Aku Diremehkan Karena Aku Tunarungu, Tapi Sekarang Aku Menjadi Staff Khusus Presiden

0
41

Aku lahir pada tanggal 5 bulan Mei tahun 1987. Aku wanita berusia 32 tahun. Aku lahir dalam keadaan normal. Aku seperti bocah-bocah kecil seumuranku pada umumnya. Senang bermain dan aku bahagia.

Seperti anak-anak pada umumnya, aku juga pernah mengalami sakit. Tapi aku tak tahu, jika ternyata hari itu adalah awal dari semua kepahitan yang aku alami. Hari itu aku harus mengalami demam yang sangat tinggi. Karena demam tinggi, aku diperiksakan ke dokter. Dokter menganjurkanku untuk minum antibiotik untuk meredakan demam.

Sayangnya, aku tak tahu apa yang salah dengan demam tinggi dan obat antibiotik yang aku minum. Karena setelah itu aku mengalami penurunan fungsi pendengaran di umurku yang masih bocah, umurku saat itu sudah menginjak usia 10 tahun.

Aku seperti terbagi antara 10 tahun sebelum pendengaranku mengalami penurunan fungsi dan 10 tahun setelah mengalami penurunan fungsi pendengaran. 10 tahun sebelum pendengaranku mengalami disfungsi, aku merasa semuanya normal dan baik-baik saja. Tapi 10 tahun sesudahnya semuanya jadi terasa abnormal.

Aku harus meggunakan alat bantu dengar, agar aku masih bisa mendengar dan berkomunikasi dengan orang lain. Selain itu aku harus selalu memandang orang yang berbicara denganku, agar aku bisa memahami gerak bibir mereka. Kamu bisa menyebutku sebagai penyandang disabilitas atau orang berkebutuhan khusus.

Kukira penurunan fungsi pendengaranku sudah menjadi hal terburuk yang aku alami. Ternyata aku juga harus mengalami perundungan. Aku sering mendapat perlakuan yang kurang menyenangkan dari lingkunganku, seperti hinaan dan bully-an dari orang-orang di lingkungan sekolahku. Kupikir, apa sih yang salah dengan kekuranganku ini? Tidak ada ‘kan? Tidak ada manusia yang ingin mengalami hal buruk ‘kan? Tapi kenapa mereka perlakukan aku seperti itu?

Karena sikap mereka yang kurang menyenangkan, kepercayaan diriku hilang dan semangat hidupku meredup. Tapi, walaupun aku mengalami kejadian kurang menyenangkan, aku sangat beruntung. Aku memiliki kedua orangtua yang sangat mencintaiku. Mereka mendidikku menjadi pribadi yang pemberani. Mereka menjadikanku pribadi yang tidak mudah menyerah. Aku harus percaya diri. Aku punya masa depan. Atas dukungan mereka aku mantap kuliah jurusan Komunikasi di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta.

Aku berhasil lulus S1 dan S2 dengan predikat cumlaude. Aku percaya semua akan menjadi mungkin selama kita yakin. Aku memang tidak bisa mendengar tapi aku bisa melihat. Aku berusaha menggunakan mata untuk mengakses informasi.

Tapi ekspetasiku cukup tinggi, kukira jika aku berhasil lulus strata-2, aku akan mudah mendapatkan pekerjaan. Pada kenyataannya, aku harus berlapang dada menerima penolakan dari beberapa perusahaan karena aku berkebutuhan khusus.

Aku tahu, orang-orang pasti mengira lulus S2 akan sangat gampang mendapatkan pekerjaan, tapi pada kenyataanya lulus S2 dan berkebutuhan khusus itu sangat sulit mendapatkan pekerjaan.

Mungkin penolakan itu dilandasi oleh ketakutan pihak perusahaan jika menerima orang yang berkebutuhan khusus sepertiku. Memangnya apa yang salah dengan manusia berkebutuhan khusus? Walaupun berkebutuhan khusus, kami juga punya skill, kok!

Aku jadi bingung mau ke mana, bingung mau melakukan apa. Aku sudah sekolah tinggi-tinggi ternyata sesulit itu mendapatkan pekerjaan. Aku benar-benar sedih dengan keadaanku. Semuanya jadi terasa sia-sia.

Aku sempat bekerja di salah satu perusahaan, aku sudah berusaha maksimal dan total memberikan kontribusi bagi korporasi. Hal itu termasuk mempelajari sistem, manajemen, standar operasional prosedur, dan sebagainya. Namun, sayangnya saat aku mencoba masuk langsung ke komunitas sekitar, aku malah menjumpai adanya gap yang begitu jauh antara perusahaan dan komunitas.

