Aku Bingung Mengandung Anak Siapa

0
8

Hari ini, aku masih bimbang. Aku juga bingung. Ah, entahlah, aku bingung dengan apa yang sedang aku rasakan. Ini sulit untuk aku katakan. Tapi aku butuh pendapatmu.

Pertama-tama, kenalkan, namaku Inge. Umurku 26 tahun. Orang-orang bilang aku masih muda dan cantik.

Aku sudah menikah, aku menikah delapan tahun yang lalu. Bisa dibilang aku menikah muda. Jadi saat aku menikah, umurku 18 tahun, dan suamiku 32 tahun. selisih yang sangat jauh bukan?

Tapi, aku tidak peduli. Dia sangat menarik dan aku menyukainya.

Pertama kali bertemu dengannya saat aku sedang membantu ibuku bekerja di warung. Dia memesan makanan untuk makan siang, dan kebetulan yang menyiapkan adalah aku karena ibu sedang melayani pembeli yang lain.

Saat itu karena aku baru beberapa hari membantu ibu, aku masih belum segesit ibu. Tapi dia tetap sabar menunggu, huft, lumayan lah, kalau pembeli yang lain, sudah pasti aku bakal disuruh cepet-cepet.

Saat aku fokus menyiapkan makanan yang dia pesan, aku sempat melirik-lirik ke arahnya. Penampilannya rapi wajahnya juga ganteng tapi kok mau ya makan di warung biasa kayak gini? Itu adalah suara yang keluar dari pikiranku.

Mungkin dia sadar kalau aku sedang memperhatikan, dia tersenyum dan aku mengalami blushing-blushing norak. Ih apaan sih aku, dia kan seumuran sama om-om, masak aku blushing gara-gara disenyumin sama om-om?

Tapi, itu adalah awal dari perkenalanku dengan suamiku. Dia langsung menyatakan cintanya pada orangtuaku. Aku tidak tahu bagaimana dia bisa seyakin itu untuk menikah denganku, aku masih bau kencur, baru lulus sekolah, tapi kok dia udah main lamar-lamar gitu aja. dan lagi, kami jarang ngobrol, komunikasi kami hanya sebatas saat dia pesan nasi untuk makan siang.

Tapi kata ibu, dia orang yang baik dan mapan, jadi ibu merestui hubungan kami.

Dan eng ing eng, kami menikah.

Di hari pernikahan kami, semua orang mendoakan yang terbaik untuk kami. Dan wow, aku baru tahu kalau suamiku ini punya kembaran. Kakak kembarnya ini belum menikah. Dia menyalami kami berdua dan mengucapkan selamat.

Setelah menikah, hidupku berubah.

Aku tinggal serumah dengan suami di rumah mertuaku. Setiap pagi aku akan sibuk menyiapkan baju, membuatkan kopi dan menyiapkan sarapan untuk suamiku. Kata ibu begitu, layani suamimu agar dia selalu senang dan sayang padaku.

Dan sepertinya imej kalau tinggal bersama mertua itu buruk, tidak berlaku untukku. mertuaku sangat baik padaku. mereka memperlakukan aku seperti anak mereka sendiri.

Dan yang terakhir adalah kembaran dari suamiku. Dia benar-benar punya wajah yang sangat mirip dengan suamiku. Kadang saja aku pernah punya pikiran takut kalau aku salah suami. Hehew,

Tapi, tentu saja aku masih bisa membedakan yang mana suamiku.

Dia adalah kakak iparku, dia sangat baik padaku. semua keluarga dari pihak suami sangat menyenangkan.

Selama menikah dengan suamiku, aku tidak pernah mengalami masalah-masalah seperti kebanyakan pasangan yang sudah berumahtangga. Dia adalah suami yang sangat sempurna untukku, dia mencukupi nafkah lahir dan batinku.

Tapi, sejak pekerjaan suamiku mulai mengharuskan dia sering keluar kota menjadikan semuanya rumit.

Aku memang tidak punya masalah dengan suami dan keluarganya atau keluargaku, tapi masalah itu bermula dari diriku sendiri.

Suamiku yang sering pergi keluar kota mengatakan kalau ia sering dilanda perasaan khawatir saat harus meninggalkan aku sendiri di rumah, karena kebetulan aku dan suamiku sudah pindah ke rumah kami yang baru, kami mulai memisahkan diri dari keluarga.

Jadi dia mengatakan pada kakak iparku untuk menjagaku, maka saat dia pergi keluar kota, dia akan mengantarku ke rumah orangtuanya dan menitipkan aku pada kakak ipar dan orangtuanya.

Biasanya suamiku berada di luar kota selama berhari-hari. dan itu membuatku sedikit canggung saat tinggal bersama kakak iparku, rasanya aku seperti berada dekat dengan suamiku sendiri tapi aku tahu dia bukan suamiku.

Setiap pagi dia akan menyapaku dan menyuruhku untuk sarapan, menurutnya, dia harus memastikan aku sarapan, karena memang aku orangnya sering melewatkan sarapan.

Saat sarapan, ibu mertua akan mengajakku ngobrol dan kakak iparku akan menimpali.

