Aku Berenang selama 18 Jam di Danau Karena Kecelakaan Pesawat

0
34

Aku Michael. Hari ini aku akan menceritakan pengalaman hidup dan matiku dari kecelakaan pesawat.

Saat itu aku berencana untuk menghadiri acara reuni keluarga dengan menggunakan sebuah pesawat tua Cessna 150 1966. Sebelumnya aku harus bertengkar dengan istriku, karena dia menolak mentah-mentah rencanaku.

Dia bahkan memintaku membuat surat wasiat. Pikirannya benar-benar terlalu jauh, seolah-olah aku akan mati dalam penerbanganku. Tapi aku mengabaikan semua alasan istriku. Aku tahu usia pesawat itu memang lebih tua dariku, tapi apa salahnya? Dan mungkin memang benar kalau pesawat itu belum pernah terbang melintasi lautan, tapi kenapa? Aku sudah melakukan penerbangan dan pendaratan, aku sudah memetakan rutenya dengan hati-hati, dan bahkan aku memilih berangkat sehari lebih dari jadwal untuk menghindari cuaca buruk.

Penerbanganku ini benar-benar lebih hemat dibandingkan dengan penerbangan komersial biasanya, aku bisa menghemat ratusan dollar.

Tapi, sepertinya apa yang diucapkan istriku ada benarnya. Saat aku sedang fokus dengan rute penerbangan, suara mesin berubah. Ini aneh. Apakah aku kehabisan bahan bakar? Seharusnya tidak, aku sudah menyiapkan segalanya sebelum terbang.

Lalu aku menjentikkan saklar untuk mengganti tangki bahan bakar. Mesin terus kehilangan tenaga dan aku merasa kalau pesawatku tergelincir dari ketinggian. Aku menyalakan pemanaas karburatornya. Tidak ada perubahan. Aku membuka throttle. Dan pesawat terus turun ke bawah tanpa kendali. Aku mengintip ke depan melalui kaca depan, aku bisa melihat daratan di depan garis pantai.

Aku langsung menghubungi radio Lansing dan memberitahukan posisiku.

“Aku diatas air, dan mesinku mengalami masalah,” kataku. “Bisakah kamu mengawasiku? Pastikan aku bisa berjalan sampai ke pantai?”

Tapi kemudian aku diberitahu untuk beraih ke frekuensi radio darurat sehingga tim penyelamat akan mengetahui lokasi dan identifikasinya. Air naik dengan cepat. Aku kembali ke Lansing.

“Aku akan tenggelam,” teriakku.

Pesawatku melambat jadi 49 mil per jam, dan pada kecepatan 48, pesawatku sudah tidak lagi di udara. Klaksonnya mulai meraung-raung. Aku membuka pintu dan menggelitik kuk untuk meredakan kebisingan. Untuk beberapa saat suara berisik itu terhenti, tapi tiba-tiba mesin itu meraug-raung kembali. Terlambat. Ekor pesawat adalah yang pertama kali menghantam danau. Pesawatku jungkir balik, kaca depan pecah, dan air danau meluap masuk ke kokpit.

Sekarang aku menahan napas dan melepaskan sabuk pengamanku. Aku berenang di bawah air dan keluar dari pintu yang terbuka dan muncul menempel di ekor pesawat. Pesawatku makin lama makin tenggelam. Aku melepaskan dan melihat Cessna-ku melayang di bawah sepatuku, sekitar 30 sampai 50 kaki, sampai aku sudah tidak bisa melihatnya lagi. Butuh waktu kurang dari satu menit untuk pesawat tua itu tenggelam.

Yah, setidaknya aku masih hidup. dan airnya tidak terlalu dingin. Tanpa pesawat untuk dipegang, dan tanpa pelampung, aku harus bisa bertahan. Tapi yang jadi masalah adalah ombak setinggi lebih dari 6 kaki yang terus menekanku masuk ke dalam air. Aku muncul ke permukaan dengan tergagap, tanganku menggapai-gapai, dan kakiku tak berhenti menendang-nendang dan aku hanya menarik nafas saat ombak berikutnya akan menghantamku. Aku harus membuat rencana, pikirku.

Di Angkatan Laut, aku pernah dilatih untuk mengubah celana menjadi jaket pelampung. Jadi tanpa banyak berpikir aku langsung menendang lepas sepatuku, aku melepas celana jins, dan mengikat bagian kaki celana, lalu aku mengisinya dengan udara dan melilitkan rig di leherku. Saat ombak besar berikutnya datang, celana pelampungku malah memutar leherku bisa dibilang hampir mencekiku. Yah, ternyata itu bodoh, pikirku. Dengan perasaan marah aku langsung membuang celanaku dan kembali menendang-nendang air.

Aku berguling ke belakang untuk mengatur nafasku, tapi ombak terus menerus menghantamku. Terpaksa aku harus gelagapan menelan air yang mengalir deras ke tenggorokanku, dan masuk ke paru-paruku. Aku muntah di danau. Aku baru saja selamat dari kecelakaan pesawat dan sekarang aku akan tenggelam, kataku dalam hati.

