Aku Cuma Ngajak Makan di Pinggir Jalan, Tapi Dia Langsung Mutusin Aku

0
54

Kata orang masa PDKT adalah masa paling asyik. Tapi emang bener kok. Awal mula aku tertarik dengannya tuh semuanya kayak indah banget. Dia cantik, tentu saja. Baik, sudah pasti. Yang paling aku suka dari dia tuh, anaknya sederhana. Pertama kali lihat dia, kupikir dia tipikal perempuan yang tidak materialistis dan bisa menerimaku apa adanya.

Setelah usaha PDKT yang sudah maksimal, aku berhasil membuat gadis impianku itu juga membalas perasaanku. Kami pun jadian. Berhasil jadian dengannya menjadikan aku orang paling bahagia sedunia. Punya pacar cantik dan baik. Aku ajak makan dimana aja mau. Nggak komplain.

Duh, beruntungnya aku punya kamu yang menerimaku apa adanya , yang! Itu adalah kalimat yang aku ucapkan padanya saat kami sedang bersama. Tentu saja dia tersipu-sipu dan tersenyum. ‘Apaan sih kamu!’ adalah yang dia ucapkan saat aku meluncurkan kalimat-kalimat bucin. Tahu bucin kan? Bumbu micin, haha…

Kami sering menghabiskan waktu malam minggu bersama. Frekuensi kami makan di resto mewah dan warung pinggir jalan, lebih banyak di pinggir jalan. Bisa dibilang kami malah tidak pernah makan di resto mewah. Dan dia sama sepertiku, tampak sama-sama menikmati romantisme kami yang berbeda. Dalam hati aku berkata, aku ingin selalu membuatmu bahagia sayang.

Seiring berjalannya waktu, hubungan kami terus berlanjut. Dan waktu benar-benar mengubah semuanya. Dia mulai berubah. Waktu itu tiba-tiba dia berkata seperti ini ‘kenapa cowok lain ngasih pacar mereka smartphone mahal, Clutch Bag dan pakaian branded, dan kenapa kamu cuma ngajak aku makan di warung pinggir jalan dan beliin barang-barang di pasar malam.’ Mendengar dia berkata seperti itu hatiku mencelos kecewa. Kukira dia berbeda. Kukira dia benar-benar wanita sederhana yang mau menerimaku apa adanya.

Aku dan dia berdebat panjang. Kukatakan padanya bahwa benda-benda mahal bukan segalanya. Tapi dia tidak mau mendengar. Dia malah berkata ‘kita udahan aja’. Hatiku langsung sakit. Cuma karena aku ngajak makan di pinggir jalan dan nggak ngasih dia barang branded, dia memutuskanku seenaknya.

Tapi, aku terima keputusannya. Kami putus.

Sebenarnya aku memang berasal dari keluarga yang cukup berada, aku hanya tak pernah berkata jujur pada pacarku mengenai keadaanku yang sebenarnya. Karena kupikir untuk apa kekayaan orangtuaku aku umbar. Aku merasa aku tidak perlu memamerkannya. Jujur saja, aku tidak pernah khawatir dengan biaya hidupku, aku cuma ingin menikmati hidup dengan caraku, aku mau cari uang sendiri walaupun itu cuma pekerjaan biasa.

Aku sengaja tidak memberitahu pacarku tentang latar belakang keluargaku dari awal hubungan kami. Aku ingin kami menjalani kehidupan yang sederhana. Padahal sebelum masalah ini muncul, aku dan pacarku sudah biasa makan di warung pinggir jalan, nonton tv di rumah dan kadang-kadang aja pergi nonton film di bioskop.

Beberapa bulan terakhir ini dia memang agak berbeda, tapi aku tidak tahu apa yang membuatnya seperti itu.

Aku memang sangat sederhana dan kelihatan kayak butuh uang. Tapi aku mau melakukan apapun untuk membuatnya bahagia, tapi dengan cara yang sederhana. Mungkin penampilanku yang sederhana itu membuat pacarku berpikir aku adalah orang yang tidak punya uang.

