Aku dan Keluargaku Bertahan di Tengah Lautan dengan Minum Darah Penyu

0
60

Ini adalah ceritaku saat aku dan keluargaku liburan dengan kapal pesiar.

Hari itu angin laut sudah mereda, tapi belum bisa dibilang cukup tenang, apalagi kapal yang kami tumpangi adalah jenis kapal layar. Jadilah kapal kami sedikit terombang-ambing karena angin.

Saat itu dari kejauhan aku melihat ada sesuatu yang bergerak menuju kapal.

Kapal yang aku tumpangi berjarak 200 mil dari sebelah barat Galapagos.

Dan itu adalah hari kedua perjalanan liburanku dari 40 hari menuju kepulauan Marquesas di Polinesia Prancis. Ini adalah bagian dari pelayaran keliling dunia yang dilakukan oleh keluargaku.

Beberapa anggota keluargaku sedang tidur dibawah geladak, setelah berjaga sepanjang malam.

Lalu pagi harinya, kami menyeduh kopi untuk memulai hari.

Saat kami sedang menikmati kopi sambil bersenda gurau, beberapa detik kemudian adalah peristiwa yang mengubah seluruh rencana hidupku dan keluargaku.

Saat itu aku masih berusia 18 tahun, aku dan adikku, Sandy, sedang berada di balik kemudi, aku bersama adikku melihat sirip segitiga paus pembunuh sedang berputar-putar di sekitar kapal kami.

Aku langsung mengambil alat pancing, karena aku pikir, akan ada cumi-cumi besar. Dan aku juga berkata pada adikku, bahwa ada banyak ikan-ikan besar di sekitar sini.

Karena dimana ada cumi-cumi pasti ada paus.

Belum sempat kami menarik tali pancing kami, tiba-tiba ada sebuah benturan. Aku dan Sandy kaget. Benturan terjadi sebanyak tiga kali berturut-turut.

Layar kapal kami terangkat ke udara, dan para penghuni kapal terhempas.

Aku mendengar ada bunyi retak yang sangat keras yang aku yakini sebagai suara lunas kapal telah patah.

Lunas adalah sepotong kayu yang membentang di sepanjang dasar kapal, dengan panjang 0,9 m dan lebar 0.3 m.

Kupikir, kapalku pasti akan kandas.

Karena saat itu aku merasa kapal kami telah menghantam dasar, entah bagaimana, padahal kami berada di laut dalam. Karena aku tidak tahu penjelasan lain tentang apa yang sedang terjadi. Aku melihat ke bawah palka dan berteriak pada ayahku “Ayah, apakah Ayah baik-baik saja?” dan yang aku lihat, air sudah merendam pergelangan kakinya.

Sementara itu aku melihat warna laut yang berubah merah, aku yakin itu adalah darah paus yang mengalir ke laut karena kepalanya terluka.

Dan paus itu adalah paus yang paling besar di antara tiga paus.

Dalam hati aku bertanya-tanya, apa yang membuat paus-paus itu menyerang kapal kami? Apakah para paus berpikir bahwa kapal kami adalah paus pejantan yang lain dan kemudian wajib mereka serang? Aku tidak tahu. Tapi aku menganggap tabrakan ini sebagai suatu kebetulan yang aneh.

Setelah itu aku mengecek para penghuni kapal, ada 20 orang yang selamat. Kami berlarian berusaha menyelamatkan diri.

Ayahku adalah pelaut ulung yang berpengalaman, saat detik-detik terjadi tabrakan dia meminta semua keluarganya untuk meninggalkan kapal.

Dia menyalakan radio untuk mengirim sinyal ‘SOS’ sementara ibuku, mengumpulkan persediaan darurat kami.

Aku menatap mereka berdua. Aku merasa ini seperti mimpi.

Kuperhatikan ayahku butuh waktu beberapa menit untuk menyalakan radio. Dan setelah itu, kapal benar-benar tenggelam.

Kapal kami dilengkapi dengan rakit tiup dan perahu kayu berukuran 3 meter.

Aku mendorong keduanya ke samping dan mengikatnya bersisian sebelum kedua benda ini tersapu dari geladak kapal.

Dalam peristiwa ini, aku terus berpikir bahwa ini adalah caraku akan mati. Aku akan dimakan oleh paus pembunuh.