Celana jinsku masih melayang beberapa meter jauhnya dariku, jadi aku bergerak ke arah celanaku, mengeluarkan dompetnya dan memasukkannya ke dalam celana dalamku. Sehingga nanti orang-orang bisa mengidentifikasi siapa aku.

aku belum siap untuk mati dulu, pikirku. Ombaknya seperti tidak bisa berhenti sebentar, otakku terus menerus berpikir menyusun rencana. Lalu aku ingat seorang gadis berusia 12 tahun yang telah berenang di Selat Inggris. Kupikir, jika seorang gadis 12 tahun bisa melakukannya, kenapa aku tidak? Tapi, jujur saja sangat sulit untukku fokus, aku masih terpaku dengan semua barang yang aku tinggalkan di dalam pesawat, ponsel kedap airku, dua bungkus swiss rolls little debbie, serta pendingin dan kendi air, yang aku yakin semuanya bisa membantuku untuk tetap bertahan. Aku berguling ke berenang seperti anjing dan aku melihat sesuatu yang menarik perhatianku. Sebuah pelampung penanda saluran! Aku berenang ke arah benda itu dengan gembira. Ya ampun, aku akan berenang ke sana dan bertahan sampai mereka menemukanku dan aku akan baik-baik saja. selama dua jam aku berusaha keras untuk terus berenang, sesekali aku berguling-guling untuk beristirahat.

Dan kadang saat aku sedang berguling untuk beristirahat aku mendengar ada suara mesin kapal yang datang.  Lalu aku menjulurkan kepalaku keluar dari air dan memindai cakrawala. Dan aku melihat, sekitar 50 yard jauhnya, sebuah kapal barang yang besar. Aku melambai-lambai dan menjerit sekuat tenaga, tapi kapal itu hanya melewatiku dan hampir membuatku tenggelam setelah aku berusaha dengan susah payah muncul ke permukaan.

Matahari sudah terbenam dan harapanku pupus saat aku sadar bahwa yang aku kira penanda saluran ternyata puncak cerobong asap pabrik di pantai.

Oke, tidak apa-apa. aku akan berenang ke pantai.

Aku berada dalam jarak dua mil dari cahaya yang berkelap-kelip di garis pantai ketika aku menemukan arus yang kuat dan itu benar-benar menghalangiku. Aku berusaha terus berenang, sampai aku hampir tidak bisa bernafas dan otot-ototku rasanya terbakar dan tidak berguna, kemudian aku berguling untuk beristirahat. Pada saat aku pulih, aku benar-benar sudah kehilangan akal. Saat aku melihat satu bintang yang muncul, aku membuat permintaan.

Aku sadar, kalau tidak akan ada yang datang malam ini. Aku hanya perlu tenang dan menunggu matahari terbit. Dan kemudian saat pagi menjelang seseorang akan melihatku dan datang menjemputku. Aku berbaring dan berenang, terpesona oleh bintang-bintang, menyaksikan satelit yang mengikis di langit, aku kagum pada jumlah meteor yang dapat aku temukan ketika aku tidak memiliki hal lain untuk dilihat. Ombak sudah mulai tenang dan aku berenang hanya untuk menjaga diri agar tetap berada di dalam titik-titik hangat dalam air. Saat aku mendapati diriku sendiri menggigil, aku berkeinginan untuk berhenti, lalu aku menggosok-gosok telapak tanganku sampai aku bisa berenang dengan tenang lagi.

Aku memikirkan orang-orang yang aku cintai. Ada banyak orang yang masih menjadi tanggungjawabku, dan mereka masih membutuhkan aku, aku memikirkan Julie, istriku dan anak-anakku, para pegawaiku di garasi, dan teman-temanku.

Aku juga membayangkan diriku sedang di rumah bersama orang-orang yang aku sayangi, tertawa bersama teman-temanku, meringkuk di tempat tidur di sebelah Julie. Kemudian satu gelombang menampar wajahku dan aku batuk air dan memulai lagi.

Aku sedang dalam lamunan saat sesuatu menabrak keras ke sisiku. Apa itu? Aku meraba-raba, mencari kayu atau puing-puing. Ternyata bukan keduanya. Lalu apa? ternyata itu adalah seekor ikan! Ikan yang sangat besar. Pikiranku mulai berpacu, aku membayangkan rahang besar meluncur dari kedalaman untuk menjadikan diriku makanan. Wah! Aku harus membuang jauh-jauh pikiran itu. Tidak ada waktu untuk memikirkan itu sekarang.

Lalu aku berbaring dan tenang lagi. Dan seekor nyamuk mulai menghisap darah di dahiku. Uuurrgh, apakah kamu bercanda hei nyamuk! Aku dua mil dari pantai, apakah kamu tidak punya belas kasihan? Akhirnya aku menampar udara dan nyamuk itu terbang.

