Aku Dihina dan Direndahkan Mantan Pacarku Karena Aku Miskin, Kemudian Takdir Berubah

0
58

Hai, namaku Ros. Umurku 27 tahun. Sama sepertimu aku pernah mengalami masa pubertas. Masa-masa labil, masa-masa ngalamin cinta monyet.

Aku pertama kali pacaran, umur 16 tahun. Hehe, kecil banget ya? udah ngerti pacaran lagi.

Aku ketemu pacarku waktu masih SMA. Seneng banget rasanya punya pacar. Apalagi dia tuh baik banget sama aku. Suka bantuin aku ngerjain PR, nggak melulu dia sih yang bantuin aku, kadang kami gantian gitu.

Dia pacar yang pengertian banget dan selalu mendukung apapun yang aku lakuin selama itu positif. Kami benar-benar berjuang sama-sama dari nol. Orang-orang bilang kami pasangan yang keren dan saling melengkapi. Aku seneng dong, banyak yang bilang gitu. Aku jadi makin sayang sama pacarku. Apalagi di sekolah, kami sering dijadiin couple goals sama orang-orang.

Hubungan kami benar-benar tanpa masalah. Bahkan selama ujian kelulusan aku dan dia saling support. Ah, pokoknya indah banget deh kisah cintaku masa SMA tuh.

Setelah kami lulus kami masih harus berjuang  masuk ke universitas terbaik. Aku dan dia belajar mati-matian supaya bisa masuk ke universitas yang kami mau. Sayangnya, kami harus berpisah, karena beda universitas. Terpaksa deh, kami LDR-an. Tapi kami tetap saling support satu sama lain.

Yap, hubungan kami memang masih terus berlanjut. Aku sampai berpikir, mungkin kami memang ditakdirkan untuk bersama.

Sampai suatu hari, dia ngomong sesuatu yang nggak enak banget untuk aku dengar.

Hari itu, kuliahku udah selesai, kebetulan juga si dia pas lagi jam kosong. Kami selalu berusaha meluangkan waktu untuk bertemu. Biasalah, ngobrol-ngobrol santai. Karena kata orang-orang pasangan LDR itu harus sering-sering komunikasi, selain mencegah perasaan curiga juga untuk menjaga agar perasaan cintanya enggak luntur.

Aku janjian sama dia di sebuah warung pinggir jalan. Sambil nunggu dia, mataku ngelihat-lihat mobil-mobil yang terparkir di depan gedung perkantoran. Sebuah mobil merah merk Volkswagen. Pertama kali lihat aku benar-benar suka sama mobil merah itu. Mobil itu sukses menjadi daftar keinginanku nanti jika aku sudah lulus dan mendapatkan pekerjaan yang aku inginkan.

Saat pacarku datang, aku langsung mengungkapkan keinginanku membeli mobil impianku. Dan tahu responnya? Serius, nyakitin banget. Katanya gini ‘keluarga kamu nggak bakal bisa beli mobil itu. Itu tuh mobil mahal banget’, sumpah ya itu mulut kok minta di ospek banget.

Tapi, aku nggak marah. Aku mencoba untuk biasa aja. masak gara-gara dia bilang gitu, aku langsung ngambek? Aku anggap omongan dia sebagai angin lalu. Tapi tetep aja sih mbekas banget.

Pertemuan kami selalu menyenangkan. Membahas apa saja yang terlintas di depan mata, kadang juga sama-sama ghibah-in dosen atau teman yang nyebelin.

Kukira hubungan kami yang udah manis banget itu, bakal berlanjut terus. Tapi, perkiraanku salah. Ternyata hubungan kami mulai bermasalah sejak kami  kuliah. Aku dan dia kuliah di tempat yang berbeda, ternyata perbedaan kampus kami malah menimbulkan masalah. Aku memang bisa setia sih, tapi dia enggak. Dia selingkuh di kampusnya. Sakit banget hatiku waktu dengarnya, aku udah mati-matian jaga hati, dia malah nyelingkuhin aku! Tapi sayangnya, hubungan dia dan selingkuhannya berakhir kandas. Selingkuhannya pilih menikah dengan orang lain. Kasian banget dia.

Mungkin karena merasa gagal dengan hubungannya, dia balik mencari aku. Awalnya aku ogah-ogahan dong, tapi emang dasar akunya udah cinta mati sama pacarku, waktu dia ngajak balikan, aku iyain tapi aku ngajuin syarat dia nggak boleh selingkuh lagi.

