Aku Bisa Mendengar Warna

0
29

Pernah dengar istilah sinestesia?

Kalau sudah tidak apa-apa, tapi kalau belum akan aku jelaskan apa itu sinestesia.

Sinestesia itu fenomena neurologis di mana otak menimbulkan beberapa persepsi berupa penglihatan, suara, ataupun rasa dari suatu respon indera. Wah kok bisa? Iya bisa, aku buktinya.

Aku adalah 1 dalam 2000 penduduk dunia yang mengidap fenomena neurologis ini.

Dulu waktu aku masih kecil, memandang langit adalah pengalaman yang berbeda bagiku. Dan aku sangat ingat momen waktu aku sedang duduk sendirian dan saat itu aku mendengar suara degup jantungku, bersamaan dengan itu aku merasa bahwa degup jantungku juga memunculkan warna dan warnanya adalah ultraviolet, sinarnya terang benderang di cahaya gelap.

Waktu itu, banyak pertanyaan yang muncul dalam kepalaku. Apakah aku seperti anak lainnya? Apa mereka juga bisa melihat warna suara sepertiku? Apakah aku normal? dan masih banyak lagi. Tapi aku hanya menyimpannya dalam hati. kupikir belum saatnya aku bertanya pada orang lain tentang apa yang sedang aku alami.

Aku takut disebut sebagai orang gila, aku yakin jika aku menceritakan apa yang aku alami, orang-orang tidak akan percaya, karena mereka pasti akan berkata ‘mana ada sih warna suara? Jangan ngaco deh’. Jadi aku menganggap apa yang aku alami sebagai sebuah lamunan atau halusinasi.

Semuanya masih terasa baru untukku yang saat itu masih anak-anak, aku tidak pernah menceritakan apa-apa pada orangtua atau keluarga dekat. Aku sering merasa malu dan berakhir dengan aku yang sering menghilang dan menyendiri saat ada kerumunan atau acara keluarga.

Tapi, aku sangat penasaran. Aku akhirnya memutuskan untuk mencari tahu, walaupun aku sendiri bingung harus mencari kemana. Karena aku yakin jumlah orang yang mengidap kelainan sepertiku hanya sedikit.

Karena frustasi setiap hari harus melihat warna suara dan tidak tahu apa yang sedang menimpaku, aku melampiaskan rasa frustasiku dengan bereksperimen dengan obat-obatan di usia yang sangat muda. Pada usia remaja awal aku sudah melakukan apa yang kebanyakan orang dewasa lakukan ketika mereka sedang berhadapan dengan masalah, aku mencoba mengisi kekosongan dan mempertanyakan jati diri.

Pernah suatu hari, waktu itu jam 12 siang, aku hampir mati karena keracunan alkohol yang parah. Dokter bilang aku sangat beruntung karena masih bisa diselamatkan. Dan kejadian ini membuat keluargaku khawatir sekaligus takut.

Sejak aku mulai memasuki dunia sekolah, aku sering merasa tersesat. Aku tidak pernah fokus di sekolah dan aku tidak pernah bisa menjelaskan pada mereka apa yang aku lihat. Menurutku sangat sulit menjelaskan pada mereka tentang apa yang aku idap, rasanya seperti menjelaskan terangnya dunia pada seseorang yang tunanetra sejak lahir.

Bahkan karena kelebihan itu, aku memilih untuk tidak menghadiri wisuda kuliah.

Semakin dewasa aku merasa hidupku semakin sulit. Kelainan ini seperti membatasi gerakku.

Tapi, aku tidak bisa diam saja tanpa tahu apa yang sedang menimpaku. Aku mencari tahu lewat internet. Saat mengetiknya di pencarian google, aku agak bingung, apa yang akan aku ketik untuk menemukan pencarian?

Agak lama aku terdiam di depan komputer karena bingung. Tapi, akhirnya aku mengetik asal saja ‘melihat warna suara’, setelah itu muncul beberapa penjelasan dari google apa itu.

Dan ternyata aku mengidap sinestesia. Untuk sementara waktu aku merasa lega, karena aku sudah tahu apa nama kelainan yang aku idap. Mungkin aku bisa mencari solusi atas kelainanku.

Ada beberapa jenis sinestesia yang ditampilkan google, dari semua itu aku tahu bahwa aku mengidap sinestesia ‘aneh’, jadi mungkin pengalamanku sangat berbeda dengan orang lain yang sama-sama memiliki gejala sinestesia yang lain. Bentuk yang dominan dalam kemampuanku adalah untuk mendengar warna. Ini dikenal sebagai chromesthesia, atau sinestesia suara ke warna. Pandanganku akan berwarna-warni jika mendengar banyak suara.

