Aku Gagal Jadi Ibu Karena Suamiku

0
7

Menurutku ada banyak cara orang bertemu dengan pasangan hidupnya. Ada yang bertemu lewat media sosial, ada yang bertemu karena setiap hari bertemu di tempat kerja, ada yang bertemu karena tak sengaja bertemu di komunitas, dan ada juga yang bertemu karena dikenalkan oleh teman atau saudara.

Dan aku salah satu dari sekian orang yang bertemu suamiku karena aku dikenalkan oleh saudaraku. Setelah perkenalan kami yang berjalan dengan cukup baik dan singkat, aku dan suamiku memutuskan untuk mengucap janji suci pada tahun 1975.

Seperti, kebanyakan perempuan yang telah menikah aku sangat mendambakan kebahagiaan dan keharmonisan sebuah keluarga. Dan tentunya juga kehadiran seorang anak.

Awal mula pernikahanku, aku berusaha menjadi istri yang baik. Aku melakukan semua yang bisa aku kerjakan, melayani suamiku sebaik mungkin, menyiapkan pakaian kerja, menyiapkan sarapan, beres-beres rumah. Aku juga selalu memasang wajah ceria di depan suamiku, dia juga bersikap sebagai suami yang baik untukku. Dia masih bersikap baik padaku.

Setelah berjalan beberapa bulan, suamiku mulai menunjukkan wajah aslinya. Dia yang kukira baik ternyata tidak sebaik yang kukira. Tapi aku selalu berpikiran positif, di dunia ini tak ada manusia yang sempurna. Mungkin ini memang yang dinamakan ujian pernikahan. Mungkin ujianku datang di tahun pertama pernikahanku.

Waktu itu setelah beberapa bulan pernikahan, aku dinyatakan hamil anak pertama. Seharusnya itu menjadi kabar baik untukku dan suamiku, tentu saja, aku sendiri sangat senang. Tapi jauh dari dugaanku, suamiku tidak menganggap kehamilanku sebagai kabar baik, sebalikya dia malah menganggapnya sebagai bencana.

Hamil anak pertama adalah awal mula semua siksaan itu datang. Dan ini adalah masa yang berat bagiku.

Selama kehamilan pertamaku, suamiku berselingkuh dengan wanita lain. Parahnya lagi, dia ingin membawa wanita itu ke rumah. Tentu saja aku sangat marah, perempuan mana sih yang rela melihat suaminya bermesraan dengan perempuan lain, dibawa ke rumah lagi? Aku menegur suamiku, tapi apa yang aku dapat?

Aku dipukuli habis-habisan olehnya, sampai aku harus mengalami pendarahan hebat. Tapi suamiku tidak peduli dengan keadaanku, setengah tertatih-tatih aku memaksa diriku berjalan menuju rumah sakit untuk cek keadaan janinku.

Dan… kata dokter aku mengalami keguguran. Anak pertamaku tak bisa diselamatkan. Aku sangat kecewa. Ternyata bagi suamiku, aku yang sedang hamil mengandung anaknya lebih tidak berharga dari perempuan selingkuhannya.

Tapi aku masih berpikir positif bahwa suamiku kelak akan berubah. Aku yakin kelak dia akan berubah menjadi baik. Aku masih bungkam tentang semua kelakuan buruknya padaku.

Walaupun aku mendapat perlakuan yang buruk, aku masih berusaha menjadi istri yang baik. Aku masih terus mencoba bersabar bahwa suamiku kelak akan jadi orang yang baik.
Ternyata hingga hamil anak kedua, aku juga harus mengalami hal yang sama. Suamiku memukulku dengan keras. Suamiku semakin menjadi-jadi, aku harus menerima kenyataan pahit lagi, aku harus kehilangan calon bayiku lagi.

Di tengah kesedihanku atas kehilangan bayi yang aku kandung, suamiku lebih sibuk dengan para selingkuhannya dibandingkan memberikan semangat untukku.

Seperti yang sudah-sudah, aku masih meyakini kalau suamiku akan berubah menjadi baik. Sayangnya, aku terlalu berharap banyak. Suamiku tidak pernah menunjukkan tanda-tanda akan berubah, dia tetap dengan kelakuan buruknya. Bermain wanita dan senang memukuliku. Dan berusaha sekuat tenaga menolak kelahiran calon anak kami.

Aku sendiri tidak mengerti jalan pikirannya, kenapa ia begitu sangat ingin mencegah kami memiliki anak.

Hingga suatu malam aku tahu alasan dia menolak kehamilanku..

