera humorku agak gelap, aku bilang padanya ‘ya, semoga parasutnya berfungsi nanti.’

Kami pun tertawa.

Setelah itu, dia mendorongku semakin dekat ke tepi pesawat, aku refleks berusaha berpegangan ke semua benda yang bisa aku pegang. Aku tidak berubah pikiran, Cuma ngerasa ‘Aduh, kok ngeri juga ya’.

Kemudian tak lama kemudian, kami loncat.

Enam atau tujuh detik pertama rasanya seruuu banget. aku belum punya rasa takut sama sekali.

Setelah kupikir sudah waktunya untuk menarik tali parasut, aku menunggu akan adanya suatu dorongan kuat ketika parasut terbuka, seperti yang sudah aku lakukan saat pelatihan. Tapi itu tidak terjadi, parasut pertamaku tidak terbuka. Perasaanku yang tadinya dipenuhi perasaan senang, berubah menjadi perasaan khawatir.

Instrukturku yang bernama Bill, di belakangku sibuk bergerak cepat. Dia berusaha menggoyang-goyangkan kabel-kabelnya agar parasut terbuka.

Di saat itulah, pikiranku mulai diserang panik. Aku membayangkan semua hal yang buruk.

Setelah beberapa detik, parasut kedua keluar. Aku melihat keatas, prasut yang berwarna putih tersangkut dengan parasut yang berwarna kuning, dan… keduanya tidak berfungsi.

Di sisi lain, kecepatanku dan Bill tidak melambat sama sekali, malah semakin cepat.

Aku tidak bisa memproses apa-apa dan aku juga mendengar Bill berteriak padaku, teriakannya sangat keras, dia menyuruhku untuk meluruskan kaki ke bawah, dan kami mulai berputar-putar.

Saat aku tahu kalau parasutku gagal terbuka, semua pemandangan di bawahku terlihat lebih jelas. Semuanya benar-benar terjadi sangat cepat. Dan sampai di titik ini, ketika aku melihat kedua parasut terbuka, aku sudah pasrah akan ajalku yang sebentar lagi akan menjemput. Tapi, aku merasakan ada perasaan tenang yang aneh.

Aku berbicara pada diriku sendiri, saat jarakku dengan tanah semakin dekat, ‘Oke Brad, ini akan benar-benar terjadi. Dan ini akan menjadi rasa sakit terburuk yang pernah aku alami. Dan saat aku sampai di bawah aku pasti akan langsung tak bernyawa. Say goodbye Brad pada dunia’

Perasaanku benar-benar dipenuhi rasa bersalah saat itu, karena aku mengajak keluargaku dan membuat mereka menyaksikan kematianku yang tragis.

Tapi, kupikir mungkin aku tidak akan langsung mati, aku pasti dipaksa merasakan sakit yang luar biasa terlebih dahulu baru aku benar-benar mati. Dan dua hal itu adalah kombinasi terburuk yang pernah aku bayangkan.

Saat aku masih berputar-putar di udara, aku sangat sulit untuk mengingat semua pikiran dalam kepalaku karena terlalu banyak pikiran yang muncul dan tidak satupun bisa aku proses.

Aku tahu, kematian sebentar lagi akan menjemputku. Seluruh tubuhku seperti sudah tahu bahwa mereka akan berhenti bekerja, mereka seperti sudah siap menyambut kematian dan aku merasa semuanya seperti berhenti berfungsi dan aku mulai mati rasa.

Aku siap menghadapi rasa sakitnya, sebelum akhirnya aku berhenti bernafas.

Tahu tidak seperti apa rasanya beberapa detik terakhir sebelum aku menghantam tanah?

Benar-benar tidak bisa aku lupakan. Aku merasaka benturan berulang kali dan bukan satu kali hantaman besar, karena aku dan Bill terpental dan memantul-mantul, kemudian kami menghantam tanggul sebuah danau di lapangan golf. Dan kami berakhir di pinggir danau, kami setengah tenggelam.

Lalu aku membuka mata dan melihat langit, serta menyentuh tanah.

Beberapa detik setelahnya aku dikagetkan dengan rasa sakit yang luar biasa. Aku berusaha berteriak, tapi aku sangat kelelahan dan tersengal-sengal saat berusaha bernafas. Aku dan Bill mendarat tegak lurus, jadi punggungku lebih dulu mendarat, sedangkan Bill mendarat dengan kakinya. Bagian bawah tubuhku tenggelam di danau, sedangkan sebelah kiri tubuh Bill jatuh ke dalam air.

Saat menghantam tanah, tubuhku benar-benar merasakan rasa sakit yang teramat sangat tidak bisa aku jelaskan dengan kata-kata. Hal pertama yang aku rasakan saat itu adalah aku sesak nafas dan merasa terbakar di seluruh tubuh, dan aku juga tidak bisa merasakan apapun.

Saking sakitnya, aku benar-benar mati rasa dan tulang punggungku seperti terbakar. Dan rasa sakitnya itu, ya ampuuun, intens banget, pokoknya sulit untuk aku jabarkan.  Aku yakin itu adalah rasa sakit paling buruk yang bisa dirasakan manusia. Bayangkan saja, aku baru saja menghantam bumi dari ketinggian 15.000 kaki dengan kecepatan 80 km per jam.

Tubuhku terasa lumpuh, aku tidak bisa menggerakan atau merasakan tubuh, tapi dengan sisa-sisa tenaga yang aku punya aku melihat kondisi Bill. Aku tahu dia pingsan. Wajah Bill berwarna biru dan dia tergeletak di bawahku.