Aku juga terus melihat kakiku untuk melihat apakah kakiku masih berada di tempatnya. Karena konon katanya, kita tidak dapat merasakan gigitan paus, dan saat sadar tiba-tiba kita sudah kehilangan dua kaki kita. dan saat mataku menatap dua kakiku, setidaknya ini bisa membuatku sedikit lega. aku masih punya kaki.

Salah seorang kru kapal bernama Robin, dia adalah pemuda yang ikut dalam perjalanan kami, dia sedang tidur setelah jaga malam saat kapal kami mulai tenggelam.

Dia melangkah ke rakit karet kami dengan gugup. Satu sisi rakit masuk ke dalam air dan tak lama kemudian tenggelam. Dan rakit itu mengambang tepat di bawah permukaan, tidak dapat digunakan.

Akibatnya, ada tujuh orang penghuni kapal tidak punya pilihan lain, selain berdesakan dalam kapal kecil yang seharusnya berkapasitas enam orang.

Dan di kapal itu mereka bertahan hidup sambil terapung-apung di lautan.

Dan inilah definisi bertahan hidup sebenarnya dimulai. keluargaku perlu membuat rencana rencana.

Orang bisa bertahan hidup tanpa oksigen dalam hitungan menit, orang masih bisa bertahan hidup dalam suhu ekstrem dalam hitungan jam, orang masih bisa bertahan hidup tanpa cairan hanya bisa bertahan beberapa hari, dan tanpa makanan beberapa minggu. Itu adalah penjelasan berapa lama waktu yang dibutuhkan manusia untuk bertahan hidup menurut ahli fisiologi bernama Tipton.

Dan kami sekeluarga termasuk beruntung, kami tenggelam di daerah tropis. Karena suhu laut yang tidak terlalu rendah tidak akan terlalu berkaibat fatal untuk kami.

Setidaknya, kami sekeluarga tidak perlu mengkhawatirkan soal oksigen dan suhu untuk kelangsungan hidup kami.

Tapi, lokasi kami di daerah tropis juga mulai menjadi masalah, karena suhu panas di daerah tropis memicu tubuh kami untuk terus berkeringat, dengan berkeringat itu sama artinya kami kehilangan banyak cairan.

Dan menurut Tipton, untuk kelangsungan hidup harus ada keseimbangan, khususnya keseimbangan cairan, ternal dan energi.

Kami meminimalkan kebutuhan atas air dengan cara beraktivitas saat suhu tidak terlalu panas. Karena pada dasarnya kami harus menghindari keadaan memproduksi keringat.

Tapi, dalam keadaan cuaca panas, terapung-apung di tengah lautan yang sudah jelas dikelilingi oleh air menggoda kami untuk mendinginkan tubuh dengan cara melompat ke laut.

Tapi, aku tahu itu tidak mungkin kami lakukan. karena hal tersebut harus kami hindari. Kenapa? Karena kulit yang terkena garam akan mengurangi kelembaban dan hal ini akan memicu iritasi.

Jadi untuk sekedar menghilangkan niat melompat ke laut, kami hanya mencelupkan tangan kami ke laut. Dan rasanya lumayan menyegarkan.

Rakit kami bergerak pelan semakin jauh ke laut terbuka. Dan setelah kami sekeluarga sudah merasa aman dari bahaya, keluarga kami mulai menyusun tentang penyelamatan diri.

Kami memutuskan untuk bergerak ke arah utara, karena lebih dekat ke garis khatulistiwa, daerah yang tidak berangin.

Bagian wilayah laut ini adalah tempat dimana angin utara dan angin selatan bertemu, dikenal karena airnya yang tenang dan angin yang kecil.

Dan kondisi seperti itu sangat menarik untuk keluargaku.

Kurangnya angin menjadikan laut wilayah ini ideal untuk bertahan hidup.

Garis laut di sekitar khatulistiwa bisa saja mencapai suhu 35 derajat celcius sepanjang tahun. Kelembaban dari permukaan laut naik yang secara vertikal di daerah itu sebelum mendingin dan kembali ke laut sebagai hujan.

Dan keluarga kami tahu ada hujan di sana, setelah berlayar melewatinya dalam perjalanan ke Galapagos.

Awan petir di sana menjadikan tempat itu mengerikan untuk para pelaut yang terjebak, tapi tempat itu masih bisa membuat kita tetap hidup.

Kami berencana untuk mendayung ke tengah samudra pasifik, menyimpan air dan kemudian kembali ke amerika mengikuti arus.

Kami telah berlayar ke South Equatorial Current yang mengarah ke barat.

