Aku Dijual oleh Orangtuaku untuk Dijadikan Budak

0
54

Saat aku berusia delapan tahun, aku terpaksa tinggal bersama sepasang suami istri terburuk yang pernah aku temui seumur hidupku. Mereka adalah Abdel-Nasser Youssef Ibrahim dan istrinya, Amal Ahmed Ewis-Abd Motelib. Umur mereka sekitar 30-an.

Awal mula aku bisa tinggal bersama mereka adalah karena kakak perempuanku yang bekerja sebagai pelayan untuk mereka, tetapi pasangan itu memecat kakakku, mereka menuduh kakakku sudah mencuri uang mereka. dan sebagai kesepakatan antara pasangan itu dan kedua orangtuaku, aku terpaksa menggantikannya.

Keluargaku sangat miskin, dan itu membuat kedua orangtuaku tidak punya pilihan lain selain menukar kakakku dengan diriku.

Lalu dua tahun kemudian, Ibrahim dan Motelib memutuskan untuk pindah bersama kelima anak mereka ke Amerika Serikat untuk memulai bisnis ekspor-impor. Saat itu aku tidak mau pergi. Tapi, kata Ibrahim aku tidak punya pilihan lain, aku harus ikut.

Saat itu aku masih ingat, aku mendengar orangtuaku dan Ibrahim bernegosiasi dan kemudian orangtuaku melepaskan aku dengan upah $ 30 per bulan.

Aku dibawa oleh mereka ke Amerika Serikat dengan visa kunjungan enam bulan yang diperoleh dengan cara ilegal. Lalu aku ditempatkan di rumah bergaya Mediterania dua lantai di sebuah komunitas yang terjaga keamanannya di Irvine.Mereka menyuruhku untuk tinggal digarasi, garasi itu juga yang jadi kamarku. Ruangan itu benar-benar ruangan yang sangat buruk, tanpa jendela, tanpa AC atau pemanas, setiap malam aku harus merasakan pengap.

Kadang-kadang pasangan itu mengurungku.

Perabotanku di garasi hanya satu kasur kotor, lampu lantai, dan satu meja kecil. Aku tidak diberi lemari untuk menyimpan semua bajuku, jadi aku menyimpan semua bajuku di dalam koper.

Setiap hari aku bangun jam 6 . dan setiap pagi aku harus mulai disibukkan dengan disuruh-suruh oleh anak-anak dari Ibrahim dan Motelib.

Aku memasak, menyajikan makanan, mencuci piring, memasang seprai, mengganti seprai, membantu cuci baju, menyeterika, menyedot debu-debu, menyapu, mengepel, dan lainnya. Bahkan aku harus terus menerus bekerja sampai tengah malam, kadang kupikir kenapa semua pekerjaan ini tidak pernah selesai.

Belum cukup menyiksaku dengan pekerjaan yang tidak ada habisnya, Motelib pernah melarangku menggunakan mesin cuci saat aku ingin mencuci pakaianku sendiri. Dan dia juga mengatakan sebaris kalimat yang menyakitkan hati

Dia berkata padaku “Aku tidak bisa membiarkan mesin cuciku dipakai olehmu, karena kami takut kuman-kuman di bajumu akan merusak mesin cuciku.”

Sejak saat itu aku mencuci pakaianku dalam ember plastik yang aku simpan di tempat tidurku dan menggantungnya diluar untuk aku jemur di rak logam, di samping tong sampah.

Motelib dan Ibrahim juga sering memukulku. Tidak cukup dengan isolasi dan kekerasan fisik, mereka juga sering menghinaku. Mereka sering memanggilku gadis bodoh dan bukan siapa-siapa. Mereka membuatku merasa buruk.

Aku selalu makan sendirian dan tidak diizinkan sekolah atau meninggalkan rumah tanpa Motelib atau Ibrahim yang mengawalku. Mereka mengancamku untuk tidak memberi tahu siapapun tentang situasi ini. Mereka menakut-nakuti bahwa polisi akan membawaku pergi karena aku ilegal.

Pernah, saat aku sakit parah, aku menangis secara terang-terangan di depan pasangan jahat itu, mereka dengan jelas melihatku menderita tapi mereka tidak peduli. Dan aku juga masih harus mengerjakan semua pekerjaanku. Mereka bahkan tidak membelikan aku obat.

