Aku Diceraikan Suamiku, Setelah Dia Berhasil Mendapatkan Tandatanganku

0
21

Pernah nggak kamu ngalami satu hal yang nggak pernah terlintas di pikiranmu bakal terjadi, tapi ternyata malah terjadi? Terus gimana perasaanmu?

Oke, aku singkat aja ya. Aku mau ceritain sesuatu yang berhasil bikin perasaanku nano-nano.

Awal aku kenal sama suamiku, panggil aja Iyan, bulan September tahun 2017. Aku kenalan sama dia lewat seniorku di kampus. Kata seniorku, Iyan ini teman seangkatan dia. Menurutnya, Iyan itu laki-laki baik yang sedang serius cari pasangan hidup. Aku sih, iya iya aja waktu seniorku bilang gitu, karena aku ini kebetulan type orang ekstrovert dan sangat senang berteman dengan banyak orang.

Hari demi hari, hubungan kami makin intens. Kesibukanku cukup padat dari kuliah, menjadi aktivis sosial, aku juga seorang travelblogger. Dan Iyan selalu ngikutin semuakegiatanku, dia selalu setia nemenin.

Iyan ini orangnya nggak banyak ngomong, tapi kalau udah ngobrol jadi asyik dan nyambung. Dia juga tipikal orang yang teliti juga cerdas, jadi semua yang ada di aku nggak pernah lepas dari perhatiannya.

Iyan suka ngajakin aku ke tempat-tempat yang menurutku sangat pricey dan kami sama-sama suka nonton film yang lagi hits di bioskop.

Sebenernya, aku agak kurang enak tiap diajak jalan sama Iyan karena tiap jalan, aku tahu dia ngeluarin duit yang nggak sedikit. Apalagi aku ini biasanya jajan di warteg, kenal Iyan aku jadi sering jajan di resto yang sekali makan bisa langsung habis ratusan ribu. Dan kalau aku gantian mau bayari dia, dia selalu nolak. Waktu aku nolak ajakan dia buat jalan bareng, dia langsung sedih gitu, aku jadi nggak enak sendiri dan ada rasa takut ngecewain dia.

Karena makin lama makin dekat, kami mulai saling membuka diri. Jadi Iyan ini udah jomblo 4 tahun, pacaran terakhir berjalan 9 tahun dan berakhir gara-gara pacarnya yang selingkuh. Sedangkan aku sendiri, aku juga jomblo udah 4 tahun, bedanya aku putus karena emang udah nggak cocok dan aku yang nggak bisa menjalani hubungan jarak jauh dengan mantan pacar.

Lama-lama, aku jadi tertarik sama Iyan. Dan aku rasa dia juga ngerasain hal yang sama. Lalu di hari ulangtahunku, dia nyatain perasaan, karena aku ngerasa Iyan adalah orang yang tepat buatku, aku terima dia jadi pacarnya. Kami jadian tepat di hari ulangtahunku. Tapi, 2 minggu kemudian dia bilang sesuatu yang bikin aku kaget.

Dia mau nikahin aku.

Wah, kok cepet banget ya? Aku masih kuliah, belum kerja dan aku juga baru kenal sama dia dalam hitungan bulan. Masak secepat itu? Pikirku gitu.

Karena bingung harus ngomong apa, aku bilang ke dia buat nemuin ayahku.

Dia beneran menemui orangtuaku, dan orangtuaku juga setuju. Setelah itu hubungan kami berlanjut ke pertemuan dua keluarga, kedua orangtua kami sepakat untuk menikahkan kami 3 bulan kedepan, tapi berhubung aku ada KKN satu bulan maka diundur jadi 4 bulan.

Selama KKN aku dan Iyan rajin saling berikirm kabar lewat chat dan kami juga sering video call-an. Sesekali dia juga jenguk aku di lokasi KKN, padahal buat menuju tempat KKN dia harus melewati hutan-hutan gelap yang waktu itu juga sering terjadi hujan deras dan berpetir.

Hatiku trenyuh liaht perjuangan dia waktu itu, dan itu bikin aku makin sayang sama dia.

Sebulan setelah KKN, kami menikah, aku sangat bahagia, aku sangat senang bisa menikah sama Iyan. aku cinta dia, aku suka meluk dia, aku suka nyubitin pipinya dan aku juga suka ngusap-ngusap kepalanya, aaaaaahhh pokoknya aku waktu itu bener-bener ngerasa jadi orang paling bahagia sedunia.