Tetapi antara garis khatulistiwa dan lokasi kami sekarang, ada arus yang berlawanan ke arah timur.

Jadi kami mengira-ngira, arus itu akan membawa kami kembali ke benua Amerika dalam 72 hari.

Rute itu akan membawa kami melalui jalur pelayaran kapal dari Amerika menuju Australia dan Selandia Baru, itu akan meningkatkan peluang kami untuk diselamatkan.

Pada hari keenam, pada jam 10, kami melihat ada sebuah kapal, kira-kira 3 mil jauhnya dari kami.  Dan kami berharap kami bisa mendapatkan keberuntungan.

Ayahku menembakkan dua suar tangan dan tiga suar parasut, dan menyisakan satu suar tangan cadangan. Tapi, sayangnya kapal itu tidak pernah berbalik ke arah kami.

Itu adalah momen yang menyadarkan kami semua. Saat itu kami sadar bahwa kemungkinan kami untuk diselamatkan sangat kecil. Dan itu mmembuatku berkecil hati. Menurutmu bagaimana perasaanku saat ini? Saat melihat kapal dan merasa akan selamat hari itu juga tapi ternyata kapal itu hanya lewat, bahkan melirik kami pun tidak.

Perjalanan kami di tengah lautan masih berlanjut.

Kami tahu perjalanan menyeberangi lautan untuk jangka waktu lama tidak akan mudah. Pertama karena kami butuh makanan.

Semua orang yang pernah diet tahu kalau awal-awal mereka mengubah pola makan akan terasa lapar, tapi lama kelamaan kita tidak merasa lapar lagi, apalagi kita tidak banyak bergerak.

Mungkin untuk dalam beberapa minggu kami bisa bertahan, tapi pelayaran kami akan berlangsung selama kurang lebih 72 hari, dan kami sekeluarga harus makan.

Untungnya, di Samudra Pasifik ada banyak makanan. Khususnya makanan yang mengandung protein, akan sangat mudah didapat. Keluargaku menangkap ikan terbang dan penyu dan mengeringkan daging di bawah sinar matahari untuk mengawetkannya.

Tapi menjelang minggu ketiga pakaian kami benar-benar sudah sangat rusak dan tidak bisa kami kenakan.

Jadi bisa dibilang kami setengah telanjang, agak mirip manusia gua. Bahkan kami juga menangkap ikan penyu dengan tangan kosong.

Tetapi, sayangnya protein bukanlah yang dibutuhkan tubuh kita saat kta kelaparan dan dehiddrasi. Karena ketika protein terdenaturasi menjadi asam amino, tubuh akan menghasilkan zat lain seperti amonia dan urea yang harus diencerkan dengan cairan, tapi tidak demikian dengan lemak dan gula.

Tanpa air yang cukup untuk kami minum, ikan berprotein itu pada akhirnya malah bisa menjadi racun untuk kami.

Tapi, penyu memiliki lapisan lemak di bawah cangkangnya, yang jauh lebih bermanfaat bagi tubuh saat bertahan hidup dan dapat dimakan kapan saja.

Dan keluarga kami makan sepotong daging tiga kali dan menyesap air tiga atau empat kali sehari.

Persediaan air bersih kami hanya 10.2 liter, tapi, untuk perjalanan 72 hari itu tidak akan cukup.

Dan cuaca panas yang awalnya menyelamatkan kami perlahan-lahan berubah menjadi musuh kami.

Keluarga kami hanya punya dua sumber air langsung lainya yaitu air hujan dan kondensasi.

Dengan kanopi di atas perahu, keringat dan uap air yang kami hembuskan akan mengembun di atasnya.

Air bersih menjadi masalah bagi keluargaku saat itu.

Kami sudah tiba di khatulistiwa tapi tidak ada hujan.  Kami menunggu sampai 3 hari, sambil sesekali melihat awan dari kejauhan dengan frustasi.

Dan solusi kami saat itu adalah minum darah penyu yang kami tangkap. Dan percaya atau tidak rasanya enak dan tidak asin sama sekali.

Rendahnya kadar air yang kami minum sekeluarga, lama kelamaan mulai berdampak pada tubuh kami.

Dan aku ingat, saat itu aku hanya buang air kecil sekali selama kami sekeluarga terapung-apung, dan cairan urinku sangat kental dan gelap seperti tar.

Saat kekurangan air seperti ini, tubuh kami mulai melakukan hal-hal aneh.