Lalu malam harinya aku akan selalu kelelahan dan kesepian, aku akan merenung menatap kegelapan.

Ibrahim sudah mengambil pasporku dan aku takut jika aku tertahan di sini selamanya.

Saat aku berusia 12 tahun, tidak ada perayaan seperti kebanyakan anak, aku menghabiskan waktu di hari ulang tahunku dengan melakukan pekerjaan rumah.

Aku tidak diberi kesempatan untuk bersenang-senang atau sekedar beristirahat. Dua tahun lebih aku diperlakukan sebagai budak yang tidak berharga.

Tapi suatu hari ada seseorang yang mengetuk pintu rumah Ibrahim, ada beberapa orang yang datang dan bertanya pada Ibrahim siapa saja yang tinggal di rumahnya. Ibrahim hanya menjawab dia, istrinya dan kelima anaknya. Tapi orang itu masih mendesak Ibrahim, sampai akhirnya Ibrahim mengakui bahwa ada anak lain berusia 12 tahun yang tak lain adalah aku. Dia mengatakan pada orang-orang itu bahwa aku kerabat jauhnya.

Salah seorang dari mereka yang bernama Jacobson bertanya pada Ibrahim, apakah dia bisa bicara denganku. saat itu aku sedang membersihkan lantai atas. Ibrahim memanggilku dalam bahasa Arab, dia menyuruhku turun dan mengatakan pada orang-orang itu bahwa aku sedang tidak bekerja untuk keluarganya.

Saat aku turun orang-orang itu datang mendekatiku. Mereka memperkenalkan diri mereka. mereka adalah pekerja sosial layanan perlindungan anak.

Salah seorang dari mereka yang bernama Chen ternyata memperhatikan keganjilan pada tanganku yang tampak merah, dia menelpon seorang penerjemah di ponselnya. Mungkin dia curiga dengan Ibrahim yang berbicara dalam bahasa arab

Aku sadar bahwa ini adalah satu-satunya cara aku bisa terbebas dari keluarga Ibrahim dan Motelib.

Kutanya bagaimana mereka tahu tentangku. Dan mereka menjelaskan padaku  bahwa ada seorang penelpon misterius, yang menurut mereka mungkin tetanggaku, yang melaporkan kasus pelecehan anak. Orang itu mengatakan pada mereka bahwa ada seorang gadis yang tinggal di garasi keluarga bekerja sebagai pelayan dan tidak bersekolah.

Kukatakan pada para pekerja sosial itu bahwa aku sudah berada di Amerika Serikat selama dua tahun dan aku belum pernah sekolah.

Dan orang yang bernama Jacobson segera membawaku ke dalam tahanan pelindung. Aku duduk di kursi belakang polisi, dia membawaku ke rumah kelompok anak-anak dimana aku akan ditempatkan sementara. Aku berdoa semoga aku tidak perlu bertemu lagi dengan Motelib dan Ibrahim.

Sesampaiku di tahanan perlindungan, aku sangat lega, senang dan merasa aman.

Beberapa jam kemudian Jacobson membawa surat perintah penggeledahan, dia kembali lagi ke rumah ibrahim dengan agen-agen FBI dan Immigration and Customs Enforcement (ICE).

Mereka memotret kasur kotorku, seember air sabun yang ada di sebelah lampu yang rusak, pakaian yang tergeletak di lantai.

Demi menghindari penangkapan, Ibrahim menunjukkan surat bertandatangan antara dia dan ayahku kepada agen-agen itu. Di surat itu dijelaskan bahwa aku akan bekerja untuk keluarga itu selama sepuluh tahun dan untuk gaji yang dibayarkan kepada orangtuaku sebesar $ 30 sebulan.

Tapi, para penyelidik tetap menangkap Ibrahim dan Motelib, dengan tuduhan, konspirasi, perbudakan paksa, mendapatkan tenaga kerja dari orang lain secara tidak sah dan menyembunyikan orang asing.

Pada hari penyelamatanku, pejabat imigrasi menawariku dua pilihan. Yaitu apakah aku akan kembali ke Mesir atau aku akan tinggal di Amerika dan tinggal di panti asuhan. Saat itu aku sangat gugup dan ragu-ragu, aku menelepon ayahku di mesir dan berkata “Aku ingin tinggal di Amerika”, dia marah, tetapi keputusanku sudah bulat, aku ingin memulai hidup baru yang lebih baik.

