Aku Ditolak Banyak Negara Gara-Gara Aku Warga Suriah

0
36

Halo, namaku Al. Aku sudah lima bulan ini hidup terlunta-lunta di Bandara Kuala Lumpur. Aku tiba sejak Maret lalu, tapi aku terjebak di bandara karena masalah birokrasi.

Di Kuala Lumpur Internasional Airport 2 aku duduk sendirian. Bisa dibilang aku ini sedang menunggu ketidakpastian sampai kapan waktu singgahku berakhir.

Aku sedang duduk di sebelah konter transfer penerbangan sambil menatap layar ponselku. Selama lima bulan tinggal di bandara, badanku kian menyusut.

Lima bulan terjebak di bandara, aku sangat lelah menceritakan hal yang sama berulang kali. jadi daripada aku mengulang-ulang apa yang sudah aku ceritakan kepada sebagian orang yang kepo dengan keadaanku, aku memutuskan untuk bersembunyi di bawah eskalator tempat aku menaruh barang bawaan dan kasurku, kasur yang aku dapat dari seseorang setelah aku tidur di bangku selama 50 hari.

Jujur saja, pipi dan mulutku akan sakit kalau kebanyakan ngomong.

Masalahku berawal ketika perang saudara Suriah pecah pada tahun 2011. Aku pindah ke UEA tahun 2006 dan bekerja sebagai karyawan marketing perusahaan asuransi. Aku disuruh pulang ke Suriah untuk ikut militer. Aku tidak mau seperti ribuan orang Suriah lainnya. Aku tidak mau berperang. Dan aku juga tidak mau menghancurkan tanah airku.

Pasporku sudah mati sejak januari 2012. Berhubung aku menolak ikut militer, aku tidak bisa memperpanjang pasporku. Akibatnya aku dipecat dari tempatku bekerja. Aku hidup tanpa kewarganegaraan dan terjebak di UEA sampai Januari 2017. Aku hidup luntang-lantung karena aku tidak mendapatkan pekerjaan baru. Aku tinggal di jalanan, tidur di mobil, kebun atau dimana saja asal tempat itu aman.

Tapi sayangnya, aku ketahuan dan ditangkap. untung saja, mantan rekan kerjaku berhasil memperbarui pasporku. Dia menyerahkan paspor baruku saat aku sedang dipenjara. Pihak berwenang hendak memulangkanku ke Suriah, tapi aku tidak mau pulang ke Suriah, jadilah aku membujuk pejabat negara untuk mengirimku ke Malaysia.

Hanya ada sedikit negara yang memberikan visa kepada orang Suriah pada saat kedatangan. Malaysia adalah salah satunya. Dengan visa ini aku bisa tinggal di Malaysia selama tiga bulan. Tapi, nasibku benar-benar sial. Aku tidak mendapatkan pekerjaan baru dan aku overstay selama sebulan. Keluargaku mengirimiku uang untuk membayar denda dan memperpanjang visaku selama 14 hari. dan selama dua minggu itu, aku sudah berusaha kabur dua kali.

Rencana pertamaku aku akan pergi ke Ekuador dengan Turkish Airlines yang transit di Istanbul. Di ekuador, orang Suriah juga bisa memperoleh visa pada saat kedatangan. Sialnya, aku dicegat oleh petugas bandara di gerbang keberangkatan. Aku tidak boleh naik pesawat ini dan uangnya tidak dikembalikan. Bisa dibilang rencanaku gagal kan?

Baiklah, ke rencana kedua. Aku berencana naik pesawat AirAsia ke Kamboja. Aku berhasil pergi ke Kamboja, tapi aku diterbangkan kembali ke Malaysia oleh pejabat Kamboja karena aku tidak memenusi syarat untuk mendapatkan visa.

Setibaku di Kuala Lumpur International Airport 2 pada tanggal 7 Maret, aku tahu kalau aku akan ditahan dan dideportasi ke Suriah kalau aku melalui bagian imigrasi. Malaysia tidak menandatangani Konvensi Pengungsi 1951, yang melindungi hak-hak pengungsi dan menerangkan kewajiban negara-negara yang menandatangani untuk melindungi mereka. itu sebabnya aku tidak pernah meninggalkan terminal kedatangan dan aku juga masih menjadi tanggungan AirAsia, maskapai yang menyediakan nasi dan ayam tiga kali sehari sejak aku tertahan di bandara.

Apakah aku akan disebut sebagai orang yang cerdas?

Selama terjebak di sini, aku mendalami hukum hak asasi internasional. Bagiku, United Nations Refugee Agency sudah mengecewkanku, bukankah organisasi itu didirikan untuk membantu orang-orang sepertiku? Tapi nyatanya, aku malah bernasib seperti ini.

Bahkan setelah pemberitaanku surut, PBB menawarkan padaku semacam visa spesial yang berlalu sebulan untuk dapat kembali ke Malaysia, bahkan meski aku sudah masuk daftar hitam karena overstay. Menurutku, itu bukan solusi yang memuaskan, karena Malaysia tidak ikut menandatangani konvensi pengungsi 1952.

Aku juga tidak ada kontak dengan UNHCR selama 12 minggu, tapi mereka kok berani-beraninya meng-klaim kalau mereka sudah menawariku banyak opsi, padahal kan kenyataannya mereka tidak melakukan itu.

Sebenarnya aku menaruh harapan pada sekelompok sukarelawan dari Kanada, yang sudah mengajukan petisi kepada pemerintah mereka agar aku diizinkan masuk ke Kanada dan mereka juga bersedia mengumpulkan US$17.000 untuk mengongkosiku. Tapi, tak ada kepastian usaha mereka berhasil. Ditambah lagi, butuh waktu 26 bulan untuk mengurus permohonan masuk Kanada. Aku tahu kalau proses ini bisa saja dipercepat, hanya saja aku tahu privileseku dibanding pengungsi lainnya.

