Aku Berhasil Selamat Setelah Dua Malam Terkatung-katung di Tengah Lautan

0
39

Halo namaku Josh.

Hari ini aku akan menceritakan pengalamanku saat aku terombang-ambing  di tengah lautan selama 52 jam.

Ceritanya saat itu pada tahun 2012, aku sedang liburan di Manila. Aku pergi liburan bersama temanku Tomi dan ayahnya. Destinasi tempat liburan yang kami tuju salah satunya adalah pantai Manila. Perjalanan kami dipandu oleh seorang pemandu wisata bernama Robi.

Saat itu kami menginap di Banton, sebuah pulau kecil dekat Manila. Kami berencana untuk pergi ke Marinduque, jaraknya sekitar 40 kilometer dari Banton.

Sebelum kami naik perahu, kami sudah dapat peringatan kalau cuaca sedang kurang bersahabat dan ombak sedang ganas-ganasnya. Tapi, Robi mengatakan bahwa kami tetap bisa menyeberang pulau dengan aman sampai Marinduque. Kami mempercayai begitu saja ucapan Robi, dia pemandu wisata kami, kami pikir dia lebih tahu.

Kami naik ke atas perahu, tapi kami tak menduga kalau cuaca berubah drastis. Dan perahu yang kami naiki juga mulai kemasukan air dan berakhir mogok. Kami berempat lalu bekerja sama  menguras air dari mesin dengan ember. Beberapa menit kemudian, perahu yang kami tumpangi mulai terbawa arus dan diserang ombak besar.

Dan tanpa kami duga, perahu kami terbalik. Kami terlempar ke lautan. Kami terlalu terkejut dengan apa yang sedang menimpa kami. Tangan kami meraih apa saja yang mengambang dari perahu dan benda pertama yang aku raih adalah sebotol rum.

Lalu kulihat Robi sudah mengambil pisau dapur loncat dari atas perahu kemudian menyelam ke dalam air. Lalu dia memotong kanopi. Setelah selesai, kami naik ke atas lambung perahu dan berusaha mencari solusi dari situasi buruk ini. Aku, Tomi dan Ayah Tomi menonton kesibukan Robi, setelah memotong kanopi kapal, dia mengambil jeriken solar dan mengikatnya di pergelangan tangan, mungkin supaya dia bisa mengambang.

Kemudian dia berkata bahwa ia akan berenang menuju pantai, dia akan mencari bantuan, kukatakan padanya bahwa itu bukan pilihan yang bijak, tapi Robi keukeuh dengan pendiriannya, dia tetap berenang menuju pantai. Kami bertiga memandang Robi yang makin lama makin mengecil dan menghilang di balik ombak.

Sebuah ide terlintas di otakku, aku ingin seperti Robi yang berenang menuju pantai, kupikir berenang menuju pantai adalah keputusan yang benar, dan duduk diam di atas perahu tanpa melakukan apapun kelihatan seperti menunggu kematian dan kurang menjanjikan. Dua pilihan itu sangat berat untuk aku putuskan mana yang lebih memberikan kepastian tentang keselamatanku. Tapi, akhirnya aku tetap memilih untuk duduk menunggu di atas perahu bersama Tomi dan ayahnya.

Waktu terus berjalan, kami tetap setia menunggu kabar dari Robi. Kami agak berharap kalau Robi bisa sampai di pulau dan sedang mengirim bantuan.

Tapi sayangnya, Robi tak kunjung kelihatan.

Kami mulai bimbang dan ketakutan. Kami tak punya apapun untuk dijadikan alat pemberi sinyal pada orang lain. Hanya Robi yang tahu kami di sana.

Seharian kami terkatung-katung di tengah lautan.

Lalu malam harinya, kami benar-benar mengalami pengalaman tak terlupakan. Suasana laut di tengah malam sangat mencekam. Nggak ada cahaya bulan yang menyinari kami. Kami kedinginan dan kelaparan, kami juga nggak tahu apa yang ada di dalam air sekitar kami.

Kami bisa mendengar suara ombak tapi kami nggak tahu dari arah mana suara ombak itu.

Mungkin itu yang paling membuat kami ketakutan, karena kamu tahu sendiri kan? Perahu yang kami naiki terbalik gara-gara diserang ombak, jika harus diterjang ombak lagi, kami benar-benar akan kehabisan tenaga untuk bertahan. Kami sangat kelelahan.

Kami bertiga nggak berharap lebih pada bantuan. Karena kami pikir, para petugas yang menolong akan menghentikan pencarian dan akan melanjutkannya esok hari.

Kami bahkan nggak punya senter atau semacamnya untuk kami jadikan lampu.

Gelombang laut nggak berhenti datang dan kami benar-benar sangat lelah. Dan saat hewan-hewan laut menyala di tengah malam, kami cuma bisa melongo. Bagaimana kalau itu adalah hewan berbahaya?

Ditambah lagi, kakiku masih sakit gara-gara kecelakaan waktu di pulau dan lukanya itu masih terbuka. Jadi, bayangan Hiu yang mencium bau darahku lalu memakanku itu jadi bayangan paling seram yang menggangguku.

Kami bertiga saling menguatkan dan saat matahari terbit, kami bernafas lega dan semangat kami naik lagi.

