Aku Diputusin Karena Aku Jelek

0
43

Tiap ngaca, rasanya aku pingin melempar kaca itu pakai apa aja biar pecah. Aku ngerasa kalau orang yang ada di dalam kaca itu bener-bener serem.

Badan gendut, kulit hitam dan hidung pesek. Nggak ada cantik-cantiknya, pantesan aku diputusin.

Iya aku baru aja diputusin.

Namaku Bian. Kata orang-orang aku itu type cewek yang nggak ada feminin-femininnya. Kuakui sih aku emang nggak bisa dandan dan emang fisikku ini terbialng sangat gendut untuk orang seusiaku.

Dari kecil aku itu cuek banget sama penampilan. Menurutku penampilan itu nggak terlalu penting. Karena kupikir ini adalah apa adanya diriku.

Karena cantik versiku itu ya rambut pendek dan pakai kaos. Di kamarku kamu nggak bakal nemuin apa itu liptint, bedak, hand body, cleanser, toner atau kosmetik-kosmetik lainnya. Yang kamu temuin paling cuma topi.

Selain itu aku lebih senang menghabiskan waktu untuk ngemil gorengan atau beberapa aktivitas lainnya yang tidak banyak menuntutku untuk bergerak. Tentu aja hal kayak gitu bikin badanku makin gendut.

Tapi, yah siapa peduli sih? Asal aku hepi kan nggak masalah. Prinsipku adalah jadilah diri sendiri. Aku nggak tahu jadi diri sendiri versimu seperti apa.

Sampai saat aku memasuki dunia SMA, aku mulai suka sama cowok.

Dia teman sekelasku. Dia ini nggak cakep-cakep amat sih, tapi ya menurutku dia ini anak yang baik.

Aku mulai PDKT sama dia. Setiap jam istirahat aku ke mejanya, aku ngajak dia buat ngobrol sama aku.

Awalnya sih dia malu-malu, tapi lama-lama dia mulai mau bergantian nyamperin aku ke meja.

Kadang pas jam istirahat dia dan aku akan berjalan ke kantin bareng. Terus habis pulang sekolah dia dan aku pulang bareng.

Hubungan kami masih dalam tahap seperti itu.

Setelah PDKT cukup lama, kami memutuskan untuk pacaran. Yah, aku belum berubah. Aku masih tetap setia dengan penampilanku yang apa adanya, dengan fisik yang gendut dan juga item.

Kupikir cowok itu benar-benar menerimaku apa adanya, jadi aku masih PD dengan fisikku.

Malah dengan bangga kukatakan pada teman-temanku kalau aku sudah menemukan cinta sejatiku.

Tapi, suatu hari pacarku ngajak aku jalan.  Kami jalan-jalan di mall, karena kebetulan dia sedang mencari jaket.

Sepanjang perjalanan dia bersikap agak aneh. Dia menolak saat aku menggandeng tangannya, dia bilang dia malu.

Aku akhirnya menarik tanganku, kupikir memang malu-maluin sih kalau mesti gandengan di tempat umum seperti ini.

Tidak hanya itu, dia juga mulai berjalan dengan cepat. Sampai aku capek ngejar dia.

Dia kenapa sih? Apa aku bikin salah? Nggak biasanya.

Terus setelah menemukan jaket yang dia cari, kami memutuskan untuk mencari minuman. Aku haus banget, capek ngejar langkahnya dia yang super lebar.

Dan akhirnya, setelah minuman kami benar-benar habis.

Aku melihat wajahnya yang kebingungan, semacam ingin menyampaikan sesuatu tapi dia ragu. Jadi daripada lama diam-diaman nggak jelas, aku berinisiatif nanya ke dia, ada masalah apa.

Dia menarik nafas dan menghembuskannya pelan-pelan. Aku sampai ngerasa kalau dia ini sedang ingin mengucapkan kata-kata yang menyakitkan. Aku jadi tegang dan takut. Nggak ! nggak! Masak dia mau putus, hubungan kami baik-baik aja kok akhir-akhir ini.

Dan benar sekali ternyata dugaanku, pacarku ingin putus.

Dan alasannya memutuskan aku adalah karena katanya aku ini nggak seperti kebanyakan cewek lainnya.

Aku terlalu cuek dengan penampilan. Dia bilang, dia sering dapat komentar dari teman-temannya. Seperti, ‘kamu kok mau sih sama bian? Dia kan gendut banget’, atau ‘kamu sama bian? Ya ampun kayak nggak ada cewek lain aja’, ‘bian itu yang gendut item kan? Kok kamu bisa sama dia sih. Dia kan cewek jadi-jadian’, dan komentar-komentar jahat lainnya.

