Aku Berhasil Selesaikan Sekolah dari Hasil Kumpulan Sampah

0
40

Bau yang menjijikkan dan menyengat indra penciuman itu tidak menyurutkan keinginan ibu untuk terus mencari barang bekas. Dia tetap tekun mencari botol dan kaleng bekas dari tumpukan-tumpukan sampah itu, setelah terkumpul barang-barang itu akan beliau jual ke pengepul barang rongsok.

Jika, bagi sebagian orang sampah-sampah itu adalah hal yang menjijikkan, tapi, bagi kami, itu semua bukanlah sampah biasa, melainkan ladang rezeki untukku dan keluargaku.

Dialah, Rahimah Dollah. Usianya 54 tahun. Dan dia adalah ibuku. Ya, ibuku adalah seorang pemulung. Sudah sejak tahun 2003, ibu menggeluti pekerjaan ini. Alasan dia mengumpulkan barang bekas adalah karena ketika itu dia ingin membelikan kami, anak-anaknya, susu. Sedangkan, ayahku baru bisa memberinya uang jika malam sudah tiba, saat ayah sudah pulang bekerja. Dan yang membuat ibu merasa sedih, kadang ayah tidak membawa cukup uang untuk kami membeli makan. Mungkin itu adalah alasan kuat untuk ibu ikut berperan dalam mencari nafkah.

Aku pernah bertanya pada ibu, kenapa memilih menjadi pengumpul barang bekas. Jawabannya, karena dia pikir pekerjaan yang cukup mudah dilakukan adalah menjadi pengumpul barang bekas. Meski hasilnya relatif lebih sedikit dari pekerjaan lainnya, namun jika kita mau melakukannya dengan tekun hasilnya bisa membantu meringankan beban ayah sebagai pencari nafkah tunggal di keluarga kami. Setidaknya menurut ibu, dia dapat memenuhi berbagai kebutuhan sehari-hari. Dari hasilnya memulung, aku bisa melihat, kebutuhan dapur, pakaian yang layak, bahkan biaya pendidikan bisa terpenuhi walaupun tidak sepenuhnya benar-benar terpenuhi.

Ibu bilang, awalnya memang terasa berat. Bayangkan saja, dia harus berkutat dengan benda-benda yang sudah tidak terpakai dan kadang berada di tumpukkan sampah yang bau, basah, dan menjijikkan. Tapi beliau memilih untuk membuang semua perasaan jijik itu. Malahan, jika sedang beruntung ibu bisa mendapatkan botol, kaleng dan lainnya dalam jumlah banyak dan bisa mendapatkan cukup uang guna membeli susu dan makanan untuk kami, anak-anaknya.

Area pertama yang dia jadikan tempat mencari barang bekas masih di sekitar tempat tinggalku, dari sekitar tempat tinggalku dia berhasil mengumpulkan botol, kaleng, dan benda-benda yang masih bisa didaur ulang lainnya. Setelah terkumpul cukup banyak, dia jual ke pengepul. Pendapatan pertamanya kala itu dari hasil menjual barang bekas sekitar Rp 170.000. Ibuku sangat mengenang momen itu, ibu bilang padaku waktu itu dia merasa lega, karena bisa memiliki uang tanpa harus menunggu ayah.

Awal-awal menjadi pemulung, ibu tidak terlalu bekerja keras dalam mencari barang bekas, karena katanya dia hanya ingin membantu ayahku. Agar kebutuhan kami bisa tercukupi dan tugasnya menjadi kepala keluarga lebih ringan.

Tapi, pada tahun 2010, aku sekeluarga harus menelan pil pahit, ayah sakit-sakitan. Penyakitnya yang semakin parah menuntut untuk diperiksakan ke dokter. Tahu sendiri ‘kan? Biaya ke dokter itu mahal, ditambah jika harus menjalan rawat inap di rumah sakit. Aku yakin saat itu pasti ibu merasa sedih. Keterbatasan ekonomi adalah faktor utama yang membuat kami tidak bisa memberikan pertolongan padanya sejak awal terkena gejala kanker tiroid. Ya, ayahku diserang kanker tiroid dan dia tidak bisa diselamatkan. Yang membuatku aku resmi menjadi anak yatim. Perasaan sedih dan sesak memenuhi hatiku, bagaimana nasibku dan adik-adikku nanti ya, Tuhan? Adik-adikku masih kecil dan harus sekolah. Bagaimana nanti ibu menghidupi mereka tanpa ayah? Kenapa kau ambil ayah ya, Tuhan?

Namun, buku adalah sosok yang benar-benar mengagumkan. Dia tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Dia bangkit dengan cepat. Kulihat ibu bekerja lebih keras dari biasanya.

Kata ibu, yang melekat kuat dalam pikirannya adalah dia harus menghidupi kami, ketiga anaknya, kami butuh makan dan harus sekolah. Aku tahu ini tidak akan mudah baginya, yang saat itu menjadi orang tua tunggal bagi kami yang masih kecil. Kepergian ayahku, sang tulang punggung keluarga menjadi pukulan besar baginya. Tapi hal tersebut tidak menjadikannya sosok perempuan yang menye-menye. Semangatnya benar-benar mengagumkan.