Di tengah-tengah rasa putus asa, kami melihat ada dua kapal yang melintas. Tanpa berpikir panjang, kami bertiga melambai-lambaikan tangan, tapi hasilnya nihil. Tapi, kami nggak menyerah, kami mencoba menarik perhatian kedua kapal itu dengan flash kamera kecil kami, sayangnya guncangan air laut membuat posisi kami goyah.

Kami tahu, ini cuma semacam untung-untungan. Tapi, tetap saja kami terpukul.

Setelah dilanda ketakutan semalaman, kini aku dan Tomi dan ayahnya harus menguatkan diri untuk tahan panas matahari. Semakin tinggi matahari, semakin banyak panas yang kami terima dan hasilnya kulitku gosong parah. Dan agak susah bagi kami menjaga stok cairan tubuh karena persediaan air kami kian menipis.

Percaya atau nggak, sengatan panas matahari dan nggak tidur semalaman membuat kami susah membedakan antara khayalan dan kenyataan.

Ya, bisa dibilang kami mengalami halusinasi. Waktu terus berjalan, sampai matahari tenggelam, kami belum mendapat tanda-tanda akan menerima bantuan. Kami masih tetap di posisi duduk diam di atas punggung perahu yang terbalik.

Malam kedua di tengah laut, aku mulai berhalusinasi. Apa yang kulihat terasa sangat nyata.

Aku melihat banyak hal yang sangat ingin aku lihat, seperti kursi-kursi pantai, pohon-pohon palem dan orang-orang berjemur di pinggir pantai, aku juga melihat mobil dan marina. Benar-benar sangat hebat pengaruh kelaparan, kepanasan, kedinginan, dan kekurangan cairan ini padaku.

Singkatnya, aku mengalami halusinasi yang berkaitan dengan penyelamatan kami.

Pikiranku terus bekerja, kadang terbersit ide untuk berenang sampai ke bibir pantai mungkin dengan terus berenang tanpa henti aku akan selamat.

Aku ketiduran dan aku juga mengalami micro-sleep, gara-gara itu aku tergelicir ke air, lalu aku merasa badanku mengambang di air sampai leherku dipegang oleh  orang lain yang ternyata orang itu adalah Tomi. Dia berkata padaku, bahwa dia mendengarku tercebur dan menarikku ke atas punggung perahu.

Aku sangat beruntung saat itu. Betapa bodohnya aku, ketiduran di saat genting.

Pada malam kedua kami, bulan nggak bersinar lagi, suasana lautan sama gelap dan mencekamnya dengan saat malam pertama kami disini, jadi aku yakin Tomi meningkatkan kewaspadaannya, ketika dia mendengar suara air ketika aku jatuh, dia langsung tahu bahwa aku kecemplung di air.

Setelah kecemplung di air, aku bisa melihat dengan jelas pantai Marina. Aku merasa kalau perahu kami terseret ombak dan kami tergeletak di bibir pantai lalu kami diselamatkan oleh orang-orang yang ada disana, kemudian aku bisa melhat orang-orang itu berdiri di samping mobil mereka dan melambai-lambaikan tangan.

Aku bisa melihat cahaya lampu depan mobil mereka yang sangat menyilaukan, lalu aku sadar dan meminta pertolongan.

Aku pikir kami diselamatkan, tapi begitu kami makin dekat, ombak-ombak itu berubah menjadi dinding raksasa. Aku takut akan menabrak dinding itu. Dan saat matahari terbit, ombak sudah lebih tenang dan aku merasa lega karena malam sebelumnya kami sudah mengontak concierge hotel dan dia telah mengirimkan bantuan.

Tapi, semuanya itu buyar saat aku menoleh pada Tomi, dan dia bilang padaku “Lihat ke sekitarmu deh, kita masih di tengah lautan.”

Aku cuma bisa nyengir. Tomi memukul bahuku.

Ya, ampuuun, aku mengalami halusinasi paling parah dan halusinasiku itu benar-benar terasa nyata, tapi keren banget, seperti di film-film. Walaupun, kalau di pikir-pikir itu cukup membuatku malu sih. Melihat keadaan kami yang nggak berubah, aku mulai pesimis, aku nggak berani berharap dan memulai kemungkinan kalau aku akan mati di tengah laut.

Tapi… kami melihat sebuah kapal kargo besar muncul di depan kami. Kami berteriak-teriak sekuat kami dan sekuat tenaga melambaikan terpal kuning sisa terjangan ombak hari sebelumnya. Awalnya kami pasrah saja, kami nggak mau kecewa seperti hari pertama, barangkali saja kan, itu kapal hanya lewat.

Tapi, kami tak mempercayai mata dan telinga kami. Kapal itu bergerak ke arah kami dan membunyikan terompetnya.

Kru kapal melempar jala kargo dan kami melompat berenang ke arah kapal.

Kami akhirnya naik kapal itu. Ternyata kru kapal itu sangaaaaat baik. mereka memberi kami baju, makanan dan mengantar kami ke pelabuhan terdekat.

Berkat mereka, kami selamat.

Setelah berhasil selamat, kami jadi tahu bahwa Robi tenggelam dan nggak dapat diselamatkan lagi. Oh ya, dan sebotol rum yang berhasil aku ambil saat terkatung-katung di tengah laut sudah habis aku minum dan botolnya juga sudah aku lempar ke laut, tapi Tomi memberiku lagi sebotol tapi belum aku buka sampai sekarang.

Jadi itulah cerita pengalamanku tentang rasanya terombang-ambing di tengah lautan, semoga kamu nggak pernah merasakannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here