Aku Bertahan Hidup Berkat Memakan Daging Sesama Penumpang

0
42

Namaku Pedro Algorta. Aku adalah salah satu penyintas yang selamat dari kecelakaan pesawat terbang pada tahun 1972, yang terjebak di pegunungan Andes selama 71 hari. Aku bersama beberapa rekanku yang selamat terpaksa memakan potongan tangan, paha, lengan, dan apapun yang bisa dimakan dari jasad sesama korban kecelakaan.

Kau sebut aku apa? Kanibal? Ya mungkin bisa dibilang begitu.

Kau harus tahu, saat itu bertahan hidup adalah tugasku. Aku harus makan bukan berdasarkan pemikiran rasional, tapi atas insting dasar sebagai manusia. Dalam kantong pakaianku aku menyimpan potongan tangan atau bagian tubuh lainnya. Aku memakan daging-daging itu agar aku tidak kekurangan gizi.

Kau takut? Atau… jijik mungkin lebih cocok.

Baiklah. Akan aku ceritakan bagaimana awal mula aku memutuskan untuk memakan daging manusia.

Aku tidak ingat aku duduk di kursi nomor berapa, aku juga tidak ingat kata-kata terakhirku sebelum pesawat mendarat, semua orang panik saat itu. Tahu seperti apa rasanya ketika tahu bahwa pesawat yang kau tumpangi akan jatuh?

Rasanya benar-benar seperti akan mati saat itu juga. Aku tidak akan tahu apakah aku akan bertahan atau tidak. Aku panik dan mulai kehilangan kendali diri, pesawat yang aku tumpangi bergerak dengan liar, menabrak satu gunung ke gunung lainnya. Aku terhempas ke udara, seakan-akan tinggal menunggu kematian. Setelah terombang ambing, pesawat mendarat di dasar lembah yang dikelilingi pegunungan. Mendadak aku tidak mendengar suara apapun. Hening.

Di luar pesawat sedang turun salju. Kesadaranku kembali. Aku tahu aku selamat. Temanku, Felipe, meninggal di sisiku. Jujur saja aku tidak ingat semua detailnya. Kau tahu kan, ada batasan emosional dan ingatan yang tidak membiarkanku menarik semua informasi.

Sebagai bagian dari 40 penumpang ditambah dengan 5 kru yang berada dalam penerbangan rute Uruguay-Chile, aku termasuk dalam 16 orang yang selamat dalam kecelakaan itu.

Awalnya aku dan rekan-rekanku bergabung dengan anggota tim rugby yang selamat. Pimpinan tim rugby itu sangat dihormati. Dia tahu bagaimana menjadi pemimpin kelompok dan langsung menjadi sosok otoritatif.

Di beberapa hari pertama kami di pegunungan, dia berperan cukup penting. Dia berusaha mengorganisir keadaan dengan sebaik mungkin. Yang menjadi masalah adalah, dia selalu mengatakan, “Tenang, kita bakal diselamatkan sebentar lagi.”

Namun, bantuan tidak kunjung datang. Janji-janji yang diucapkan kapten rugby itu malah menjadikan orang-orang tidak siap menerima kenyataan.

Dan sejujurnya, saat itu aku dan rekan-rekanku tidak butuh figur otoritas. Kami membutuhkan sosok pemimpin yang mampu memberikan kesadaran pada kami tentang masalah-masalah yang akan muncul jika kami diam saja di dekat bangkai pesawat.

Dan yang terjadi pada pemimpin rugby itu pada akhirny adalah dia meninggal tertimbun salju yang longsor. Dia meninggalkan kelompoknya yang masih berusia muda. Kelompok itu akhirnya kehilangan sosok orang dewasa.

Tapi kepergian pemimpin rugby itu memberikan dampak positif untuk para penyintas.
Para penyintas termasuk aku menjadi sadar bahwa setiap penyintas memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing.

Kami saling bekerja sama terhadap kelompok tadi agar sama-sama selamat. Dan pastinya yang namanya hidup berkelompok akan mengalami beberapa masalah. Tidak jarang kami bersitegang. Kami sering berdiskusi. Dan yang perlu diketahui tidak semua orang dalam kelompok ini akrab satu sama lain.

Kadang ada yang marah karena idenya tidak dihiraukan, ada yang ingin mendapatkan posisi penting dalam kelompok, ada juga yang ingin lepas tangan jika terjadi kesalahan karena takut dijadikan kambing hitam. Benar-benar rumit.

