Aku Bertemu Orangtua Kandungku Setelah Usiaku 20 Tahun

0
39

China bagiku bukan hanya sebagai negara yang terkenal karena tembok raksasanya, tapi juga dikenal sebagai negara yang pernah memberlakukan kebijakan satu anak. Tidak main-main lho, bagi keluarga yang memiliki lebih dari satu anak, hukumannya denda uang yang mencekik, aborsi paksa atau disteril. Kebijakan yang lumayan kejam sih menurutku, karena gara-gara kebijakan itu akan ada banyak orangtua yang terpaksa membunuh anak mereka sendiri saat pihak pemerintah tahu para ibu sedang mengandung anak kedua mereka. Tapi tidak semua orangtua membunuh anak mereka sih, kadang karena terlalu sayang tapi takut dikejar-kejar pihak berwenang, para orangtua membuang anak mereka, dengan harapan anak mereka akan ditemukan dan diselamatkan oleh orang lain. Mungkin, para orangtua berharap anak mereka yang dibuang akan diadopsi.

Berlanjut ke adopsi. Adopsi bisa diartikan sebagai suatu tindakan pengangkatan anak orang lain sebagai anak sendiri atau bisa juga diartikan sebagai pemungutan. Tapi aku lebih suka kata adopsi, kesannya lebih halus daripada pungut. Karena aku sendiri adalah anak adopsi, aku hidup dan tinggal bersama kedua orangtua angkatku di Michigan. Aku diadopsi oleh mereka sejak aku berumur satu tahun.

Lalu apa hubunganku dengan negara China dan adopsi? Hubunganku dengan China dan adopsi sangat kuat, karena gara-gara kebijakan China yang kejam itu akhirnya aku terpaksa terpisah dengan orangtua kandungku dan berakhir diadopsi oleh orang Amerika.

Orangtua angkatku sangat baik padaku, mereka memperlakukanku seperti anak sendiri. Orangtua angkatku punya dua orang anak laki-laki yang juga menyayangiku, mereka memanggilku ‘adik’ dan aku memanggil mereka ‘kakak’. Hidup bersama mereka selama 20 tahun lebih, membuat kami sangat dekat. Saking dekatnya aku sampai tidak paham bedanya anak adopsi dengan anak kandung.

Sampai suatu hari ketika aku mulai berinteraksi dengan dunia luar, aku mengerti apa yang membuat anak adopsi dan anak kandung berbeda. Orang-orang yang melihatku dan keluarga angkatku akan menatapku dengan tatapan ‘kok kamu beda?’ atau ‘hei, matamu kok sipit, tapi kakakmu enggak? Kalian kakak adik kan?’ bisa juga ‘kenapa rambutmu hitam dan kakakmu pirang?’ tapi itu masih masuk dalam tatapan yang wajar, kadang ada juga yang seperti menatapku ‘kamu anak pungut ya? kemana orangtua aslimu?’. Tapi aku memaklumi tatapan-tatapan mereka itu, aku berpikir mereka hanya tidak tahu tentang latar belakangku.

Sangat wajar mereka bersikap seperti itu padaku, karena dari segi fisik aku sangat berbeda dengan kedua orangtua angkatku, wajahku bulat, mataku sipit dan rambutku hitam legam, sedangkan saat aku perhatikan kedua kakak lelakiku, mereka sangat mirip dengan orangtua angkatku, wajah mereka oval, mata mereka lebar dan rambut mereka agak pirang. Aku merasa berbeda secara fisik.

Karena perbedaan fisikku, timbul rasa penasaran. Gara-gara rasa penasaran itu aku pernah mengajukan pertanyaan pada ibu angkatku, “Ma, apa aku lahir dari perutmu?” dan jawaban mama seperti ini “Tidak sayang. Kamu tidak lahir dari perut mama, kamu lahir dari perut seorang perempuan China. Tapi, walaupun kamu tidak lahir dari perut mama, kamu tetap belahan hati mama.”