Yaaah, walaupun ada hal-hal menyebalkan yang terjadi, kayak sikap ibunya yang sangat tidak baik sama keluarga besarku. Aku mencoba buat bersabar aja sih, karena aku sayang banget sama Iyan dan aku benar-benar nggak mau kehilangan dia.

Setelah menikah aku tinggal di rumah orangtuanya, padahal sebelum menikah dia ingin mengajak aku hidup mengontrak, tapi setelah akad nikah dia malah ngajak aku tinggal di rumah mertua. Aku udah nolak, karena aku mau hidup mandiri terpisah dari orangtua, tapi karena Iyan janji ini hanya sementara dan kami akan pindah 3 bulan kedepan, jadi aku setuju-setuju aja.

Aku hidup bahagia sama Iyan. Aku sering masak buat dia, dia bilang dia mau makan apa aja yang aku masak. Ucapan dia jadi bikin aku makin semangat buat eksplor masakan baru setiap hari. Aku juga seneng banget lihat ekspresi lucunya waktu makan.

Dua bulan setelah menikah, aku hamil. Aku sangat kaget, kok cepet ya? Saking herannya aku, aku sampai nggak tahu harus bereaksi seperti apa, bahkan Iyan sampai mikir kalau aku itu nggak senang, padahal bukan karena itu, tapi karena aku terlalu shock. Secepat ini?

Iyan waktu itu menenangkan aku. Dia bilang kalau dia mau diajak kerja sama ngasuh anak. Dia bilang kayak gitu sambil cium keningku.

Diperlakukan seperti itu bikin aku makin cinta sama dia dan aku sadar kalau aku sangat sangat sangat cinta sama dia. Aku ngerasa kalau kehamilanku ini adalah persembahan terbaik yang bisa aku kasih buat suamiku.

Di sisi lain, aku makin nggak dianggap sama ibu mertua. Dia pikir aku ini dari keluarga yang nggak sepadan sama dia, jadi dia pikir aku nikah sama Iyan itu cuma buat menguasai hartanya.
Bener-bener pikiran yang sangat jahat.

Padahal selama nikah sama Iyan, dia nggak pernah menyerahkan gajinya padaku secara full untuk aku kelola. Aku nggak tahu gaji itu larinya kemana, Iyan nggak pernah ngajak aku diskusi, kalau aku tanya dia pasti marah dan daripada dia marah aku milih diam aja karena aku ingin kami selalu mesra tiap hari.

Selama aku hamil, ibu mertua nggak pernah nanyain keadaanku, dia nggak pernah nanyain aku apakah aku mules atau ngidam. Seperti yang udah-udah aku harus bersabar karena cintaku pada Iyan kelewat besar.

Tibalah waktunya aku melahirkan. Anakku perempuan, dia mirip banget sama papanya. Saking miripnya, orang-orang yang datang menjenguk bilang kalau wajah anakku 99% itu wajah suamiku. Aku juga terharu banget waktu ngelihat suami mengadzani dan menggendong bayi kami semalaman.

Karena ada indikasi ketuban pecah, aku melahirkan secara sesar. Gara-gara itu keluargaku shock. Karena menurut mereka, keluarga besarku nggak ada yang melahirkan sesar, semuanya normal. Mereka mulai mencium ada yang nggak beres terjadi padaku. Mereka menanyakan apakah aku mengalami stress dan depresi berat. Aku nggak menjawab pertanyaan mereka, karena aku bingung harus jawab gimana.

Sampai tiba saatnya aku untuk pulang, aku akan kembali ke rumah mertuaku.

Sepulang dari rumah sakit, aku yang dibentak-bentak karena ASI-ku yang belum keluar lancar dan bayiku yang nangis terus. Ibu mertua bilang kalau aku nggak becus. Sambil nangis aku berusaha sekuat tenaga buat pumping.

Terus waktu bayiku berumur 6 hari sering mengalami gumoh dan aku sering teriak panik lapor suami. Tahu apa yang dilakuin mertuaku? Dia ngelabrak aku habis-habisan terus pintu kamarku dibanting. Ditambah lagi suami lebih sering masuk malam.

Tapi… meskipun suami tahu gimana perlakuan ibunya padaku, dia nggak pernah berusaha buat melindungiku. Dia diem aja. Dia menganggap apa yang dilakukan ibunya itu benar. Aku nggak kuat lagi.