Selama dua tahun berikutnya, aku tinggal bersama dua keluarga asuh. Dari dua keluarga itu aku belajar banyak hal. Tapi itu tidak lama karena orang-orang itu memindahkanku di rumah kelompok lokal.

Harapanku sejak aku tiba di Amerika adalah menjadi remaja Amerika biasa. Dan doaku terkabul, aku dipertemukan dengan orangtua asuh bernama Chuck dan Jenny Hall, dia sudah punya seorang anak perempuan dan seorang anak laki-laki. Dia membeli rumah di Orange County dan memutuskan untuk mengasuhku. Dan mereka benar-benar membuatku langsung klik pada pertemuan pertama. Mereka juga punya selera humor yang sama denganku.

Sebelum aku pindah ke rumahnya, aku mengajukan dua pertanyaan. Apakah ada aturan rumah dan tugas apa yang harus aku selesaikan.

Dan jawaban Chuck adalah semua bisa dibicarakan.

Tapi jenny menjelaskan peraturannya, bagi mereka pekerjaan rumah dan sekolah terlebih dahulu.

Jenny juga berkata “Kami akan memperlakukanmu seperti anak kami sendiri. Kamu akan jadi bagian dari keluarga kami.”

Saat medengarnya aku sangat terharu. Aku belum pernah mendengar kata-kata semanis itu dari orang lain.

enam bulan tinggal di rumah Jenny, aku mengalami susah tidur dan aku juga menderita kecemasan. Jenny secara teratur mengantarku menemui terapis dan minum obat untuk depresi.

Seiring berjalannya waktu, aku lebih percaya diri. Di sekolah aku mulai berteman dengan beberapa orang, aku juga punya pacar pertama. Aku mendapatkan pekerjaan paruh waktu di toko cokelat Godiva. Selain itu aku juga disibukkan dengan kegiatan sosial. Aku juga mengajukan diri untuk menjadi penasihat di sebuah kamp untuk anak-anak yang memiliki masalah dengan rasa percaya diri mereka.

Sementara itu, Ibrahim dan Motelib, mereka menghindari persidangan. Pada saat sidang hukuman akan dijatuhkan, aku duduk dengan gelisah di ruang sidang mendengarkan permohonan belas kasihan mereka pada hakim. mereka beralasan bahwa semua yang terjadi adalah karena ketidaktahuan mereka pada hukum, dan mereka juga bilang bahwa mereka masih punya tanggungjawab.

Tapi apa yang diucapkan motelib benar-benar membuatku marah. dia berkata pada hakim jika dia memperlakukan aku sama seperti dia memperlakukan aku saat masih di Mesir. Dia bilang jika aku mau mendekat dan mengatakan padanya jangan melakukan semua itu padaku, dia akan merubah sikapnya.

Aku meminta untuk berbicara di pengadilan. Kukatakan pada hakim bahwa Motelib adalah wanita dewasa, jadi aku yakin dia tahu mana yang benar dan mana yang salah. Aku seperti bukan apa-apa saat bersama mereka. dan yang mereka lakukan padaku, akan sangat sulit untuk aku lupakan, karena luka itu sangat membekas di benakku.

Dan hasil keputusan hakim, adalah Ibrahim mendapat pengurangan tiga tahun penjara dan Motelib mendapat 22 bulan kurungan. Pasangan itu diminta untuk membayarku $ 76.137 untuk semua pekerjaan yang aku lakukan. dan saat hukuman penjara mereka berakhir, mereka akan dideportasi ke Mesir.

Aku tidak bisa menahan perasaan bahagiaku. Karena sangat senang, aku merayakannya dengan pergi berbelanja gaun untuk aku pakai ke pesta dansa di sekolahku. Aku juga menggunakan sebagian uang restitusi yang aku dapat untuk membeli laptop, kamera digital, dan Nissan versa baru, dan aku memasukkan sisanya untuk dana kuliah.

Dan cita-citaku di masa depan adalah aku ingin menjadi seorang perwira polisi. Supaya aku bisa membantu orang lain. Suatu hari aku juga ingin kembali ke Mesir, mengunjungi saudara-saudaraku. Untuk saat ini aku sedang ingin menikmati hidupku sebagai remaja Amerika, dan aku masih belum percaya jika harapanku menjadi remaja Amerika biasa akhirnya terkabul.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here