Walaupun sulit, dan sudah tidak punya tenaga lagi, aku memaksa diriku untuk menggenggam tangannya, berusaha menyadarkan Bill.

Aku berkata pada Bill yang masih pingsan

“Ayo dong Bill, bangun. Kamu harus hidup, aku minta maaf banget.”

Karena aku memang merasa bersalah sekaligus bertanggung jawab. Karena secara tidak langsung aku sudah menjadi alasan Bill terbunuh, aku tidak mau dihantui perasaan menyesal seumur hidupku.

Aku menunggu dengan perasaan cemas, rasanya lama sekali sampai akhirnya Bill sadar.

Dan saat sadar Bill langsung berteriak. Dia sama sepertiku, merasakan sakit yang sangat luar biasa, kaki dan tulang pinggannya patah dan aku tidak bsia bergerak..

Saat itu merasa aku membebani dia karena aku dan dia terikat bersama dan aku yakin aku memperparah rasa sakitnya. Lalu kami sama-sama berteriak seperti binatang liar.

Untungnya, ada tiga pemain golf yang mendengar teriakan kami, dia mendatangi kami berdua. Dia membantu kami melepaskan ikatan dan mengangkat kami dari danau. Di saat inilah, aku menangis. Dan salah satu dari tiga pemain golf itu berkata “ Kamu nggak apa-apa kok. Kamu akan sehat lagi, jangan khawatir.”

Tapi, aku masih melihat Bill berteriak-teriak.

Tiga pemain golf itu berusaha menjaga punggung dan leherku agar tetap tegak. Dan saat itulah ambulans dan helikopter datang. Bill diangkat masuk ke dalam helikopter dan dibawa terbang, sedangkan aku langsung dimasukkan ke dalam ambulans. Saat itu aku melihat keluargaku berlari menuruni bukit untuk melihat keadaanku.

Mereka mengatakan “ Kami sayang kamu, kamu akan baik-baik saja, nanti kita ketemu di rumah sakit.”

Aku terus menerus menggumamkan kata maaf pada mereka semua.

Sesampaiku di rumah sakit, aku diberi suntikan morfin dan pakaianku dirobek-robek dan aku terus menerus menangis. Rasanya benar-benar kacau.

Dan sampai sekarang, aku masih bertanya-tanya, bagaimana aku bisa sadar setelah jatuh dari terjun payung. Tapi, aku yakin ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan. Aku pikir ada banyak faktor yang terkait dengan keselamatan kami, karena aku tahu kesempatanku untuk selamat sangat kecil. Dan untungnya aku mendapatkan keajaiban itu, yang menyelamatkan kami.

Mungkin salah satu faktor kenapa kami bisa selamat adalah berat parasut yang bisa memperlambat kecepatan jatuh, tapi faktor lainnya mungkin bisa karena kami jatuh di pinggir danau, dimana tanahnya lebih empuk. Atau bisa juga karena lokasi pendaratan, bagaimana kami mendarat, dan bahkan mungkin cuacanya juga ikut menjadi faktor kami bisa selamat.

Dan malam pertama di rumah sakit adalah malam pertama terburuk yang pernah aku alami. Aku benar-benar seperti disiksa. Aku tidak bisa tidur sama sekali. Aku terus-terusan memanggil perawat untuk membiusku, tapi otakku tidak mau beristirahat. Aku juga masih histeris. Setiap kali aku memejamkan mata aku seperti bisa merasakan sensasi jatuh itu lagi.

Keadaanku mulai membaik sehari setelah aku dirawat. Aku bisa lebih tenang. Aku mulai bisa merasakan tubuhku lagi. Para dokter bilang kalau tulang punggungku patah tapi aku akan sembuh. Aku mengira aku tidak akan bisa berjalan dengan normal dan cacat seumur hidupku.

Tapi, walaupun kata mereka aku bisa sembuh, aku masih tidak bisa menerima kenyataan. Pikiranku tidak bisa berpikir positif sama sekali. Semuanya terasa suram dan sangat menyiksa. Aku tidak bisa melihat kebahagiaan sama sekali. Pikirku, “Tubuhku hancur, pikiranku hancur, dan seumur hidupku akan seperti ini terus.”

Gejala-gejala aku akan depresi mulai muncul. aku benar-benar merasa sangat buruk.

Setelah kejadian mengerikan itu, aku mengunci diri di kamar selama 4 bulan dan aku menolak bertemu dan berbicara dengan siapapun. Aku menyendiri dalam kamar gelap dan tidak melakukan apapun.

Aku depresi.

Aku menolak makan, tidak mau mandi, dan aku juga sering meneriaki orangtuaku setiap kali mereka mendekatiku, karrena saat mereka mendekat aku merasa kalau aku seorang monster. Gejala PTSD mulai terasa dan aku terus menerus mengalami mimpi buruk dan ingatanku selalu flashback dengan kejadian itu. Aku akan terbangun di siang hari dan berteriak histeris, melempar bantal ke tembok. Ibuku dengan sabar menenangkan aku.

Tapi, lambat laun, keadaan mulai membaik. Aku mulai membuka diri. Dari pengalamanku, aku bisa membagikan kisahku pada orang lain yang mungkin butuh bantuan ketika mereka mengalami hal yang sama sepertiku. Semoga saja semua orang bisa mengambil hikmah atas kejadian yang menimpaku.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here