Awalnya hubungan kami hanya sebatas itu. iya, sebatas itu. dia hanya menjalankan amanah adiknya untuk menjagaku dan memastikan bahwa aku baik-baik saja.

Tapi, lama-lama, kami sering menghabiskan waktu berdua.

Hari itu, aku sedang asyik menonton TV sendirian. Ibu mertuaku sedang berada di kamarnya di lantai dua, sedangkan aku menonton TV di lantai 1. Lalu kakak iparku mengejutkan aku dengan duduk secara tiba-tiba di sebelahku.

Wah, jantungku jedag-jedug norak, dan menurutku ini agak lebay si jantung. Karena nggak mungkin kan? Jantungku jedag-jedug gara-gara dideketin si kakak ipar? Yang benar saja!

Mungkin aku hanya sedang nerveous. Karena sebelumnya kami tidak pernah berduaan, dan ini pertama kalinya. Aku yakin mungkin memang si kakak ipar memang ingin duduk di sebelahku. Tapi, entah aku yang ke-GR-an atau memang benar dia sedang memperhatikan aku, kadang aku merasa kalau dia sering mencuri pandang padaku. dan tatapannya selalu intens, jujur itu membuatku salting.

Lalu dia mengajakku mengobrol. Berjam-jam kami ngobrol. Dan aku merasa dia adalah teman ngobrol yang asyik. Apalagi saat ini, aku sedang jauh dengan suamiku, rasanya seperti sedang mengobrol dengan suami sendiri.

Setiap hari kami sering menghabiskan waktu bersama. Dan aku merasa ada yang salah dari diriku. Sepertinya aku menyukai dia.

Sampai di suatu malam, dia masuk ke kamarku. Dia memelukku, anehnya aku tidak menolak. Aku menikmatinya.

Hubungan kami masih sebatas itu sampai suamiku pulang dari tugas kantornya.

Lalu saat aku kembali ke rumah kami, aku merasa tidak rela. Dan berharap bahwa semoga suamiku cepat-cepat dapat tugas luar kota lagi.

Dan harapanku terkabul. Suamiku ke luar kota lagi, dan aku dititipkan pada kakak kembarnya lagi.

Jujur saja aku sangat senang. Karena aku sendiri punya perasaan khusus dengan kakak iparku.

Kakak iparku sangat peka, dia tahu kalau aku menyimpan perasaan untuknya. Lalu malam itu dia mengatakan bahwa dia punya perasaan lain padaku.

Merasa perasaanku berbalas, aku lupa diri. aku melupakan statusku yang sudah menjadi istri orang.

Aku menerima ajakannya untuk melakukan hal-hal yang seharusnya hanya boleh dilakukan oleh sepasang suami istri.

Ya, malam itu aku benar-benar berselingkuh dan melakukan hal yang tidak pantas.

Kami terus melakukannya setiap ada kesempatan.

Dan hubungan kami hanya terhenti saat suamiku pulang dari tugasnya.

Saat suamiku pulang, aku bersikap seperti tidak terjadi apa-apa. Aku melayani suamiku seperti biasa. Kami meluapkan kerinduan kami selama berpisah berhari-hari dengan menghabiskan waktu berdua di rumah.

Tanpa aku sadari, aku telat datang bulan.

Suamiku memintaku untuk membeli testpack, dia bilang mungkin saja aku hamil. Baiklah, aku pun membeli tespack.

Dan keesokan paginya, setelah aku selesai menguji urinku, hasilnya positif. Aku hamil.

Suamiku sangat senang. Tapi, tidak denganku.

Aku bingung. Aku melakukannya tidak hanya dengan suamiku, aku juga melakukannya pada kakak iparku.

Aku diserang perasaan bersalah.

Kehamilanku ini membuatku sulit untuk menjaga rahasia perselingkuhanku dengan kakak ipar. Tapi sekuat yang aku bisa aku menjaga rahasia ini.

Aku dirundung banyak pertanyaan, salah satunya yang paling memenuhi pikiranku adalah “janin siapa yang aku kandung?”

Saat ini aku benar-benar merasa menyesal telah menyelingkuhi suamiku. Padahal selama 8 tahun pernikahan kami, dia tidak pernah sekalipun menyakitiku. Dan aku sebagai istrinya malah menduakan cintanya.

Gara-gara kehamilan ini, aku jadi lebih sering mendekatkan diri pada Allah. Aku takut, sangat takut. Aku terus menerus berdoa untuk menghilangkan perasaanku ini dan semoga Allah mau mengampuni dosa-dosaku.

Tak enak rasanya dikejar-kejar perasaan bersalah dan bingung seperti ini. Aku harap aku bisa terus menjadi istri yang baik untuk suamiku.

Dan, terakhir, aku masih bertanya-tanya mengenai masalah ini, aku harap kamu punya jawabannya, menurutmu jika anak yang aku kandung adalah anak dari kakak ipar, apakah anakku akan memiliki DNA yang sama dengan suamiku?

Aku akan sangat  berterima kasih karena sudah mendengarkan ceritaku dan aku harap kamu bisa menjawab pertanyaanku.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here