Aku minta Iyan buat nganterin aku dan anakku ke rumah orangtuaku dan aku nyuruh dia buat cari kontrakan.

Iyan setuju.

Tapi ternyata… selama aku tinggal bareng orangtuaku, Iyan seperti nggak niat pindah dari rumah orangtuanya. Dia ogah-ogah-an cari kontrakan dan rumah, orangtuaku sampai membantu carikan dan menemukan harga yang cukup murah dekat rumahku, eh Iyan malah cari kontrakan di tengah hutan dan menolak tinggal dekat rumah orangtuaku, alasannya nanti aku malah nggak bisa hidup mandiri kalau dekat orangtua.

Aku cuma ngebatin, Ya Allah.. Kok dia nggak mikirin aku dan anaknya yang masih bayi? Ditambah aku juga dikatain pemalas sama dia, padahal bukan karena aku malas, tapi karena bekas luka sesarku masih sakit. Kalau udah nggak sakit, aku pasti ngerjain semua kerjaan rumah kok.

Aku bertengkar hebat sama dia. Dia maksa buat pindah ke tengah hutan yang jauuuuuuh dari peradaban manusia. Aku mulai ngerasa kalau dia sengaja melakukan itu, supaya aku marah dan dia bisa menuduh aku sebagai istri yang durhaka. Aku ngancam dia cerai kalau dia nggak bisa bertindak dan berpikir secara bijaksana.

Akhirnya dia diam dan nggak membahas lagi.

Beberapa hari kemudian, dia bilang padaku kalau dia mau pinjam uang 300 juta di bank, 200 juta buat kami bangun rumah dan 100 juta bakal dipakai ibunya, karena jaminannya pakai sertifikat tanah dan bangunan rumah ibunya.

Aku sangat keberatan. Aku nggak mau hidupku dan keluargaku terus diinjak-injak sama ibu mertua.

Tapi Iyan nggak nyerah, dia terus merayuku. Akhirnya aku kalah juga, aku minta restu ibuku dan akhirnya dengan berat hati aku mau tanda tangan surat perjanjian pinjaman tersebut. Cairlah uang 300 juta itu.

Tapi… setelah pencairan, dia diam aja. Sama sekali nggak bahas soal rumah yang kata dia akan dia bangun. Terus waktu aku tanya dia malah marah-marah, katanya aku nggak bisa apa-apa dan nggak tahu apa-apa.

Aku amat sangat marah sama dia dan ibunya. Aku menyuruh Iyan untuk menutup semua pinjamannya, karena yang kulihat uangnya nggak jelas dia gunakan untuk apa. Dan lagi 50% dari gajinya Iyan sudah dipakai buat ngangsur pinjaman itu. Aku dan anakku cuma dikasih jatah 1 juta untuk hidup sebulan. Parah nggak sih?

Aku berantem lagi sama Iyan. aku keluarin semua uneg-uneg-ku. Dan dia nangis di depanku, terus berkata “Kamu itu istriku, kamu juga ibu dari anakku, tapi keluargaku kok gitu… aku bingung…”

Meihat dia nangis kayak gitu, marah-marahku berhenti berubah jadi sedih. Terus aku meluk dia dan bilang kalau aku nggak akan ninggalin dia, seburuk apapun kondisinya.

Berbulan-bulan hari-hari kami penuh dengan pertengkaran, sampai pada bulan Mei 2019, satu hari sebelum bulan puasa, Iyan datang ke rumah orangtuaku dan bilang kalau dia mau ngembaliin aku ke orangtuaku.

What the…!

Lalu pada akhir bulan Agustus, ada surat datang dari pengadilan.

Aku nggak nyangka, semuanya berubah terlalu cepat. Padahal awalnya terasa indah dan terasa akan berlangsung selamanya tapi malah begini akhirnya…

Dan sekarang aku harus disibukkan dengan membuang-buang waktu buat mengurus ini itu demi mematuhi proses hukum.

Ya… Iyan akhirnya memutuskan untuk menceraikan aku.

Penyesalan selalu di belakang kan? Nggak mungkin ada di depan. Apakah aku menyesal pernah jadi istrinya? Jawabannya iya.. Harusnya dulu aku pelajari dulu latar belakang keluarganya, mungkin kalau aku tahu gimana watak ibunya, aku akan menolak dia nikahi.

Dan dari kisahku mungkin kamu bisa memetik pelajaran penting sebelum memutuskan untuk menikah, supaya kamu nggak mendapatkan penyesalan seperti aku.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here