Seperti saat kami memegang penyu dan tanpa sengaja kami terluka, kami tidak mengalami pendarahan.

Ibuku, saat itu khawatir dengan kurangnya eksresi keluarga. dan kebetulan dia adalah salah satu orang diantara kami yang pernah melakukan pelatihan medis, jadi dia menyarankan kami semua untuk melakukan enema dengan air kotor di bagian bawah perahu dan beberapa tabung dari rakit karet. Enema adalah injeksi cairan ke dalam kolon melalui anus.

Air kotor itu merupakan campuran antara darah penyu, air hujan, dan air laut, yang sama sekali tidak bisa kami minum.

Kata ibuku, di usus besar sangat sedikit cairan yang diserap, sehingga efek teknik itu untuk rehidrasi akan terbatas.

Demi memenuhi kebutuhan cairan tubuh, kami mulai menyedot cairan tulang belakang kerangka ikan dan memakan mata ikan.

Saat seperti itu, aku paling senang saat meletuskan mata ikan. Mata ikan, walau kecil, dia mengandung sedikit vitamin C yang sangat dibutuhkan tubuh dan ada sedikit cairan juga.

Dan akhirnya, pada hari keempat, hujan turun. Kami sangat senang dan kami minum air sebanyak-banyaknya.

Tapi karena hujan itu, hampir semua daging membusuk, dan itu membuat kami hanya bisa memakan seadanya dan membuang sisanya.

Penyu muncul secara teratur sehingga kami punya persediaan daging yang stabil, dengan telur dan darah penyu kami bisa meredakan haus.

Panas terus-terusan membuat kami kehilangan cairan, lalu saat hujan masalah kekurangan cairan terpecahkan, tapi ketika hujan turun terus menerus kami mulai kelelahan karena harus bergantian menjaga perahu, sepanjang malam kami akan bergiliran sampai pada akhirnya ada yang pingsan.

Setelah perjalanan 21 hari, kami melihat bintang utara. Rencana kami berhasil. Aku perkirakan kami telah menempuh jarak 420 mil.

Dan di hari ke-38 kami melihat kapal kedua.

Ayahku menyalakan suar terakhir dan memegangnya sampai membakar tangannya. Tapi, kali ini kami beruntung, kapal itu berbalik.

Dan anehnya, mereka malah bertanya pada kami, apakah kami ingin diselamatkan. Tentu saja kami ingin diselamatkan. Rasanya aku ingin meneriaki mereka, jelas kami sangat ingin diselamatkan! Kami kehausan dan kelaparan!

Kami ditemukan oleh kapal nelayan jepang.

Kapal itu melemparkan tali ke rakit kami. Dan saat itulah aku benar-benar merasa benar-benar sangat lega dan merasa aman.

Dan hal pertama yang kuminta saat itu adalah secangkir kopi. Dalam pikiranku itu adalah sebuah permintaan yang luar biasa. 38 hari terapung-apung di lautan tanpa minuman lain selain uap di kanopi dan air hujan, menurutku itu hal yang wajar. Tapi sayangnya, aku belum bisa meminumnya.

Kondisi kami sangat buruk. Hemoglobin kami turun drastis. Kami sekeluarga harusnya menjalani transfusi darah, tapi mereka hanya menyuruh kami minum air kelapa secara berkala.

Saat itu aku sangat ingin makan, tapi, kami dilarang. Kata mereka enzim pencernaan kami berkurang dalam jumlah yang sangat banyak. Dan jika kami memaksa untuk memasukkan makanan dalam jumlah besar ke perut, itu akan berakibat buruk.

Aku dan keluargaku sampai di Panama, dan pihak kedutaan Inggris menempatkan kami di hotel.

Di Hotel aku benar-benar merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya setelah 38 hari terapung-apung di tengah laut. Bahkan aku langsung memesan tiga porsi steak dan telur dari restoran hotel. Rasanya benar-benar sangat lezat.

Dan ketika suatu hari, saat kami berjalan-jalan ke pasar. Dan kami melihat penyu-penyu yang dibantai. Kami melihat steak penyu dengan mata yang berbeda. Saat itu yang kami katakan bersama-sama adalah “Ah, ini tidak seperti steak penyu kami, yang dimakan langsung dari cangkangnya.”

Itulah kisahku selama 38 hari di tengah lautan, mengerikan memang, tapi akhirnya aku bisa selamat dan menceritakannya padamu hari ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here