Kemudian saat malam hari, aku berguling-guling ke posisi gaya anjing untuk mendapatkan posisi ketika bayangan bergerak-gerak di anatara aku dan lampu-lampu pantai. Di malam yang gelap aku melihat apa itu burung laut, burung kormoran. Burung itu mengitariku beberapa kali, lalu menyala di atas air hitam dan mulai berenang ke arahku. Tidak mungkin burung itu akan mematuk mataku kan? Jadi aku langsung berteriak “Pergi dari sini!” dan burung-burung itu terkejut melihatku melakukan itu.

Yang bisa aku lakukan hanya menunggu matahari terbit, selama menunggu aku memikirkan seluruh hidupku. Hal-hal bodoh yang pernah aku lakukan. berdebat tidak penting dengan Julie. Mengingat semua itu membuatku sedih dan merindukan istri dan anak-anakku.

Aku mulai memanjatkan doa lagi, ya Tuhan, biarkan aku memeluk istriku sekali lagi. Biarkan aku memeluk anak-anakku sekali lagi. Aku mohon.

Biarkan sesuatu yang baik datang padaku.

Saat shubuh, ada lebih banyak kapal yang lewat, tapi aku seperti tidak terlihat dan tidak penting seperti sepotong kayu bagi mereka. Dan saat matahari benar-benar terbit, aku menyambut senang kehangatannya, sayangnya ombak yang datang juga besar.

Aku sangat kedinginan sekarang dan otot-ototku mengalami kram yang sangat parah. Aku tidak punya banyak pilihan, kataku dalam hati. aku harus memilih antara terus berenang atau mati. Aku harus memilih salah satu dari dua pilihan itu.

Aku memutuskan untuk berenang secara miring melalui arus dan mencapai pantai seperti itu. Dan aku mempercepat gerakku saat aku melihat sebuah kapal nelayan datang, dekat, dekat, begitu dekat, rasanya aku bisa menyentuhnya. Ada tiga orang yang berjalan di geladak.  Aku menjerit dan melambai pada orang-orang itu, sampai tidak ada lagi yag tersisa di dalam diriku dan aku tidak punya pilihan lain selain berguling dan memulihkan diri. Pada saat aku sedang istirahat, arus menyeretku sejauh 500 yard dari kapal nelayan itu.

“Sialan!” teriakku

Aku sudah tidak bisa lagi merasakan tanganku dan aku juga merasakan kesemutan di tanganku. Aku harus relaks, tapi itu semakin sulit dilakukan. aku mendongak dan melihat perahu layar mendekat. Aku mengeluarkan akrtu kredit dari dompetku dan mulai memantulkan pada sinar matahari ke kapal. Aku juga melambaikan salah satu kaus kakiku. Tapi, tidak berhasil!

Selama beberapa jam berikutnya, dua perahu layar lewat dan usahaku memanggil mereka sia-sia. aku bisa merasakan diriku sudah mencapai batas fisikku. Aku sudah berada di air selama hampir 18 jam sekarang.

Ada perahu lain lagi yang lewat, dan aku sudah merasa lumpuh. Tapi aku mendorong diriku untuk berenang menuju kapal dengan gaya yang canggung, lalu aku berhenti dan mulai melambaikan kaus kaki dan memantulkan kartu kreditku pada sinar matahari. Perahu terus melaju.

Please! Please! Please! Ayolah, aku mungkin tidak punya kesempatan lagi.

Dan aku tidak tahu lagi apa yang terjadi. Aku kehabisan tenaga dan semuanya jadi gelap.

Dan saat aku sadar aku sudah berada dalam ruangan bernuansa putih. Aku berbaring di ranjang rumah sakit sambil mengagumi keberuntunganku. Dan saat aku mendongak aku melihat Julie sudah berdiri di ambang pintu.

Julie berkata padaku “Aku tidak ingin melukaimu, jadi aku tidak akan memelukmu terlalu erat.”

Tapi airmataku sudah mengalir deras. Jadi aku memeluk Julie sekuat yang aku bisa.

Julie menjelaskan semuanya, bahwa aku pingsan karena kelelahan dan hiportemia. Aku tidak sadarkan diri selama tujuh jam. Dan aku harus kehilangan tujuh pon berat badanku.

Aku menghabiskan waktu tiga hari di rumah sakit untuk pemulihan diri. Selama pemulihan aku diceritakan oleh Julie bahwa aku diselamatkan oleh Dean dan Diane Petitpren, orang-orang yang sedang liburan, mereka melihatku mengambang dan langsung menyelamatkanku. Sebelumnya seluruh keluarga sudah menghubungi tim penyelamat, tapi mereka tidak menemukanku.

Dan saat tiba waktunya untukku pulang aku disambut seperti pahlawan. Tapi, mungkin besok-besok aku harus mau mendengarkan apa yang diucapkan oleh istriku. Atau mungkin membuat surat wasiat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here