Mungkin jika ada nominasi pasangan yang selalu bertengkar setiap hari, kami bisa dinobatkan sebagai pemenang. Yang kami ributkan adalah aku yang kata suamiku terlalu banyak menuntut dan cerewet. Padahal aku hanya meminta hakku sebagai istri, aku hanya meminta uang sewa dan tagihan bulanan, tapi ia malah memarahiku dan mengatakan ‘kemana semua upahmu, bukankah itu bisa untuk membayar semuanya?’
Setelah ia mengatakan itu, aku biasanya hanya diam. Tak ingin melukai diri sendiri, karena jika aku masih membantah, suamiku nanti akan menyiksaku lagi.

Sehari-hari aku dan suamiku bekerja sebagai pertugas kebersihan kota. Upah yang kami terima sangat sedikit. Tapi uang yang aku dapat selalu habis untuk membayar banyak tagihan dan kebutuhan sehari-hari kami, sedangkan suamiku, uang yang ia dapat selalu habis untuk dirinya sendiri. Uangnya selalu habis untuk hura-hura, dia tak pernah memberikan jatah belanja untukku. Ya, aku yang menghidupi rumah tangga kami.

Mungkin kamu berpikir ‘kenapa aku masih bertahan dengan suami yang sangat kejam?’
Jawabannya karena aku sangat yakin tentang manusia yang bisa berubah menjadi baik suatu hari nanti.

Dan aku masih belum berani meneritakan masalah ini pada siapa pun. Aku terlalu takut. Aku takut jika aku menceritakan masalah rumah tangga kami pada orang lain, aku akan mendapat perlakuan yang lebih buruk lagi dari sebelumnya.

Sampai aku hamil anak ketiga. Dia kembali melakukan kekerasan padaku, aku harus kehilangan anakku lagi untuk yang ketiga kalinya.

Aku masih bertahan. Mungkin bisa dibilang aku sangat bodoh. Tak apa, aku akan memberikan kesempatan lagi untuk suamiku. Dia pasti berubah.

Sampai hamil anak keempat, dia mengatakan sesuatu yang menyakitkan padaku.
“Kita tidak punya banyak uang, kenapa kamu pengen banget punya anak?”
Setelah mengatakan itu, perutku diinjak-injak olehnya. Aku harus mengalami pendarahan lagi. Pada akhirnya aku harus terima kenyataan lagi , anakku harus digugurkan demi menyelamatkan nyawaku. Padahal usia kandunganku saat itu sudah 8 bulan, sebentar lagi bayiku akan melihat dunia. Aku gagal jadi ibu untuk keempat kalinya.

Perasaanku sangat hancur. Apa salahku padanya? Kami memang miskin, tapi apa salahnya jika kami punya anak?

Sejak kejadian itu, aku memberanikan diri untuk mengadukan kelakuan buruknya pada keluarganya. Dan apa yang kudapat? Aku malah disalahkan oleh saudara ipar saya, katanya, aku tidak bisa membuat suamiku nyaman di rumah. Kami bertengkar hebat, dan berakhir dengan saudara ipar perempuanku yang membabi buta memukulku, aku harus alami keguguran lagi untuk yang kelima kalinya.

Aku tak berani menuntut siapa pun. Mengatakannya pada suamiku pun rasanya percuma, dia tak akan peduli dengan kandunganku dan keinginanku untuk memiliki anak. aku putus asa, aku harus melakukan apa ya Tuhan…

Di rumah, hari-hariku selalu menjadi bulan-bulanan suamiku. Aku harus menderita patah tulang di lengan kananku karena kekerasan fisik yang dilakukan oleh suamiku sendiri, tidak hanya fisik, aku juga menderita secara psikis.

Tapi, sedikit demi sedikit otakku dapat berpikir jernih. Aku mulai mengumpulkan bukti kejahatannya. Jika biasanya aku akan bertahan dan bersabar dengan kelakuannya, kali ini aku sudah tidak bisa. Alam bawah sadarku mengatakan, ini sudah sampai pada batasnya.
Aku terpaksa melaporkan sumiku sendiri pada pihak kepolisian. Aku benar-benar sudah tahan. Karena gara-gara dia aku gagal menjadi ibu 5 kali, walaupun yang terakhir karena ulah saudara ipar perempuanku.

Usiaku 76 tahun, bisa dibilang pernikahanku berjalan sangat lama, 43 tahun, angka yang cukup lama kan untuk usia pernikahan? Tapi selama 43 tahun pernikahanku aku harus mengalami keguguran 5 kali dan aku harus memiliki pernikahan terburuk sepanjang masa.

Andaikan rasa percayaku pada suamiku dulu tidak terlalu kuat, mungkin aku bisa mengubah takdirku sejak awal-awal pernikahan kami.

Semoga kisahku bisa kamu jadikan pelajaran dalam berumah tangga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here