Aku masih belum bisa menerima keputusan sepihak itu. Masak aku diputusin cuma gara-gara ngajak makan di pinggir jalan? Tapi mau bagaimana lagi, keputusan pacarku sudah bulat.

Tapi, aku meminta satu permintaan terakhir padanya.
“Mau minta apa?”
Pas bilang kayak gitu, suaranya ketus banget.
“Aku pengen makan bareng kamu buat yang terakhir kali,” kataku dengan nada memohon.
“Kemana? Warung pinggir jalan lagi? Apa sih enaknya makan di pinggir jalan?” dia masih ketus.
“Nggak… nggak. Aku nggak ngajak di pinggir jalan lagi. Aku masu ngajak kamu ke tempat yang oke,” aku memohon.
Setelah menatapku dengan penuh pertimbangan, mantan pacarku itu mau menuruti permintaanku.
“Ya udah, besok aku jemput,” kataku ke dia.
Dia cuma melengos.

Pada hari yang sudah kami tentukan, aku jemput dia. Duh, waktu lihat ekspresinya lihat aku bawa BMW, tatapannya tuh campur aduk. Antara ‘kok kamu punya BMW?’ atau ‘loh mobil siapa nih yang kamu pinjam?’ tapi juga kayak ‘kok kamu nggak bilang kalau punya BMW, kalau bilang dari kemaren kan aku nggak putusin’. Kurang lebih seperti itu ekspresi yang berhasil aku tangkap dari mukanya yang cantik.

“Ayo masuk. Kok diem?” aku buyarkan lamunan dia.

Setelah dia duduk manis, aku mulai menjalankan mobilku. Dia masih menatapku penuh curiga, tapi aku cuek sajalah. Aku berniat membawanya ke rumahku. Dia belum pernah aku ajak ke rumahku sebelumnya.

Sesampainya di rumahku, wajah terkejutnya semakin parah. Aku tidak bermaksud menyombongkan diri atau apa, tapi gambaran tentang rumahku adalah rumahku memang besar. Sangat besar. Ada banyak pelayan yang bekerja di rumah kami. Mereka berbaris rapi menyambutku.

Dan kebetulan orangtuaku sedang ada di rumah.
“Ma, Pa, kenalin nih. Teman terbaikku,” kataku ke orangtuaku.

Wajahnya sudah tidak terkejut lagi, tapi lebih ke ekspresi kecewa. Mungkin dia pikir, aku akan mengenalkannya sebagai pacarku, tentu saja tidak akan aku lakukan. Tapi ekspresinya cepat berubah, dia memasang senyum formal yang lebar di wajahnya.

Setelah memperkenalkan dia, orangtuaku dan aku mengajaknya masuk ke ruang makan. Disana, para pelayan juga sudah menunggu kami. Makanan-makanan lezat sudah terhampar di meja makan. Mantan pacarku menelan ludah. Dia mau makan enak ‘kan? Dan tidak di pinggir jalan, tapi kenapa sekarang wajahnya malah kecewa seperti itu?
Kami makan dengan tenang, kami menikmati makanan yang dihidangkan oleh para pelayan.

Tentu saja, setelah selesai makan, aku harus mengantarnya pulang. Sesampainya di rumah sang mantan pacar, dia sempat bilang begini ‘Maaf, aku nggak tahu…’
Kujawab saja, ‘nggak masalah. Aku nggak bisa memberimu kehidupan yang kamu mau.’

Dan kami berpisah. Itu adalah perpisahan terbaik yang ingin aku ciptakan. Kesannya mungkin aku agak jahat karena tidak jujur dari awal tentang siapa aku sebenarnya, tapi jika aku jujur aku tidak akan tahu sebesar apa ketulusan hati yang mantanku punya. Dengan begini aku jadi lebih mengerti siapa yang pantas untuk aku perjuangkan.

Aku ingin menyampaikan pada siapa saja yang mau mendengarnya bahwa cinta itu tidak bisa dinilai hanya berdasarkan materi saja. Dan bila kita selalu melihat ke atas, akan selalu ada yang lebih baik fisiknya dan materinya, tapi itu semua tidak sebanding dengan tulusnya cinta yang lahir dari hati.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here