Pacarku bilang dia tidak bisa meneruskan hubungan ini, dia juga udah bosan jadi pusat perhatian saat jalan bareng sama aku.

Jujur aja, aku sakit hati banget.

Kami putus karena alasan yang menurutku nggak banget.

Memang apa salahnya sih kalau aku gendut dan hitam? Tapi kan hatiku nggak seburuk fisikku? Aku bukan orang baik sih, tapi aku kan bukan manusia jahat.

Sepanjang perjalanan pulang ke rumah aku menangis. Aku sedih.

Setelah putus dari pacarku aku benar-benar terpuruk, aku tidak bernafsu untuk makan. Setiap ngeliat kaca aku jadi membenci diriku sendiri. Dan mulai menyalahkan Tuhan, kenapa aku bisa sejelek ini.

Di sekolah aku berubah jadi anak yang pendiam. Mungkin teman-temanku mulai sadar dengan perubahanku, tapi aku nggak peduli.

Setiap pulang sekolah aku akan sibuk mengurung diriku di kamar.

Karena merasa gabut dan bosan, aku mulai scroll-scroll instagram. Lalu kutemukan satu postingan yang sangat menampar diriku.

Caption dalam postingan itu seperti ini “Tak ada perempuan yang jelek, yang ada hanya perempuan yang malas”

Kupikir caption itu sesuai dengan keadaanku saat ini. aku memang malas gerak sih. Yang aku makan juga semuanya nggak sehat.

Jadi kupikir, buat apa aku menghabiskan waktu dengan meratapi nasib. Daripada sibuk menyalahkan keadaan, aku memilih untuk bangkit dari keterpurukan. Aku tidak ingin terus menerus terjebak dengan perasaan insecure yang malah bikin aku susah bersyukur. Mungkin aku memang harus segera melakukan perubahan.

Lalu sejak itu aku mulai mencari video-video di youtube, aku mencari berbagai macam tips diet dan olahraga yang cocok untuk orang obesitas sepertiku. Fokusku adalah menurunkan berat badan dulu.

Tidak hanya itu aku menemui seorang dokter untuk membantu program dietku.

Jadi aku mulai sedikit demi sedikit mengganti camilanku, aku nggak berani melakukan diet ekstrim. Karena kata dokter itu malah akan membuatku jadi gampang sakit.

Setelah mulai terbiasa dengan pola makanku yang baru, aku mulai rajin berolahraga.

Aku rrajin bangun pagi untuk jogging dan aku akan menghabiskan waktu liburku di GYM.

Selain itu aku mulai membeli berbagai produk perawatan kulit, membeli bedak, parfum, liptint dan masih banyak lainnya.

Aku juga mulai membeli baju-baju yang lebih feminin.

Bahkan aku juga akan melakukan operasi plastik pada hidung dan daguku.

Berkat semua usaha keras yang aku lakukan, aku berhasil menurunkan berat badan, aku berhasil menghilangkan 17 kilogram. Berat badanku yang semula 62 kilogram menjadi 45 kilogram.

Kulitku yang dulunya hitam dan kusam, kini jadi lebih putih dan sehat. Dan yang paling aku suka, sekarang aku punya hidung yang cantik.

Setelah semua itu, aku bertemu dengan mantan pacarku. Dia tidak mengenaliku, tapi aku mengenali dia.

Tapi saat tahu kalau aku yang sekarang adalah Bian yang dulu dia putusin, dia seperti menyesal.

Tapi aku nggak peduli. Dia pergi saat aku dalam kondisi buruk. Bukannya membantuku untuk berubah ke arah yang lebih baik, dia malah meninggalkanku.

Dan akhirnya, sekarang aku lebih bisa menerima diriku. Aku mulai berani menatap cermin dan melihat gimana aku yang sekarang. Aku benar-benar kagum dengan hasil kerja kerasku. aku juga lebih bisa mencintai diriku sendiri.

Aku nggak menyarankan kamu untuk mengikuti standar cantik orang lain. Tapi, kalau memang keadaanmu membuatmu jadi susah untuk bersyukur, kenapa kamu nggak mengubahnya?

Tapi, jangan hanya berfokus pada penampilan, mulai sekarang mulailah mencintai dirimu sendiri. Karena setelah kamu bisa mencintai dirimu sendiri, kamu akan tahu dengan sendirinya apa yang harus kamu lakukan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here