Dan jika aku kewalahan atau terlalu bersemangat, akan ada warna yang muncul di depanku. Jadi saat aku melihat sesuatu yang indah sambil mendengarkan musik yang indah, warna akan muncul, bergerak-gerak dan berputar-putar dalam irama. Seperti melihat api hijau, biru dan merah secara bersamaan.

Jadi aku anggap sinestesia yang melekat dalam diriku adaah semacam kenikmatan visual yang konstan, bahkan benda-benda paling polos pun bersinar seperti berlian atau kristal. Dan aku tidak bisa mengendalikannya sama sekali. Aku bahkan bisa melihatnya saat aku sedang tidur.

Aku pernah bermimpi yang berulang-ulang datang saat malam-malam dan hujan deras. Saat aku mendengar hujan deras, aku akan melihat formasi warna yang mengelilingiku, berdenyut seiring waktu dengan setiap tetes hujan.

Mengidap sinestesia adalah sesuatu yang sangat intim. Unsur-unsurnya itu bisa sangat seksual seperti perasaan yang luar biasa saat seseorang pertama kali jatuh cinta pada seseorang.

Tapi, jujur saja, aku menjelaskan semua itu padamu, mungkin ada sebagian darimu yang tidak paham dengan penjelasanku, karena kalian tidak mengidapnya. Tidak mungkin kan aku menggambarkan semuanya?

Tapi, untungnya aku bertemu dengan bibiku. Dia adalah orang yang menyelamatkanku dari rasa frustasi. Bibiku mengenalkanku pada dunia seni, kebetulan bibiku adalah seorang pembuat cetakan abstrak. Ibuku memajang karyanya di ssetiap ruangan rumah sejak aku kecil.

Oh, ya dulu waktu aku masih kecil, aku pernah di ajak ke salah satu pameran bibiku, saat itu aku mendengar suara-suara dari lukisan-lukisan itu.

Dan sekarang aku menemui bibiku lagi, mungkin dia pikir aku tertarik dengan dunia lukis. Tapi dugaannya itu benar, aku memang tertarik. Dan dia mendorongku untuk melukis. Dan aku sangat berterima kasih padanya, karena itu benar-benar mengubah hidupku. Karena itu adalah cara untukku mengekspresikan apa yang dapat aku lihat, dengar dan rasakan. Pelepasan abstrak dengan cara psikoanalitis dan begitu bebas.

Sayangnya, aku harus kehilangan bibiku sehari sebelum aku mulai kuliah seni, dia meninggal karena bunuh diri. aku tidak tau apa penyebabnya.

Setelah tahu kalau aku punya kondisi neurologis yang berbeda dari orang-orang kebanyakan, banyak hal mulai masuk akal bagiku. Hal sederhana seperti sakit kepala kadang disebabkan oleh kelebihan indrawiku, tapi sekarang aku mulai bisa menerimanya.

Saat aku mulai masuk dunia kuliah, salah satu dosenku sempat menyuruhku berhenti melukis abstrak dan melakukan pekerjaan yang lebih konvensional untuk mengatasi sinestesia. Tapi, aku tidak melakukannya, karena aku tidak mau terjebak dalam batas-batas konvensional mereka.

Dan beberapa tahun kemudian, setelah lulus aku memanfaatkan garasi rumahku sebagai ruang kerja.

Sekarang perasaanku benar-benar membaik, aku sangat berterimakasih dengan dunia seni, karena berkat itu aku merasa benar-benar bisa mengekspresikan diri. Sinestesiaku, visualisasiku, suara-suara yang kudengar, semuanya aku hidupkan di atas kanvas. Aku mendengarkan alunan musik dari warna lukisan. Percobaan itu meningkatkan pengalamanku dalam merespons sinestesia. Dan sekarang aku sanggup melihat warna-warna yang berseliweran di depan mataku.

Lukisan-lukisanku adalah wujud ekspresi yang sangat pribadi dari kondisi yang kumiliki. Aku mulai merasa bahwa sinestesia berdampak sangat luar biasa saat aku berhasil menampilkan hasil karyaku di depan umum.

Dan percaya atau tidak, baru-baru ini ada seorang perempuan muda yang menghubungiku, dia bilang melihat karya seniku di internet saat ia akan melakukan percobaan bunuh diri. dan saat melihat karyaku dia membatalkan niatnya. Padahal, saat perempuan itu membagikan pengalamannya saat itu aku sedang mengalami hidup yang berantakan.

Sekarang, umurku 21 tahun. pada akhirnya aku merasa sangat beruntung dapat hidup dalam kondisi mengidap sinestesia seperti ini, aku mengaggapnya sebagai saatu kelebihan yang langka, karena perbandingannya sangat sedikit di dunia. Aku malah merasa suram dan takut membayangkan hidup tanpa sinestesia. Aku hidup dalam warna, maka suatu hari nanti jika aku mati, aku akan mati dalam warna.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here