Seperti hidup bermasyarakat normal, hanya saja kami dalam kelompok kecil. Kami, pada akhirnya belajar untuk menyesuaikan diri dan berkembang di tengah lingkungan yang sulit.
Kami mulai menyadari satu hal, bahwa kami harus bertahan hidup. Kami harus mengisi perut kami yang melilit. Dan saat itu terjadi tidak ada makanan yang bisa kami makan.
Kami terjebak dalam suhu dibawah nol derajat celcius, longsoran salju, dan juga serangan hipotermia. Kami yang selamat harus bisa mengkombinasikan kekuatan mental, kerja sama dan keikhlasan melakukan kanibalisme.

Bagiku memakan daging manusia di tengah pegunungan terpencil dan penuh salju adalah sebuah pengalaman traumatis. Kami melakukannya dengan terpaksa. Saat itu pilihanku hanya dua: makan jasad penumpang atau mati bersama mereka.

Jujur saja aku tidak menyesal. Karena memang saat itu solusi satu-satunya hanya kanibalisme.

Bagaimana rasanya?

Rasanya seperti memakan roti saat kelaparan.

Bagaimana perasaanku saat ini?

Bagaimana ya, keputusan itu dulu kami ambil berdasarkan pemikiran rasional. Tidak ada yang memaksa sambil ngomong “eh goblok, kalau mau selamat, makan tuh daging manusia!” keputusan itu kami ambil, karena perut kami benar-benar menderita. Kami tidak meyakinkan diri sendiri jadi kanibal dengan pemikiran logis.

Hasrat bertahan hidup memicu itu semua. Lalu beberapa orang dari kami mengambil tubuh jenazah, kemudian memotongnya dengan potongan kaca, lalu kami memakannya begitu saja. Dalam keadaan seperti itu, kupikir, keputusan kami terasa normal dan logis.

Jujur saja, setelah memakan tubuh jenazah korban kecelakaan pesawat itu, kami tidak merasa telah melanggar etika atau moral apapun. Yang kami pikirkan adalah, untuk maju selangkah, belajar untuk bertahan hidup di lingkungan yang tidak bersahabat. Kami memaksa diri kami keluar dari zona nyaman.

Makan daging manusia tidak terasa aneh saat itu. Kenyataan bahwa insting dasar kami untuk bertahan hidup adalah dengan makan daging sesama penumpang. Aku yakin, semua orang akan melakukan hal yang sama, jika berada dalam posisi kami.

Trial and error. Itulah yang kami lakukan. Kami makan karena kami lapar dan lemah. Kami tidak punya pengetahuan yang cukup, peralatan atau pengalaman bertahan hidup di atas gunung. Kami tidak siap. Semuanya datang dari insting dan coba-coba.

4 dekade lalu adalah masa dimana aku dan para penyintas mengalami pengalaman yang luar biasa. Sejak itu, aku dan mereka berusaha menjalani kehidupan kami masing-masing. Aku sadar, aku dan mereka berbeda. Dan aku tidak merasa aneh jika aku dan mereka memiliki perspektif yang berbeda mengenai kecelakaan peawat itu.

Aku mengunci mulut rapat-rapat soal kisah ini selama 35 tahun. Dan suatu hari teman-temanku menceritakan pengalaman mereka dan aku menganggap kisah mereka sebagai kisahku juga.

Aku menyadari satu hal bahwa ketika aku memutuskan untuk menulis cerita tentang kecelakaan tersebut, ceritaku berbeda, karena tidak ada orang lain yang mengalami sama persis dengan apa yang pernah aku alami.

Ini kisahku. Setiap orang memiliki ceritanya masing-masing kan?

Aku tidak akan bilang bahwa versiku paling benar dibandingkan dengan penyintas yang lain, aku rasa aku dan mereka sama-sama punya hak untuk menceritakan kisah masing-masing.

Dan aku hanya akan menceritakan pengalamanku, pelajaran yang aku ambil dari peristiwa itu dan bagaimana aku menanggung pengalaman itu selepas terpaksa bertahan di pegunungan Andes, untuk menjalani kehidupan normal. Aku melanjutkan hidupku. Lulus dari universitas yag bagus, mendapat pekerjaan yang baik, dan memiliki keluarga yang harmonis.

Kanibalisme menjadi kisahku di masa lalu. Aku harus meneruskan hidupku dan menjalani kehidupan dengan normal, ‘kan? Dan itu adalah hal terpenting dalam ceritaku, karena menunjukkan bahwa manusia pasti bisa sembuh dari peristiwa yang terjadi di masa lalu, seberat apapun itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here