Aku jadi menyadari satu hal. Dibalik turunnya fungsi pendengaranku, mungkin Tuhan ingin aku jadi lebih memahami para penyandang disabilitas. Mereka dipandang sebelah mata hanya karena mereka mendapatkan sesuatu yang aku yakin bukan keinginan mereka.

Aku tahu sulitnya mendapatkan pekerjaan. Mengerti rasanya bagaimana harus bertahan hidup di antara sulitnya akses menjadi minoritas. Tapi aku berusaha untuk selalu percaya bahwa setiap disabilitas memiliki peran masing-masing dalam pengembangan. Diakui menjadi warga yang setara adalah impian setiap disabilitas dan aku berusaha untuk menjadikan itu nyata.

Aku tak boleh tinggal diam ‘kan? Aku bertekad memberdayakan para penyandang disabilitas. Menurutku, walaupun mereka menyandang disabilitas, mereka punya skill. Mereka bisa berkarya dan menjadi produktif, hanya saja mereka tidak diberi kesempatan untuk menunjukkannya.

Aku harus menemukan cara agar para penyandang disabilitas itu bisa bekerja seperti manusia-manusia normal lainnya. Mereka punya hak yang sama!

Keinginanku yang sangat kuat untuk membantu mereka para penyandang disabilitas, menjadi alasan berdirinya Thisable Enterprise. Thisable Enterprise adalah perusahaan yang menyediakan berbagai macam program peningkatan skill sekaligus bekerja sama dengan perusahaan lain untuk penyerapan tenaga kerja. Dan sudah ada 7.000 penyandang disabilitas yang mendaftarkan diri mereka dan siap kerja. Aku harap penyandang disabilitas tidak lagi dikasihani melainkan dibutuhkan keberadaannya atas karya berupa produk atau jasa yang mereka ciptakan.

Pada hari aku ditunjuk oleh Presiden Jokowi sebagai staff khusus beliau, aku tahu bahwa aku akan ikut andil dalam pembangunan sumber daya manusia (SDM) Indonesia unggul seperti yang diharapkan oleh pemerintah.

Sebelumnya aku sama sekali tidak membayangkan jika aku akan menjadi staf khusus sekaligus juru bicara Presiden bidang sosial untuk saat ini dan beberapa tahun mendatang. Kukira pertemuanku dengan Presiden tersebut hanya merupakan audiensi biasa. Dan saat kami berdiskusi beliau menanyakan hal-hal apa saja yang akan dilakukan olehku serta harapan-harapanku. Bagiku ini adalah kesempatanku untuk mengabdi pada Negara.

Tentu saja, meningkatkan kemampuan penyandang disabilitas adalah hal utama yang akan aku kerjakan. Supaya penyandang disabilitas bisa berdaya saing di berbagai sektor pekerjaan. Langkah selanjutnya aku akan fokus pada peningkatan kemampuan lulusan sekolah luar biasa agar siap memasuki dunia kerja. Agar mereka tidak dipandang sebelah mata. Dan harapanku tidak ada lagi penyandang disabilitas yang tidak mendapatkan pekerjaan di Tanah Air.

Kita tidak akan mengubah sistem yang ada di sebuah perusahaan tetapi kita membuat teman-teman disabilitas mengikuti sistem tersebut. Aku yakin dan optimis kalau orang-orang berkebutuhan khusus juga mampu bekerja secara efektif dan maksimal seperti pekerja normal.

Banyak yang aku syukuri walaupun aku berkebutuhan khusus. Meskipun aku tunarungu, aku pernah terpilih sebagai Abang None daerah pemilihan Jakarta Barat. Di waktu berikutnya aku juga pernah meraih penghargaan The Most Fearless Female Cosmopolitan.
Yang harus aku lakukan adalah dengan terus menerus melahirkan prestasi.

Namaku Angkie Yudistia, saat ini aku menjadi salah satu staff khusus Presiden dan aku meminta dukungan dan doa dari segenap masyarakat Indonesia agar aku mampu menjalankan tugas dan tanggung jawab tersebut dengan sebaik-baiknya. Aku bertekad tidak akan menyia-nyiakan kesempatan tersebut dan dengan sepenuh hati membantu Presiden mewujudkan misi menuju Indonesia inklusif yang lebih ramah disabilitas.

Semoga kisahku menginspirasi untuk semua orang dan yang perlu kita pahami apa yang dianggap sebagai kekurangan dapat diubah menjadi peluang kesuksesan di masa depan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here