Aku Capek-capek Kerja, Suamiku Dirumah Malah Asyik VCS-an Sama Cewek Lain

0
38

Akhir-akhir ini aku sering mengalami mimpi buruk. Aku sering terbangun tengah malam dan mendapati bantalku basah oleh keringat. Tubuhku penuh dengan keringat dingin.

Kata orang, kalau terus-terusan mengalami mimpi buruk bisa diartikan kalau aku sedang banyak pikiran.

Aku memang sedang banyak pikiran sih. Tapi aku tidak bisa membaginya dengan siapa-siapa, termasuk suamiku. karena, dialah penyebab aku mengalami mimpi-mimpi buruk itu.

Jadi, mungkin hari ini aku ingin membagi pikiranku padamu yang sedang mendengarkan aku.

Aku lahir dan besar dari keluarga broken home. Ayah ibuku bercerai saat aku masih SD. Rasanya tinggal dalam sebuah keluarga yang sudah tidak harmonis itu benar-benar nggak nyaman.

Setiap hari aku harus mendengar ayah ibu bertengkar. Aku kadang tidak tahu apa yang mereka ributkan. Tidak jarang aku melihat ayah memukul ibu. Dan ibu pasti akan menangis.

Baik ibu maupun ayah, mereka sama-sama merasa sudah tidak bisa hidup bersama. Jadi mereka memutuskan untuk bercerai.

Aku tidak ikut dengan keduanya, aku memilih untuk tinggal bersama nenekku. Kupikir itu adil untuk mereka.

Setiap bulan ayah dan ibu akan mengirimiku uang untuk memenuhi kebutuhanku.

Karena broken home, sejak aku kecil sampai aku dewasa aku tidak berani bermimpi dan berharap banyak membangun rumah tangga yang harmonis. Aku terlalu skeptis dengan pernikahan. Aku tidak tahu bagaimana caranya membangun sebuah kepercayaan.

Rasanya aku sangat sulit untuk percaya pada laki-laki.

Karena yang kubayangkan, jika aku percaya pada mereka dan memutuskan untuk menikah, aku akan mengalami hal yang sama dengan ibuku.

Pernikahanku akan penuh dengan pertengkaran dan ujung-ujungnya akan bercerai.

Saat  remaja aku tidak pernah pacaran, fokusku hanya sekolah dan sekolah. Walaupun aku bukan kategori murid pintar, nilai-nilaiku cukup memuaskan.

Lalu memasuki dunia perkuliahan, aku juga menjaga jarak dengan lawan jenis. Aku tidak berani menjalin hubungan dengan siapapun, meskipun aku tahu ada beberapa dari temanku yang punya niatan berpacaran denganku.

Iya, pikiran negatif tentang sebuah keluarga itu masih melekat kuat di otakku, sampai suatu hari aku bertemu dengan seorang laki-laki yang mengubah semua persepsiku tentang pernikahan.

Kami bertemu di sebuah job fair.

Setelah lulus kuliah, aku mulai mencari pekerjaan. Dan aku mulai mencarinya di acara job fair yang diadakan di kotaku.

Waktu itu banyak yang berdesak-desakan untuk memasukkan aplikasi lamaran.

Tengah hari saat cuaca panas dan sangat terik, aku dan seorang temanku duduk-duduk dibawah pohon sambil minum es teh.

Saat itulah dia datang, dia menghampiri aku dan temanku.

Dia mengajakku berkenalan dan dia meminta nomor whatsapp-ku. Awalnya kupikir, ya untuk tambah teman saja.

Tapi, komunikasi kami terus berlanjut secara intens. Dia rajin nge-chat dan menanyakan kabarku.

Aku sangat risih dengan perhatian itu. aku benar-benar malas untuk menanggapi sikap sok pedulinya itu. tapi, kalau aku cuekin, nanti dikira aku ini sombong.

Ah, sudahlah.

lalu, suatu hari dia mengajakku bertemu. Dia ingin mengatakan sesuatu.

baiklah, aku menerima ajakannya untuk bertemu. Kami bertemu di taman kota.

di taman, dia menyatakan perasaannya. Hah? Yang benar saja, bagaimana dia bisa suka padaku? dia bahkan jarang bertemu denganku.

lalu aku bilang padanya bahwa aku nggak percaya soal hubungan percintaan. Itu cuma menimbulkan rasa sakit.

Dia bertanya padaku, kenapa aku bisa sampai punya pikiran seperti itu.

Kujelaskan padanya dari awal, bahwa aku orang yang lahir dari keluarga broken home dan sudah tidak percaya lagi dengan sebuah pernikahan. Aku tidak punya mimpi dan harapan soal itu.

Dia memegang tanganku dan menatapku.

Dia bilang begini “plis percaya sama aku. aku akan bahagiain kamu”

Aku cuma diam. Karena kupikir dia cuma ngibul.