Setelah menanyakan hal itu aku sudah tidak bertanya-tanya lagi, tapi tetap saja kan, rasa penasaran itu tetap ada. Aku penasaran siapa orangtua kandungku, bagaimana rupanya, dan masih ingatkah mereka padaku? Maka kadang tanpa banyak bertanya pada mama, aku akan melakukan penyelidikan kecil. Aku menyisir ruangan-ruangan yang ada di dalam rumah, sampai aku temukan sebuah ruangan yang menyimpan banyak arsip dokumen lama. Lemari penyimpanan arsip itu sangat tinggi, aku yang saat itu masih kecil, menarik-narik kursi dan berdiri di atasnya lalu menggapai-gapai dokumen lama yang terletak di paling atas. Yang kutemukan hanya sebuah catatan berbahasa China yang aku tidak mengerti apa maksudnya. Aku tidak menemukan petunjuk lain mengenai siapa orangtua kandungku. Yang kutemukan hanya dokumen-dokumen tentang pengangkatanku sebagai anak adopsi oleh mama dari salah satu panti asuhan di China.

Seiring berjalannya waktu, semakin aku dewasa aku tahu, bahwa catatan berbahasa China itu adalah catatan penting dari orangtua kandungku. Aku berusaha mencari tahu apa maksud dari catatan itu, setelah berhasil menemukan cara memahaminya, lalu aku terjemahkan ke dalam bahasa inggris. Dan aku cukup terkejut dengan isinya. Isinya seperti ini:

‘Kami terpaksa meninggalkanmu, Nak. Kami tidak ada pilihan lain. Pemerintah memberlakukan kebijakan satu anak. Dan hukuman bagi keluarga yang memiliki lebih dari satu anak akan didenda , aborsi paksa atau disteril. Kami berusaha merahasiakan kelahiranmu, demi keselamatan semua orang, terutama keselamatanmu. Harapan ayah dan ibu, kami bisa melihatmu saat kamu berusia 10 tahun atau 20 tahun.
Temui ayah dan ibu di jembatan saat usiamu 10 tahun atau 20 tahun

Penuh Cinta

Ayah Ibumu’

Aku tidak bisa berkata-kata lagi saat membacanya. Setelah tahu apa isi catatan berbahasa China itu aku langsung menemui mama. Dan reaksi mama di luar dugaan.

Ternyata mama dan papa angkatku sudah tahu siapa orangtua kandungku. Aku sempat merasa kecewa karena mereka tidak memberitahuku sejak awal. Menurut mama aku belum siap bertemu dengan orangtua kandungku.

Mama adalah orang yang paling sedih saat aku mengatakan aku ingin bertemu dengan kedua orangtua kandungku. Mama menjelaskan bahwa alasan dia belum mempertemukanku dengan orang tua kandungku adalah karena ia takut kehilangan aku, kehilangan anak perempuannya.

Aku memeluk mamaku, aku bilang padanya ‘mama tidak akan pernah kehilanganku. Aku tetap anak mama, karena mama adalah belahan hatiku’, saat aku sudah mengatakannya, mama dan papa akhirnya menyetujui keinginanku untuk menemui kedua orangtua kandungku di China.

Kata mama dan papa, saat aku sudah berusia 10 tahun, mereka sebenarnya sudah mengatur pertemuanku dengan orangtua kandungku, tapi saat itu ada banyak media yang ikut campur, maka pertemuan itu dibatalkan, mama dan papa mengatakan pada orangtua kandungku bahwa aku belum siap karena situasi negara asalku yang belum memungkinkan.

Maka saat itu, ketika aku berusia 20 tahun aku meminta restu mama dan papa untuk menemui orangtua kandungku. Mereka merestuinya.

Tiba di bandara, perasaanku campur aduk. Aku akan bertemu orangtua kandungku dalam hitungan jam. Kami akan bertemu di jembatan yang terkenal di China itu, karena dalam catatan yang ditinggalkan orangtua kandungku, mereka akan menungguku disana.