Setiap sehabis pulang dari bekerja seharian, kadang aku menemukan ibu sedang memijat-mijat kakinya sendiri atau pundaknya. Aku yang masih kecil merasa pilu dengan keadaan ibu. maka aku berjalan mendekat dan memijat kakinya. Dan kami berbincang-bincang seperti biasa.

Ibu pernah berucap padaku bahwa ketika dia merasa lelah, yang selalu dia ingat-ingat dalam benaknya adalah senyum ketiga anaknya, wajah sukses kami kelak jika sudah dewasa. Demi kami, ibu rela menepis semua rasa malu, sungkan, dan jijik itu. Tak apa. Asal halal dan tidak mencuri, ibu yakin ini akan jadi berkah. Setelah berkata seperti itu, mataku langsung berkaca-kaca.

Setiap harinya ibuku harus mendorong gerobak, berhenti dari satu tempat sampah ke tempat sampah lainnya, dari tumpukkan sampah satu ke tumpukkan yang lainnya. Jarak yang ditempuh bisa mencapai 30 km. kadang aku merasa prihatin dengan usianya yang sudah tidak muda lagi, tak jarang dia memilih mengendarai sepeda karena tidak kuat berjalan jauh mendorong gerobak.

Dalam semua kesulitan yang ibu hadapi, sosok perempuan luar biasa itu memasang diri agar tetap tegar dan berusaha memberi yang terbaik untuk kami, anak-ananya, termasuk pendidikan yang layak untuk kami. Dia bekerja keras, terlepas dari orang-orang yang memandang rendah pekerjaannya. Menjadi pengumpul barang-barang dari sampah, seolah menghalalkan orang-orang untuk mencemooh profesi ibu.

Kata mereka bagaimana mungkin, dari hasil mengumpulkan sampah ibu bisa menyekolahkan anak-anaknya? Ibu hanya pemulung, seharusnya tidak memaksakan diri untuk menyekolahkan kami tinggi-tinggi. Orang-orang berkata, biaya sekolah sangat mahal dan ibu tidak akan mampu membayarnya. Aku dan ibu menguatkan hati untuk tidak terpengaruh dengan omongan jahat mereka.

Memangnya apa yang salah dengan pemungut sampah? Memangnya salah jika ibu menginginkan anaknya sekolah tinggi-tinggi? Memangnya salah jika kami ingin merubah masa depan kami? Ingin rasanya aku membalas omongan jahat mereka.

Tapi ibu selalu berhasil menahan diri, dia berkata padaku jika dia yakin bahwa Tuhan selalu bersama orang-orang yang mau berdoa dan berusaha. Dia berkata dengan lembut “Tak apa, anakku. Kenapa harus malu? Kita ‘kan cari uang dengan cara yang benar. Tidak mencuri dan merampok. Yang kita kerjakan adalah pekerjaan halal. Jadi buktikan saja pada mereka bahwa kita bisa.”

Cemoohan orang-orang menjadi cambuk bagiku. Aku belajar dengan keras. Yang aku tanamkan dalam hati adalah “Kamu harus berprestasi. Ibumu sudah bekerja keras.” Aku juga mengatakannya pada adik-adikku, mereka memahami apa yang aku ucapkan. Mereka juga melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan.

Kami menyadari keterbatasan ibu sebagai orang tua, maka kami menjadi anak yang tidak rewel dan tidak manja. Kami juga tidak merasa rendah diri karena profesi ibu. Dan tidak jarang, jika aku dan adik-adikku sedang senggang, kami turut terjun bersama ibu mencari barang bekas.

Perjuangan dan usaha keras ibu berbuah manis, ibu berhasil mengantarkan anak-anaknya untuk menempuh pendidikan yang tinggi. Aku si putra sulung, namaku Zainal Abidin Che Hasan, aku berhasil masuk universitas ternama. Aku mengambil jurusan Mekatronik di Universitas Kuala Lumpur (UniKL).

Sedangkan Siti Zaitun, adik perempuanku yang berumur 18 tahun, sedang mengejar A-Level di Perguruan Tinggi Majlis Amanah Rakyat (Mara), Kuala Nerang.

Si bungsu Zainal Asyraf Che Hassan yang baru berusia 16 tahun berhasil meraih prestasi yang membanggakan, hasil ujian yang ia peroleh sangat memukau.

Yang membuat hatiku menghangat adalah ibu pernah berkata bahwa ia bangga kepada kami. Dia merasa semua usahanya terbayar. Dan apa yang sudah berhasil aku dan adik-adikku capai adalah hasil dari ketekunan ibu mengumpulkan barang bekas.

Bagi kebanyakan orang mungkin mengumpulkan barang bekas atau memulung sering kali dianggap pekerjaan yang kotor dan dipandang sebelah mata. Tapi, memulung sampah bagiku tetaplah pekerjaan yang halal dan jauh lebih terhormat daripada mendapatkan uang dari mencuri, menipu ataupun merampok.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here