Aku juga tahu tidak sedikit yang mengkhawatirkan kesehatan mentalku. Tapi aku adalah type orang yang kuat. Meski dalam kondisi yang tidak jelas seperti ini, aku masih berusaha untuk tampil ceria dan aku harus selalu bisa menjaga selera humorku.

Postingan-postinganku yang konyol di media sosial adalah bukti bahwa aku berusaha untuk tampak baik-baik saja.

Bahkan aku pernah bercanda dengan seseorang yang mengajakku ngobrol di bandara, bahwa aku kehilangan kunci darurat dan dia percaya itu. Aku selalu berpikir positif, kalau suatu hari nanti pintu darurat itu akan benar-benar terbuka, maka aku selalu duduk di depan pintu darurat.

Ada banyak orang yang mendukung dan peduli denganku. mereka mengirimiku banyak sekali pesan. Tiap kali aku merasa senang, aku membagikannya di media sosial. Lebih baik aku menjadi sumber kebahagiaan bukan? Aku selalu berpikir bahwa setiap orang punya batasnya, tapi kenyataannya tidak begitu. Tak ada namanya batas kesabaran. Kalau kamu punya harapan dan bisa dengan piawai dalam melakukan apa yang kamu kerjakan, ya kerjakan saja terus. Harapan itu tidak pernah terbatas jumlahnya. Seperti Nelson Mandela yang pernah disekap dalam penjara gelap selama 27 tahun dan dia keluar dari penjara tak punya apa-apa kecuali cinta.

Di bagian menyedihkan dari KLIA2 ini, tak ada restoran, kedai kopi, atau vending machine. Dan jika aku mau membeli makanan dan minuman dari starbucks atau Mcdonald’s, aku harus membayar salah satu petugas troli untuk membelikannya untukku. karena kadang aku bosan dengan makanan yang disediakan AirAsia, kamu sendiri juga bakal bosan kalau harus makan nasi dan ayam sehari tiga kali, begitu terus setiap harinya, iya kan?

Aku menyebut hubunganku dengan petugas troli yang membantuku dengan sebutan friends with benefit, karena mereka menarik semacam pajak di atas pajak yang dibebankan restoran.

Disini aku tidak punya friends without benefit.

Dan ironisnya, satu-satunya jenis toko di lounge kedatangan KLIa2 adalah toko ponsel, di tempat itulah aku sering menumpang mencharge ponselku karena chargerku berkali-kali raib diambil orang. Tapi tak apa, mungkin yang mencuri memang benar-benar membutuhkannya.

Saat ini aku benar-benar sedang terobsesi ingin menjadi warga negara yang legal. Karena alasan itu, aku menolak tawaran menikah dari seluruh penjuru dunia. Aku bahkan pernah menerima kiriman pesan di facebookku, dia menawariku apakah aku mau menikah dengannya di airport, kalau bisa dia akan mendatangiku disini sebelum musim dingin.

Tidak hanya itu, aku juga menerima tawaran dari orang Miami, Australia, Amerika Serikat, Kanada, dan negara-negara Uni Eropa, bahkan Tahiti, Hawaii, dan Maldives. Ya ampun, banyak yang menawariku. Tapi aku menolak semuanya, karena coba saja deh kamu pikir aku menikah hanya untuk kepentingan visa semata sebenarnya adalah sesuatu yang ilegal. Dan aku tidak mau itu, yang aku cari saat ini adalah keberadaanku dianggap legal. Memang sih itu terdengar seperti melanggar aturan, tapi hanya dengan cara itu mereka bisa membantu, dan itu adalah hal yang baik.

Untuk saat ini, aku sedang menunggu respon balik dari pemerintah Kanada atas lamaran aplikasi kewarganegaraan yang aku ajukan. Dengan itu aku harap aku bisa meninggalkan negara dimana saat ini aku berada.

Aku tidak pernah berhenti berharap. Aku tahu, pada akhirnya semua ini akan berakhir. Aku akan mendapatkan tempat yang lebih baik dan semua akan baik-baik saja.

aku sudah dibanjiri dengan berbagai tawaran untuk jadi pembicara, tawaran penerbit untuk membukukkan kisahku dan juga jadi tokoh dalam film dokumenter, tapi aku lebih memilih fokus pada hal yang lebih simpel terlebih dulu.

Mimpiku sederhana, aku bisa minum kopi yang aku suka, mandi pakai pancuran, pergi kerja, ketemu dengan teman-teman, kencan dengan seorang perempuan terus ngajak dia makan malam bersama. Ya, mimpiku simpel, sekedar hidup dan merasa aman.

Aku tahu, orang-orang di rumah tidak bisa membantu. Karena orang yang peduli tidak punya kekuasaan apa-apa dan mereka yang punya kekuasaan biasanya tidak peduli sama sekali. Aku sepenuhnya sadar bahwa kini aku sedang berada di posisi yang penuh kontradiksi, optimistis tapi bertolak, sabar tapi ketar ketir dan mendapat dukungan dari seluruh penduduk dunia tapi sepenuhnya terisolasi.

Dan pesan terakhirku untukmu yang sudah meluangkan waktu mendengarkan ceritaku, aku harap kamu bisa lebih bersyukur jika kamu berada di satu negara tanpa konflik seperti negara asalku. Karena bagaimanapun juga pemenuhan hak asasi seseorang sangat bergantung dari mana orang itu berasal.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here