Dia nyanggupin. Dan hubungan kami berlanjut lagi.

Tiba saatnya dia menunjukkan tanda-tanda keseriusan, dia mau ngenalin aku ke keluarganya. Aku seneng dong, dia mulai serius gitu. Tanpa pikir panjang aku iyain aja, terus aku bilang tentuin aja kapan dia mau ngajak aku ke rumahnya. Aku terlalu antusias sekaligus deg-degan.

Hari itu pun tiba.

Mama pacarku, baik banget responnya ke aku. Percaya diriku naik sedikit demi sedikit. Tapi, itu tidak bertahan lama, rasa percaya diriku langsung anjlok seketika saat aku dikenalkan dengan saudara perempuannya. Sumpah ya, kata-katanya tu pedas banget, kayak bon cabe.

Saudara perempuan pacarku bilang gini, ‘Kamu Ros yang miskin itu ya?’

Senyum yang aku pasang sedikit demi sedikit memudar.

Terus dia juga bilang gini ‘kamu tu gak setara sama keluargaku. Kita beda kasta.’

Ya ampuuunn.. emangnya aku bisa milih apa mau lahir dari keluarga yang kayak gimana?

Tapi demi pacarku, aku kuat-kuatin.

Hubunganku tetap berlanjut, tapi hubungan kami makin memburuk. Pacarku pernah pinjam uang dan maksaa banget minta dibeliin tiket bus.

Kayaknya hati aku emang diciptakan untuk tahan rasa sakit, karena setelah aku telusuri uang yang pacarku pinjam dariku bukan ia gunakan untuk kebutuhan kuliah tapi untuk berselingkuh di belakangku.

Langsung aja aku minta putus. Enak aja, udah aku dihina sama keluarganya eh dia mau nyelingkuhin aku.

Tentu saja nggak ada cewek yang baik-baik aja sehabis putus dari pacarnya, apalagi kalau udah pacaran bertahun-tahun, move on-nya pasti susah. Tapi aku berusaha keras untuk terus bergerak maju. Aku fokus dengan kuliahku dan berambisi mengejar karirku.

Putus dari mantan pacar, bukan berarti aku langsung bebas dari bayang-bayang keluarganya. Mamanya sempat nelpon aku untuk balikan lagi dengan anaknya. Mama mantan pacar bilang gini ‘aku mau nunggu masa depanmu sebagai pegawai pemerintahan.’

Eh belum selesai dia ngomong tentang masa depanku dan hubunganku dengan anaknya, mendadak mama sang mantan berubah pikiran sendiri, ‘ini emang keputusan terbaik yang pernah tante harapkan’

Emak-emak labil, batinku.

Belum cukup mamanya, adik sang mantan ikut-ikutan menerrorku. Dia nerror aku via facebook, seperti yang dulu ia bilang padaku bahwa aku tidak selevel dengan keluarganya.

Dalam hati aku berjanji bahwa keluarga mantan tersayangku itu akan menyesal dan menarik ucapan mereka.

Aku benar-benar bekerja keras selama 5 tahun. Selama 5 tahun itu pula aku tetap melajang. Bukan karena aku belum move on, tapi karena aku ingin fokus dengan semua impianku. Aku harus membalas dendam dengan cara yang elegan.

Dan here i am.  Aku berhasil menjadi Financial Consultant.

Gaji yang aku dapat dari menjadi seorang Financial Consultant lebih dari cukup. Dari uang yang berhasil aku kumpulkan, aku bisa membeli rumah yang lebih baik, membeli mobil, melunasi hutang-hutang keluargaku, dan membeli beberapa tas bermerk yang dulu aku nggak bisa beli.

Dear, mantan…

Kamu benar mengatakan bahwa aku nggak mampu beli Volkswagen. Tapi sekarang aku punya Mercedes.

Terima kasih, berkat kamu dan keluargamu yang merendahkanku, sekarang aku begini. Aku memaafkanmu, tapi aku nggak akan pernah lupain apa yang udah kamu dan keluargamu lakuin ke aku.

Aku bangga dengan diriku, bukan bangga dengan apa yang sudah aku punya sekarang.

Percaya padaku, saat kita jatuh, bangkitlah agar kita menjadi kuat. Jangan jadi orang yang lemah, karena itu akan dijadikan alasan orang lain untuk menertawakan kita.

Dari mantanmu yang dulu kamu sakiti.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here