Dan… saat itu tiba. Aku berjalan pelan di jembatan. Menoleh kesana kemari mencari jejak keberadaan orangtua kandungku. Setelah berjalan cukup lama, aku dan orangtua kandungku bertatap muka. Mereka berlari memelukku sambil berteriak ‘aku melihatnya, aku melihatnya’. Dan ternyata aku juga punya seorang kakak perempuan. Mereka sama denganku, mereka sipit, berwajah bulat, dan berambut hitam sepertiku. Ibuku memelukku sampai aku sesak nafas, tidak berhenti menciumku, dan selalu mengatakan ‘kamu kurus sekali, nak’, saat ibu mengatakan itu sebenarnya aku ingin tertawa, lihat kakak perempuanku, dia lebih kurus dariku. Dan aku juga memeluk ayah, ayah tidak berkata apapun kecuali ‘maafkan kami, maafkan kami’ ratusan kali. Kakak perempuanku menangis terharu memelukku, katanya dia sangat rindu ingin bertemu denganku, adik perempuan satu-satunya.

Sepanjang perjalanan menuju rumah ayah dan ibu, ibu tidak henti-hentinya menyuruhku makan. Katanya aku sangat kurus. Keesokkan harinya aku dan ayah berjalan bersama, ayah menceritakan dimana aku diletakkan dan aku sangat kaget, karena ternyata aku diletakkan di sudut pasar Hangzhou saat berusia 3 hari. Setelah itu mereka merasa lega karena akhirnya aku menangis, menurut mereka itu artinya sudah ada yang menemukanku.

Ibuku bercerita bahwa sebenarnya ia sudah ingin mengambilku lagi, tapi ibu dilarang oleh keluarganya.

Sepanjang pertemuan kami, ayah dan ibu tidak berhenti meminta maaf padaku. Kukatakan pada mereka, ‘ayah ibu, tidak ada yang perlu dimaafkan. Ayah dan ibu dalam keadaan terpaksa dan bingung. Kalian hanya berusaha menyelamatkanku’, lalu mereka berdua memelukku lagi.

Aku menghabiskan waktuku untuk mengenal mereka. Kami makan bersama, belanja dan menyalakan kembang api. Sangat menyenangkan saat tahu bahwa aku bisa bertemu dengan orangtua kandungku, dan aku lebih merasa lega karena ternyata aku tidak membenci mereka dan aku tahu bagaimana rasanya disayangi oleh orangtua kandung, aku sudah tidak perlu lagi dihinggapi rasa penasaran.

Aku melakukan video call dengan kedua orangtua angkatku. Mereka menatapku bahagia. Ayah dan ibu meminta maaf dan menyesali perbuatan mereka sebagai orangtua yang tidak bertanggungjawab pada mama dan papa. Tapi, mama dan papa tidak peduli akan hal itu bagi mereka kebahagiaanku adalah yang terpenting.

Namaku Katty. Usiaku saat ini 22 tahun. Aku adalah mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Amerika. Aku memiliki 2 ayah dan dua ibu, dua orang kakak laki-laki dan 1 orang kakak perempuan. Dan aku sangat bahagia sekarang, hubunganku dengan kedua orangtua kandungku terus berlanjut. Tapi aku tetap tinggal bersama orangtua angkatku di Michigan.

Harapanku, aku ingin suatu hari nanti aku bisa bersama dengan semua keluargaku. Dan bagi siapapun yang merupakan anak adopsi, aku pikir sangat penting untuk memahami bagaimana perasaanmu. Menjadi anak adopsi bukan sesuatu yang salah, jangan berputus asa. Aku tahu ini cukup menyakitkan. Tapi kupikir tidak bagus juga jika kita malah berlarut-larut dengan perasaan sedih itu, kamu harus percaya bahwa kamu pasti bisa mengatasi rasa sedihmu itu, sesulit apapun itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here