Jadi aku tidak ambil pusing dengan pernyataan cintanya.

Seiring berjalannya waktu, akhirnya aku diterima di sebuah perusahaan. Aku bekerja sebagai salah satu staff administrasi di sana.

Setelah beberpa bulan kerja, Riko, laki-laki yang dulu menyatakan cintanya padaku di taman masih gencar mendekatiku.

Dia terus menerus memberi perhatian padaku. mengirimiku makanan lewat Go-jek dan tindakan-tindakan aneh lainnya.

Diperlakukan seperti itu terus menerus, lama-lama aku luluh juga.

Mungkin dia memang benar-benar serius sama aku. kalau tidak nggak mungkin kan dia segitu niatnya deketin aku?

Jadi akhirnya, aku menerima dia.

Dia melamarku. Dan kami menikah. Untuk modal nikah, aku meminjam uang di perusahaanku. Ya, dia bilang dia belum punya cukup uang karena dia masih merintis usahanya.

Aku tidak apa-apa. kupikir untuk hidup berdua itu bukan masalah.

Saat ijab qobul, sedikit demi sedikit aku mulai percaya bahwa setiap orang berhak untuk bahagia. Berhak untuk membangun rumah tangga. Tidak terkecuali aku yang punya keluarga berantakan.

Setelah menikah, kami mengontrak rumah. Kami tinggal bertiga. aku, suamiku dan adik iparku.

Tapi sayangnya, belum lama membina rumah tangga, suamiku bangkrut.

Jadi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari menggunakan uang hasil kerjaku. Semua biaya hidup kami bertiga aku yang menanggung.

Jadi, setiap bulan aku harus mengeluarkan uang untuk bayar angsuran kantor, biaya makan, biaya listrik, dan biaya-biaya lainnya sementara suamiku menganggur.

Sebulan menikah, aku hamil. Tapi suamiku masih menganggur.

Kupikir mungkin ini memang ujian pernikahan kami. Ujian kami diletakkan di awal pernikahan.

Jadi setiap hari aku pergi bekerja dan suamiku tinggal di rumah, selama di rumah yang dilakukan oleh suamiku juga positif. Dia mengaji dan rajin shalat di masjid.

Tapi, saat usia kehamilanku masuk 5 bulan.

Aku menemukan sesuatu yang sangat menyakitkan.

Waktu itu menjelang shalat maghrib. Aku dan suamiku sedang bersantai  di kamar. Kami bercanda seperti biasa.

Lalu saat adzan mulai berkumandang, suami langsung bergegas ambil wudhu. Saat suami ambil wudhu, sepintas aku melihat ada chat yang masuk dari seseorang bernama dewi.

Saat itu HP suami tergeletak di atas nakas. Tapi aku diamkan saja. aku sangat percaya kalau suami tidak mungkin selingkuh, aku tidak meragukan kesetiaannya sedikit pun.

Lalu suami pamit langsung ke masjid dan dia bilang dia agak lama karena sekalian ngaji dan sholat isya, sedangkan aku sendiri, aku memang biasa sholat di rumah.

Saat itulah, selesai sholat maghrib, aku iseng buka-buka hp suami.

Siapa sih tadi yang chat?

Saat membuka hp-nya perasaanku langung hancur. Aku menemukan chat mesra antara dia dengan seorang perempuan bernama Dewi.

Isi chatnya pun sangat vulgar.

Suamiku mengungkapkan kalau dia sangat bernafsu pada dewi. Lebih jahatnya lagi, ternyata suami dan Dewi biasa melakukan VCS (video call sex) dengan Dewi.

Jadi, selama aku tinggal pergi kerja dia asyik VCS-an sama perempuan lain. Sementara aku? Aku banting tulang untuk menghidupi keluarga.

Kukira dia laki-laki yang baik dan setia karena setiap hari dia rajin menghabiskan waktu di masjid.

Aku mengelus perutku. Aku menangis sedih.

Kupikir, aku tidak akan bernasib sama dengan ibu. Kupikir aku akan punya sedikit harapan untuk hidup bahagia.

Ternyata nasibku sama buruknya dengan ibu.

Harapan dan mimpiku untuk memiliki keluarga yang utuh jadi runtuh. Dan harapanku satu-satunya adalah anak yang sedang dalam perutku. Bagaimanapun juga aku harus berusaha kuat untuk anakku.

Aku tidak tahu apakah aku akan berpisah dengan suamiku atau tidak, kalau aku berpisah dengannya anakku akan bernasib sama sepertiku tapi kalau aku terus bertahan dengannya aku tidak tahu gimana caranya bersikap biasa-biasa saja di depannya, karena hatiku udah hancur sehancur-hancurnya. Dia merusak semuanya. Aku benar-benar bingung.

Menurutmu apa yang harus aku lakukan? aku sangat ingin mengakhiri semua mimpi burukku.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here